BAIK-BAIK SAYANG : ROMAN (DAN MUSIK) PICISAN DENGAN PENGGARAPAN YANG CEMERLANG

BAIK-BAIK SAYANG

Sutradara : Iding Sunadi & Dodi Mawon

Produksi : Exmat, Cinevisi & Big Pictures, 2011

Dibalik begitu banyaknya cercaan atas trend band-band Metal (Melayu Total) atau Alay (Asli Melayu) yang dituding dangkal, kampungan dan cemen itu, rasanya kita tak bisa juga menutup mata atas kiprah sebagian band yang jadi sukses dalam sekejap karena memilih trik dagang ini. Wali, salah satunya, adalah band yang bukan juga main-main dalam rekor penjualan RBT hingga memperoleh rekor MURI untuk pengunduh terbanyak (termasuk katanya, dunia, ah, apa iya?). Yang lebih hebat, dua lagu mereka yang termasuk fenomenal popularitasnya di negeri ini, Cari Jodoh dan titel film ini, Baik-Baik Sayang, dibeli pula copyrightnya oleh penyanyi asal Malta, Fabrizio Faniello sekaligus mencetak posisi mantap di chart musik Eropa. Let’s not talk too much about that, karena terus terang, saya juga salah satu yang berdiri di jalur anti musik-musik macam itu. Di luar semua carut-marut pertentangan tadi, Wali harus diakui punya latarbelakang yang beda dari asal-usul band mereka yang datang dari pesantren. Dan semua keberhasilan itu, meski lagi, dicap kampungan bagi banyak orang, tentu bakal jadi sesuatu yang menjual dalam kapasitas jualan ala layar lebar. Jauh sebelum ini, film yang memanfaatkan kepopuleran penyanyi/band yang sedang naik daun memang sudah bejibun banyaknya, mulai dari yang menempatkan si penyanyi\band dalam karakter komedik, fiktif atau yang setia juga ke biografi mereka. Indonesia juga memiliki banyak film sejenis, mulai dari Duo Kribo, film-film Soneta hingga yang barusan, Tarix Jabrix atau SKJ. And so, asal-usul lahirnya kepopuleran itulah yang tampil dalam Baik-Baik Sayang ini, plus sebuah lovestory yang diracik Jujur Prananto, penulis skenario AADC, Petualangan Sherina dan Doa Yang Mengancam, dalam pakem yang menggabungkan keduanya. Sebagian fiktif, namun dasarnya tetap sebuah biografi lepas dari fenomena Wali sendiri. Sutradaranya? Lepas dari kesalahan nama yang dicantumkan di sebuah situs jaringan sinema kita, dua kolaborator ini bukan nama-nama yang dikenal.

Faang, Apoy, Tomi dan Ovie (Wali) yang bersahabat selama hidup di pesantren modern La Tansa yang membolehkan murid-muridnya berdakwah melalui jalur-jalur nonkonvensional seperti drumband, musik-musik lain dan wajib menggunakan bahasa Arab atau Inggris di pesantrennya, awalnya hanya bermusik buat iseng-iseng. Namun dari kisah percintaan Faang dengan Westi (Intan Nuraini) di kampung dulu, yang tak disetujui orangtua Westi (Agust Melasz-Alicia Djohar) dan berujung pada kecelakaan yang membuat Westi lumpuh dan harus dijodohkan dengan Bagas (Dennis Adhiswara) yang datang dari keluarga jetset, empat sahabat ini akhirnya merekam lagu yang mereka dedikasikan buat Faang dan perjuangan cintanya. Masih ada karakter-karakter lain seperti kepala pesantren (Didi Petet) dan putrinya, Azizah (Arumi Bachsin) yang jadi primadona disana, Nurul (Sulis), siswi pesantren yang juga piawai bermusik, musuh mereka, Hamzah (Cecep Reza) hingga teman Faang (Mario Maulana) dan pengamen kampung (Mandra).

Seorang Jujur Prananto dalam historikal karirnya memang kerap menyuguhkan kita skenario-skenario yang mantap berkomunikasi dalam penyampaiannya. Jujur seperti namanya, dengan turnover yang bisajadi klise namun wajar dan sangat apa adanya. Skenario besutannya di Baik-Baik Sayang sudah jadi satu kekuatan untuk membangun kombinasi semibiografi dan kisah cinta remaja dengan penuturan lancar. Dan beruntung pula, empat personil Wali ternyata tak jual tampang karena tampang mereka, maaf, memang jauh dari kata menjual. Mereka ditempatkan seperti apa adanya. Anak-anak kampung yang berjuang untuk meraih mimpinya. Tapi, Aha!, justru disini letak dayatarik yang mereka tampilkan dalam debut pertamanya di layar lebar ini. Rata-rata memerankan karakternya sendiri kecuali Faang yang pada dasarnya seorang frontman yang harus mendapat porsi terbesar, anak-anak Wali ini jadi tampil seperti orang biasa tanpa tuntutan apa-apa, dalam segala kesederhanaan yang ditampilkan skenario Jujur itu. Dan hasilnya sungguh suatu yang sangat baik dalam koridor filmis. Mereka tampil lepas, wajar, apa adanya, tanpa takut harus terlihat jelek di depan kamera, dan akhirnya malah ikut bisa mencuri perhatian disamping sang frontman, khususnya Apoy, gitaris Wali yang justru muncul paling scene-stealing disini. Kewajaran demi kewajaran yang dikemas Jujur dalam skenarionya terus muncul hingga dialog-dialog berbahasa Arab dibubuhi teks dalam konteks kehidupan pesantren pun terasa tak dipaksakan, namun sesekali juga dibumbui dengan adegan-adegan klise genre lovestory Indonesia yang sudah dibangun sejak dulu. Sometimes can be ridiculous terutama akting aktor-aktor senior seperti Agust Melasz yang terasa kelewat teatrikal, tapi ditimpali dengan akting bagus dari Intan Nuraini sehingga jadi sangat relevan dalam dramatisasinya. Debut akting 4 anak Wali ini juga sekaligus bisa membangun suatu sinergisme yang santai dengan peran pendukung aktor dan komedian senior yang bertaburan di sepanjang film. Namun diatas semuanya, kesuksesan Baik-Baik Sayang harus dialamatkan pada skenario Jujur yang sangat rapi membangun balutan plotnya diatas dua platform yang jelas, sebuah cerita down-to-earth tentang meraih mimpi serta roman picisan konvensional ala sinema kita (but don’t worry, yang satu ini tak harus menggunakan cerita hamil-hamilan atau perkosa-perkosa untuk membangun dramatisasinya, dan penggambaran, lagi-lagi, pesantren dengan semua positif dan negatifnya juga tak harus muncul sebagai dasar dakwah-dakwah-an yang menggurui penontonnya). Tanpa harus bersusah-payah mengeksplor teknik sinematis berikut pemeran-pemeran yang malu-malu membiarkan sehelai rambutnya merusak penampilan mereka di layar, skenario itu sudah membiarkan filmnya mengalir seperti popcorn yang sangat renyah di mulut. Sempalan dengan racikan pas inilah yang akhirnya membuat Baik-Baik Sayang jadi tontonan yang sangat menghibur dengan pesan inspiratif yang bahkan, percayalah, akan bisa dinikmati dengan enak bagi yang anti dengan trend musik Melayu sekalipun, apalagi ending dengan ke-klise-an setinggi film-film Bollywood namun terus-terang sangat menjual itu. Genre musiknya bolehjadi sebuah sampah di mata sebagian orang, namun penggarapan yang sangat baik di biografi lepas ini, sama sekali bukan sampah. (dan)

~ by danieldokter on January 18, 2011.

4 Responses to “BAIK-BAIK SAYANG : ROMAN (DAN MUSIK) PICISAN DENGAN PENGGARAPAN YANG CEMERLANG”

  1. sepertinya cuma saya saja yang nggak suka sama film ini…apa karena yang maen Wali yah, jadi setiap denger lagunya muncul di film ini saya jadi enek….😀

  2. hahaha. same case kaya kalo orang yg gak suka dangdut dipaksa nonton film Rhoma Irama. I hate their music too, until now, dan agak skeptis waktu beritanya muncul, tapi ga bisa juga nutup mata dari penggarapannya yg sederhana tapi serba kena itu. skenario dan akting untuk ukuran debutan, layak dipuji. this happened to when I watch Dawai 2 Asmara. Benci setengah mati sama sosok Rhoma Irama ternyata gak bisa mengingkari kalau film itu sangat menghibur.

  3. […] Baik Baik Sayang […]

  4. teks tntg bahasa arbnya dong.. yang ucapan ustadnya itu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: