KHALIFAH : GREAT VALUES BY A SATIRICAL MOCKING

KHALIFAH

Sutradara : Nurman Hakim

Produksi : TriXimage & Frame Ritz Pictures

Khotbah atau dakwah itu ada bermacam-macam caranya, entah si pemberi sadar atau tidak seberapa besar pesannya bisa diserap. Ada yang menyampaikannya berapi-api tanpa didasari fakta jelas, ada yang sok kalem tapi asal, namun ada juga yang santai seperti bercerita, namun punya banyak pesan dibaliknya. Khalifah yang menjadi rilisan film Indonesia pertama di awal matahari 2011 kira-kira seperti gambaran terakhir. Sutradara Nurman Hakim dan produser Nan Achnas, tim yang sebelumnya sukses membawa 3 Doa 3 Cinta meraih Grand Prize of the International Jury. International Festival of Asian Cinema Vesoul, Perancis, namun gagal di perolehan penonton yang merasa tertipu dengan poster reuni Nicholas Saputra-Dian Sastro (I’m one of them, merasa tertipu, tapi bukan berarti tak suka filmnya), kini kembali dengan pakem yang sama. Seperti dalam 3 Doa 3 Cinta yang penuh dengan gambaran satirikal pondok pesantren sebagai protes-protes Nurman terhadap kehidupannya disana dulu, Nurman kini kembali menyorot pandangan-pandangan relijius yang salah kaprah dan menimbulkan ekses berkepanjangan di masyarakat kita khususnya. Let me give you a little warning di luar masalah sinematis yang akan dibahas nanti, bahwa inilah gaya Nurman menyampaikan pesannya atas borok-borok yang bersarang di wilayah bernama agama dengan kompleksitas tinggi dan kadang sangat rawan dibicarakan dengan keberanian tinggi itu. Sebagian penonton bisa saja jengah dan menganggap Nurman sedikit kurangajar dalam gaya satirnya, namun jangan buru-buru menghakimi seperti juga salahsatu pesan yang ingin disampaikannya. Selami lagi, bahwa gambaran satirikal itu hanyalah segaris cara untuk menunjukkan metafora-metafora kontradiktif dibalik kisah simpel yang dipilihnya, bisa dari segala macam simbol lewat benda, nama bahkan karakter yang sambil lewat di luar karakter utamanya sekali pun. Seperti 3 Doa 3 Cinta, pesan dalam Khalifah juga punya nilai-nilai humanis sangat mendalam, once you can go beyond its scenes, yang bisajadi sekilas seperti tak punya arti dan bagai menyia-nyiakan pita seluloid saja.

 

Perempuan itu bernama Khalifah (Marsha Timothy). Gadis 23 tahun yang melepas kesempatan kuliah demi menunjang kehidupan keluarganya yang terlilit hutang dari seorang haji rentenir. Ia mengabdikan diri di salon teman almarhumah ibunya, seorang ibu keturunan Cina bernama Tante Rita (Jajang C.Noer) yang menyayanginya sebagai anak sendiri. Saat sang ayah menjodohkannya dengan seorang pria bernama Rasyid (Indra Herlambang), Khalifah juga sulit menolak dengan alasan sama. Mengaku sebagai pedagang barang impor dari Arab, Rasyid yang ternyata penganut Islam garis keras ini mulai sering meninggalkan Khalifah. Pertama ia meminta Khalifah mengenakan jilbab, lantas akibat suatu kejadian, ia menambahnya menjadi cadar untuk menutupi aurat. Khalifah pun harus menerima sejumlah perlakuan tak adil atas pilihan ini. Hanya Yoga (Ben Joshua), tetangga mereka yang berprofesi sebagai penjahit yang mengamati Khalifah dalam-dalam dan selalu berusaha membantunya, sampai akhirnya sebuah peristiwa besar tentang Rasyid menyeruak ke depan Khalifah.

 

Just like 3 Doa 3 Cinta, it can be a lovestory, it can be a human story, or it can be something religious. Tergantung cara penonton untuk menerima penyampaian Nurman. Bisa dibuat simpel, namun bisa juga begitu kompleks. Dan Nurman, agaknya memang sangat terpengaruh dengan gaya-gaya beberapa sineas Timur Tengah terkenal seperti Mokhsen Makhmalbaf atau Abbas Kiarostami dalam banyak aspek sinematisnya yang terasa bagai sebuah arthouse segmental buat tujuan festival. Shot-shot yang bergerak pelan, statis dan sekilas tampak simpel seperti tak punya arti, jalinan plot yang juga sama simpelnya, dialognya pun bukan menggelar puitisasi berlebih, serta musik yang sangat bernuansa Arabic penuh tabuhan gendang diselingi jeda diam yang lama, namun dibalik semua itu penuh simbol bagi yang mau susah-payah memahaminya lebih dalam. The truth is, hampir di tiap adegan Nurman menampilkan simbol-simbol ini baik lewat gambar atau dialog, berikut sebuah kontradiksi yang jelas dari bangunan karakternya demi penyampaian pesan penuh gaya satir tadi. Menyindir dan menyentil disana-sini. Mocking and mocking. Kadang seperti kurang ajar bagi sebagian kalangan, tapi kemudian melunak dan jadi keras lagi. Dan beruntung, seperti di 3 Doa 3 Cinta juga, semua castnya bisa menyampaikan kontradiksi-kontradiksi tadi lewat akting yang cemerlang, termasuk Indra Herlambang yang bersinar sekali disini. Apapun persepsinya, ini jauh lebih baik daripada sebuah usaha dakwah yang penyampaiannya salah kaprah. Let’s put it this way. Untuk yang tak mau bersusah-susah, meski mungkin penyampaian itu terasa lambat setengah mati, ada sebuah kisah cinta yang bisa dimunculkan ke depan dengan sorot-sorot mata dan bahasa tubuh karakter Marsha dan Ben Joshua, lagi-lagi seperti segmen Nico dan Dian di 3 Doa 3 Cinta. But for others could go deep into its veins, walau mengartikan tiap adegannya adalah sesuatu yang rumit, tapi percayalah. Sekasar apapun sindiran itu, Nurman benar-benar tak sedang mengejek Islam. Ia hanya membela kepercayaannya yang sering melahirkan pandangan salah dari ulah pemeluk-pemeluknya sendiri, dan untuk itu, Khalifah adalah sebuah dakwah penuh nilai berharga untuk direnungkan setiap pemirsanya. (dan)

 

 

~ by danieldokter on January 7, 2011.

One Response to “KHALIFAH : GREAT VALUES BY A SATIRICAL MOCKING”

  1. […] Khalifah […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: