REVI-EW-SITED : TRON (1982) : THE GROUNDBREAKING EFFORTS OF SCI-FI TECHNOLOGY

TRON

Sutradara : Steven Lisberger

Produksi : Walt Disney Pictures, 2010

Bersama E.T. dan Return Of The Jedi, Tron menjadi saksi distribusi film yang brengsek di Indonesia tempo doeloe. Entah karena alasan mahal atau yang lain, tiga film berstatus sci-fi klasik ini tak mampir ke Indonesia kecuali beberapa kids merchandisenya, itupun sebagiannya tak resmi. Satu-satunya kesempatan untuk penonton Indonesia tahun 80an itu, kalau tak pergi ke luar negeri untuk bisa menyaksikannya, adalah dari VHS/Betamax bajakan yang untuk film-film itun dibandrol harga sewa yang cukup mahal. Namun sayangnya Tron lantas tak dipandang se-memorable kedua seangkatannya disini, mungkin karena grafik yang terkesan lebih ke nuansa game ketimbang film, sementara pemilik home videogame yang kala itu didominasi Atari juga masih terbatas di kalangan menengah keatas, begitu juga dengan game arcade yang belum se-menjamur dua-tiga tahun setelahnya. In the other hand, di negara-negara yang lebih maju, Tron dihargai jauh lebih layak meski hasil box office-nya masih jauh dibawah E.T dan Return. Baru 15 tahun kemudianlah film ini berkembang menjadi semacam cult classic yang dianggap sebagai salahsatu pionir di bidang teknologi perfilman dengan diganjar Academy Awards untuk Technical Achievement. Semacam Blade Runner yang di tahun peredarannya masih banyak mendapat pandangan aneh, Tron, meski tak se-jeblok itu di perolehan box office, kini diakui sebagai karya klasik. Sayangnya, sutradara sekaligus penggagasnya, Steven Lisberger, tak bernasib sebaik Ridley Scott yang terus melaju. Lisberger yang dikabarkan sedikit kecewa dengan peredaran Tron malah stuck di film-film mediokre. Dua filmnya yang sebenarnya masih menawarkan suatu keunikan, rom-com Hot Pursuit (1986) dan sci-fi Slipstream (1989), terjebak menjadi film-film forgettable. Baru lantas setelah era teknologi begitu meraksasa di abad ini, Lisberger kembali melihat peluang untuk menampilkan idenya secara benar-benar up-to-date, tak lagi dengan kelanjutan Tron yang selama ini hanya muncul dalam bentuk game. Setelah perombakan judul dari TR2N menjadi Tron : Legacy, menyerahkan penyutradaraan pada Joseph Kosinksi sebagai debut layar lebar pertamanya, highlights clip dari sekuel yang terbentang kelewat jauh dengan instalmen pertamanya ini pun digelar dengan respon luar biasa dari kalangan penonton yang kini sudah jauh lebih melek teknologi dan menyadari kalau racikan Lisberger di tahun 1982 dulu adalah sesuatu yang sangat groundbreaking di zamannya. Dua karakter fenomenalnya yang dibintangi Jeff Bridges dan Bruce Boxleitner pun kembali memerankan karakter mereka, Flynn dan Alan alias Tron, minus female lead Cindy Morgan yang tak kunjung diajak meski sudah dikampanyekan penggemarnya lewat facebook dan forum-forum fansnya.

Meski lebih dikenal sebagai filmnya Jeff Bridges, karakter yang diangkat menjadi judul dan divisualkan lebih gede di posternya sebenarnya bukan diperankan oleh Jeff melainkan Bruce Boxleitner yang dulu terkenal lewat beberapa film serial yang sempat ditayangkan TVRI, Bring ‘Em Back Alive dan Scarecrow & Mrs King. Belakangan, karir Bruce meredup ke film-film kelas B dan hanya sempat menarik perhatian di Babylon V versi 1998. It happened sometimes, dimana karakter paling memorable-lah yang akhirnya muncul melesat meninggalkan karakter lain yang sebenarnya lebih mendominasi sebuah film. Poor Bruce. Jauh sebelum komputer menjadi kebutuhan utama masyarakat luas, Lisberger menggelar kisahnya dari perusahaan software ENCOM yang memproduksi videogame dan dibantu oleh sebuah Artificial Intelligence bernama MCP (Master Control Program). MCP kemudian berkembang semakin kuat hingga berniat mendobrak system sekuriti Pentagon dan mengalahkan dominasi manusia, terutama Ed Dillinger (David Warner) yang memegang kursi CEO setelah mengkhianati Kevin Flynn (Jeff Bridges), programmer asli videogame terkenal mereka hingga beralih membuka usaha arcade. Flynn yang sakit hati terus-menerus mencari celah untuk meng-hack system ENCOM, sementara salah satu programmernya, Alan Bradley (Bruce Boxleitner), bersama kekasihnya Dr. Lora Baines (Cindy Morgan) yang juga seorang programmer disana, tengah berusaha menghentikan kegilaan MCP dengan programnya yang diberi nama Tron. Tujuan berbeda ini menjadi sebuah kerjasama ketika Alan menyadari kejelekan Dillinger. Namun MCP yang lebih dulu mencium niat ini keburu menjebak mereka masuk ke dalam dunia virtual berdasar rancangan Flynn dulu, dimana Tron sebagai program pengacau MCP bersama Flynn dan Yori (nama-nama karakter mereka di dunia itu) harus menjadi karakter dalam game mematikan di arena Light Cycle yang sewaktu-waktu bisa membahayakan mereka saat menghadapi langsung MCP serta Sark (versi virtual Dillinger) sebagai algojonya.

Sebuah visual ala game yang sedikit membingungkan di zamannya, bisa dibilang, namun bila disadari menyimpan segudang kejeniusan Lisberger dalam memaparkan isu yang hangat muncul saat itu, dimana manusia harus memikirkan jalan keluar dari dampak teknologi dan mesin yang tiap saat bisa mengambil alih dominasi mereka. Seperti komputer yang sudah menjadi kebutuhan utama sekarang, atau katakanlah facebook, twitter atau blogging yang menyebabkan ketergantungan manusia terhadapnya. Menyaksikan instalmen pertama Tron di zaman serba teknologi yang sudah melesat jauh ke depan dalam rentang nyaris 30 tahunan ini tentu akan terasa ketinggalan zaman dengan grafik visualnya yang memang kuno dan belum sampai kemana-mana itu. Namun coba telusuri betapa pengejawantahan gagasan Lisberger itu bisa dituangkan menjadi sajian sci-fi layar lebar yang mengandung semua unsur hiburan, teknologi dan kritik sosialnya sekaligus. Aktor-aktor yang harus berakting di set mati sebelum diracik dengan efek grafis komputer, tampilan sound yang juga sangat ber-feel elektronik hingga desain produksi lainnya, semuanya tentu bukan hal gampang di masanya. Ingin lebih jelas? Fitur The Making Of yang baru diproduksi secara lengkap di tahun 2002 saat perayaan ultah ke-20nya benar-benar akan membawa penontonnya ke sebuah pengalaman menakjubkan dimana komputer yang digunakan hanya berisi 2 MB memori dan harddisk berkapasitas 330 MB dengan efek visual dari Lisberger Studios yang dibangun dengan proses ‘backlit animation’ yang sangat-sangat tradisional untuk ukuran sekarang. Hanya dengan memahami semua inilah kekuatan klasik Tron akan benar-benar terasa di zaman sekarang sekaligus membawa rasa penasaran Anda ke instalmen keduanya yang akan hadir beberapa hari ke depan, dengan pameran teknologi yang sudah benar-benar up-to-date. Just put your thoughts in the early 80s state of mind, get into the games, and trust me, you’ll feel every greatness of it! (dan)

~ by danieldokter on December 13, 2010.

2 Responses to “REVI-EW-SITED : TRON (1982) : THE GROUNDBREAKING EFFORTS OF SCI-FI TECHNOLOGY”

  1. […] This post was mentioned on Twitter by Satrio Nindyo Istiko, Daniel Irawan. Daniel Irawan said: REVI-EW-SITED : TRON (1982) : THE GROUNDBREAKING EFFORTS OF SCI-FI TECHNOLOGY: http://wp.me/pVV2A-5N […]

  2. Hey this post is very interesting. I’ll use it for my essay🙂. Can you tell me some related articles I could use too? – Bosal exhaust

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: