THE CHRONICLES OF NARNIA : THE VOYAGE OF THE DAWN TREADER

THE CHRONICLES OF NARNIA : THE VOYAGE OF THE DAWN TREADER

Sutradara : Michael Apted

Produksi : 20th Century Fox & Walden Media, 2010

Tak ada yang menyangka kalau franchise epik fantasi adaptasi novel anak-anak terkenal karya C.S. Lewis yang sebenarnya cukup bagus namun memang benar, tak kelewat spesial itu, The Chronicles Of Narnia, bakal dilanjutkan setelah Disney mengumumkan kemunduran mereka sebagai co-producer dan distributor setelah instalmen keduanya, Prince Caspian, mencetak box office jauh di bawah instalmen awal Narnia, The Lion, The Witch And The Wardrobe. Instalmen ketiga yang sebenarnya sudah memulai pre-produksi jauh-jauh hari itu pun kemudian dirombak di beberapa bagian dengan masuknya penulis skenario baru, Michael Petroni (Til Human Voices Wake Us, Queen Of The Damned/co-writer, which is not a notable movie also), dan ternyata menjadi rebutan bagi banyak studio film termasuk Paramount dan Columbia. Fox kemudian memenangkan perebutan itu dan berlanjutlah franchise ini, yang sejak sebelum summer tahun lalu sudah muncul begitu menggoda lewat trailer dan iming-iming 3D non-konversinya, kalaupun ada konversi, hanya di sebagian adegan. Begitu yang dikabarkan. Jadi agaknya perombakan dan penggantian distributor itu cukup berguna juga untuk men-set ulang kegagalan Prince Caspian, terlebih dari sisi sutradaranya, Michael Apted (007’s The World Is Not Enough, Extreme Measures, Enough, etc.) yang sudah tergolong sangat senior di perfilman Inggris dan Hollywood.

Seperti novelnya, Voyage berset setahun setelah sekuel keduanya. Edmund (Skandar Keynes) dan Lucy Pevensie (Georgie Henley) yang ditinggal kakak-kakak mereka, Peter yang tengah kuliah dan Susan yang berlibur bersama orangtuanya, kini kembali ke Narnia bersama sepupu mereka, Eustace Scrubb (Will Poulter). Disana mereka kembali bertemu Caspian (Ben Barnes) yang kini sudah menjadi Raja Narnia dan si tikus bicara Reepicheep (disuarakan Simon Webb) dalam sebuah quest untuk menemukan tujuh bilah pedang pusaka demi menyelamatkan Narnia sekali lagi dari kekuatan jahat yang bersarang di sebuah pulau bernama Dark Island. Dan tak hanya itu, kekuatan jahat itu ternyata juga sekaligus menggali konflik terpendam dari diri mereka masing-masing di tengah-tengah quest yang membawa mereka dalam perjalanan menuju kampung halaman Sang Singa Pelindung, Aslan (disuarakan Liam Neeson) di ujung dunia.

Tak seperti instalmen pertama dan kedua yang jauh lebih akrab ke pembaca novelnya dan kurang meninggalkan kesan mendalam bagi penonton penggemar film-film epik fantasi, masuknya Apted di kursi penyutradaraan sedikit merubah tone franchise ini ke arah yang lebih universal dengan pengadeganannya. Apted mungkin menyadari sekali kekurangan yang ada pada sekuel-sekuel sebelumnya dimana kecuali Aslan yang juga jarang-jarang muncul, hampir tak ada karakter yang bisa muncul sebagai scenestealer memorable di filmnya. Pemilihan Will Poulter untuk memerankan sang sepupu rese’, Eustace Scrubb, yang nantinya bakal memegang peranan dalam sekuel selanjutnya dan kabarnya sudah dikontrak ke sekuel selanjutnya, The Silver Chair, terasa benar-benar dipersiapkan Apted untuk membangun karakternya dengan menarik, bahkan sejak awal sebelum set film berpindah ke dunia Narnia yang fantastis. Aktor cilik yang namanya terangkat lewat sebuah film low budget yang polos dan bagus, Son Of Rambow ini muncul bak seorang komedian Inggris yang selalu berada di tempat dan waktu yang salah dengan kepolosan anak-anaknya, annoying but funny, dan hasilnya, insltamen ketiga ini bisa memiliki karakter memorable tadi. Disamping itu, Apted juga berhasil membangun chemistry diantara tokoh-tokoh penting lain yang selama ini terasa kurang darah, dengan feel yang lebih intens mengiringi sisi petualangan yang juga dibangun jauh lebih menarik. Hasilnya lagi? Sinergi dan chemistry antara Barnes dan Keynes aka Caspian dan Edmund muncul bak Luke Skywalker dan Han Solo dalam franchise Star Wars. Tangguh, suka berseteru namun juga kompak luarbiasa, begitu juga Reepicheep yang jadi semakin jenaka di tangan Simon Pegg sebagai pengisi suaranya yang menggantikan Eddie Izzard di Prince Caspian. Namun secara keseluruhan, adalah sebuah penyampaian visual yang muncul ke depan sebagai sisi paling unggul dari instalmen ini. Walaupun penggarapan 3D-nya lagi-lagi diomeli sebagian orang tak begitu spesial, intensitas adventurous plot dan efeknya membuat kita seakan dibawa ke dalam petualangan ala Indiana Jones. So kenapa harus berpikir lebih jauh lagi? Esensi utama The Chronicles Of Narnia memang diperuntukkan untuk penonton belia sekaligus penggemar epik fantasi. As long as it can entertain you well, dan bisa menutupi beberapa lubang mengecewakan dari pendahulunya, just go see it! (dan)

~ by danieldokter on December 3, 2010.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: