BLACK SWAN : CONSUMED BY YOUR OWN OBSESSION

BLACK SWAN

Sutradara : Darren Aronofsky

Produksi : Phoenix Pictures, Cross Creek Pictures & Fox Searchlight, 2010

Every director has their own style. Orang boleh saja bilang bahwa Darren Aronofsky punya gaya absurd dan sedikit surealis dalam penuturannya, namun masih jauh dari David Lynch dan lebih dari gaya-gayaan itu, Aronofsky sebenarnya lebih memiliki ciri khas di wilayah apa yang ingin dibicarakannya. Karya terakhirnya sebelum Black Swan sudah menegaskan hal itu. Lewat The Wrestler yang tampil se-normal film drama biasa namun penuh makna tadi, Aronofsky semakin menegaskan tendensi ini lewat serangkaian film-filmnya. Sebuah obsesi yang akhirnya berujung memakan pelan-pelan jiwa manusia sebagai pelakunya. Itu juga yang membuat rata-rata filmnya memiliki sudut pandang baru terhadap sesuatu yang terasa selalu baru. Matematika dan science dalam Pi, pecandu dalam Requiem For A Dream, rasa kehilangan dalam The Fountain dan pegulat di The Wrestler. Black Swan, yang sudah disiapkan jauh-jauh hari, juga tak beranjak jauh dari tone itu. Kehidupan pribadinya yang memiliki seorang saudara perempuan penari di dunia ballet yang penuh obsesi seperti teater, membuat Aronofsky semakin leluasa mengeksplorasi kegilaan kejiwaan dibaliknya. Apalagi, ia mengaku mencintai pertunjukan ballet dan sudah menyaksikan segudang adaptasi Swan Lake yang sudah seperti lagu wajib di panggung-panggung ballet itu. Thus, berkaitan dengan ballerina sebagai bentuk profesi, Aronofsky juga menyebutkan Black Swan sebagai suatu companion dari The Wrestler, yang sama-sama mengeksplorasi obsesi dibalik sebuah profesi. The great Aronofsky.

Hidup sebagai ballerina di New York City Ballet Company mengikuti masa lalu sang ibu, Erica (Barbara Hershey), Nina Sayers (Natalie Portman) terobsesi menjadi ratu ballerina baru ketika sang sutradara, Thomas Leroy (Vincent Cassel) berniat mengganti primadonanya, Beth MacIntyre (Winona Ryder) untuk guliran pertunjukan baru. Thomas menyadari bahwa Nina memang merupakan pilihan tepat untuk memerankan White Swan dalam panggung Swan Lake, namun kehati-hatiannya dalam mempertahankan perfeksionisme membuat Thomas tak yakin Nina bisa masuk sepenuhnya ke karakter Black Swan yang penuh sensualitas sekaligus penggoda. Ia pun menyiapkan Lily (Mila Kunis), ballerina berbakat lainnya sebagai cadangan Nina. Obsesi untuk masuk ke penjiwaan Black Swan akhirnya semakin menggerogoti kejiwaan Nina untuk bisa menghadapi sisi gelap dari dirinya sendiri.

Di tangan Aronofsky, segenap simplisitas gagasan itu memang tak pernah dituangkan mentah dalam gelaran runtut sinematis konvensional yang bisa dinikmati semua penonton film. Seperti minuman pahit dan memabukkan secara perlahan, Aronofsky selalu meraciknya dengan tone muram, penuturan absurd dan terkadang tergelincir juga ke sebuah gambaran surealisme yang sejalan dengan bias-bias psikologis karakternya dalam mengkomunikasikan gagasan obsesif tadi. Eksplorasi teatrikal ala Aronofsky ini yang akhirnya mungkin membuat karya-karyanya terjebak ke dalam sebuah karya arthouse yang membuat penontonnya harus memahami seluk-beluk penuturannya bak mengapresiasi sebuah lukisan abstrak atau sureal. Sebuah karya seni tinggi yang bisajadi tak bisa akrab dengan semua lapisan penikmatnya. Black Swan lagi-lagi menunjukkan sentuhannya yang semakin gila seperti maestro yang karyanya semakin prestisius itu. Mulai dari tone, set dunia panggung ballet, koreografi hingga kostum dan karakterisasi yang darkly beautiful luarbiasa namun sekaligus juga creepy dan eerie, dibalut oleh sinematografer Matthew Libatique dengan mengagumkan. Maklum saja, Libatique memang sudah bekerjasama dengan Aronofsky sejak Pi dan Requiem. Pemilihan score besutan Clint Mansell (The Wrestler) dan soundtracknya juga tak ketinggalan mempertegasnya sebagai sebuah seni lain yang berjalan senyawa dengan pameran yang digelar Aronofsky. Bila The Wrestler menggunakan classic rock dan folk untuk membangun tone kekerasan dunia Wrestling, Black Swan menggelar paduan kelembutan dan sisi obsesifnya dari musik klasik based on the original Tchaikovsky’s Swan Lake ballet sampai techno trance dari The Chemical Brothers. Portman, Cassel, Kunis hingga Hershey dan Winona Ryder yang tak tampil se-sembarangan proyek pasca kasus-kasusnya belakangan juga bermain di wilayah nominee kelas festival. Dalam pameran artful bermasa putar terbatas itu Aronofsky sekali lagi sudah menunjukkan bahwa dirinya bisa sangat efektif berkomunikasi tanpa meninggalkan satupun aspek pendukung dibalik dunia yang dibicarakannya. With all his madness and absurdity on telling us stories, this should called ‘A Total Art’! Absolutely one of this year’s 10 best! (dan)

~ by danieldokter on December 26, 2010.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: