ARWAH GOYANG KARAWANG : INDONESIAN BITCH WARS

ARWAH GOYANG KARAWANG

Sutradara : Helfi Kardit

Produksi : Sentra Mega Kreasi, 2011

Jauh sebelum perilisannya, entah rekayasa, viral marketing, atau benar-benar asli, film horor kacrut yang mempertemukan JuPe dan DePe (ah, Mirna tak usah dihitunglah karena itu bukan konsumsi bioskop dan sulit juga dikategorikan sebagai film) ini sudah mengundang kontroversi atas perseteruan mereka yang semakin memanas bahkan setelah usaha damainya gagal total. Di luar mereka, Shanker RS, sang produser (di posternya tertulis Gobind Punjabi sebagai produser tunggal) yang dulu berkibar dengan Indika Ent. Itu  juga sudah terkenal sebagai produser bombastis yang penuh pancingan realitas untuk pemasarannya. Lantas sutradaranya, Helfi Kardit. Ah ya, sudah terkenal juga sebagai sutradara film-film kacrut, meski masih setingkat diatas KKD dan begundal-begundalnya. Ditambah lagi dengan protes-protes orang-orang asli Karawang serta pengamat salah satu cabang kesenian asli Indonesia yang memang auranya agak-agak mengundang ini, lengkaplah sudah janji yang ditawarkan film ini. Tak main-main, meski masih lagi dibanjiri gosip batal tayang beberapa minggu lalu, peredarannya langsung mendapat sambutan sangat panas. Hampir di tiap hall yang memutarnya di daerah, penontonnya selalu full house. Tujuannya ya jelas hanya satu. Embel-embel adegan asli yang dihadirkan itu. Perkelahian seru ala gulat wanita antara JuPe dengan DePe. Penuh pukulan, cakaran, makian dan lemparan kata-kata ‘lonte’ di sepanjang film. Sorot mata mereka ke masing-masing pun penuh dengan kebencian. Mungkin ada niat untuk memberi judulnya ‘War Of The Lonte’, namun pasti masih takut tersandung LSF.

Kembalinya Lilis (Julia Perez) ke grup tari jaipong Goyang Karawang yang menghidupi klab malam Bintang Kejora membuat primadonanya, Neneng (Dewi Perssik), tergeser. Saya sekejap teringat pada Black Swan, untunglah pikiran itu cepat hilang. Seperti sebuah dialog yang berkali-kali diucapkan Julia Perez lewat skenario yang sama kacrut dan ditulis keroyokan oleh kelompok yang menamakan diri mereka Team Bintang Timur, “Saya merasa bersalah menyalahgunakan kesenian”. Arif sekali, hanya yang ini diucapkan sambil bernegosiasi buat mencampurnya dengan striptis. Oke, lanjut lagi, karena kecemburuan itu Neneng pun lantas terlibat perang dingin yang kerap jadi panas juga dengan Lilis. Apalagi, pemilik klab, Pak Awal (terus terang, meski pilihan team casting terlihat sangat pas dengan perawakan pemerannya yang sangat ‘om-om senang’ itu, saya malas untuk membrowsing nama pemeran aslinya), sangat tertarik (baca:terangsang) dengan liukan tubuh Lilis. Pemimpin grup tari pun (ah, lagi-lagi, entah siapa nama aslinya, siapa nama karakternya, tak penting) terpaksa menyetujui. Padahal, ia selama ini punya affair dengan Neneng, yang lewat sebuah dialog, telah menyerahkan ‘SEMUANYA’ padanya. Tipikal film Indonesia sekali. Ujung-ujungnya, Lilis pun ditawarkan berapa saja yang ia mau untuk menari striptis secara private ke klien-klien setia Pak Awal. Lilis awalnya menolak, karena takut pada suaminya, Aji (ini nama aslinya Erlando, satu lagi pilihan cast yang pas dengan tampangnya yang sekelas tukang becak atau supir angkot), yang kerap memukuli Lilis karena pulang malam dan malu dengan tetangga. Tapi skenario kita memang top kok, dalam mengangkat tema-tema klise di seputar wilayah terlarang ini. Wajarlah, Aji itu pengangguran dan mengharap uang dari pekerjaan istrinya. Saat Lilis menolak disetubuhi karena capek, Aji pun melanglang buana ke klab untuk memangsa dan dimangsa. Kembali lagi, judulnya saja sudah berbau Arwah, konflik-konflik ‘Pengakuan Seorang Pelacur’ tadi memang jadi sekedar tempelan. Tiba-tiba muncul hantu-hantu berseliweran membunuhi orang-orang ini satu persatu, dan akhirnya terbukalah twist yang, halah, tak pantas juga disebut itu, terhadap masa lalu Teh Lilis ini. Sejak awal pasukan North Star itu memang sudah tak punya niat menulis skenario kok, sepertinya. Yang mau dijual kan hanya perseteruan seru antara dua bintang berdada ekstra dan pintar goyang ini. JuPe dan DePe’s cat fight, cakar-cakaran, tendang-tendangan, plus yang pasti pertandingan dada seperti yang ditunjukkan di poster, sekaligus di sejumlah adegan tari-tariannya (Saya tak berani menyebutnya jaipong or even goyang karawang karena beberapa situs memprotes yang dipertontonkan disini bukan itu, walau saya melihatnya sama saja, antara lain seperti yang jadi trademarknya penyanyi dangdut Lilis Karlina atau Inul itu). Belum lengkap, masih ada Ajeng Kraton entah siapa itu, pemeran Tike yang alumnus majalah esek-esek untuk melengkapi gerakan-gerakan striptis dua bomseks kita tadi. Yang penting, penonton senang. Seperti satu adegan dimana nipple JuPe muncul dibalik tanktopnya, semua tertawa riuh. Bersorak gembira. Walah….

But however, yes. Ini dia. Kalaulah memang benar semua ini hanya rekayasa pemasaran yang gila-gilaan, as beberapa kasus artis atau reality show di Indonesia kerap disinyalir sebagai bentuk yang sama, agaknya kita harus kagum benar-benar terhadap Julia Perez dan Dewi Perssik di luar semua kontroversi buka-bukaan mereka. Sorot mata penuh kebencian, gestur, body language, intonasi dialog yang diucapkan dalam skenario yang, ah, saya pun tak yakin berisi penuh kata-kata sumpah serapah dan lonte-lontean itu, benar-benar sesuatu yang sangat luarbiasa meyakinkan, dan sama sekali tak terlihat seperti dibuat-buat. Apresiasi lain saya berikan buat departemen casting yang sudah benar-benar pas mengontrak tampang-tampang yang sama kacrut dengan karakter yang dibutuhkan berikut nama-namanya yang sangat karawang itu, meski aktor-aktor ‘you don’t know who’ ini masih tampil dengan ekspresi sinetron yang sangat teatrikal, termasuk juga si bencong, bila ada yang menganggap aktingnya memang selayaknya bencong film Indonesia kebanyakan. Soal adegan, mock-up hantunya seperti biasa, kacrut. Adegan catfight JuPe-DePe? Lagi, kalau itu rekayasa, lumayan intens. Selebihnya, termasuk sempalan musik-musik berdebum ala film horor Indonesia, tapi ini sangat merusak beberapa adegan tarian di panggung yang menampilkan musik tradisional, adalah totally kacrut. Dan oh ya, peringatan copyright yang sudah melanda Shanker RS di serangkaian produksi Indika termasuk dicopotnya Ekskul sebagai film terbaik FFI, yang gemar sekali mencaplok score musik film luar seperti Taegukgi dan Black, kembali diulanginya disini. Score Black-nya Sanjay Leela Bhansali yang sudah dicomotnya di sejumlah film horor dan Detik Terakhir, muncul lagi disini, dan tak hanya sekali. Either we like it or not, jumlah penonton juga yang membuktikan semuanya. Bahwa sama seperti banyak kejadian-kejadian yang melanda negara tercinta ini, Indonesia, is TOTALLY OVERRATED. (dan)

~ by danieldokter on February 12, 2011.

2 Responses to “ARWAH GOYANG KARAWANG : INDONESIAN BITCH WARS”

  1. […] This post was mentioned on Twitter by Damar Ayu Satya and Damar Ayu Satya , Daniel Irawan. Daniel Irawan said: ARWAH GOYANG KARAWANG : INDONESIAN BITCH WARS http://wp.me/pVV2A-aa […]

  2. […] Arwah Goyang Karawang […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: