EASY A : A RICHLY CHARMING TEEN-COMEDY BLAST

EASY A

Sutradara : Will Gluck

Produksi : Screen Gems, 2010

Genre teenage movie, film remaja, memang kerap dianggap sebagai sebuah no-brainer popcorn yang hanya berisi hura-hura. Kalaupun ada pesan moral, sisi fun-nya biasanya hadir tak lebih dari sebuah karya dangkal tanpa isi. Tapi jangan salah, trend-nya yang melambung di era 80an atas kiprah seorang John Hughes (The Breakfast Club, Ferris Bueller’s Day Off, Sixteen Candles, Some Kind Of Wonderful, juga penulis Home Alone dan Planes, Trains, Automobiles) yang tak hanya menampilkan hura-hura tapi punya point of view mendalam atas krisis kepercayaan, love, sex education serta generation gap ke orang yang lebih tua juga bukan tak pernah melahirkan teenage movie yang terasa kaya dari semua aspeknya. Kuncinya sebenarnya cukup mudah, selama ada suatu metafora yang bisa membuka mata terhadap karakter-karakter skeptis tadi, termasuk kita sebagai penonton yang suka meremehkannya, bahwa dunia remaja dibalik segudang kenakalannya punya sisi innocence melalui sebentuk pemberontakan yang layak buat diperhatikan. How you tell those stories dan seabrek kelebihan lain di penggarapan mulai dari karakterisasi yang mantap dibawakan oleh pemerannya yang harus terbagi rata antara paras-paras cantik dan tampilan yang patut ditertawakan, plus, this is important, too, balutan musik yang asyik dan mewakili semangat muda itu, adalah hal lain lagi yang bisa semakin melejitkannya keatas. Produser-produser zaman sekarang mungkin sudah lama kehilangan sentuhan itu, dan kala resep seorang John Hughes sudah dianggap tak lagi up-to-date, beruntunglah kita masih sempat menyaksikan, err…. Napoleon Dynamite mungkin sedikit terlalu over dan nyeleneh, maksud saya, Mean Girls-nya Lindsay Lohan yang bisa menguraikan semua aspek tadi dengan cemerlang. And now, comes Easy A.

Dari opening scene yang digelar Will Gluck, sang sutradara, yang sudah menunjukkan sedikit penguraian yang berbeda dengan film-film sejenis, Easy A sudah menembakkan amunisi itu sedikit demi sedikit. Olive Penderghast (Emma Stone, the upcoming Spidey girl dan heartstealer di Zombieland itu) selalu merasa dirinya kuper dibanding sahabatnya Rhiannon (Alyson Michalka) yang gaya dan tampil dewasa. Kala sebuah ajakan Rhiannon untuk sleepover ditampik Olive yang merasa risih dengan kebiasaan nudis orangtua Rhiannon, muncullah sebuah cerita untuk menutupi kehidupannya yang kelewat biasa. Olive pun terpaksa mengaku kehilangan keperawanannya pada pria fiktif yang mengencaninya weekend itu, dan pembicaraan mereka terdengar oleh Marianne (Amanda Bynes), pemimpin siswa-siswi Kristen fanatik di sekolahnya. Gosip demi gosip kemudian menyebar seperti angin kencang, dan semakin menempatkan Olive dalam posisi negatif dengan segala ulahnya. Namun Olive semakin terpicu untuk tak terpuruk. Kecintaannya terhadap literatur ‘The Scarlet Letter’nya Nathaniel Hawthorne dari pelajaran sastra guru favoritnya, Mr Griffith (Thomas Haden Church) membuat Olive menciptakan karakter baru berinisial A (as in Scarlet Letter, as an Angel or Adultery, depends) di setiap wardrobe-nya untuk mengobarkan pemberontakan pribadinya di tengah lingkungan penuh kemunafikan itu.

And who the hell is Will Gluck yang bisa membuat kita terhenyak di tengah penggambarannya akan sebuah dunia chaos remaja yang begitu kaya dengan pesan itu? Sekuat dan hampir sekeras literatur legendaris The Scarlet Letter (tentu saja versi novel, bukan film yang salah kaprah menempatkan Demi Moore menginterpretasikan Hester Prynne bak seorang jalang ketimbang wanita tak berdosa yang memberontak terhadap keterkungkungan itu)? Ah, Will ternyata bukan siapa-siapa sebelumnya. Lewat serangkaian serial teve yang digarapnya, Will memulai debutnya di Fired Up, film remaja hura-hura yang nyangkut di tumpukan dvd non-collectable di hampir semua rak toko, yang meski fun tapi tak memorable juga. Ternyata tak satupun yang bisa menyangka kekuatannya hingga Will diserahi proyek dari penulis yang juga ‘you don’t know who’, Bert V. Royale itu oleh Screen Gems. Plot berbobot yang disampaikan dengan penokohan karikatural dalam esensinya sebagai sebuah film remaja yang cenderung ke satire serta penuh metafora ini membuat Will dengan leluasa bisa berkomunikasi dengan lancar ke penontonnya, tanpa juga harus meninggalkan atribut fun yang wajib ada buat menarik penonton kalangan terbesarnya, usia remaja. Semua unsur yang ada di kekuatan John Hughes dalam menggarap film-film teenmovie legendarisnya juga tergelar dengan mantap disini, bahkan sebuah adegan tribute yang memunculkan 80s teen movie lengkap dengan ikon-ikon Brat Pack-nya mulai dari Judd Nelson, Patrick Dempsey, John Cusack dan Matthew Broderick plus remake theme song The Breakfast Club, (Don’t You) Forget About Me-nya Simple Minds yang kini dibawakan AM itu juga disempalkan sebagai sebuah sindiran pendewasaan filmis film-film sejenis. So smart. Lepas dari semua itu, adalah Emma Stone yang tampil dengan sinergi luarbiasa ke pendukung-pendukung lain yang juga bukan aktor main-main, mulai dari Amanda Bynes hingga Lisa Kudrow, Thomas Haden Church hingga Malcolm McDowell. Di tangan Emma yang menunjukkan bahwa kecantikannya tak sekedar berguna sebagai ‘kapstok berjalan’, ia menghadirkan transformasi akting yang rapuh namun menyimpan kemarahan yang tersimpan, dengan sangat-sangat rapi. Trust me, you won’t get a teen movie with this much power dibalik kepolosan, kejenakaan dan segala pesan moral yang digelarnya dengan penuh sentilan. Seperti kasus Maxima/Miyabi vs FPI, garis batas moralitas yang tipis mungkin mengharuskan kita semua sering-sering melihat kembali ke belakang terhadap semua kedok-kedok yang ada di sekitar kita. A ‘bitch’, ‘tart’, ‘temptress’, or whatever you called them, might not always be that bad, and Vice Versa. (dan)

~ by danieldokter on December 2, 2010.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: