DALAM MIHRAB CINTA : TERNYATA OH TERNYATA

DALAM MIHRAB CINTA

Sutradara : Habiburrahman El Shirazy

Produksi : SinemArt, 2010

I remembered few years ago, ketika selesai sholat Jum’at di halaman mesjid ada seorang Bapak yang mendatangi saya. “Maaf, adik ini kuliah?”, mungkin dia bisa membaca dari pakaian rapi, biar rambut saya waktu itu gondrong sebahu dan berpeci, tapi rapi. “Iya, Pak, ada apa?”, jawab saya. “Kuliah dimana dik?” dia bertanya lagi. “di FK pak, USU, ada apa ya?”. Saya sedikit keheranan sambil melirik sandal, siapa tahu salah ambil dan ternyata milik Bapak yang matanya sedang berbinar mendengar jawaban itu. Ia lantas goes straight to the point, “Sudah punya calon? Kalo ada waktu, adik kapan-kapan main ke rumah, biar saya kenalkan sama anak saya. Orangnya cantik, soleh, berjilbab”, sambil menyodorkan kartu nama. Oh my! I go inside, “What year is this? Am I trapped in some kind of time machine?”. Karena merasa tak enak, saya ambil kartu itu dan menjawab “Insya allah ya Pak”. Dia menepuk pundak saya pelan. “Terima kasih ya dik”.

Ah, these kinds of awkwardness, and we still have that in our everyday’s life. Itu kisah nyata. Menyaksikan film-film adaptasi dari penulis novel Islami, Habiburrahman El Shirazy alias Kang Abik ini, saya mau tak mau teringat lagi kejadian si Bapak yang tak pernah saya datangi lagi itu. Orang-orang, yang, maaf, menyampaikan dakwah tapi sedikit salah kaprah dalam penyampaiannya yang sama sekali tak universal dan malah sering memplesetkan nilai-nilai reliji ke gambaran negatif dalam sosialisme zaman ini. Kehidupan sehari-hari.

Then, sewaktu menulis status berisikan pendapat pribadi saya di facebook few months ago, saya mendapat sebuah protes di situs santri Indonesia yang herannya seperti menyamarkan diri dengan tampilan profil berbahasa Perancis. Mungkin pendapat saya sedikit bernada mengejek walaupun bukan maksudnya ke arah agama tapi lebih ke orang-orang salah kaprah ini. I wrote, bahwa menurut penggambaran film itu, ‘The Holyness of Islamic Wedding malah kelihatan seperti ‘Put them in a cage, see if it looks fits, then go on’.”. Toh rata-rata film percintaan berkoridor reliji itu memang menunjukkan hal tadi. Gagal dengan lamaran yang satu, then just jump to another blinddate-like setups, senyam-senyum, selesai. Tanpa proses kecuali pada tokoh utama, yang rata-rata diceritakan berkenalan sebagaimana layaknya manusia pada umumnya. Logika dangkal seperti pikiran anak SD dalam penyelesaian yang tak sejalan dengan bangunan konflik ala sinetron yang di-push sekompleks mungkin. Seperti film Indonesia rata-rata. Unbelievably awkward.

Adaptasi novel larisnya yang ke-sekian ini, Dalam Mihrab Cinta, juga tak jauh dari konsep itu. Mihrab yang dalam bahasa Arab punya definisi bangunan yang dikelilingi pagar, dan dalam terms reliji diartikan sebagai sisi ruangan mesjid tempat pimpinan jemaah/imam, serta kajiannya sebagai tempat untuk menghindari urusan duniawi. Disini, Kang Abik turun tangan menyutradarai sendiri filmnya meskipun ada kredit Chaerul Umam sebagai supervisi director dan lengkap dengan stiker ala markisa di posternya seperti embel-embel syuting asli di Arab dalam Ketika Cinta Bertasbih. Pesan moralnya simple saja, adalah lingkungan yang bisa merubah manusia untuk berkembang menjadi baik atau jahat. Balutannya, agar pesan itu bisa disampaikan dengan lebih menarik, adalah sebuah kisahcinta yang juga digarap ala Abik biasanya. Penuh dengan penyelesaian dangkal ala soap opera atau sinetron. It’s like, kalau menemui dilema cinta segitiga, matikan saja satu tokohnya, biar dua yang lain bisa hidup bahagia dengan instant. Would like to say WTF namun ini koridornya reliji, so don’t. Lagipula, sebagian besar pembaca novelnya masih santai juga dengan perjalanan plot ala sinetron ini, toh sebuah sinetron yang mencapai episode ke-100 dengan plot bolak-balik jalan di tempat juga banyak penggemarnya meski kita tak pernah tahu, apa akting teatrikal yang over-reacted itu atau justru tampang-tampang manis pemerannya yang jadi dasarnya.

Now comes a little Bollywood. Di sebuah kereta api, seorang santri, Syamsul (Dude Harlino) menyelamatkan seorang Zidni Ilma (Meyda Safira) dari sebuah usaha pencopet. Syamsul yang sempat menggenggam pisau sampai melukai tangannya pun berkenalan dan langsung tertarik ketika mengetahui bahwa Zizi, panggilan ‘sok asyik’ Zidni itu adalah seorang santriwati juga. Lantas, kita dibawa ke sebuah pesantren di Kediri tempat Syamsul menuntut ilmunya. Disana, tiba-tiba Syamsul dituduh sebagai maling atas fitnah rekannya, Burhan (Boy Hamzah). Syamsul diseret. Dipukuli. Dan atas sebuah surat sakti yang seketika muncul, ia diadili beramai-ramai. Dipukuli lagi. Dan digunduli, lantas diusir. Ayahnya (El Manik), dipanggil untuk menjemput Syamsul yang dikeluarkan dari pesantren itu setelah mengucapkan sumpah serapah terhadap dewan yang memutuskan pengadilan pribadi itu. Ia dipukul lagi oleh sang ayah. Sampai ke rumah, giliran dua kakak laki-lakinya yang menghajar Syamsul. Dengan wajah sudah lebam dan biru-biru karena dikeroyok dan dipukul ayahnya, pemukulan kembali berlanjut. Hanya ibunya (Ninik L.Karim) serta adiknya, yang bernama sangat tidak Islami, Nadia (Tsania Marwa), yang tak yakin kalau Syamsul benar-benar maling. Syamsul pun lari dari rumah. Rasa lapar lantas membuatnya kalap. Ia mencoba mencopet, tertangkap dan dipenjara. Dikeroyok lagi. Dipukuli lagi. Dramatisasi ala film kita. Berlebihan.

Lalu muncullah plot-plot penuh dengan kata ‘ternyata’. Zizi ternyata adik sang guru pesantren yang mengusir Syamsul, dan karena masih tak percaya dengan kejahatannya, Zizi lantas akrab ke keluarga Syamsul yang bingung mencari Syamsul yang hilang, apalagi mendapati fotonya di koran lokal (ini juga ‘ternyata’ peristiwa mini itu diliput di halaman depan lengkap dengan foto Syamsul lebam-lebam di penjara). Kehidupan Syamsul menjadi pencopet, berjalan lagi ke ‘ternyata’ yang lain. Salah satu dompet yang dicopetnya ‘ternyata’ adalah milik Sylvie (Asmirandah), guru matematika soleh berjilbab yang anak orang kaya sekaligus kekasih Burhan. ‘Ternyata’ lagi, ada foto mereka berdua di dompet itu. Syamsul pun mendatangi kompleks mereka. ‘Ternyata’ lagi, keluarga tempat Sylvie mengajar sedang mencari guru mengaji buat anaknya. Bertemulah Syamsul dengan Sylvie. Ketenarannya dari usaha gadungan di lingkungan itu membuat Syamsul benar-benar menjadi ustad yang dipanggil sana-sini untuk berkhotbah. Ia lantas menjadi kaya, bisa membelikan ibu dan adiknya oleh-oleh yang dikirim ke kampungnya, dan mengembalikan dompet-dompet yang selama ini ia curi termasuk milik Sylvie yang mulai tertarik satu sama lain dengannya. Burhan kemudian datang. ‘Ternyata’, Burhan juga sempat dipenjara atas kasus penipuan yang belakangan ‘ternyata’ diketahui Sylvie. Lamaran Burhan ditolak. Syamsul yang sudah mengakui terus terang kehidupan masa lalunya pun dilamar oleh keluarga Sylvie. Di saat sama, muncullah Zizi bersama sang ibu dan Nadia yang menyambangi Syamsul. Zizi yang memendam rasa terhadap Syamsul dan memanggilnya lengkap dengan lafal ‘Sy’ itu (ini entah alasan apa dan rasanya jarang saya menemukan orang menyebut nama Syamsul dengan ‘Sy’amsul di kehidupan nyata) pun kecewa. Syamsul lantas sholat istikharah untuk menentukan pilihannya. Dan datanglah ‘Ternyata’-‘Ternyata’ yang lain sampai akhirnya senyam-senyum ala film reliji itu biasanya itu kembali digelar untuk menuntaskan cerita tanpa satupun logika yang wajar atas semua masalah yang digelar Abik. The End. O ya, saya lupa menyebutkan bahwa Dalam Mihrab Cinta hampir tak memiliki music score sebagai pendukung adegannya. Hanya ada 3-4 lagu soundtracknya termasuk yang dinyanyikan Afgan (don’t get me wrong, lagu-lagunya cukup bagus kok) terus diulang-ulang di sepanjang film sampai penonton bisa hafal dengan teksnya. Apa ini promosi ringtone atau apa, ah, mungkin saja.

Pesan moral mendasar yang dibawa Dalam Mihrab Cinta, harus diakui, terasa cukup bijak dan di banyak sisi bisa menjadi santapan batin buat pemirsanya. Namun kesalahan terbesar adalah di penyampaian yang sangat sinetron dan penuh dengan hal-hal ajaib itu, apalagi yang terparah, seakan ada maksud permisif untuk seenaknya berbuat jahat demi diri sendiri namun sewaktu-waktu bisa diselesaikan asal berniat. Let’s not blame the scenario karena novel aslinya sudah berjalan seperti itu. Kalaupun mau disalahkan, adalah line dialog ala penulis kita yang masih tak bisa membedakan bahasa gambar, bahasa sehari-hari dengan bahasa buku. Penuh idiom-idiom ‘ternyata’ yang seakan tak habis-habis mengantarkan konflik demi konflik yang juga berlebihan. Penggarapannya juga dibesut dalam pakem yang sama. Ala sinetron, lengkap dengan adegan orang menerima telefon dan terkejut lantas mengatakan ‘kecelaka (diucapkan dengan lambat) – an?” dengan raut teatrikal alis menaik dan mata melotot, dan berulang kali adegan bicara sendiri untuk menjelaskan plotnya pada penonton, padahal tanpa itu juga bisa. Seperti ini. Syamsul melihat dompet Sylvie yang berisikan fotonya dengan Burhan. Lantas muncul dialog yang diucapkan Syamsul ngomong-ngomong sendiri, bukan juga dalam hati dengan audio echo. Kira-kira seperti itu. Kalaupun ada kredit yang layak untuk disimak (akting Ninik L.Karim sebagai ibu tak usah disebutkan lagi, meski kelihatan tak ada bedanya dengan karakternya di Ketika Cinta Bertasbih), Dalam Mihrab Cinta mutlak menggantungkan penyampaiannya pada seorang Dude Harlino yang tak disangka bisa berakting wajar dan sangat santai disini, tanpa harus overacting dan berintonasi dengan kaku ke bahasa-bahasa baku yang dipakainya. Turnover karakternya yang disampaikan secara penuh kebetulan itu juga bisa dibawakan Dude dengan meyakinkan. So here it is. Meski peredarannya juga terasa agak tak pas di momen akhir tahun yang penuh gemerlap film-film holiday, Dalam Mihrab Cinta lagi-lagi harus diakui punya trik jualan yang akrab pada penonton kebanyakan. Penggambaran beberapa adegan termasuk pola pesantren yang main hakim sendiri, memukul sembarangan bahkan kelihatan lebih brutal dari gambaran penjara di film ini, mari kita kembalikan lagi ke sineasnya. Oh, come on. You guys should’ve known better than that, bahwa film dengan pesan reliji seharusnya bisa menggambarkan kebaikan di mata umat yang bukan pemeluk agama dimaksud ketimbang menggambarkan kejelekan demi memicu emosi penonton dalam dramatisasi over di penyampaiannya. (dan)

~ by danieldokter on December 29, 2010.

6 Responses to “DALAM MIHRAB CINTA : TERNYATA OH TERNYATA”

  1. 🙂, panjang lebar mas

  2. 🙂, aha, some movies memang bisa mengeluarkan uneg2 lebih banyak dari biasanya.

  3. good review from u about this film..anyway,
    dude give his best performance in this film..
    thumbs up!!

  4. thumbs up-nya buat dude, iya, saya setuju🙂

  5. […] di tengah pandangan lebih banyak orang, adalah suatu ketololan. If you did read my review on ‘Dalam Mihrab Cinta’, juga datang dari penulis yang sama, you sure will understand. Seperti seberapa anehnya di zaman […]

  6. film yg bagus.. banyak sekali pesan moralnya..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: