JENGLOT PANTAI SELATAN : THE TELE-BOOBIES

JENGLOT PANTAI SELATAN

Sutradara : Rizal Mantovani

Produksi : Maxima Pictures, 2011

Indonesia, sekali waktu pernah bangga sekali memiliki seorang Rizal Mantovani. Tak hanya dari inovasinya di videoklip lokal generasi MTV, film Indonesia yang sudah lama mati suri dulu pun digebraknya kembali lewat Jelangkung. Namun entah usia yang semakin memangsa otaknya atau kenaikan drastis harga barang-barang kebutuhan di negara ini, sementara sineas-sineas muda bermunculan silih berganti, Rizal pun sudah beralih rupa menjadi penghasil film-film asal yang kerap hanya menjual belahan dada, bikini dan bunuh-bunuhan. Boobs everywhere. Kredit bagusnya sebenarnya masih tersisa di beberapa film, namun rusaknya dua film terakhirnya, Air Terjun Pengantin dan Taring, produk kacrut yang memakai jasanya itu, agaknya sudah berjasa membuat pupus semua kredibilitasnya. Yes, even if God was there, He wont do much, too. So then, enter the Indonesia’s mystical creature named Jenglot. Oh ya, makhluk yang berukuran mini bak monster bonsai ini memang dipercaya benar-benar eksis di negara kita, meski sebagian penemuannya selalu berakhir melemparkan publishernya ke penjara karena menipu. Bentuknya? Kira-kira seperti Ki ini dan Ki itu, atau Sujiwo Tejo, setelah melalui sinar pengecil yang distel di ukuran maksimal. Mitos-mitos mengatakan bahwa Jenglot adalah piaraan orang-orang sakti, which I supposed is an animal, karena jelas-jelas bukan cewek sebagai salah satu kemungkinan lain dari term ‘piaraan’. Ada juga yang bilang kalau dulunya Jenglot-Jenglot ini asalnya manusia biasa yang terkena kutukan. Seperti Gollum yang mencari cincin, Jenglot ini kurang jelas apa maunya. Dibilang mencuri seperti tuyul pun bukan. Yang jelas, mereka carnivora dan vampir sejati. Memakan daging mentah, minumnya darah. Disini, Rizal menambahkan lagi keahliannya yang belum pernah terekspos. Mungkin ada proses silang, hybrid breeding dengan seafood, maka Jenglot masa depan ini sekarang menjadi amphibi super. Bisa berenang-renang, menyelam, tak hanya di air asin tapi juga air sabun dalam bathtub, bahkan handal juga kejar-kejaran di darat. Tujuannya? Melahirkan Piranha ala Indonesia, yang saya yakin bahwa Rizal itu terkesan sekali dengan pameran boobs dan organ bertaburan di versi Hollywood-nya. Trailernya sudah jelas sekali menggambarkan itu. Tak perlu sebesar Jaws atau bertaring segede Piranha. Ini adalah makhluk mini yang kecil-kecil cabe rawit. Yang digigit? Sebarisan pemeran berwajah ‘fuckfaced’ dengan slipping boobs kemana-mana. Termasuklah di dalamnya, sang pemeran utama, Debby Ayu, yang kiprahnya sudah sebesar model-model Exotic Azza di dunia perfilman kita. And a bunch of other model’s boobs, of course.

If that was meant to be a plot, seperti yang tertulis di kredit dengan nama Alim Sudio yang sepertinya ahli sekali membuat plot seperti buang angin tanpa bekas, I really didn’t see one. Hanya ada serombongan remaja yang punya nama-nama ‘sok asyik’ berlibur ke sebuah pantai, yang dari sinopsis resminya disebut Perawan, tak seperti karakter-karakternya sendiri, dan kemudian satu-persatu diserang jenglot dengan cara-cara yang ajaib. Responnya juga ajaib. Ada yang pingsan hanya oleh gigitan Jenglot di lengan, dan lebih dari tujuh keajaiban yang lain. Bagaimana bisa jenglot itu ada di laut? Ternyata ada makhluk gondrong yang melepasnya, karena dianggap keramat sebagai penjaga pantai Selatan. Semoga kalau benar, arwah Nyi Roro Kidul tak merasa terganggu dengan nafsu makannya yang berlebihan, ganjil dan pervert itu.

Entah boneka yang (sepertinya) digerakkan secara manual, menyewa tuyul jadi-jadian, iguana, ayam potong atau simpanse topeng monyet yang dimake-up menjadi Jenglot, tetapi bentuknya rasanya berubah-ubah. Yang jelas, tampilan Jenglot dengan warna pinky dark dan berekor naga itu lumayan mirip dengan baby donkey di Shrek 3, cuma yang ini punya rambut ala Sujiwo Tejo dan wajahnya, kalau pernah menonton serial Creepshow, ya kira-kira sama seperti si tengkorak naratornya. Selebihnya, Rizal memang hanya membuat kita seperti membolak-balik majalah pria dewasa penuh adegan bikini dan boobs yang sembul-menyembul menjadi satu itu, dilengkapi dengan sedikit adegan berdarah-darah dari cabik-cabikan organ tubuh yang tak juga meyakinkan. Sinematografi ala Rizal, mungkin? 10 tahun yang lalu, barangkali. Sekarang toh Nayato juga sama canggihnya kalau soal panoramic shots, apalagi dengan pameran swimsuits itu. Dialog? Saya malah tak yakin itu dialog. Segala tampilan boobs itu justru lebih bisa bicara daripada aktor-aktrisnya. Oke, posternya yang sok cult dengan font ala film-film monster Hollywood tahun 50an, salah satunya Creature From The Black Lagoon itu, harus diakui, cukup lucu. Namun sudahlah. Ini yang paling menarik. Seakan kebodohan demi kebodohan tadi belum cukup, tak ada yang lebih spesial dari cara Alim dan Rizal mengakhiri filmnya dengan sejuta kesempatan ke sebuah sekuel secara begitu dahsyat sampai melibatkan peralatan rumahtangga. Ah! Pasti mereka sudah punya sepuluh bahkan lebih judul di kepalanya, entah Pengantin Jenglot, Kuntiljenglot, Jenglotkung, Drakulot, Jenggot, Jengkol, atau JengLon. Meanwhile, kita hanya bisa menarik nafas panjang. Paling tidak, dengan segala informasi seputar dunia Jenglot yang sekali lagi, saya yakini sebagai binatang, ini adalah rekomendasi yang tepat bagi penyuka Animal Planet ‘sejati, alami dan tanpa rekayasa’. (dan)

~ by danieldokter on February 24, 2011.

One Response to “JENGLOT PANTAI SELATAN : THE TELE-BOOBIES”

  1. […] Jenglot Pantai Selatan […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: