GUZAARISH : A ‘REQUEST’ TO CHERISH YOUR LIFE

GUZAARISH

Sutradara : Sanjay Leela Bhansali

Produksi : UTV Motion Pictures & SLB Films, 2010

Devdas. Black. Khamoshi The Musical. Hum Dil De Chuke Sanam. And even box office bomb Saawariya that in beyond has brought you far above the beautiful theatrical atmosphere. Sebut semuanya, dan itu adalah sebuah trademark bagi seorang Sanjay Leela Bhansali, sutradara groundbreaking di perfilman Bollywood yang meracuni penontonnya dengan peningkatan level diatas film-film Bollywood pada umumnya, namun tetap setia menjadikan musik sebagai bagian yang sangat hidup di tiap karyanya, yang rata-rata berbicara tentang sebuah pengharapan dibalik penderitaan in a terms called LIFE. Sanjay yang memulai karirnya sebagai asisten sutradara ternama lainnya, Vidhu Vinod Chopra (yes, Vidhu adalah penghasil 3 Idiots dan 2 sekuel Munna Bhai yang fenomenal itu) kemudian beranjak membangun karirnya sendiri lewat Khamoshi yang meraih banyak penghargaan, pujian kritikus dibalik sebuah premis down to earth yang berbicara lantang dibalik tema bisu tuli-nya, memang adalah sebuah hartakarun bagi perfilman Bollywood, apalagi ketika Devdas berhasil menjadi contender seleksi awal Oscar untuk kategori film asing. Toh tak ada yang menyangka, caci-maki bertubi-tubi di tengah kegagalan box office Saawariya yang sebenarnya juga punya segudang poin bagus secara filmis itu sempat membuatnya galau hingga terciptalah ide untuk film terbarunya ini. Guzaarish (means ‘Request’) adalah sebuah lovestory berisi esensi tentang ke-putus asa-an, namun sekaligus juga harapan besar dibalik isu kontroversial tentang ‘euthanasia’(mercy killing), semacam usaha mengakhiri hidup yang disengaja secara medis untuk tak memperpanjang penderitaan si pasien. Something that sound so Bhansali. Dan atas ambisinya ini, ia menggamit Ronnie Screwvala, CEO dan founder UTV Motion Pictures, seorang taipan pertelevisian India yang masuk ke dalam list 100 orang paling berpengaruh di dunia versi majalah Time 2009 dan juga co-producer The Happening-nya Shyamalan, di kursi produser, serta dua heartthrob Bollywood yang bereuni mengulang chemistry mereka di Jodhaa Akbar, Hrithik Roshan dan Aishwarya Rai Bachchan. Masih kurang cukup? Guzaarish juga menjadi debut Sanjay dalam memulai karirnya sebagai music director, hingga menggunakan dua tembang Internasional legendaris, Smile-nya Charlie Chaplin dan What A Wonderful World Louis Armstrong demi menjelaskan premis itu.

Seorang teman lantas bertanya ketika menyaksikan film ini, atas nama-nama karakter yang sounds more hispanic than Indian. Just to make sure ke kritikan yang bakal muncul tak relevan untuk penonton-penonton yang mungkin tak mengenal sejarah India dan seluk-beluk ragam budaya daerah-daerahnya, set Guzaarish memang berlangsung di Goa, sebuah bagian India bekas jajahan Portugis yang menyerap sekali kebudayaan latin itu, tak hanya nama namun juga kostum, tarian, religi hingga musik flamenco yang kental sekali nuansa latinnya. Disinilah Sanjay menggelar kisah tentang Ethan Mascarenhas (Hrithik Roshan), mantan pesulap terkenal yang kini harus melewatkan seluruh harinya berbaring tanpa daya akibat sebuah insiden yang mengakibatkan kelumpuhan total (quadriplegic) bagi dirinya. Untuk melupakan penderitaan itu, Ethan membuka saluran radio bernama Radio Zindagi dimana dirinya sendiri menjadi penyiar yang menampung semua keluhan putus asa dari para pendengarnya sambil menyebarkan harapan akan keajaiban pada mereka. Di sisinya, adalah Sofia D’Souza (Aishwarya Rai) yang setia menemani Ethan sebagai perawat pribadi selama 14 tahun terakhir walau harus mengorbankan kehidupannya sebagai seorang istri lelaki lain. Meski hidup saling menyemangati satu sama lain, Ethan akhirnya sampai pada keputusan untuk sebuah izin pengadilan resmi atas tindakan euthanasia yang didukung oleh sahabat sekaligus pengacaranya, Devyani Dutta (Shernaz Patel), dokter pribadinya, Nayak (Suhel Seth) bahkan sang ibu (Nafisa Ali) dan Sofia sendiri. Penolakan pengadilan kemudian tak membuat mereka menyerah. Dengung permohonan euthanasia inipun disebar lewat radio ke sebuah pengadilan terbuka yang melibatkan banyak orang hingga media, dan kemudian semakin diperumit oleh hadirnya Omar (Aditya Roy Kapoor), ambisius muda yang memaksa Ethan menurunkan ilmu sulap padanya, sekaligus menyimpan rahasia terhadap persaingan masa lalu Ethan dengan rekannya sesama pesulap, Yasser Siddique (Ash Chandler).

Dilema antara ke-putus asa-an, pengharapan, hukum kesehatan seputar ideologi abu-abu dunia kedokteran atas tindakan euthanasia sampai sebuah kisah cinta terpendam yang berjalan di jalur melodrama ala India memang digelar Sanjay dengan style penyutradaraan ciri khasnya yang biasa. Muram, mengharu-biru, menyentuh nsamun juga sekaligus membuka mata penontonnya terhadap pesan bijak yang ingin disampaikan Sanjay, namun tak harus jatuh ke komersialisme non-relevan di banyak film India biasanya. Nomor-nomor musikalnya pun tak digelar dengan konvensionalisme Bollywood biasanya namun mengikuti trend yang berkembang demi sebuah penerimaan yang lebih internationally-wide, lebih ke musik-musik latar, stage act, atau bagian dramatisasi yang menyatu dengan adegannya. Score yang sangat mendukung juga ikut mengambil bagian penting di dalamnya (just for a record, sebelum kasus Ekskul yang mencomot musik film Korea,Taegukgi, Indika Entertainment juga kerap menggunakan score salah satu film Sanjay, Black, dalam beberapa film produksi mereka termasuk Detik Terakhir), begitu juga dengan penataan set dan kostum yang selalu jadi momen terbaik Sanjay hampir di tiap film-filmnya. Premis multiplot besutan Sanjay yang juga menulis skenarionya benar-benar dimanfaatkan secara efektif dengan alur maju mundur dan pengenalan karakter yang bertahap untuk membuka satu-persatu benang merah menuju ke penyampaian pesan universal yang jadi tendensinya. Bagi sebagian penonton, gaya Sanjay yang muram dan ‘darkly hurtful’ ini bisajadi terasa lamban dan berpanjang-panjang kesana kemari, namun once you get into his idea of that thing called life, Anda akan bisa menikmatinya dengan intensitas emosi yang sejalan. Ini juga mungkin yang membuat Guzaarish lagi-lagi gagal mencetak box office yang diharapkan atas selera penonton India kebanyakan yang lebih menyukai gegap gempita pakem konvensional Bollywood yang komersil seperti penonton kita, apalagi sebelum perilisannya Guzaarish sudah digempur oleh setumpuk tuntutan mulai dari kelompok relijius penentang Euthanasia, tuduhan plagiat atas sebuah novel dan skenario dari dua pihak terpisah, asosiasi antirokok hingga perseteruannya dengan sineas-sineas lain yang mencemooh lewat media (Salman Khan, salah satunya) termasuk twitter oleh sutradara kacangan Ram Gopal Varma yang ikut memancing kemarahan Sanjay. Diatas semua tadi, kredit terbaik Guzaarish agaknya harus dialamatkan pada chemistry Hrithik-Aishwarya yang memang terbangun sangat erat dengan kedalaman akting masing-masing terhadap karakternya, khususnya Hrithik yang harus masuk ke ambiguitas Ethan atas penderitaan dan keinginannya berharap dibalik sesosok tubuh lumpuh total itu. Gestur dan gerakan tubuh Hrithik yang memang dikenal kelewat luwes bak seekor ular ketika memainkan adegan-adegan tari (termasuk salah satu style ballet klasik yang dikombinasikan dengan tari tradisional India disini) mungkin membuatnya tak begitu sulit memerankan Ethan secara meyakinkan bak sebuah pertunjukan pantomim panggung. Aditya Ray Kapoor, aktor muda pemeran Omar juga mampu mencuri perhatian di tengah-tengah kekuatan keduanya hingga banyak disebut-sebut bakal jadi the next big thing di industri film mereka, apalagi sebuah film lainnya dengan Aishwarya juga tampil dalam waktu dekat. So overall, seperti beberapa film Sanjay lainnya, Guzaarish bisajadi agak sedikit segmental buat bisa membuat penonton ikut terhanyut bersama permainan emosional yang digelarnya, baik sewaktu dieksekusi dengan ending happy or sad, tetap ada atmosfer muram yang mengandung kepahitan di dalamnya. Just like reality. Either you like it or not, namun inilah seorang Sanjay Leela Bhansali dengan karya-karyanya yang penuh dengan pesan pengharapan. Yet for myself, Guzaarish has worked very well deliver us falling in love all over again with that thing called life. Each and our own. (dan)

~ by danieldokter on December 10, 2010.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: