127 HOURS : THERE IS NO MORE POWERFUL FORCE THAN A WILL TO LIVE

127 HOURS

Sutradara : Danny Boyle

Produksi : Cloud Eight, Film4, Handmade Films & Fox Searchlight 2010

Belum habis rasanya feel claustrophobic melanda kita di penghujung tahun lalu lewat Buried, kini muncul 127 Hours dari acclaimed director Danny Boyle, yang sudah menyaikan kita literature wajib karya-karyanya dari Trainspotting ke Slumdog Millionaire, oh, and err.. yes, even that claustrophobic little sci-fi named Sunshine dan pameran pariwisata menegangkan Leonardo DiCaprio di The Beach. Dan yes, hampir semua moviegoers juga sudah mendengar dengung 127 Hours ini lewat banyak media. Sebuah ‘triumphant true story’ tentang Aron Ralston, pendaki gunung yang harus melewatkan lima hari dalam hidupnya terperangkap di tengah-tengah tebing Robbers Roost di Utah tahun 2003. Boyle mungkin melihat novel otobiografi karya Aron sendiri  yang berjudul ‘Between a Rock and a Hard Place’ sebagai kesempatan yang pas dan bakal menyatu  sekali dengan style penyutradaraannya, sebuah gelaran panoramik dengan eksplorasi kegilaan pikirannya yang seperti biasa. Liar luarbiasa. Karena itulah ia sudah menggagas 127 Hours sejak 4 tahun yang lalu, tanpa menyadari juga bahwa tahun-tahun terakhir ini film-film kecil yang bernuansa claustrophobic bakal jadi sebuah trend yang bakal berkembang sama liarnya (oh yes, I’m sure para produser di Hollywood sekarang sudah mulai mengubek-ubek naskah lama atau tokobuku untuk mencari pakem-pakem sejenis). Apalagi setelah Slumdog, Boyle seakan sudah mendapatkan tim yang solid, termasuk sinematografer Anthony Dod Mantle, pemenang sinematografi terbaik Oscar tahun lalu dari Slumdog Millionaire yang sudah mengerti benar style Boyle, dan jangan lupakan juga, the world’s great Indian composer A.R. Rahman, pastinya. Theme song-nya, If I Rise, digubah A.R. Rahman dan dinyanyikan Dido.

Di tengah tebing-tebing tinggi Robbers Roost, Canyonlands National Park, ngarai pusat wisata para pendaki dan backpackers di Utah yang terkenal sebagai persembunyian bandit-bandit legendaris termasuk Butch Cassidy and Sundance Kid, seorang pendaki gunung Aron Ralston (James Franco) harus melawan keganasan alam dan bertahan hidup dari insiden yang membuat lengannya terhimpit batu besar seberat 800 pon diantara dinding tebing sempit. Mulai dari memikirkan persediaan air, menampung urin dan meminum darah sendiri hingga keputusan paling ekstrim sekali pun, ditempuh Aron demi kemauannya untuk hidup atas berbagai refleksi dari hidupnya di masa lalu yang mendadak menyerang kesadarannya seketika.

Dari feel claustrophobicnya, 127 Hours sedikit terasa lebih melegakan ketimbang Buried. Bukan dari kesimpulan akhirnya, namun ketimbang claustrophobic hampir murni yang digelar di Buried dengan jumlah pemeran lebih segelintir, 127 Hours adalah sebuah adaptasi dari novel bernuansa kisah sejati yang ditulis sendiri oleh seorang Aron Ralston sebagai subjeknya. Sesuai dengan gambaran novelnya, pengalaman survival Aron juga dipoles seperti biografi dengan refleksi-refleksi ke sejarah hidupnya, thus, ada cukup banyak aktor-aktris lain yang mengambil peranan dari Clémence Poésy (yup, she’s the notable girl from In Bruges), Amber Tamblyn dan Kate Mara sampai aktor senior Treat Williams sebagai ayah Aron. Walau keseluruhannya tetap berpegang pada one-man-show James Franco yang sukses meraih award best actor dari New York Film Critics Online, seperti juga Ryan Reynolds di Buried, 127 Hours tetap adalah film Danny Boyle, dengan inovasi ala Boyle biasanya. Boyle ternyata memilih untuk membesut 127 Hours bak sebuah greatest hits yang menggabungkan semua kekuatannya dari film-film terdahulu ketimbang berpatok di satu gaya penuturan saja. Selagi gambaran panoramik yang merekam keindahan terisolasi dari tebing-tebing lembah itu terasa sekuat The Beach dan kekumuhan kampung kecil pedalaman India di Slumdog, feel claustrophobicnya seperti Sunshine dan 28 Days Later, ada sebuah eksplorasi gila ala Boyle dalam sebuah karya terbaiknya, Trainspotting, yang tampil sangat menyeruak ke permukaan. Orang-orang boleh sibuk membicarakan beratnya tekanan yang dimunculkan Boyle atas penggambaran adegan-adegan akurat atau akting intens Franco menggambarkan usaha survival yang memang tampil mencekik leher dan membuat penontonnya merasa gregetan, namun lewat flashback ke refleksi-refleksi hidup Aron, inilah part yang muncul secara deskriptif paling visually attractive dalam 127 Hours terlebih dalam penyampaian sebuah pesan manusiawi yang terasa luarbiasa bijak dari esensi kisah sejati Aron itu. Ditambah dengan sinematografi kelas A, score A.R. Rahman berikut beberapa nomor soundtrack oldies yang seakan bergantian mengaduk-aduk perasaan secara sama sintingnya, Boyle dan Aron has successfully reminded us on the beauty of cherishing life and the ones we loved. 127 Hours akhirnya tak lagi muncul sebagai pameran claustrophobic atau kisah survival yang kepingin berunik-unik tampil di hadapan penontonnya, namun lebih ke sebuah ‘preach of life’ yang menghentak jiwa. I really think we should all be agree on the tagline, ‘There Is No Force More Powerful Than A Will To Live’, dan percayalah. Seusai menyaksikan 127 Hours, Anda akan langsung menelefon, menghampiri bahkan memeluk erat-erat orang yang paling Anda cintai sambil berjanji dalam hati untuk bisa lebih menghargai hidup dan waktu bersama mereka. Ah, Mr. Danny Boyle! Again, you really got me this time! (dan)

~ by danieldokter on January 9, 2011.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: