LONDON VIRGINIA : 100 WAYS TO SPEND YOUR BILLIONS

LONDON VIRGINIA

Sutradara : Cheverly Amalia

Semua-semuanya : Cheverly Amalia

Produksi : Momenta Pictures and QKU (Qibri Karya Utama), 2010

Seorang sineas debutan memang punya hak buat bisa dihargai. Buat film itu bukan main-main lho. Apalagi untuk ukuran layar lebar. Milyaran dan penuh pengorbanan di sana-sini. Sementara orang berjudi, reviewer tanpa perduli menginjak-injak sebuah karya tadi dengan beribu komen negatif. Tapi itulah, yang patut dihargai tentu, yang pertama, adalah yang bisa menghargai dirinya sendiri lebih dulu. If not, trust me, bersiaplah menerima caci-maki itu, se-laku apapun karyanya. If. London Virginia yang beredar minggu ini adalah sebuah contoh kasus, dimana si sineas debutan yang entah keluar dari belantara kurang jelas itu, sudah lebih dulu mem’bombastis’kan produknya secara over dari press release-press release yang ada, namun peredarannya seperti prajurit ke medan perang tanpa senjata. Coba perhatikan poster promosinya yang minim di salah satu situs sinepleks. Hanya tulisan biasa. Sementara, dua poster yang bertaburan di laman facebook dan sebuah situs berita online, berbeda-beda. Di bioskop dan koran, lain lagi. So pihak marketingnya juga agaknya perlu dikuliahkan lagi untuk bisa membulatkan keputusan sebelum merilis sebuah produk. Pertanyaan utamanya, siapakah Cheverly Amalia? Try googling it. O ya, dia pernah menjadi presenter dari sebuah teve kabel, model swimsuit majalah pria dewasa, dan aktris yang kurang terdengar. Belakangan, kabarnya ia berguru dari salah satu legenda hiburan kita, Titiek Puspa, dan setelah itu, mendadak sontak, lahirlah film ini, dengan beberapa rilisan berita yang sungguh bombastis biarpun tak terlalu menyebar juga. Bahwa Chev, panggilannya, merogoh koceknya sebesar 10 M untuk memproduseri film ini. Kemudian berubah menjadi 3.5M. Kemudian, perannya tak hanya sebagai produser tapi juga sutradara (biarpun di laman facebooknya tertulis nama orang lain sebagai sutradara), aktris, ide cerita, skenario, pengisi soundtrack, dan percayalah, masih banyak lagi yang lain. Lagi, katanya, ia menggonta-ganti sampai 200 wardrobe dalam film ini. Sounds like Sex And The City. Lantas lagi, digembar-gemborkan sebagai copycat Titiek Puspa, sang mentor. Eh, jadi seorang Opick yang mengaku-ngaku sineas pertama di dunia yang mengambil kombinasi peran-peran produksi di film jebloknya, Di Bawah Langit tempo hari, sudah bisa tersaingi. Bukan begitu?

Then comes the second question. Was she that great? Dari kredit yang menuliskan ‘a film by QKU’ di bagian sangat awal, kita agaknya sudah bisa mendapat jawabannya. So kata ‘a film by’ yang dipasangkan dengan nama movie company, bukannya nama sutradara, dianggap sebagai suatu kebenaran oleh Cheverly. Oh, pantaslah, kabarnya, ketika premiere film ini, kalau mendapat rezeki yang ditargetkannya diatas 600 ribu penonton dari hasil yang diakuinya memberikannya kepuasan, ia berniat mengambil sekolah film di AS. Ah, yes. Semoga dosen-dosennya bisa memberikan pelajaran yang benar, nantinya. Sekarang, mari kembali ke tampilan fisik seorang Cheverly, plus tentu saja, aktingnya. Was she that great? Saya tahu poin-poin semacam ini adalah hal yang relatif. But personally, she kinda looks like Cruella DeVille, atau sosok 20an (usianya kabarnya 26 tahun) yang terperangkap di tubuh seorang wanita 40an. Lantas aktingnya, ah lagi, rasanya Chev tak banyak berakting kecuali di beberapa adegan menangis, itu juga dalam pakem konvensional film Indonesia dari skenarionya yang rata-rata ajaib dan unbelievable. Selebihnya, Chev hanya tampak menggelinjang disana-sini seperti wanita kecentilan dan berbicara dengan logat waria yang dibuat-buat dibalik tampilan bling-bling, kombinasi warna luarbiasa tak nyambung serta asesoris yang sama seperti peserta-peserta Mardi Gras. Overly looked. Bahkan di beberapa bagian, saya sampai tak yakin itu adalah topi, yang kerap dikenakannya.

Now here’s the plot, yang juga digembar-gemborkan secara ajaib lewat tagline yang berubah-ubah di tiap press releasenya. Bunyinya, ‘Bersama Sahabat Meraih Mimpi’, ‘Mimpi dan Harapan’, ‘Percaya Adanya Keajaiban’, ‘Percayakah Kamu Akan Keajaiban’, ‘Cerita Dalam Cerita’, ‘Mimpi Dalam Mimpi’ dan saya rasa masih ada seabrek lagi tanpa keputusan jelas ke salah satu diantaranya. Film lantas dimulai dengan gambaran sebuah scrapbooks gaya anak SMU, seperti Lizzie McGuire, dengan suara serak-serak kecentilan tak jelas menerangkan bahwa London itu bukan nama negara, tapi nama karakternya. Yes, so smart. Kemudian, terus terang, saya seperti tak merasakan nonton film. Apa yang muncul ke depan mata dari kegilaan Cheverly yang mungkin menderita semacam Carrie Bradshaw Syndrome itu adalah segala macam asesoris bling-bling, rumah dan keluarga jetset dengan semua pernak-pernik berkilau dan mobil-mobil mewah sekelas humvee dan sekumpulan aktor-aktris yang memang cukup punya nama untuk berinteraksi dengan si gadis (is that a girl or an auntie, tak jelas juga), mulai dari Gading Marten, Pierre Gruno, Abdulrahman Arif, Erwin Moron, cameo-cameo Miller, Oppie Andaresta, hingga bintang legendaris Barry Prima. Sesekali, tersemat juga kehidupan di sebuah kampung kecil untuk menggelar plotnya yang ambisius, tentang Virginia (Sabrina Athika, another you-don’t-know-who yang juga kualitas fisik dan aktingnya tak berbeda jauh-jauh amat dari Cheverly) bersama Camel (Arif, yang juga semakin melengkapi nama-nama karakter yang ajaib itu), yang bermimpi ingin menjadi penyanyi berbakat di ibukota. Saya jadi berpikir, apakah Cheverly ini anak pejabat, anggota DPR atau seorang putri dari negeri antah berantah yang datang dari sisi terjauh dunia dimana otak bukan menjadi bagian dari tubuh manusia? Entahlah, tapi percayalah, kita akan dibuat takjub ribuan kali lebih parah dari pernak-pernik dalam film Catatan Si Boy, dan saya lupa juga menyebutkan, dua dari aktornya, Gading Marten dan Erwin Moron, mungkin tergoda oleh iming-iming peran yang jadi spesialisasi olok-olokan di Indonesia. It’s like, kalau mau terkenal, berperanlah jadi waria. Yang suka cengengesan pula. Seperti itu. Sebelum saya terbangun dari ketakjuban saya atas semuanya ditambah banyaknya bahasa-bahasa campuraduk yang katanya mau menunjukkan sisi kedaerahan (oh ya? begitu?), plotnya sudah berjalan menuju akhir dengan London yang menangisi asistennya yang waria, Sandra (Marten), yang tiba-tiba menghilang, seperti kehilangan seorang kekasih. Masih kurang ajaib? Don’t take it as a spoiler, really, it’s not, Sandra ternyata adalah asisten ayahnya, Candra yang beralih rupa menjadi waria untuk bisa dekat selalu dengan London yang kabarnya sudah ditaksirnya sejak kecil. Pesan-pesan bijak ala Cheverly tadi pun kembali datang, menyadarkan kita dari satu setengah jam yang benar-benar terasa ajaib. Pada akhirnya, London Virginia ini memang cuma jadi olok-olokan raksasa atas ambisi keterlaluan yang tak juga dituangkan pada tempatnya. Seperti kasus Genderuwo-nya KK Dheeraj tempo hari, tapi paling tidak ada satu sisi yang membuat saya akhirnya bisa merasa senang. Sang maestro, KK Dheeraj, yang juga jagonya gembar-gembor seperti tulisan-tulisan yang memenuhi poster Genderuwo sampai menenggelamkan gambar bintangnya, akhirnya mendapat saingan juga. It’s like a villain who finally meets supervillain from another gender. Seorang narsis megalomaniak yang jauh lebih parah. Teruslah bertanding, teman-teman. Semoga penonton masih bisa menentukan seberapa parah karya-karya kalian dengan kewarasan penuh, karena sama seperti Genderuwo, Babi Ngepet serta London Virginia tadi, di show saat saya menontonnya, tak ada satupun kepala disana. (dan)

~ by danieldokter on December 3, 2010.

5 Responses to “LONDON VIRGINIA : 100 WAYS TO SPEND YOUR BILLIONS”

  1. […] This post was mentioned on Twitter by Fiko Agretiko, Daniel Irawan. Daniel Irawan said: LONDON VIRGINIA : 100 WAYS TO SPEND YOUR BILLIONS: http://wp.me/pVV2A-5i […]

  2. Dan, salam kenal sesama movie blogger. Bolehkah saling bertukar link di blog dan Twitter?
    http://databasefilm.blogspot.com @databasefilm
    Makasih sebelumnya🙂

  3. sure! will update it soon!🙂

  4. you are a very smart movie blogger and i love it. The fact that you’re givin such an honest opinion about this movie. It is overrated indeed and i hope indo movie will get up from this bed rest! ha!

  5. 🙂. thanks a lot! hope so, too🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: