ENTHIRAN, THE ROBOT : WELCOME TO TAMIL’S SCI-FI CINEMA

ENTHIRAN, THE ROBOT

Sutradara : S. Shankar

Produksi : Sun Pictures, Gemni Film Pictures & Ayngaran Intn’l, 2010

Kollywood, sebutan untuk perfilman Tamil yang notabene adalah film daerah di India, mungkin sudah capek dianggap hanya sebagai produk nomor dua dari perfilman negara itu. Padahal, tak bisa dipungkiri juga, perfilman mereka sudah berjasa besar menyumbang insipirasi dari banyak remake film-film Bollywood yang sukses dan diedarkan sampai ke dunia internasional dari ide-ide cerita yang kebanyakan lebih orisinil dari perfilman nasionalnya. Tak hanya itu, Kollywood juga sudah banyak melahirkan sutradara dan sineas lainnya termasuk komposer AR Rahman, aktor dan aktris mereka untuk jadi besar di Bollywood, serta mencuri tempat di deretan film-film India terlaris. Benturannya mungkin ada pada dayatarik paras aktor dan aktrisnya yang kebanyakan memang tak meng-internasional seperti Bollywood. Di pakem film-film Kollywood zaman dulu, leading man beringasan, bertubuh tambun dan berkumis tebal serta leading lady yang gempal memang begitu membudaya hingga kurang menarik bagi pemirsa luar daerahnya. Satu dari aktor mereka yang diakui sampai ke perfilman nasionalnya, Rajnikanth, yang sebenarnya juga jauh dari kesan tampan, bertubuh tambun dan berkumis tebal namun punya citra sebesar Amitabh Bachchan disana, kini semakin melebarkan sayapnya sampai ke rilis internasional yang ternyata juga cukup sukses hingga ke AS dalam ukuran peredaran film-film India. Dalam banyak filmnya, Rajnikanth memang kerap tampil se-egois mungkin menancapkan citranya sebagai one-man show yang melibas semua unsur lain dengan gayanya yang khas, bahkan ketika seorang Amitabh Bachchan saja sudah mundur dari banyak peran-peran utama, aktor ini masih percaya diri di usianya yang memasuki kepala enam di masa rilis Enthiran ini.

Selain Kollywood’s attempt untuk gebrakan baru dengan produksi yang memakan biaya terbesar dalam sejarah perfilman India, Enthiran juga bukan proyek asal-asalan. Pengembangan pre-produksinya memakan waktu hampir sepuluh tahun dan baru memulai syutingnya di tahun 2008 di bawah banyak tuntutan klaim cerita setelah gonta-ganti sutradara sampai pemeran, dimana Shahrukh Khan dan aktor Tamil terkenal lainnya, Kamal Haasan juga sempat masuk ke daftar aktor. Genrenya juga adalah sebuah terobosan baru tak hanya di perfilman daerah namun juga nasional. Sebuah sci-fi penuh efek spesial yang mengetengahkan tema mendasar sci-fi-sci-fi klasik ala Isaac Asimov (I, Robot) yang berisi pandangan panjang benturan science ke kehidupan manusia dan unsur-unsur relijiusnya. Untuk menghidupkan efek itu, mereka tak tanggung-tanggung menggamit tenaga dari luar Bollywood. Bukan sembarangan, tapi dari tim-nya Stan Winston yang sudah melahirkan Jurassic Park, Terminator, sampai Iron Man. Koreografi laganya pun begitu juga, seorang Yuen Woo-Ping yang memulai karir dari film-film silat Jackie Chan tempo doeloe seperti Drunken Master hingga film-film Jet Li, Donnie Yen dan Kung Fu Hustle, sementara karir internasionalnya sebagai penata laga tercatat di The Matrix, Crouching Tiger, Hidden Dragon hingga Kill Bill. Yuen sebelumnya juga sudah berkolaborasi di sebuah film superhero Bollywood, Krrish. Di Depatemen musikal sebagai tradisi klasik film India, ada komposer A.R. Rahman (Slumdog Millionaire) yang menghadirkan lagu-lagu yang dipoles dengan modern bak menyaksikan klip Lady Gaga, Rihanna atau Katy Perry. Hasil box officenya? Selain mencetak rekor pembukaan terbesar di negaranya, Enthiran yang diedarkan juga dalam versi bahasa nasionalnya dengan judul ‘Robot’ ini juga bertengger di deretan kedua film India terlaris sepanjang masa dibawah 3 Idiots.  Peredaran internasionalnya sendiri mencatat rekor film India dengan overseas opening terbesar, dan di AS, menempati posisi 12 dalam opening weekend-nya. Now let’s go on with the plot.

Seorang ilmuwan jenius Dr. Vaseegaran/Vasi (Rajnikanth) hampir sampai ke penemuan fenomenalnya ketika berhasil menciptakan sebuah robot android bernama Chitti (diperankan Rajnikanth juga) yang sangat superior, bisa mengerjakan apasaja dari tugas wanita hingga prajurit militer tangguh. Percobaan awal penggunaannya diserahkan Vasi pada sang kekasih, Sana (Aishwarya Rai), seorang calon dokter yang sampai menggunakan jasa Chitti untuk membantunya ujian. Seperti men-scan ekspres, Chitti hanya perlu hitungan detik untuk memindai seisi buku tebal ke dalam memorinya. Dan tak hanya itu, ia juga bisa memasak, membersihkan rumah hingga menghajar penjahat bak seorang superhero. Usaha Vasi kemudian meningkat saat ia memperkenalkan penemuannya ini ke sebuah konferensi dengan niat menggunakan Chitti sebagai serdadu super. Pertentangan utama muncul dari saingan Vasi, professor Bohra (Danny Denzongpa) yang duduk di komite ilmuwan penentu proyek tersebut. Bagi Bohra, hanya ada satu kekurangan, bahwa Chitti tak punya emosi dan perasaan hingga ditakutkan bisa berbalik dengan satu perintah untuk membantai rekan-rekannya sendiri di medan perang. Apalagi sebuah kejadian penyelamatan di gedung terbakar memakan korban seorang gadis muda. Maka Vasi pun memprogram hormon virtual dan otak positronik bagi Chitti untuk tujuan ini tanpa menyadari tujuan jelek Bohra dibaliknya. Konflik-konflik baru pun mulai muncul hingga akhirnya Chitti menjadi saingan Vasi dalam merebut hati Sana karena sudah memiliki emosi. Vasi yang emosi kemudian menghancurkan Chitti, namun Bohra dengan cepat mengumpulkan bangkainya kembali untuk di-reset menjadi prajurit tangguh yang bakal dijual ke sebuah perkumpulan teroris. Sebuah chip destruktif pun diprogram ke tubuh Chitti. Namun Chitti berkembang lebih jauh dari yang diharapkan. Bohra menjadi korban ambisi Chitti yang semakin liar dan memprogram kloning-kloning baru dirinya dengan satu tujuan, merebut Sana dari Vasi.

Plot Enthiran sebenarnya tak bisa dikatakan murni orisinil karena berisikan pakem sci-fi klasik ala Isaac Asimov (beberapa dialog sampai lirik lagunya juga menyebut-nyebut Asimov) yang rata-rata berisi pesan paranoia manusia terhadap dominasi mesin dari teknologi yang semakin berkembang, sekaligus juga benturannya dengan kepercayaan relijius. Namun dibanding karya-karya Asimov atau penulis sci-fi lain yang rata-rata bernuansa berat dan segmental bagi penyuka sci-fi tertentu saja, orang-orang di belakang Enthiran mengemasnya dengan balutan popcorn-ish yang berasa sangat kental untuk dimengerti. Seperti perfilman Korea, India memang terkenal jago dalam mencomot bagian plotnya dari sana-sini hingga terlahir sebagai karya baru dengan dramatisasi bombastis namun tak juga meninggalkan detil-detil ilmiah yang penting dalam membangun informasi yang ingin disampaikannya. Karena itulah lantas aspek-aspek yang dituangkan dalam film bermasa putar rata-rata film India konvensional ini terasa jadi semakin lengkap, seperti sebuah adegan dimana Chitti membantu proses melahirkan yang dari sisi medis penuh resiko atas kondisi janin yang terbelit tali pusarnya. Sometimes, these kind of scenes can be ridiculous, but yet there’s an idea yang dalam konteks ilmiahnya pun sulit ditentang ahli medis atas keabsahan teori yang dituangkan ke dalam dialog, dan bukan tak mungkin, ada teknologi ilmiah sama yang bisa saja terwujud di masa depan nanti. Itulah menariknya sebuah film berbasis science selama aspek-aspek pendukungnya dibangun dengan informasi yang benar. Dan Enthiran tak hanya berhenti sampai disana. Akting khas Rajnikanth yang sedikit over dan gila-gilaan itu memang berjasa sekali menambah daya tarik Enthiran secara komikal untuk menyampaikan pesan-pesan bijak tadi melalui sebuah sci-fi popcorn yang ringan buat diikuti. Paling tidak, buat sebagian audiens yang kesal dengan appearance khas dan rambut kembangnya ini bisa menyadari sulitnya Rajnikanth memerankan dua karakter yang berbeda, satunya manusiawi dan satunya robot android tanpa ekspresi itu. Usianya dengan Aishwarya yang terpaut jauh pun tetap bisa menampilkan chemistry yang cukup nyambung. Lepas dari ketakjuban kita menyaksikan heroisme berlebihan dari seorang Chitti yang jauh melebihi superhero, bisa menarik senjata dengan medan magnet dan menderetkannya di dua tangan, mencharge batere ala Crank, mengejar keretaapi kencang dengan dua kaki robotik, which could felt like a total bullshit, separuh bagian terakhirnya, meski masih berada di seputar konsep tadi namun dikembangkan dengan dramatisasi berlebih ke arah politik perang dan cinta-cintaan ala India, di saat yang sama juga bisa menjadi keterlaluan namun juga terus terang, sekaligus sama menariknya. It’s like pushing your brain and boredom untuk menyerap keseluruhan Enthiran, namun set dan sinematografi yang cantik berikut di besutan adegan-adegan musikal karya A.R. Rahman yang hi-tech itu bisa jadi penawar yang jitu. Dan pada akhirnya, saat penuturan yang ridiculously a bit over itu hadir semakin intens lewat pengejawantahan efek spesial luarbiasa gelaran Stan Winston’s team di adegan klimaks, you will soon forgive it all. Bayangkan, ratusan Rajnikanth menyatu membuat sebuah formasi membantai pasukan militer, sebagai robot besar berlarian di jalan raya dan menghantam helikopter kesana kemari sambil memijak hancur mobil-mobil yang lewat, and so on. Meski banyak konsep yang mengingatkan dengan film-film hi-tech Hollywood di dalam klimaks itu, percayalah, jor-joran efek disana akan membuat Anda berdecak kagum, apalagi saat menyadari yang ada di depan mata sama sekali bukan film Hollywood. However, dengan segala kekurangan dari penyampaian yang sangat bombastis ala ‘film India’ dengan dramatisasi campur aduk itu, Enthiran adalah sebuah terobosan baru sekaligus pencetak rekor dari sinema mereka, and that really, really, deserve higher appreciation. Dan oh ya, saya lupa menyebut satu lagi kelebihan sinema India dalam menampilkan peran ganda dalam satu scene, bukan cuma dua namun bisa lebih, bukan cuma bersanding namun berbaku hantam, sejak film mereka di tahun 60an, that IS really something. Di saat double Jet Li dan double Van Damme kelihatan begitu keteteran dalam The One dan Double Impact, dan double Lindsay Lohan atau ratusan Agent Smith di Parent Trap dan Matrix begitu dibangga-banggakan di slot special features dvd-nya, they really should started seeing these Indian flicks dan belajar dari mereka. (dan)

~ by danieldokter on January 2, 2011.

3 Responses to “ENTHIRAN, THE ROBOT : WELCOME TO TAMIL’S SCI-FI CINEMA”

  1. wahhahaha
    patut di tonton nih sepertinya😀

  2. yup, begitulah sepertinya🙂, krn bener2 hal yg baru🙂, ga pernah nyangka selama ini perfilman daerah bisa ngebuat terobosan internasional sampe segitunya.

  3. […] Enthiran (Robot) (Tamil) […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: