THE KING’S SPEECH : A MESMERIZING MODESTY-BLAISE

THE KING’S SPEECH

Sutradara : Tom Hooper

Produksi : UK Film Council, 2011

Ah, ya. Quote ‘Modesty Blaise’ diatas tentu bukan merujuk ke tokoh novel spy yang sudah diangkat ke film dan jadi favorit Quentin Tarantino itu. While modesty means simplicity, the name Blaise means ‘ones who stutter (gagap)’. It’s just a thought, dari deskripsi singkat film yang lagi naik daun dibicarakan atas prestasinya di festival-festival representatif termasuk nominee Oscar ini. Tentang kisah sejati King George VI di masa pemerintahan Britania Raya, dimana ayah Queen Elizabeth II ini harus mengatasi problem kegagapannya dalam menempuh sebuah hal bernama pidato, sebagai bagian dari kedigdayaan seorang raja. Ketika banyak kritikus dan pengamat film meng-hailed film-film yang mengeksplorasi kedalaman pemikiran dalam trend sekarang ini,  juri Oscar, tentunya di luar kemenangan kompromis film-film seperti Gladiator atau Titanic, sebenarnya punya pola jelas akan pilihan pemenang ala mereka. Sebuah kesederhanaan manusiawi yang jadi besar dalam penggarapannya. Apakah itu tentang kecacatan, keunikan pikiran, sampai kisah cinta sekalipun. Semua pemenang di kategori itu punya ciri yang sama. Sederhana, namun sempurna di penggarapannya. The King’s Speech, adalah satu lagi film dengan pencapaian sinematis macam itu. Kisah sejatinya yang sederhana tapi dipaparkan dengan menarik, juga bukan diolah melalui proses yang main-main. Ambisi sejak kecil atas pengalaman traumatisnya di zaman Holocaust yang mengakibatkan dirinya gagap, sudah membuat penulis skenario David Seidler, yang juga bukan hebat-hebat amat record filmografinya (Tucker:A Man & His Dreams, The Quest For Camelot & The King And I ’99), menelusuri kisah hidup King George VI yang akhirnya bisa mengatasi kelainan itu. Pembuatan skenario The King’s Speech sudah dimulainya sejak 2005 dengan memoar seorang Lionel Logue yang ditelusurinya setengah mati. Logue adalah seorang ahli bahasa dari Australia yang berada di belakang kesuksesan sang raja mengatasi kegagapannya. Dengan keseriusan tinggi lewat izin dari keturunan Logue bahkan dari pihak kerajaan, Seidler kemudian mulai membangun proyek yang akhirnya didukung oleh UK Film Council ini.

Sejak menjadi The Duke Of York, Pangeran Albert (Colin Firth) sudah kepayahan setiap menyampaikan pidato karena masalah gagap yang dideritanya sejak usia balita. Sang istri, The Duchess Elizabeth (Helena Bonham Carter), sudah mencoba membawanya ke beberapa dokter namun belum ada satupun metode yang bisa menyembuhkan Albert, hingga sebuah rekomendasi membawanya pada Lionel Logue (Geoffrey Rush), speech-therapist berkebangsaan Australia yang menawarkan teknik-teknik terapi yang unik untuk kesembuhan Albert. Albert pada awalnya jengah dengan keangkuhan Logue yang eksentrik dan kerap dirasanya merendahkan martabatnya sebagai keluarga raja, namun sebuah rekaman Albert yang dipaksa membaca literatur Shakespeare, Hamlet, di tengah alunan musik di telinganya mulai meyakinkan Albert. Perlahan, dua manusia ini mulai menjalin persahabatan lewat pengenalan pribadinya masing-masing. Logue dengan gencar menelusuri masalalu traumatis Albert dalam memicu kelainan itu dan memancing emosi Albert untuk bisa lancar berkata-kata dengan cara-cara yang sama uniknya. Namun meninggalnya King George V (Michael Gambon), ayah Albert membuat Albert masuk ke dalam masalah baru atas pengangkatan kakaknya sebagai King Edward VIII, padahal Edward sama sekali tak punya bakat memimpin dan malah memporak-porandakan aturan resmi ratusan abad bagi keluarga kerajaan atas keinginannya menikahi janda Wallis Simpson (Eve Best) dalam menodai kepercayaan Katolik yang anti-perceraian. Mundurnya Edward atas tekanan parlemen justru menempatkan Albert dalam stress semakin besar dengan rentetan pidato yang kian banyak terbentang di hadapannya, sementara sebuah konflik membuat hubungannya dengan Logue berakhir berantakan. Belum lagi invasi Jerman sewaktu-waktu harus mengundang reaksi Inggris dengan desakan anggota kabinet, Winston Churchill (Timothy Spall), di tengah-tengah kekosongan kekuasaan itu. Menjelang pengangkatannya sebagai King George VI, kebingungan Albert mau tak mau mengharuskannya menyambangi Logue kembali, sekali ini dengan ketulusan seorang sahabat untuk benar-benar mendampinginya terus di tiap momen pidato kenegaraan yang harus ditempuh Albert selama masa pemerintahannya.

Yup. The King’s Speech, meski sederhana, memang adalah sebuah film dengan semangat murni sebuah sajian festival. Film yang dipenuhi dialog, nyaris tanpa klimaks yang meledak-ledak, dan sangat silent. Deskripsional sebuah biografisnya walaupun dituding banyak melenceng dari sejarah, juga sangat rapi dalam koridor film-film serius. Dan meski perjuangan tim-nya memprotes rating dewasa yang dipatok badan sensor atas sebagian dialog kasar yang hadir dalam metode-metode unik Logue menyembuhkan gagap Albert, Tom tetap keukeuh dengan hasil akhir editingnya yang dianggap sudah sangat efektif menyampaikan kisah sejati Albert. Ternyata Tom sama sekali tidak salah. Penggarapan keseluruhannya sama sekali tak terjebak menjadi film ‘silent’ yang segmental dan tak menarik. Seperti Shakespeare In Love yang jadi besar dengan segala kesederhanaan mendasar itu, semua elemen yang ada dibaliknya seakan berlomba-lomba membuatnya jadi semakin spesial. Akting Colin Firth dengan ekspresi dan gerakan bibir serta rahang yang sangat meyakinkan sebagai orang gagap sekaligus calon raja dengan sejuta pengalaman traumatis dan ketakutan manusiawinya, tersampaikan bahkan lebih dari sekedar sempurna. Geoffrey Rush sebagai Logue? See it for yourself. Tetap dengan kualitas keaktorannya yang sudah diakui sepanjang karirnya, adalah Rush yang membawa film ini ke wilayah komikal yang bisa berkompromi dengan penonton pop sekali pun, dengan gaya Tom Hooper membesut tipikal komedi Inggris yang seakan suka sekali menertawakan budaya kesopanan over mereka sendiri. Dan Helena Bonham Carter, ah, walau tak diberi porsi terlalu banyak, sorot mata dalam setiap adegannya menyaksikan kesusahan sang suami sudah menjelaskan semua dengan luarbiasa. Lantas aktor-aktor Inggris lainnya sebagai supporting cast penting? Terutama Spall yang memang punya kemiripan dengan Churchill serta Derek Jacobi sebagai uskup agung ambisius itu, semuanya berkualitas bukan main. Terakhir, tanpa lupa menyebutkan set dan art director yang memang hadir sangat baik, adalah score Alexandre Desplat dengan beberapa sempalan literatur klasik yang bekerja mengaduk-aduk emosi penontonnya hingga ke puncak. Anda mungkin saja hanya penonton awam yang tak pernah bisa mengikuti film serius ala festival, namun percayalah, seperti penonton-penonton lain yang mungkin sekarang sudah sedikit melek-film bagus dalam hall yang memutar film ini, reaksi antusias itu akan lebih jelas terdengar serta terlihat ketimbang rasa kantuk menyaksikan sebuah drama sejarah seperti biasanya. Dibalik kesederhanaannya, The King’s Speech yang berjaya di banyak unsurnya mulai dari Golden Globe hingga BAFTA barusan, dan bukan tak mungkin di Oscar nanti, sudah sukses sebagai film yang membawa kita memahami banyak aspek sejarah Inggris dengan pesan educatively uplifting terhadap segudang sisi manusiawi dari cinta, persahabatan, keberanian hingga sebuah semangat untuk terus maju, and let’s all hail for that! (dan)

~ by danieldokter on February 17, 2011.

2 Responses to “THE KING’S SPEECH : A MESMERIZING MODESTY-BLAISE”

  1. […] The King’s Speech […]

  2. […] THE KING’S SPEECH […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: