LOVE STORY : AN OVERBLOWN MODERN LOVE-FAIRYTALE

LOVE STORY

Sutradara : Hanny R. Saputra

Produksi : Starvision, 2011

To be honest, meski ending Heart lewat tulisan-tulisan di rumah pohon itu sedikit menyentuh saya, sulit juga menampik bahwa keseluruhan filmnya yang boxoffice gila-gilaan sampai ke negara tetangga itu adalah sebuah hype yang overrated, apalagi tipikal akting Acha Septriasa yang seolah tak bisa membedakan tangisan dan tawa disana. So, ketika Irwansyah dan Acha, pasangan dengan chemistry kuat ini mengulang lagi kebersamaan mereka di Love Is Cinta, yang ternyata cuma ‘eh, apa ini?’ itu, terciptalah suatu skeptisisme terhadap film-film mereka berikutnya. Namun ternyata, perkembangan dua artis ini kemudian berjalan lebih dari sekedar lumayan. Irwansyah, meski terus terang lagi, lagu-lagunya membuat saya il-fil, namun pilihan beberapa filmnya pasca Love Is Cinta agak sedikit membaik. Acha lebih hebat lagi. Lonjakannya di Love, In The Name Of Love, Menebus Impian, bahkan Sst.. Jadikan Saya Simpanan, sudah menyadarkan kita bahwa proses pendewasaan aktingnya memang pantas diperhitungkan. And so, ketika hubungan asmara luar film mereka sudah lama kandas dan kini kembali dalam sebuah reuni, rasa skeptis itu sudah jauh berkurang. Apalagi trailernya yang dipromosikan lumayan besar sama sekali tak berasa sampah, dan beberapa berita di teve membuat kita tahu, ada seorang Reza Rahadian yang mau-maunya berakting sampingan sebagai orang cacat disini. Dan di luar eksistensi Hanny R.Saputra yang terkadang masih bisa menghasilkan film Indonesia yang meski klise tapi garapannya lumayan itu, satu lagi yang berhak dicatat adalah Armantono. Banyak yang mungkin tak mengenalnya, namun penulis skenario berusia kepala empat ini sudah memiliki kredit segudang mulai dari film jelek sampai yang terbaik sekali pun; diantaranya Daun Di Atas Bantal dan serangkaian film-film Garin lainnya termasuk Opera Jawa, bersama Hanny di Virgin, Heart, Love Is Cinta, sampai yang terakhir, Tanah Air Beta. Sekilas, Love Story terlihat seperti sebuah legenda cinta dalam balutan fairytale kisah-kisah abadi sejenis Romeo & Juliet dari Eropa, Sampek Engtay dari Cina, Sohni Mahiwal atau Heer Ranjha dari India, Layla Majnun dari Arab hingga Roro Mendut dan legenda-legenda lain milik Indonesia. Hanya yang satu ini diracik sedikit lebih modern dimana legendanya cuma jadi latarbelakang saja, di tengah set tanpa timeline dan space yang benar-benar jelas. Nama dua karakternya pun hampir mirip dengan lovestory legendaris kita, Galih dan Ratna dari Gita Cinta dari SMA. Galih dan Ranti. Reuni-reunian itu juga semakin jelas dengan soundtrack yang lagi-lagi menampilkan Melly & Anto Hoed, yang agaknya memindahkan nada-nada lagunya dengan statis di situ-situ saja. A bit boring, if I might say.

Dimulai dari kisah dongeng tentang Dewi Bulan dan Joko Angin-Angin di sebuah desa yang jauh dari peradaban, dua suku dipisahkan oleh sebuah aliran sungai penuh kutukan atas kegagalan Joko menyunting Dewi Bulan karena dipecundangi keluarga sang dewi dalam legenda itu. Kutukan itu membuat keturunan Dewi Bulan selalu melakukan ritual untuk menjauhkan kesialan dari mereka atas larangan perjodohan yang dipisahkan sebuah sungai. Namun Ranti (Acha) yang sudah punya historis peninggalan kesalahan sang ibu justru menjalin hubungan dengan lelaki dari desa seberang, Galih (Irwansyah). Cinta Galih membuat niatnya membangun sekolah impian Ranti yang bercita-cita menjadi guru harus terwujud setelah keberangkatannya ke Bandung untuk kuliah. Ranti yang awalnya mencoba menolak demi kisah kutukan itu akhirnya tak bisa menahan perasaannya sepeninggal Galih. Bus demi bus dengan tanda klakson tiga kali yang membawa Galih kembali ditunggunya dengan setia selama 5 tahun, apalagi dengan ketulusan Galih membangun sekolah kayu beratap tepas dengan kincir angin pembangkit listrik yang belum sampai ke desa itu. Namun pastinya hubungan ini ditentang oleh ayah Ranti (Reza Pahlevi) dan seluruh penduduk daerah itu. Neneknya (Henidar Amroe) pun hanya bisa menyaksikan perjuangan Galih dan Ranti tanpa bisa berbuat apa-apa, terlebih ketika seorang anak dari desa keturunan Dewi Bulan itu meninggal karena mengambil jalan pintas sepulang dari sekolahnya yang jauh dianggap sebagai suatu kutukan. Galih yang didera tifus terus berjuang membangun mimpi Ranti, sementara Ranti terus mencoba melarikan diri dari sekapan keluarganya.

Plot yang dibangun Armantono dengan mantap sejak awal mulai meninggalkan lubang demi lubang yang tak terjelaskan dengan baik, namun memanjang-manjangkan penyampaiannya di konflik lari-larian Galih dan Ranti yang terasa sedikit over. Pemilihan bahasanya juga seakan bertujuan untuk menciptakan legenda Romeo & Juliet ala Shakespeare sekali. Bahasa puitis, bahasa buku, yang sayangnya di bagian-bagian akhir menjadi semakin blur dengan penggunaan kata penghubung ‘sama’ ketimbang ‘pada’ yang baku juga terasa tak konsisten. Belum lagi dengan akting Irwansyah yang terasa sangat lemah dalam berekspresi kelewat over, dan akting luarbiasa Reza Rahadian memerankan si Pengkor yang sayangnya tersia-sia dan repetitif karena tak diberi latar yang jelas hingga ke bagian paling akhir. Soundtracknya? Ah, banyak sekali dejavu di nada-nada yang dipilih Melly itu, kalaupun tak mau menyebutnya kacrut. Lantas, tentu saja Reza Pahlevi yang sangat mis-cast menjadi orangtua Acha bersama bombastisme dan akting komikal ala film-film kita. Tapi tunggu dulu. Dalam konteks penciptaan Hanny dan Armantono atas sebuah modern fairytale yang terasa mencuat sekali ke depan, pemilihan bahasa dan pengulangan konflik itu justru di satu sisi menjadikan penekanan poin atas pesan moralnya yang juga hadir segudang. Tak hanya tentang cinta, tapi juga kebodohan manusia-manusia un-educative yang kerap dikuasai mitos serta adat yang salah kaprah. Inilah yang akhirnya membuat kekurangan-kekurangan tadi sedikit bisa tertutupi dengan penggambaran perjuangan cinta penuh pengorbanan serta sebuah uplifting moral terhadap suatu nilai hidup bisa dipadukan dengan cukup baik. Apalagi set-set nya hadir dengan nuansa panoramik dan atmsofer warna yang indah sekaligus juga pahit. This new Love Story might be ridiculously overtold in many ways, tapi terus terang, sulit juga menampik pesan-pesan moral dan cinta tadi bisa hadir dengan penekanan yang cukup baik. Saya akan memilih untuk berjalan di tengah-tengahnya ketimbang harus memuji atau mencaci-maki salah satunya, bahwa Love Story, dalam kenyataannya adalah sajian Hanny yang sangat, sangat lumayan. (dan)

~ by danieldokter on January 27, 2011.

3 Responses to “LOVE STORY : AN OVERBLOWN MODERN LOVE-FAIRYTALE”

  1. Film yang menarik. Cukup sempurna ceritanya dan penyajiannya.
    Yang penting isi pesan yang disampaikan lewat film itu dirasakan oleh penonton.

    Good job Scriptwriternya
    and all crew/talent

  2. Indeed. pengadeganan yang over itu justru membuat pesannya jadi makin kuat. so overall, ini memang film yang cukup bagus.

  3. […] Love Story […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: