TRUE GRIT (2010) : WELCOME BACK, CLASSIC WESTERN!

TRUE GRIT

Sutradara : The Coen Brothers

Produksi : Scott Rudin Productions & Paramount Pictures, 2010

Dibanding genre lain yang masih konsisten diproduksi sampai sekarang, Western movie, yang disini lebih beken dikenal dengan sebutan ‘film koboi’ mungkin bisa dibilang sudah satu-satu nafasnya dalam trend zaman sekarang. So the western-lovers bisa kembali berharap dengan rilis True Grit yang disambut baik both by critics and perolehan box office ini. Mudah-mudahan. True Grit, yang merupakan film koboi klasik dari novel besutan Charles Portis dan dulu mengantarkan John Wayne ke Oscar’s best actor nya di tahun 1970, sekaligus menempatkan karakter koboi tua nyentrik bermata satu bak bajak laut, Rooster Cogburn, ke salah satu karakter paling memorable dalam sejarah film hingga berlanjut ke sekuel yang menggamit nama itu sebagai judulnya di akhir-akhir karir seorang John Wayne. Sekarang, duet sutradara Joel dan Ethan Coen, known as Coen Brothers yang sudah punya kredibilitas ‘tons’ of award winning dan nominations itu, mengangkatnya kembali. Sebuah pilihan yang pas, mungkin, karena Coen bersaudara ini memang kental sekali dalam set dan atmosfer Selatan AS dengan logat  kampungnya yang khas itu, hingga Steven Spielberg pun sampai mau-maunya ambil bagian sebagai produser eksekutif di film ini. Meski begitu, penggemar John Wayne tampaknya harus was-was dengan hasilnya. Maklum saja, Coen Brothers yang punya style indie-esque yang kental ini memang jarang-jarang menghasilkan sebuah karya mainstream yang bisa akrab bagi semua lapisan penontonnya. Dalam genre apapun dari drama, thriller, komedi yang seringkali jatuh ke subgenre black comedy hingga action, style itu tetap terasa kelewat kental hingga kadang jadi tontonan yang di satu sisi luarbiasa bagusnya, namun luarbiasa juga tak menyenangkan untuk dinikmati dengan santai sebagai hiburan. Oh, dan barisan castnya juga bukan main. Ada Jeff Bridges yang makin tajam di usia lanjutnya untuk mengisi peran legendaris Marshall Rooster Cogburn, Matt Damon, the underrated Barry Pepper hingga langganan Coen Brothers, Josh Brolin yang karirnya juga sedang berada di atas angin itu.

Merombak adaptasinya dengan kesetiaan penuh terhadap novelnya, Coen Brothers yang biasa menulis skenario dengan full control ke film-film mereka sendiri memulai True Grit versi baru ini lewat narasi seorang Mattie Ross (Hailee Steinfeld) yang punya tujuan membalaskan dendam sang ayah yang dibunuh dengan keji oleh mantan orang sewaannya, Tom Chaney (Josh Brolin). Membawa lari kuda serta dua keping emas, Chaney sukses mempecundangi ayah Mattie hingga tewas. Untuk mewujudkan usaha ini, Mattie menyewa deputy marshall legendaris Rooster Cogburn (Jeff Bridges) yang terkenal nyentrik dengan segala siasatnya. Seorang texas ranger, La Beouf (Matt Damon) akhirnya ikut bergabung karena juga sedang memburu Chaney atas sebuah kasus pembunuhan. Sasaran mereka tak hanya Chaney karena bandit itu sekarang bergabung dalam gang perampok Ned Pepper (Barry Pepper) yang sepak terjangnya cukup ditakuti.

Ketimbang gelaran aksi full tembak-tembakan ala koboi seperti layaknya film-film bergenre sejenis, interaksi ‘3 unlikely posse’ inilah yang disorot Coen Brothers dengan dialog-dialog kuat mereka yang biasa hadir di film-film mereka yang rata-rata mengetengahkan ensemble cast dengan segala daya tarik dan kekuatan sinematisnya. Jeff Bridges, Matt Damon, Josh Brolin dan Barry Pepper semua tampil dengan atribut keaktoran mereka, termasuk pendatang baru Hailee Steinfeld yang menjadi jantung cerita dan dipilih dari audiensi yang ketat. Sinematografi besutan Roger Deakins yang sudah biasa bekerja dengan Coen bersaudara sekaligus juga seorang visual consultant di animasi-animasi Pixar, di sisi lain turut membangun feel classic yang mutlak diperlukan di set dunia koboi yang penuh kekerasan itu bersama score Carter Burwell yang terasa sangat western dengan theme song hymne folk ‘Leaning On Everlasting Arms’ versi Iris DeMent. Namun yang paling menarik adalah usaha Coen Brothers untuk sedikit mengendurkan idealisme mereka dalam re-adaptation ini. Mungkin menyadari bahwa adaptasi awalnya adalah sebuah karya klasik yang banyak bertengger di deretan film-film dengan pencapaian terbaik,  Coen mau tak mau harus sedikit menyesuaikan diri dengan pacenya, seperti yang mereka pernah lakukan di Intolerable Cruelty namun tak sampai separah itu. Hasilnya, True Grit pun bisa tampil cukup memadai bagi penggemar film-film mainstream tanpa harus mengorbankan total kualitas Coen’s arthousenya. Pilihan Coen Brothers untuk sedikit bersenang-senang di adegan klimaks namun membelokkan antiklimaksnya jauh lebih pahit ketimbang True Grit versi 1969 adalah satu contoh penyesuaian yang cukup seimbang. Oke, sosok John Wayne sebagai ‘mbahnya film-film western’ mungkin benar-benar sulit untuk tergantikan bahkan oleh aktor sekelas Jeff Bridges sekalipun, begitu juga kualitas klasik adaptasi awalnya secara keseluruhan. But however, bisa dibilang, in some ways, they were successfully making it as gritty as the 1969’s classic. (dan)

~ by danieldokter on January 6, 2011.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: