BURLESQUE : EXAGGERATING BEAUTY!

BURLESQUE

Sutradara : Steven Antin

Produksi : Screen Gems, 2011

So what is Burlesque? Lebih dekat ke istilah kabaret, Burlesque, meski berasal dari kata Latin, Burla, adalah sebuah bentuk entertainment yang datang dari budaya Eropa terutama Italia dan Perancis. Sebuah pertunjukan teatrikal dengan nuansa parodi musikal yang kental dan set-set art dekoratif beraliran grotesque hingga ke kostumnya yang serba glamor. Setelah terakhir diekspos lewat Moulin Rouge dan Chicago yang berkualitas Oscar, sudah lama memang genre musikal yang jarang-jarang hadir ini muncul ke depan kita, padahal dulunya ada dua film yang hingga sekarang menjadi karya klasik sebagai segelintir pilar terbesar film-film musikal. All That Jazz, yang memenangkan Palme D’Or Cannes 1980, serta Cabaret yang dibintangi salah satu pionir burlesque, Liza Minelli, yang di tahun 1972 menyabet 8 Oscar meski harus rela dikalahkan The Godfather di kategori Best Picture yang hanya berhasil membawa pulang 3 dari 10 nominasinya. Seperti pertunjukan-pertunjukan aslinya sendiri yang banyak dicap sebagian orang kelewat bombastis, berlebihan serta overrated apalagi perkembangan budayanya di Amerika yang kerap menyamaratakannya dengan pertunjukan striptease atau di Asia sebagai pertunjukan waria, kita bisa benci atau malah menyukainya sebagai ‘guilty pleasure’. Jadi itu juga yang terjadi pada film-film bergenre sama. Either you love it or hate it. Dan lagi, tak usah heran bila lagi-lagi sebagian kritikus sana-sini menudingnya klise, dangkal dan segala macam hal negatif di sisi plotnya. Oh, come on! Hampir semua film musikal termasuk Cabaret yang raksasa Oscar sampai yang modern seperti Coyote Ugly atau Step Up pun punya pakem yang tak jauh beda. You’ll need a zero to hero diva character, saingannya, mentornya, dan pastinya sejumlah affair atau lovestory yang harus meletakkan konflik si diva memilih satu yang terbaik di seputar set panggung dan musik-musik yang megah. Satu lagi? Mempertahankan tempat pertunjukan dari konglomerat-konglomerat properti, yang hampir wajib muncul di genre itu. So just leave that traditionally cliche plot, and open your senses to the beauty of the show itself. Apalagi, Burlesque punya potensi jualan yang besar dengan kolaborasi seorang Christina Aguilera dalam debut aktingnya yang banyak dipuji kritikus, dengan Cher, diva ratu plastik yang juga baru kali ini tampil dalam genre musikal murni walau akar karirnya adalah seorang penyanyi. Belum cukup? Salah satu soundtracknya yang digubah Diane Warren, ‘You Haven’t Seen The Last Of Me’ dan dibawakan Cher, banyak bertengger di deretan nominasi lagu terbaik festival berkelas termasuk menang di Golden Globe barusan.

Ali Rose (Aguilera), seorang gadis kampung yang punya keinginan terpendam menjadi penyanyi melesat meninggalkan pekerjaannya di sebuah bar kecil demi mengejar mimpinya di L.A. Ali kemudian terdampar di Burlesque, sebuah lounge megah tempat pertunjukan teater musikal milik Tess (Cher), yang juga mantan diva burlesque. Selagi Tess mesti berjuang untuk mengangkat pamor kelabnya yang kian redup dari desakan mantan suaminya, Vince (Peter Gallagher) untuk menjual Burlesque ke taipan properti Marcus (Eric Dane), Ali harus memulai segalanya dari bawah, menjadi waitress lagi dan bersahabat dengan Georgia (Julianne Hough), seorang penari latar serta Jack (Cam Gigandet), bartender supervisornya yang diam-diam punya perasaan terhadap Ali. Dengan bantuan stage manager, Sean (Stanley Tucci) dan MC Alexis (Alan Cumming), Ali berhasil meyakinkan Tess untuk ikut dalam tim penari, namun ia lagi-lagi harus berseteru dengan bintang panggung, Nikki (Kristen Bell) yang merasa cemburu terhadapnya. Tapi Ali malah berkembang semakin besar setelah menunjukkan kemampuannya menyanyi dalam sebuah insiden panggung akibat ulah Nikki. Diwarnai konflik dan cinta segi banyak diantara karakter-karakter ini, Ali dan Tess akhirnya harus berusaha mempertahankan Burlesque untuk terus bisa berdiri dan menyelenggarakan pertunjukannya.

Dua sineas debutan dalam Burlesque ternyata tampil sama sekali tak mengecewakan dalam kiprah mereka di peran masing-masing. Yang pertama, Steven Antin, yang baru memulai debut penyutradaraannya setelah sebelumnya pernah tampil sebagai aktor dengan peran cukup penting sebagai salahsatu pemerkosa Jodie Foster dalam The Accused serta penulis skenario Chasing Papi dan remake Gloria-nya Sharon Stone, dan pastinya, Christina Aguilera, yang secara mengejutkan memunculkan bakat akting yang tak main-main. Ke-klise-an resep umum plot film-film sejenis itu pun bisa tertutupi dengan akting sebarisan pendukungnya mulai dari Stanley Tucci, Alan Cummings, aktor muda Cam Gigandet dan Julliane Hough termasuk Cher yang masih tampil remarkable seperti biasa dengan chemistry erat ke Christina, meski tahun ini dinominasikan dalam piala memalukan untuk insan perfilman, Razzie Awards. Kristen Bell yang selama ini sudah terpatri secara tipikal ke peran-peran geek juga secara tak diduga bisa masuk ke peran Nikki yang ambisius dan egosentris. Tudingan sebagian kritikus atas nomor-nomor soundtracknya yang tak bisa mencapai taraf memorable bisajadi merupakan sesuatu yang relatif, karena dua dari lagunya toh muncul di banyak nominasi soundtrack terbaik. Namun apapun itu, dayatarik terbesar dari Burlesque adalah set-set panggung, kostum dan koreografi stage dance dan actnya yang bisa menghidupkan suasana teater musikal yang glamor serta penuh dengan kerlap-kerlip lighting yang meriah. Sungguh berlebihan rasanya bila harus menuding seperti anggapan sebagian kritikus dunia di review-review mereka kalau hanya kalangan gay yang bisa menyukai Burlesque sementara yang lainnya hanyalah sebatas guilty pleasure yang layak ditutup-tutupi. On the other hand, Burlesque adalah sebuah sajian musikal penuh gegap-gempita pertunjukan panggung dengan detail-detail penggarapan yang cukup baik serta sangat menghibur dalam kapasitasnya di genre musikal. Sama seperti fans Christina Aguilera yang toh bukan semuanya harus dari kalangan wanita, You really don’t have to be gay, seperti dikatakan kritikus-kritikus yang gampang sekali melabel kata dangkal dibalik pikirannya yang sama dangkalnya, to enjoy this exaggerating stage-beauty of a Burlesque. Live it up! (dan)

~ by danieldokter on January 25, 2011.

One Response to “BURLESQUE : EXAGGERATING BEAUTY!”

  1. […] This post was mentioned on Twitter by Mahmud Zaeni, Satrio Aditomo, Rangga Adithia, wayan eka dirgantara, Fiko Agretiko and others. Fiko Agretiko said: RT: @danieldokter: BURLESQUE : EXAGGERATING BEAUTY!: http://wp.me/pVV2A-9w […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: