THE FIGHTER : EVERYTHING ‘DID’ HAPPEN FOR A REASON

THE FIGHTER

Sutradara : David O.Russell

Produksi : Relativity Media, The Weinstein Company, & Paramount Pictures, 2010

Everything DID happen for a reason. Quote yang sering jadi kenyataan di banyak film yang berhasil setelah ditinggal sineas rekrutan awalnya, dan biasanya lebih ke film-film yang dibesut dengan suatu ambisi. The Fighter pun sama seperti itu. Dari ambisi seorang Mark Wahlberg yang bergabung sebagai cast pilihan pertama setelah life rights petinju legendaris Micky Ward dan kakak tirinya, Dicky Eklund, dibeli untuk diangkat ke layar lebar di tahun 2003, proses pre-produksinya sempat bergonta-ganti kru cukup lama. Padahal, Wahlberg yang merupakan fans sekaligus berteman baik dengan Ward sudah sangat antusias hingga membangun ring tinju di kediamannya berikut memastikan Ward untuk men-supervisi langsung syutingnya. Setelah Martin Scorcese menolak untuk menyutradarai another ‘Raging Bull’ ini, Darren Aronofsky kemudian juga meninggalkan kursi sutradara dan hanya jadi salah satu produsernya untuk Black Swan yang ternyata menjadi saingan berat The Fighter di banyak festival bergengsi tahun ini termasuk Oscar dan Golden Globe barusan. Lantas, pemeran Dicky, sempat mencatat nama Brad Pitt dan Matt Damon yang sempat setuju namun belakangan keluar karena bentrokan jadwal, hingga masuklah Christian Bale yang langsung diusulkan Wahlberg. Everything DID happen for a reason. Bale, menjadi highlight paling bersinar dalam film ini, menenggelamkan cast lain kecuali mungkin Melissa Leo yang ada di hampir setiap daftar nominasi bersama namanya. Dengan kebiasaannya menurunkan bobot tubuh dan mem-bunglon-kan diri mengikuti tuntutan peran, Bale muncul sangat meyakinkan dalam peran Dicky yang bisa menjadi seorang troublemaker bagi karir Ward dengan temperamen dan overkompensasinya, namun di sisi lain justru menyiratkan seorang manusia rapuh yang remuk-redam diterpa kekecewaan tapi tak pernah kehilangan kasih sayang dan kebanggaannya terhadap sang adik. Yup, walau awalnya banyak orang yang berharap sentuhan Aronofsky akan mengulang kehebatan The Wrestler ke kisah sejati ini, namun David O.Russel, yang sudah pernah bekerjasama dengan Wahlberg di Three Kings dan I Heart Huckabees, sudah membawa The Fighter ke taraf yang jauh lebih dari yang diharapkan dibalik penggambarannya yang sangat down to earth. It’s not just a sport movie, a true story, a legendary tale or even a simple drama, namun lebih dari semuanya, sebuah kisah manusiawi yang berbicara jauh lebih keras dari sebuah pukulan tinju karakter-karakter juara ini.

Micky Ward (Wahlberg), seorang petinju dari kaum pinggiran Lowell, Massachusetts, awalnya bukan petinju yang berarti. Walaupun sang ibu sekaligus managernya, Alice (Melissa Leo) begitu berambisi untuk mengorbitkan Micky sebagai pengganti kakak tirinya, Dicky Eklund (Bale), yang pernah meng-K.O.-kan seorang Sugar Ray Leonard namun sekarang beralih menjadi pelatih dibalik kehidupan pecandunya, karir Micky tak bisa langsung menanjak. Apalagi kelakuan Dicky kerap mengacaukan semuanya, termasuk ulahnya membantu Micky yang berujung ke sebuah chaos dan melukai tangan Micky sebagai aset utamanya. Setelah Dicky masuk penjara, Micky yang dilanda kekecewaan besar dibantu oleh kekasihnya, Charlene (Amy Adams) serta sang ayah, George (Jack McGee) kembali mencoba meniti karir barunya dari awal lagi tanpa campur tangan Alice dan Dicky yang dianggap pengacau. Konflik baru pun muncul saat Dicky yang sudah mencoba memperbaiki hidupnya selama di penjara ingin kembali ke karir sang adik. Micky sekarang yang harus memilih orang-orang terbaik di belakang karirnya, antara rasionalisme sportifitas dengan sebuah ketulusan hati. Pilihan yang nantinya akan mengubah kehidupan Micky pada kemenangan-kemenangan sejati serta rekor karir tinju welterweightnya yang cukup diperhitungkan di sejarah boxing championship.

Ambisi Wahlberg atas  kekagumannya terhadap seorang Micky Ward kini terbayar sudah. Meski gagal menempatkan dirinya di nominee piala-piala bergengsi kecuali di Golden Globe, Wahlberg harus rela memberikan kredit penuh pada Bale dan Melissa Leo yang sangat menguasai layar di adaptasi kisah sejati ini untuk menyematkan nama mereka di nominee sejumlah ajang film paling representatif. Bukan berarti Wahlberg tak bermain baik, begitu juga dengan Amy Adams yang meninggalkan sosok nicegirl-nya ke karakter cewek middle class yang keras, namun tampil dengan penurunan bobot dan fisik tak terurus nyaris seperti dalam The Machinist, Bale yang punya kemampuan bunglon ini muncul dengan transformasi akting intens yang cukup eksplosif hampir di seluruh adegannya, tanpa harus keteteran menunjukkan pengharapan seorang kakak pada adiknya. Sama dengan Melissa Leo, aktris paruh baya yang memang kerap jadi langganan film-film indie dan belakangan ini semakin banyak muncul di film-film serupa. Peran Alice yang nyeleneh namun tetap memancarkan aura seorang ibu terhadap Micky juga bisa ditampilkannya dengan sangat baik. Di luar departemen akting, adalah skenario besutan Scott Silver (8 Mile, Wolverine) yang meracik ulang skenario awal Paul Tamasy-Eric Johnson yang terasa sangat efektif menggambarkan poin-poin terpenting dalam karir legendaris Micky Ward ke dalam film bermasa putar tak sampai dua jam, walau harus mengorbankan adegan-adegan tinju sebagai daya tarik lain yang bisajadi satu sisi yang akan menambah nilai komersilnya. However, dari awal tujuannya memang bukan itu, melainkan lebih pada sorot-menyorot kehidupan Micky dan konflik-konflik dengan orang terdekat yang mempengaruhi perjalanan karirnya. Meski sangat dan sangat layak bertengger dari barisan nominee film terbaik sepanjang tahun lalu, menganggapnya mampu menyamai nilai klasik Raging Bull atau Rocky mungkin sedikit berlebihan, namun The Fighter sudah berjaya mencakup lebih dari sekedar unsur wajib yang dibutuhkan genre-genre sejenis. It’s not just a sport movie. It’s a human story. It’s ours, and could be yours, too. And yes, everything DID happen for a reason. (dan)

~ by danieldokter on February 5, 2011.

One Response to “THE FIGHTER : EVERYTHING ‘DID’ HAPPEN FOR A REASON”

  1. […] This post was mentioned on Twitter by Fiko Agretiko and sandra ristianjani, Daniel Irawan. Daniel Irawan said: THE FIGHTER : EVERYTHING 'DID' HAPPEN FOR A REASON http://wp.me/pVV2A-a6 […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: