THE GREEN HORNET : A SUPER-FUN STING!

THE GREEN HORNET

Sutradara : Michel Gondry

Produksi : Columbia Pictures, 2011

Selesai sudah penantian panjang terhadap proses carut-marut untuk mengangkat kembali adaptasi The Green Hornet ke layar lebar. Franchise superhero dan sidekick Asia-nya yang lahir dari sebuah sandiwara radio AS di tahun 40an bersama The Lone Ranger dan kemudian melambung dari adaptasi serial teve keduanya yang belakangan merambah Asia atas kiprah awal karier film seorang Bruce Lee, diikuti komik dan merchandisenya, sudah melibatkan banyak sineas ternama untuk masuk di dalamnya. Mulai dari pasangan George Clooney dan Jason Scott Lee di tahun 90an, lantas Jet Li, Jake Gyllenhall hingga terakhir Stephen Chow yang batal menyutradarai dan memerankan Kato sekaligus. But hey! Kabar terakhir atas proyek yang jadi rebutan banyak studio hingga perusahaan mobil yang ingin memoles kendaraan fenomenalnya, Black Beauty, adalah sesuatu yang sangat-sangat ‘unlikely’ di segala sisi. Jutaan fansnya pun melempar protes keras terhadap pre-produksi itu, terhadap bagaimana seorang komedian tambun seperti Seth Rogen yang akhirnya terpilih menulis skenario dan memerankan The Green Hornet bisa terlihat pantas masuk ke role itu, sutradara Michel Gondry yang sepanjang karir penyutradaraan videoklip dan film-filmnya hanya terkenal menyuguhkan plot dan adegan surealis, meski kita semua menyukai ‘Eternal Sunshine Of A Spotless Mind’ selayaknya ibadah wajib para movielovers, Cameron Diaz yang mulai dimakan usia plus Jay Chou yang bukan juga seorang petarung handal dalam film-film di luar karir musiknya yang mantap itu. Apalagi, dalam banyak press releasenya, Rogen begitu menekankan bahwa ia membawa franchise ini ke wilayah yang jauh melampaui perubahannya selama hampir 6 dasawarsa itu. Sebuah genre superhero yang dibalut dengan buddy movie dengan sempalan humor kental ala Lethal Weapon atau 48 Hours. Oh, c’mon! The Green Hornet jelas-jelas bukan sekumpulan pelawak yang beraksi memancing tawa pemirsanya selama ini. Alih-alih menjadi Starsky & Hutch versi layar lebar yang melenceng untuk melucu-lucu tanpa arah, Rogen bersama rekannya yang juga terkenal di wilayah komedi vanguard yang nge-trend lewat film-film seperti Superbad, 40 Year Old Virgin, Knocked Up atau Pineapple Express, Evan Goldberg, ternyata punya alasan serta visi yang kuat. Pemilihan Gondry pun bukan sembarangan. Konsepnya untuk membalut The Green Hornet dalam versi 3D punya relevansi jelas ketimbang jadi sebuah pameran efek spesial belaka dalam teknik itu. And so, seperti karya-karya mereka yang lain, Rogen, Goldberg dan Gondry memang tak pernah perduli dengan reaksi penontonnya. Dibalik kemampuan mereka mengeruk keuntungan dan apresiasi prestisius selama ini, mereka adalah sineas-sineas idealis yang kuat sekali di gebrakan-gebrakan baru yang belum pernah tersentuh sineas lain, dan yang terpenting, ada pemahaman tersendiri yang diperlukan untuk bisa mengerti kemudian benar-benar menikmati karya mereka. You can rate the movie that high, atau sebaliknya. Either you like it or not. Kira-kira seperti itu.

Jauh dibalik persona sang ayah yang seorang taipan media terkenal Los Angeles, The Daily Sentinel, James Reid (Tom Wilkinson), putra satu-satunya, Britt Reid (Seth Rogen) adalah produk antikemapanan yang serba kacau. Britt kerap menggunakan nama dan kekayaannya untuk berfoya-foya, pindah dari satu wanita ke wanita lainnya tanpa memikirkan kelangsungan media raksasa James, bahkan setelah James tiba-tiba tewas karena keracunan sengatan lebah, Britt masih menganggap sang ayah sebagai ambisius cerewet yang menyusahkannya. Bersama Kato (Jay Chou), mantan pegawai James yang ternyata all-rounder hebat dari masalah mekanik, bertarung hingga meracik cappuccino, Britt malah melandaskan keinginan gilanya menjadi superhero nyeleneh. Dengan bantuan Kato yang menciptakan gadget-gadget ajaib dalam sebentuk mobil super bernama Black Beauty dan kerap menyempurnakan ide-idenya yang berantakan, serta rekrutan baru Britt, si sekretaris seksi Lenore Case yang ahli kriminologi, Britt merancang identitas barunya sebagai superhero yang memunculkan imej kriminal agar bisa masuk ke organisasi-organisasi penjahat. Eksistensi The Daily Sentinel pun seenaknya dirusak Britt untuk mengangkat imej barunya, meski ditentang habis-habisan oleh rekan sang ayah, chief editor Mike Axford (Edward James Olmos). Namun iseng-iseng ini mulai berkembang ketika ketenaran The Green Hornet, nama identitas yang diciptakan Kato itu mulai mengganggu eksistensi villain ambisius Benjamin Chudnofsky (Christoph Waltz) yang kepingin menguasai dunia kriminal seantero LA. Apalagi, keterlibatan jaksa distrik Frank Scanlon (David Harbour) perlahan mulai menguak rahasia kematian James. Di tengah kekacauan yang makin memunculkan jatidiri sebenarnya itu, Britt masih harus berhadapan dengan Kato yang tak sudi selamanya sebagai seorang sidekick, termasuk dalam ketertarikan keduanya pada Lenore.

Robin dalam Batman, Tonto dalam The Lone Ranger, ataupun Kato dalam The Green Hornet, memang punya masalah eksistensi terhadap popularitas mereka, apalagi ketika sang superhero utama ternyata tak bisa memunculkan kharisma lebih besar dari si sidekick. Itulah yang selama puluhan tahun menjadi problem mendasar dalam franchise ini, tak seperti Batman atau The Lone Ranger. Kharisma Kato yang awalnya sering diplesetkan hanya jadi supir setia Britt, setelah munculnya Bruce Lee di adaptasi kedua serial tevenya di tahun 60an, diikuti melesatnya Lee ke puncak ketenaran yang merubah pandangan dan perlakuan Hollywood terhadap aktor Asia dalam sinema mereka, membuat The Green Hornet lebih dikenal sebagai shownya Kato ketimbang Britt Reid. Tak ada yang ingat lagi siapa itu Britt Reid, namun semua mengenal Bruce Lee dengan imej Kato tersebut. Impor serialnya ke sebagian negara Asia bahkan tak lagi dibandrol dengan nama The Green Hornet melainkan ‘The Kato Show’, tapi sampai sebelum remake ini muncul, toh komik-komiknya pun masih seolah menyembunyikan kharisma yang siap meledak itu di belakang karakter Britt. Apa boleh buat. Itulah yang sekarang dimunculkan ke depan oleh Rogen dalam skenario yang ditulisnya bersama Goldberg, dan dalam wilayah genre superhero berkelas blockbuster, agaknya komedi adalah pilihan tepat menyampaikan uneg-uneg puluhan tahun tadi. Rogen pun semakin menambah dalam garis batas ketidakadilan itu dengan karakterisasi Britt yang nyeleneh, kacau serta tolol, yang makin menguatkan Kato sebagai mastermind di belakang semua dengan kemampuannya yang benar-benar super. Dan Gondry, juga sangat sinergis menangkap keinginan Rogen. Tampilan ‘Kato Vision’ yang merupakan visi asli Gondry untuk menampilkan protes ini adalah salah satu pengadeganan yang muncul dengan luarbiasa memikat, apalagi dalam polesan 3D. Dan tak hanya disana, Gondry pun tampaknya tak menyia-nyiakan teknik 3D-nya hanya sebagai gimmick tak penting. Try to watch it again. Lewat shot-shot natural yang menampilkan daun, bunga, angle ruangan serta hal-hal sepele lainnya, Gondry kembali menunjukkan visi surealisnya kadang bisa jadi sangat besar untuk mendukung genre fantasi seperti ini. That’s one. Kemudian gap antara ketololan Britt dengan kejeniusan Kato, masih dalam konteks protes mem-protes itu, juga mampu diterjemahkan dengan chemistry yang luarbiasa kompak antara Rogen dengan Jay Chou. Kelucuan demi kelucuan yang dibangun Rogen dalam sindiran kasar ini mengalir sangat natural bahkan menggelitik tawa gila-gilaan seperti menyaksikan dua karakter dalam Dumb & Dumber-nya Jim Carrey. Dan yes, kemampuan gerak seorang Jay Chou di karir musiknya yang fenomenal melibatkan Rap dan RnB dalam musik Chinese itu juga membuat penerjemahan koreografi adegan aksinya juga jadi sangat juara. Two. Masih kurang? Penolakan Nicolas Cage memerankan Chudnofsky karena tak setuju dengan visi komedi Rogen dan akhirnya digamit Christoph Waltz, pemeran Hanz Landa di ‘Inglourious Basterds’ yang sama nyelenehnya itu, adalah sebuah highlight lain dalam membangun unsur komikalnya. Cameron Diaz juga masih memunculkan sisa-sisa Mary-nisme nya dalam melengkapi chemistry Britt-Kato-Lenore sebagai karakter utama franchise aslinya. Terakhir, bila Anda tak mementingkan cameo James Franco dan kemunculan sekilas Edward Furlong yang sudah hilang ditelan zaman itu, tentu saja pameran aksi Black Beauty’s gadget yang hadir sebagai penuntas polesan kelas blockbuster proyek ini. I couldn’t say nothing but just let it runs deep in my veins, and ready to blow my stomach laughing loudly at anytime. Trio Rogen-Goldberg dan Gondry sudah menciptakan sebuah ‘unlikely turnover’ terhadap sebuah franchise terkenal dengan visi yang benar-benar luarbiasa. It’s not just fun. It’s SUPERFUN! (dan)

 

~ by danieldokter on February 3, 2011.

2 Responses to “THE GREEN HORNET : A SUPER-FUN STING!”

  1. […] This post was mentioned on Twitter by Daniel Irawan, Tezar Samekto D and A. A Gd Ngr. Putra A, Daniel Irawan. Daniel Irawan said: THE GREEN HORNET : A SUPER-FUN STING! http://wp.me/pVV2A-a0 […]

  2. […] The Green Hornet […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: