GULLIVER’S TRAVELS : HAPPY HOLIDAYS!

GULLIVER’S TRAVELS

Sutradara : Rob Letterman

Produksi : 20th Century Fox & Davis Entertainment, 2010

Anak-anak yang dulu tumbuh besar bersama literatur dunia (termasuk Album Cerita Ternama yang legendaris itu) sebelum demam komik Jepang melanda di tahun 90an pasti akrab sekali dengan dongeng karya Jonathan Swift di abad ke-18 ini. Gulliver’s Travels, yang sudah beberapa kali diangkat ke layar lebar dan mencatat salah satu peran legendaris aktor Inggris Richard Harris itu kini kembali diadaptasi sebagai sajian penutup tahun. Sebuah holiday movie yang sudah pasti sangat mengedepankan unsur hiburannya untuk mengisi slot yang di tahun sebelumnya jadi milik Bedtime Stories atau Night At The Museum. Namun sedikit berbeda, dengan pilihan castnya yang notabene selalu menjadikan film-filmnya condong ke eksplorasi pribadi gaya komediknya yang awkward dan kerap dicap kekanak-kanakan, a man named Jack Black, memang membawa kisah ini ke wilayah yang lebih mirip parodi gila ketimbang re-telling yang setia pada aslinya. For a holiday movie? Tentu tak mengapa. Terlebih bagi penonton yang menyukai style komedi Jack Black yang tak pernah meninggalkan kecintaannya pada musik-musik 70-80an untuk menjadi bagian olok-olokan pada film-filmnya, termasuk juga tribute pada film-film kegemarannya. Maklum saja, Jack Black sendiri memang cukup piawai sebagai musisi nyeleneh dalam grup fiktifnya, Tenacious D, yang juga punya film sendiri itu.

Dengan set awal yang berpindah ke zaman sekarang, Lemuel Gulliver (Black) bukan lagi seorang pelaut mantan ahli bedah, namun hanya seorang penjaga ruang surat di sebuah kantor media harian di New York. Kebosanannya pada karir yang mentok serta perasaan terpendamnya pada Darcy (Amanda Peet), travel editor disana, akhirnya membuat Gulliver nekat menerima tawaran untuk menulis artikel tentang misteri Segitiga Bermuda seorang diri. Pusaran raksasa itu akhirnya membawa Gulliver terdampar di sebuah negeri liliput yang tengah dilanda perang dengan kerajaan lawan. Awalnya ditangkap sebagai tawanan, Gulliver kemudian dielu-elukan sebagai pahlawan setelah menyelamatkan nyawa sang raja (Billy Connolly). Gulliver pun memanfaatkan momen ini untuk mengelabui eksistensinya di dunia nyata sebagai pahlawan besar yang bisa menggempur musuh sekali pukul, sekaligus melancarkan berbagai modernisasi bagi kerajaan liliput. Namun ia harus berhadapan lagi dengan Jendral Edward (Chris O’Dowd), calon suami putri Mary (Emily Blunt) yang justru dilanda asmara dengan rakyat biasa bernama Horatio (Jason Segel). Persahabatan Gulliver dan Horatio yang awalnya sama-sama tawanan kerajaan itu kemudian bergulir ke tengah perang antar kerajaan, sementara Edward yang merasa disepelekan malah berpaling ke pasukan musuh dengan satu tujuan, menyingkirkan Gulliver selama-lamanya.

Ulah Jack Black memelintir dua bagian pertama petualangan Gulliver dengan kegilaan style komedik pribadinya yang benar-benar liar di satu sisi mungkin bisa membuat penonton-penonton penyuka komedi serius ala arthouse menggeleng-gelengkan kepala mereka dan mengklaim inovasinya sangat kekanak-kanakan serta penuh dengan hal dangkal, termasuk review kritikus kelas tinggi yang langsung membenamnya dalam-dalam. Namun untuk sebagian lagi yang mengerti benar cara Black menggelar kelucuannya atau penikmat musik jadul sebagai bagian yang erat berpadu dalam film-filmnya, Gulliver versi Black tentu terasa jauh lebih meresap untuk mengundang tawa bersama pemirsa belia yang memang datang dengan sebuah ekspektasi jelas terhadap film-film holiday di momen akhir tahun ini. Kenyataannya, walau tak bisa terhindar dari selera segmental tadi, mengolah mocking scenario dalam sebuah re-telling dari old tale se-terkenal ini, tentu juga bukan hal gampang dan sekedar dangkal, apalagi meraciknya dengan gaya Jack Black yang kelewat kental serta segmental itu. Dua penulis skenario berikut sutradaranya memang punya kredit yang saling berhubungan dalam penciptaan sebuah holiday movie bercampur sedikit komedi-komedi baru ala Jason Segel atau Russell Brand. Joe Stillman yang sebelumnya berkiprah di Shrek 3, Planet 51 dan Percy Jackson, Nicholas Stoller dari Forgetting Sarah Marshall dan Get Him To The Greek, serta sutradara Rob Letterman yang sebelumnya menyutradarai animasi A Shark Tale dan Monsters Vs Aliens. Ditambah eksplorasi Jack Black menggali sisi parodi dan plesetan dari banyak produk, musik, game, hingga film-film terkenal (dari Star Wars, Titanic, X-Men, Transformers hingga Avatar),  untuk membangun kelucuannya, serta jangan lupakan juga efek spesial yang bergulir di sepanjang film (while the 3D remains a worthless converted product), Gulliver’s Travels baru ini benar-benar menjadi perpaduan guyonan nyeleneh yang sangat bernuansa holiday dan totally entertaining di penghujung tahun, once you came with the right mood and expectation. Jadi tak usah mengharapkan twist ini-itu bahkan mungkin pikiran jauh melenceng ke film-film berbobot lebih dalam trend sekarang dengan liliput yang ternyata imajiner atau psikopat, misalnya. Bahkan seorang aktris sekelas Emily Blunt yang rela menolak peran Black Widow di Iron Man 2 demi film ini saja terlihat sangat santai dengan karakternya di pakem itu. Take it as simple as this. Ini adalah holiday movie, and this Gulliver has only one twist. Jack Black. (dan)

~ by danieldokter on December 24, 2010.

One Response to “GULLIVER’S TRAVELS : HAPPY HOLIDAYS!”

  1. […] This post was mentioned on Twitter by eka dirgantara. eka dirgantara said: RT @danieldokter: MY MOVIE REVIEWS : GULLIVER'S TRAVELS : HAPPY HOLIDAYS!: http://t.co/PvI9vSY […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: