LOVE AND OTHER DRUGS : LOVE IS THE CURE TO EVERY ILLNESS

LOVE AND OTHER DRUGS

Sutradara : Edward Zwick

Produksi : Regency Enterprise, 2010

Some might know Edward Zwick from his epics, seperti The Last Samurai, Glory, hingga yang sedikit berbau romantisme, Legends Of The Fall. Lainnya, sebutlah, Blood Diamond, The Siege, Defiance, yang semuanya bukan karya main-main. Di kursi produser, Zwick punya The Bedford Falls Company yang sudah menelurkan Shakespeare In Love dan Traffic. Namun sutradara/produser yang berstatus acclaimed dan sudah menempatkan sebagian film dan elemen-elemennya di deretan nominee dan pemenang Oscar itu juga bukan tak pernah menghasilkan film yang jauh lebih ringan. About Last Night (1986), salah satunya, adalah Zwick at his ease. Namun lagi, meski sekilas terlihat sebagai rom-com bratpack era 80an, About Last Night sebenarnya jauh lebih dalam daripada itu. Dibesut dari sebuah play karya David Mamet, Sexual Perversity In Chicago, Zwick sebenarnya sudah menancapkan stylenya di genre romcom yang agak berbeda. Pemeran pilihannya boleh saja datang dari teen idols, tapi isinya tak hanya dewasa dari sisi pengadeganannya yang realistically vulgar, ada juga kekuatan karakter yang turut terbawa dengan jelas. An adult romance, seperti produksi Bedford di dunia pertelevisian juga, Thirtysomething yang cukup memorable itu. So he doesn’t just play, but as well, telling us real stories. Love And Other Drugs agaknya melanjutkan tradisi itu dengan chemistry yang terbangun sangat baik oleh Jake Gyllenhaal dan Anne Hathaway, sebagai adaptasi novel Hard Sell: The Evolution of a Viagra Salesman karya Jamie Reidy. But it’s not just about Anne Hathaway’s and other actresses’ tits, not just Gyllenhaal’s bottomless appearance, that Parkinson’s orgasmic scene, nor about drugsales war, some US health issues, Viagra history and quite deep exploration of Parkinson disease. It’s basically a lovestory that talks a lot, yang saking banyaknya jadi sedikit overload dalam penyampaian pesan utamanya. Dan basic novel berupa semibiografi yang terlalu banyak bermain di wilayah medis itu sedikit banyak jadi semacam intimate portrait yang agak professionally segmented, apalagi dengan izin resmi dari perusahaan obat, Pfizer, yang membuat feelnya akan jauh berbeda bagi pemirsa di luar kalangan profesi dokter serta med-rep, sales perusahaan obat dan dunianya. They might laugh or hate it twice as hard.

Sesuai dengan timeline semibiografi tadi, Love And Other Drugs bersetting tahun 90an sebelum Viagra melambung jadi fenomena baru terhadap penderita impotensi, dan jauh sebelum penelitian lanjut tentang fungsi yang terbatas pada disfungsi ereksi hanya akibat gangguan pembuluh darah, efek samping serta beberapa produk pesaing yang lebih baik ditemukan. Jamie Randall (Gyllenhaal), sales jempolan yang mengandalkan fisiknya memulai karirnya di perusahaan obat bernama Pfizer setelah dropout dari fakultas kedokteran dan dipecat dari toko elektronik. Wilayah penjualan utamanya adalah antibiotik Zithromax dan antidepresan Zoloft yang saingan ketat Prozac yang sudah lebih dulu membangun imejnya. Mengejar tujuan untuk dipromosikan ke tim sales impian di Chicago bersama Bruce (Oliver Platt), mentornya, Jamie mulai melakukan cara-cara kotor demi mengalahkan med-rep Prozac, Trey Hannigan (Gabriel Macht) yang punya hubungan baik ke target paling jitu, dokter dengan peresepan antidepresan terbanyak, dr. Stan Knight (Hank Azaria). Usaha itu kemudian mempertemukannya dengan Maggie Murdock (Anne Hathaway), gadis free-spirit mantan Trey yang menderita Parkinson tahap awal. Dari seks intens atas ketertarikan fisik, hubungan itu terus berkembang hingga saling jatuh cinta, namun Maggie yang trauma dengan Trey terus menahan diri. Karir Jamie yang kemudian menanjak dengan dilaunchingnya Viagra yang klop dengan spesialisasinya menjual fisik dan tak bisa menghilangkan sifat playboynya lantas mulai jadi masalah, apalagi Maggie semakin terusik dengan penyakitnya berikut obsesi Jamie mencari penyembuhnya.

Sama dengan About Last Night, separuh awal Love And Other Drugs memang terasa bagai rom-com ringan meski berisi paparan perang med-rep dan isu-isu kesehatan cukup kental. Apalagi dengan munculnya karakter Josh, adik Jamie yang diperankan Josh Gad yang tampaknya punya kans jadi the next Zach Galifianakis berikut banyaknya sempalan adegan seks yang cukup vulgar including full frontal Anne Hathaway. Namun memasuki paruh kedua dimana penyakit Parkinson dan sejarah Viagra mulai muncul sebagai latarnya, alurnya mulai melenceng ke genre disease lovestories yang lebih serius, meski tak juga terlalu meninggalkan sempalan komedinya. Sumber asli novel semibiografi itu mungkin membuat Zwick sedikit kelewat asyik membahas sambil mengolok-olok isu penjualan obat yang penuh intrik, fenomena Viagra serta isu praktik kedokteran disana ketimbang menyorot naik turun hubungan Jamie-Maggie yang kebanyakan juga kelewat ditonjolkan dengan adegan seks secara sedikit berlebihan. Belum lagi dengan mengkombinasikan informasi tentang Prozac-Zoloft serta penyakit Parkinson sebagai subplot dengan porsi sama. Di saat penonton luar kalangan medis atau sales obat mungkin hanya bisa merasakan informasi luarnya saja berupa perang antar salesman yang lucu, pemilik profesinya mungkin bisa mendapatkan gambaran bahkan sindiran yang jauh lebih dalam, sehingga fokus ke love story Jamie dan Maggie sebagai wadah pesan utamanya pun jadi semakin blur.  Untunglah latar yang kelewat overload ini bisa sedikit tertutupi oleh chemistry erat dari Gyllenhaal dan Hathaway yang menempatkan mereka di nominee Golden Globe, serta peran-peran pendukung yang juga tampil cukup baik. Dan sebagai tambahan deskripsinya, ada alunan beberapa lagu populer 90an yang bergantian menghiasi layar, mulai dari Two Princes-nya Spin Doctors, Praise You-nya Fatboy Slim sampai Heaven Is A Place On Earth-nya Belinda Carlisle yang pas sekali mengiringi kegilaan publik saat Viagra dilaunching pertama kali. But don’t get too distracted. Semua latar itu hanyalah pernak-pernik penelusuran karakter untuk sampai ke esensi utamanya, bahwa Love And Other Drugs adalah sebuah love story tentang finding a right person to change things, even defeating the ilness, better than a medical prescription itself. Jauh dibalik kekurangan-kekurangan yang sayangnya juga sulit dilewatkan karena di sisi lain juga sarat informasi itu, Zwick sekali lagi sudah menghadirkan adult romance yang cukup menarik. (dan)

~ by danieldokter on February 20, 2011.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: