3 PEJANTAN TANGGUNG & LOVE IN PERTH

3 PEJANTAN TANGGUNG : DAN FILM YANG JUGA SERBA TANGGUNG

Sutradara : Iqbal Rais

Produksi : Rapi Films, 2010

Sutradara Iqbal Rais tergolong cukup produktif di perfilman kita. Baru saja sukses dengan Senggol Bacok, kini muncul lagi film terbarunya yang tetap mempertahankan kebiasaannya dalam genre komedi. Sebagai sutradara, Iqbal sebenarnya punya kredibilitas yang bisa dibilang cukup baik dalam spesialisasi itu. Jarang-jarang ia tergelincir ke karya yang sembarangan. Selalu ada inovasi tematik dalam film-film yang dibesutnya, cara bertuturnya efektif, dialognya kaya, dan turnover-turnover komedinya juga sama baiknya. Pilihan soundtrack-soundtracknya juga tak pernah asal comot tapi hampir selalu menyatu dengan filmnya. Setelah sebarisan kiprahnya, kini Iqbal datang dengan sebuah idealisme dari tempat kelahirannya, di Samarinda, Kalimantan Timur. Walau genrenya tetap komedi, namun ada pesan pelestarian lingkungan hutan tropis, budaya suku asli serta sedikit informasi yang disertakannya dalam usaha pariwisata baru di daerah penghasil batubara terbesar di negeri ini. Jarang-jarang lho, plot film kita diselipi pengetahuan informatif seperti banyak film-film luar. Daerah Kalimantan yang belakangan kembali populer dengan sebutan Borneo sebenarnya tak baru sekali ini menjadi latar film kita. Ada beberapa film zaman dulu, sampai yang terakhir, The Shaman, thriller-slasher yang gebrakannya cukup baik namun secepat itu juga tenggelam tanpa peredaran VCD/DVD-nya. Dalam usaha itu, Iqbal juga menggamit aktor senior, Piet Pagau, yang juga putra daerah yang sama, suku Dayak asli, bahkan ikutan tampil sebagai cameo seorang supir taksi.

Tiga mahasiswa cuek-bebek (sinopsis press release-nya menyebutnya fulltime hedonis), Harta (Ringgo Agus Rahman), Angga (Desta Club 80s, now using Deddy Mahendra Desta in his credit), dan Kris (Dennis Adhiswara) menemukan diri mereka terdampar di sebuah kapal yang tengah melaju di pedalaman Kalimantan setelah semalaman mabuk-mabukan di sebuah bar menjelang sidang kelulusan kuliah mereka. Dalam keadaan hangover yang menyebabkan perseteruan kecil dengan penduduk setempat, mereka lantas dibawa ke sebuah kampung Dayak dibawah pimpinan kepala adat (Piet Pagau) yang bijaksana. Namun ulah Kris yang membakar ubi malah membakar sebuah gubuk disana. Kepulangan mereka pun tertunda untuk memperbaiki kerusakan itu. Muncul pula Riana (Siti Anizah), putri kepala adat yang  calon dokter dan menarik perhatian Harta. Namun di saat mereka mulai betah dengan penduduk yang mulai bisa menerima mereka, muncul pengusaha licik Handoyo (Joe P Project) yang menawarkan kemudahan mereka untuk pulang mengejar sidang. Syaratnya, tiga sekawan ini harus menculik Riana demi usaha Handoyo menggusur seisi desa untuk dijadikan tambang batubara.

Ambisi Iqbal dengan cerita penuh pesan pelestarian lingkungan dan kaya informasi ini sayangnya tak didukung chemistry yang baik dari pendukung utamanya. Chemistry Ringgo-Desta yang dulu pernah terasa kuat sekali termasuk dalam ‘Get Married’ atau film Iqbal sendiri, ‘Si Jago Merah’, memang sudah melemah dalam ‘Bukan Malin Kundang’ dan kini menjadi semakin berantakan. Dennis Adhiswara yang di awal-awal karirnya juga punya potensi sebagai komedian berbakat juga seolah tertinggal di belakang dominasi Ringgo dan Desta yang seakan berlomba menghancurkan chemistry mereka sendiri. Kelucuan-kelucuan yang digelar pun semakin terjebak menjadi sesuatu yang terlihat dipaksakan. Padahal, sejumlah pendukung lain bermain cukup baik termasuk Piet Pagau, Joe P Project yang tetap lucu seperti biasanya hingga pendatang baru Siti Anizah, meski terkesan kelewat modern buat karakternya. Pemilihan set-nya juga cukup efektif membawa sisi informatif yang digelar Iqbal. Satu lagi kesalahan terbesar adalah menempatkan (lagi-lagi) Ringgo di sempalan dramatisasi dan lady-interest yang, err… maaf, percayalah, hanya bisa berpengaruh buat pemirsa ABG dan para alay. However, beberapa good elements ala Iqbal seperti soundtrack yang pada, penuturan serta inovasi tematik tadi tetap muncul untuk sedikit menyelamatkan chemistry yang babak-belur tadi. 3 Pejantan Tanggung akhirnya hanya menyisakan pesan dan informasi yang lumayan membedakannya dengan film-film komedi tanpa juntrungan, namun secara keseluruhan pas sekali dengan judulnya yang belakangan berubah dari judul awal ‘Dunia Dalam Negeri’. Not bad tapi serba TANGGUNG. Next, maybe Iqbal bisa lebih dulu melakukan match and re-match terhadap ensembel aktor utamanya dalam karakterisasi yang pas, karena dengan kecermatan itu, seperti dalam karya terakhirnya, ‘Senggol Bacok’, seorang Ringgo pun bisa jadi terlihat lucu ketimbang menyebalkan.(dan)

LOVE IN PERTH : ‘AJI MUMPUNG’ YANG SANGAT MENGHIBUR

Sutradara : Findo Purwono HW

Produksi : MD Pictures, 2010

Di dunia hiburan rasanya tudingan aji mumpung itu sah-sah saja. Penyanyi yang main film atau aktor/aktris yang menyanyi, and so on, dari dulu sampai sekarang, dari ujung dunia mana pun, adalah hal yang lazim. Adalah sebuah acceptance atas seberapa besar bakat itu bisa menghandle semuanya yang akhirnya jadi penilaian akhir. Gita Gutawa, putri musisi/komposer Erwin Gutawa ini agaknya menempuh kebalikan dari sang ayah. Kalau Erwin memulai karir hiburannya dari aktor cilik di sejumlah film tahun 70an, salah satunya Permata Bunda (1974) sebelum hijrah ke musik, Gita yang punya suara sopran sangat khas itu sudah lebih dulu sukses ditempa Erwin dalam karir musiknya. Love In Perth, film pertama Gita yang sempat tertunda sekian lama akibat kendala syuting di Australia ini sekaligus masih punya aji mumpung-aji mumpung lain, Derby Romero, aktor cilik dalam Petualangan Sherina yang belakangan juga dikenal sebagai penyanyi, Petra Sihombing yang lagi-lagi seorang penyanyi, serta jelas saja, soundtrack yang diisi oleh lagu-lagu Gita plus sebuah single duet barunya dengan Derby, Cinta Takkan Salah, sebagai theme song film ini. Kalau masih mau menyebutkan yang lain termasuk berita infotainment yang membahas cinlok Gita dan Derby, ah, tak usah terlalu jauh, yang penting, semua unsur yang ada di Love In Perth memang secara keseluruhan mutlak sangat menjual, dengan plot yang mirip-mirip adaptasi teenlit Eiffel I’m In Love dan sekuelnya Lost In Love, dari skenario yang ditulis penulis kredibel Titien Wattimena.

Sejak keberangkatannya atas beasiswa highschool ke Perth, Lola (Gita Gutawa) sudah bertemu dengan Dhani (Derby Romero) yang angkuh, egois dan sombong. Perseteruan mereka akhirnya berujung pada rasa cinta yang rumit atas perbedaan sifat keduanya, apalagi Dhani yang awalnya kerap menolak kehadiran Lola di depan teman-temannya, termasuk Tiwi (Michella Putri), roommate Lola yang membencinya setengah mati. Sikap Dhani yang sulit ditebak akhirnya mengalihkan Lola pada Ari (Petra Sihombing) yang sejak awal memendam perasaan terhadapnya.  Sebuah kejadian lantas menyadarkan Dhani atas cintanya pada Lola, namun di saat yang sama Ari juga menyatakan perasaannya. Sekarang Lola yang harus menentukan pilihan hatinya.

Aha, sebuah cinta segitiga antara gadis polos yang terombang-ambing diantara badboy and the other, a nice one. Resep yang sudah berulangkali dipakai dan dengan setting luarnegeri yang menawarkan segala keindahannya, sangat mengingatkan kita ke adaptasi teenlit sukses, ‘Eiffel I’m In Love’ dan sekuelnya, ‘Lost In Love’. Kuncinya, dalam genre rom-com, tentu selain chemistry, adalah handle setting yang bisa menyatu sebagai daya tariknya. Eiffel yang dibesut alm. Nasri Cheppy dan sampai diedarkan ulang dalam versi extended dan ternyata membiarkan set Paris hanya jadi latar tak penting sehingga agak kedodoran itu langsung diambil alih sang penulis belia, Rachmania Arunita di sekuelnya. Hasilnya, Lost In Love dengan sukses mengubah Paris menjadi set menawan yang sangat masuk ke ceritanya. Love In Perth juga seperti itu. Sutradara Findo Purwono yang sebenarnya tak punya kredibilitas lebih atas kiprahnya di sejumlah film ngaco (kecuali karya perdananya, ‘Buruan Cium Gue’ yang menuai protes numpang ngetop dari seorang AA Gym sampai ditarik dari peredaran dan disensor ulang dengan judul baru, ‘Satu Kecupan’, meski comotan sana-sini dari produk luar namun cukup fun sebagai rom-com remaja), ternyata cukup sukses menghandle daya tarik keindahan Perth sebagai latar yang padu, meski belum sebaik Paris dalam Lost In Love. Skenario Titien Wattimena juga berjasa besar mengisinya dengan dialog-dialog yang tak terasa cemen meski menggunakan resep yang hampir seratus persen mirip. Selebihnya, adalah usaha dari para pendukungnya, dan mau tak mau, atas segala kemiripan itu, Love In Perth terpaksa saya bahas dengan metafora Eiffel. Gita Gutawa bermain cukup meyakinkan dengan akting polosnya yang santai namun tak kedodoran, begitu juga Petra yang meski tak mendapat porsi terlalu besar namun tampil wajar. Tingkat kesusahan tinggi agaknya lebih terletak di tangan Derby yang harus menampilkan karakter penuh turnover atas peran badboy-nya. Dibanding Samuel Rizal dalam Eiffel yang sedikit terlalu over, Derby menerjemahkan karakternya secara lebih baik, namun masih ada di bawah Richard Kevin yang menggantikan Samuel dalam Lost In Love. Tanpa karakter orangtua yang biasanya ikutan menggamit aktor/aktris senior terkenal, akting paling asyik justru datang dari peran samping karakter Tiwi (Michella Putri) yang sangat komikal namun terasa begitu mewarnai relevansi rom-com nya dengan seimbang. Love In Perth memang bukan film yang punya tendensi ber-serius-serius. Dibalik segala aji mumpung yang tak juga bisa disalahkan itu, masa putarnya yang sedikit panjang bisa mengalir dengan renyah dan terus terang, sangat menghibur. Dan saya juga tak bisa menampik untuk akhirnya begitu menikmati film ini atas semua unsur tadi, lagu-lagu soundtracknya, dan ini yang terpenting, ending bersetting airport where the guy gets his girl yang sudah jadi bagian lazim dari sebuah rom-com pada umumnya, dan terhandle dengan menyenangkan pula. Love In Perth adalah sebuah hiburan, dan let’s enjoy it that way as well. (dan)

~ by danieldokter on December 30, 2010.

2 Responses to “3 PEJANTAN TANGGUNG & LOVE IN PERTH”

  1. maen lg d’samarinda iqbal raisz
    kpan maen lg k’samarinda d’tunggu loh
    neh buat
    judul : ” GADIS-GADIS KAMPUNG SAMARINDA ”
    LOKASI : SAMARINDA
    SUTRADARANYA : IQBAL RAIS
    RINGGO,DESTA,TORRA,RIANTY CARTWRIGHT,SITY ANIZAH,CHELSEA OLIVIA,DEDY NISWAR,

    CERITA : 3 pria menggoda gadis-gadis orang dayak yg untuk permainan semata tetapi krna dngar” kabar klo cwe orang dayak ga bleh d’permaenkan krna akan terjadi sesuatu apa bila mereka mengguna” diri kmu

    wah seru tuhh

  2. Rugi banget dech kalau gak nonon love in perth. . .

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: