TRON : LEGACY : INTO THE GRID AND THE FUTURE OF FILMMAKING

TRON : LEGACY

Sutradara : Joseph Kosinski

Produksi : Walt Disney Pictures, 2010

Hanya segelintir mungkin moviefreaks zaman sekarang yang pernah merasakan hype yang lumayan mendunia di tahun 1982 dulu dengan perilisan ‘Tron’, oleh Walt Disney Pictures, sebuah sci-fi dunia virtual yang kala itu masih jadi khayalan digital di benak penggagas jenius-nya, sutradara Steven Lisberger. Jauh sebelum teknologi komputer melanda dunia, Steven sudah bicara tentang ketakutan manusia atas dominasi teknologi itu dalam Tron. Tampilan grafik dunia virtual-nya merupakan hal lain lagi. Dipandang banyak orang sebagai sebuah milestone, pionir, atau apalah namanya, untuk masa itu, dimana sebuah game saja masih bergrafis minimal ala Atari dan game arcades masih dipenuhi pinball dengan gambar mati, Steven dengan para animator digitalnya (oh, guess what, Tim Burton ada di salah satu departemen teknikal itu) sudah menyajikan sesuatu yang memang cukup mencengangkan dengan kapasitas komputer yang belum juga gede-gede sekali. Kini, seperti terbangun dari tidurnya, perkembangan teknologi itu memunculkan ide bagi Steven untuk melanjutkan Tron dengan isu teknologi yang tak lagi se-simpel dulu. Masih ada paranoia kemajuan teknologi dan penghormatan Steven atas 80s life yang fenomenal termasuk soundtrack elektronik dari Daft Punk bahkan melodic rock 80 dari Journey disana, namun seperti basic pandangan sains sendiri, Tron:Legacy juga terlihat ingin berbicara banyak tentang metafora-nya dengan teori-teori penciptaan dari sisi relijius. Dan tentunya, ada sejuta kelebihan yang bisa muncul ke depan dari grafis digital bahkan treatment 3D-nya yang sudah berkembang demikian pesat di era sekarang, sebagai jualan utamanya. Tron:Legacy pun sudah dipersiapkan jauh-jauh hari dengan kerja panjang dari Digital Domain, untuk kembali mengulang sejarah masa lalunya sebagai another milestone in cinema history, atau meminjam istilah yang trending sekarang, the future of filmmaking. Pengembangan plot? Ah, Hollywood memang rajanya untuk urusan ini, bahkan bagi sekuel yang hampir memakan rentang 3 dekade dari instalmen pertamanya. O ya, jangan lupakan juga pertanyaan banyak orang yang masih bingung atas judul yang diusung franchise yang justru sejak awal lebih menonjolkan karakter Flynn yang diperankan Jeff Bridges ketimbang Tron (Bruce Boxleitner) sendiri? For instance, Flynn adalah sang kreator dari semua pijakan awal plotnya, and it’s Jeff Bridges, obviously. As in the sequel, Tron sudah digambarkan sebagai sebuah franchise cyberspace setelah Flynn kembali merebut posisi CEO di ENCOM dalam ending Tron. A game grid where it all took places.

Bergerak dari sana, Legacy mengurai lanjutannya dengan lenyapnya Flynn secara misterius setelah meninggalkan beberapa clue atas ambisi menguasai dunia digital yang kian meluap pada Alan (Boxleitner) dan putra kecilnya, Sam, di tahun 1989. Perusahaan software programmer hi-tech ENCOM kemudian melanjutkan kiprahnya yang makin tak jelas setelah Alan dicopot dari pimpinan bahkan menempatkan putra Dillinger, antagonis di instalmen pertama (Cillian Murphy in an uncredited role) dalam board executivenya. Sam dewasa (Garrett Hedlund) sendiri sebagai pewaris Flynn selalu tak sejalan dengan keputusan-keputusan board dan memilih berdiri di luar perusahaan. Hingga akhirnya Alan menemui Sam dengan sebuah pesan encrypted yang baru didapatnya atas keberadaan Flynn di dunia virtual bernama Grid. Sam pun kembali ke game arcade Flynn yang sejak lama ditutup tanpa menyadari dirinya telah mengaktifasi transporter laser yang membawanya ke dalam Grid tersebut. Disana, Sam menyadari bahwa ayahnya selama ini terperangkap atas pengkhianatan Clu (young Jeff Bridges with CG treats), virtual programnya sendiri. Clu bahkan memprogram ulang Tron menjadi jagoan di arena gladiator discwar dan memburu identity disc Flynn dalam persembunyiannya bersama Quorra (Olivia Wilde), wanita program yang menyimpan rahasia penemuan Flynn. Satu-satunya cara untuk kembali ke dunia nyata adalah melalui portal yang hanya terbuka dalam waktu singkat, sementara Clu yang sudah membangun kekuatan militernya disana sewaktu-waktu siap menghabisi mereka.

Kembali ke dunia Grid bersama arena lightcycle dengan lightrunner dan vehicle-vehicle generasi baru -nya, kostum hingga ‘the recognizer’ yang mirip gapura dengan labirin-labirin electroluminescence yang semakin canggih dan bersinar-sinar, even in 3D treatment yang tergarap baik, adalah sebuah pengalaman sinematis baru yang benar-benar membuktikan janji Steven Lisberger sejak rangkaian art premiere sampai ke viral promotion yang memuat konsep-konsep teknikal Legacy sebelumnya. Permainan eyecandy itu juga terasa begitu bersinergi dengan konsep musik synthesizer elektronika 80an dari 26 komposisi asli duo Daft Punk yang membesut soundtrack Legacy, dalam pencapaian yang bahkan melampaui Blade Runner, sci-fi cult Ridley Scott yang sangat padu dengan soundtrack bernuansa sama dari Vangelis atau 2001 : A Space Oddysey dengan Also Sprach Zarathustra-nya. Tak percuma rasanya Steven Lisberger menyerahkan kursi penyutradaraan pada Joseph Kosinski, seorang animator 3D digital senior yang baru memulai debut layar lebarnya. Di tangan Joseph, pernak-pernik teknologi itu mampu tampil sebagai background yang begitu menyatu dengan esensi ceritanya ketimbang sekedar tempelan belaka. Ensembel kastingnya juga muncul sebagai kekuatan yang lumayan solid dengan Olivia Wilde dan Michael Sheen sebagai scenestealer yang menarik, hingga sedikit menenggelamkan Garrett Hedlund yang seharusnya jadi karakter terpenting setelah Flynn. Lepas dari itu semua, adalah nyawa utama Legacy yang sebenarnya tak bisa terlalu jauh beranjak dari instalmen awalnya, yang akhirnya tak bisa menghindari reaksi dan respon yang sangat segmental dari pemirsanya. Plot yang seakan diikat dengan benang merah kelewat erat dan menuntut adanya suatu knowledge dari instalmen pertama (yang sayangnya sudah berjarak hampir 3 dekade itu) hingga pemahaman serta ketertarikan sains ini semakin menambah jarak bagi sebagian penonton untuk bisa menikmatinya secara maksimal. Pilihannya, tentu cukup dengan menikmati sisi visual digitalnya yang juara dan berhasil mengulang predikat groundbreaking di instalmen pertamanya, atau soundtrack fenomenal Daft Punk tadi tanpa harus bersusah-payah mencari-cari signifikansi antar adegan dari kedua sekuel ini. But trust me, if you ever felt the hype of 1982’s Tron, this’ll feel even much, much, bigger. Meanwhile, setelah Avatar James Cameron tahun lalu, it’s really great to have Tron:Legacy dengan segala klimaks kesempurnaan visual ‘the future of film making’-nya sebagai tontonan penutup tahun. (dan)

~ by danieldokter on December 18, 2010.

3 Responses to “TRON : LEGACY : INTO THE GRID AND THE FUTURE OF FILMMAKING”

  1. […] This post was mentioned on Twitter by Rangga Adithia. Rangga Adithia said: TRON : LEGACY : INTO THE GRID AND THE FUTURE OF FILMMAKING: http://wp.me/pVV2A-6J (via @danieldokter) […]

  2. Wah, thanks for the post… Salah satu resolusi tahun depan gue adalah menonton film… Hahaha… penting ya?

    Salam kenal ya Dan…

  3. sama-sama.nonton film? always penting!🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: