RINDU PURNAMA : THE MISBUILT GOOD DEEDS

RINDU PURNAMA

Sutradara : Mathias Muchus

Produksi : Mizan Productions, 2011

Kiprah Mizan Productions dalam menghadirkan alternatif tontonan bagi genre film kita yang semakin dirusak oleh ramainya film-film sampah memang patut diacungi jempol. Dari film anak seperti Laskar Pelangi, Garuda Di Dadaku hingga tema relijius yang penuh pesan moral seperti Emak Ingin Naik Haji serta sebuah romance yang juga kaya di pemaparannya, pemenang FFI barusan, 3 Hati 2 Dunia 1 Cinta, sudah menunjukkan peran besar mereka di perfilman kita. Rindu Purnama yang hadir di awal tahun ini juga jadi salah satu penerus ambisi itu. Dibesut sebagai debut perdana aktor Mathias Muchus sebagai sutradara, temanya sebenarnya tak lagi baru. Tak jauh dari tema biasa dalam genre anak, Rindu Purnama pun mengangkat kehidupan anak-anak jalanan sebagai bagian dari kehidupan kota besar, penuh dengan kritik sosial dan gambaran yang membesarkan kaum kecil di kehidupan itu.

Dibuka dengan opening scene kejar-kejaran yang meyakinkan antara aparat dan anak-anak ini dalam sebuah razia di tengah keramaian, kita pun dibawa ke sebuah rumah singgah dimana anak-anak jalanan itu menjalankan kehidupannya dibawah prakarsa seorang perempuan berjilbab yang cantik bernama Sarah (Ririn Ekawati). Rindu (Salma Paramitha), seorang anak jalanan itu, kemudian tertabrak mobil Surya (Tengku Firmansyah) hingga mengalami amnesia ringan. Rindu lantas dibawa ke rumah Surya oleh Pak Pur (Landung Simanjuntak), sopir sekaligus pelayan pribadi yang tinggal bersama istrinya (Ratna Riantiarno) di rumah Surya. Surya awalnya tak ingin menampung Rindu sebagai penghuni baru rumahnya, apalagi ia tengah disibukkan oleh proyek properti baru di tempatnya bekerja. Monik (Titi Sjuman), putri bos Surya (Pietrajaya Burnama) yang memegang proyek itu sekembalinya dari kuliah di luar negeri, sekaligus juga menginginkan Surya menjadi kekasihnya. Namun hilangnya Rindu yang terus-menerus diusir Surya akhirnya membawa Surya pada Sarah di tengah-tengah perkampungan lokasi rumah singgah yang akan digusur oleh proyek tersebut. Surya yang akhirnya bersimpati pada Rindu yang sudah menemukan jalannya ke rumah singgah pun harus memilih antara karir dengan keinginan hati nuraninya terhadap Sarah dan anak-anak jalanan ini.

Sebuah pesan moral, dalam genre-genre sejenis, memang hanya punya dua kemungkinan, antara kritik sosial yang memberangus kaum kecil sebagai sumber masalah diantara mereka sendiri, atau justru dipadu kontras dengan kalangan atas yang digambarkan secara klise selalu ingin menindas kaum kecil. Oke, Rindu Purnama memang bukan film miris seperti Daun Di Atas Bantal, bukan pula sajian yang secara bijak memberikan semangat terhadap perjuangan kaum kecil seperti Slumdog Millionaire. Naskah yang ditulis oleh Mathias bersama Ifa Isfansyah (sutradara Garuda Di Dadaku) itu sayangnya memilih jalan kedua yang dipenuhi hal-hal klise yang menempatkan kalangan atas hampir selalu muncul sebagai sumber masalah penindasan seolah-olah sebuah tuduhan, sementara karakter-karakter yang mewakili ketulusan hati kaum kecil itu hanya muncul sebatas karakter –karakter utamanya saja. Ririn Ekawati sebagai Sarah, Salma Paramitha sebagai Rindu dan Farril Ramadhan, pemeran Akbar yang mampu menangis begitu spontan dengan ingus berceceran memang bermain cukup bagus namun tak cukup dieksplorasi untuk menjadi peran sentral yang mendominasi. Naskah Mathias dan Ifa ternyata lebih memilih karakter Surya untuk hadir sangat ke depan, namun sangat, sangat gagal dibawakan oleh Tengku Firmansyah. Interpretasi salah kaprahnya ke peran Surya yang suka cemberut dan marah-marah tak jelas itu sama sekali tak mampu menunjukkan turnover yang baik, dan malah lebih berasyik-asyik membangun chemistry dengan karakter Sarah ketimbang Rindu yang seharusnya jadi tokoh sentral sesuai judulnya. Semakin parahnya lagi, karakter-karakter antagonis yang dibangun dengan klise  dalam tendensi genre film anak secara komikal itu justru bisa dibawakan Titi Sjuman dengan jauh lebih baik, serta duo Edwin-Jodhi yang meski sedikit garing tapi tetap terlihat sebagai highlight yang lebih jelas. Belum lagi ada adegan yang menonjolkan anarkisme kaum kecil yang menolak digusur  padahal juga menempati kawasan ilegal yang malah ditunjukkan sangat tak layak untuk tempat hunian itu hanya dengan alasan klise, sudah turun-temurun menetap disana, berikut juga minimnya pesan moral uplifting terhadap anak-anak ini untuk bisa merubah nasibnya yang seharusnya dimunculkan di film anak yang baik. Rindu Purnama pun semakin kehilangan dominasi ke karakter-karakter protagonis yang lovable ke penontonnya untuk memberikan feel touching yang kuat. Atas kegagalan bangunan emosi dan interpretasi peran yang seharusnya muncul lebih besar itulah akhirnya film ini terjebak menjadi sebuah karya penuh ambisi namun gagal dalam banyak sisi pemaparannya. Saya jadi teringat sebuah karya Riri Riza, film anak berjudul Untuk Rena, yang kurang lebih juga gagal dalam penyampaiannya. Sayang sekali, namun mengingat film anak masih tergolong cukup minim diproduksi serta kurang mampu menarik minat penonton kita kebanyakan, terus-terang berat rasanya untuk mengkritiknya lebih jauh. Apalagi Rindu Purnama mencatat salah satu aset perfilman kita, aktor senior Pietrajaya Burnama dalam penampilan terakhirnya. Let’s be a little more appreciative dengan segala keterbatasan yang ada, dan dukung terus film anak Indonesia! (dan)

~ by danieldokter on February 13, 2011.

One Response to “RINDU PURNAMA : THE MISBUILT GOOD DEEDS”

  1. […] Rindu Purnama […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: