RUMAH TANPA JENDELA : A WONDERFUL TALE OF SHARE

RUMAH TANPA JENDELA

Sutradara : Aditya Gumay

Produksi : Smaradhana Pro & Sanggar Ananda, 2011

Punya perhatian besar terhadap film anak adalah sesuatu yang besar. Kita boleh saja berkutat di film-film hi-tech penuh efek atau begitu menikmati kepintaran plot yang mengeksplorasi kedalaman psikologis, bertabur darah, adegan sadis, full of twist atau apapun dalam terms modernisasi sinematis. Produser pun boleh saja pergi kesana kemari mencari untung dengan film-film sampah. Namun, jangan pernah beranjak ketika sesekali kita diingatkan kembali ke sebuah mimpi-mimpi masa kecil sesosok manusia bernama ‘anak’. Ketika di satu belahan dunia mungkin ada yang lebih tak beruntung dari kita. Ketika kita dibawa ke satu sisi yang mungkin selalu terlewat dari kesibukan sehari-hari. Pesan moral uplifting yang manusiawi dan mengingatkan kita lebih dari sekedar sebuah dakwah itu memang perlu terus-menerus disampaikan agar kita bisa saling berbagi. Seorang Aditya Gumay, yang dalam perjalanan karirnya punya semangat besar dalam hal ini, baru saja menyajikan ‘Emak Ingin Naik Haji’ bersama penulis Asma Nadia yang rata-rata karyanya penuh berisi semangat kesana. Aditya bahkan mendirikan Sanggar Ananda dan Teater Kawula Muda untuk mengangkat bakat-bakat anak dan remaja sejak 1988 dengan salah satu karya legendarisnya, Lenong Bocah. Kini, kembali berkolaborasi bersama Adenin Adlan dengan tim yang sama, ia mengadaptasi cerpen Asma yang berjudul ‘Jendela Rara’. ‘Rumah Tanpa Jendela’, judul film terbarunya ini pun dibesut dengan semangat yang sama. Tentang Rara, seorang anak jalanan yang mendambakan jendela di gubuk kecilnya yang kumuh. Premis simpel yang mungkin membuat kita semua jatuh hati ketika mendengar sejuta kepolosan anak-anak yang terkandung di dalamnya, termasuk saya. Dan tak hanya itu, ada sisi sosial disabilitas anak dengan special needs juga yang dibicarakannya disini, untuk membangun pesan moral itu dalam sebuah term bernama ‘film anak’, satu genre yang mungkin membuat banyak produser bertipikal komersil sudah mundur duluan sebelum disodori naskahnya. Lebih lagi, keuntungan film ini kabarnya akan menjadi sebuah donasi bagi kaum tak mampu. Yup, punya perhatian besar terhadap film anak, adalah sesuatu yang besar.

Dibalik kehidupannya bersama anak-anak jalanan pemulung lain di lingkungan kumuh di tengah belantara ibukota, Rara (Dwi Tasya) punya sebuah mimpi. Ia menginginkan sebuah rumah dengan jendela, agar bisa menikmati sinar matahari dan cahaya bulan. Namun Raga (Raffi Ahmad), ayahnya, hanya seorang penjual ikan hias disana. Di rumah berdinding tripleks itu, Rara tinggal bersama Raga dan neneknya, Si Mbok (Inggit Wijanarko) yang sakit-sakitan, dan belajar di sekolah singgah yang diasuh guru sukarelawan, Bu Alya (Varissa Camelia). Perkenalannya dengan Aldo (Emir Mahira), anak terbelakang dari keluarga Syahri (Aswin Fabanyo)-Ratna (Alicia Djohar) yang pengusaha besar, kemudian membuat keduanya dekat. Aldo pun seakan mendapat pencerahan dalam kehidupan sosialnya dan semakin sering mengundang Rara dan teman-temannya ke rumah besarnya. Walau disambut baik oleh Nek Aisyah (Atie Kanser), nenek Aldo dan abangnya (Ouzan Ruz), sebuah peristiwa di pesta ultah ke-17 kakaknya, Andini (Maudy Ayunda) membuat semuanya berantakan. Selain Andini yang merasa malu dengan keadaan Aldo dengan teman-temannya, tempat tinggal Rara pun habis dilalap api dan menyebabkan kehilangan yang sangat besar. Selagi  Si Mbok terbaring koma di rumahsakit, Aldo yang sedih atas kemarahan Andini kemudian melarikan diri bersama Rara hingga semuanya dilanda kepanikan.

Dengan premis utama begitu simpel dan mengangkat esensi kepolosan anak-anak yang hadir sangat kuat, Rumah Tanpa Jendela awalnya sudah digelar dengan sangat baik. Nuansa drama musikalnya juga tak sekedar asal-asalan dengan tampilan lagu-lagu anak yang terdengar sangat melodius. Kekurangan koreografinya juga berhasil ditutupi oleh shot-shot yang cukup baik. Paduan isu kehidupan kumuh anak jalanan bersama disabilitas anak itu juga hadir dengan sinergisme kuat atas akting bintang cilik Emir Mahira (Garuda Di Dadaku, Melodi) yang sangat meyakinkan dengan cara berdialog dan gerakan tangannya, bahkan melindas semua pendukung yang tampil bagus termasuk Dwi Tasya dalam peran debutnya, Atie Kanser dengan logat Medan (bukan ber-Batak ria seperti biasanya) yang kental dan Raffi Ahmad yang sedikit masih kelewat rapi untuk karakternya. Bahkan Yuni Shara yang tampil sekilas dengan karakter film Indonesia tipikal, seorang pelacur, bisa terlihat relevan. Sayang, berjalan ke tengah, seabrek subplot lain dan banyaknya karakter seakan menjadikan fokusnya semakin tumpang tindih dengan pesan moral utamanya, apalagi dengan banyaknya sempalan adegan-adegan klise seperti penyakit wajib film Indonesia, batuk darah, penuh kebetulan dan sisipan komedi berikut sekilas sejarah edukasi Obama yang tak penting, diantaranya. Adegan-adegan musikal yang sudah dimulai awalnya pun seakan terlupakan entah kemana. Namun begitu, sulit rasanya untuk menampik kehadiran emosi yang berhasil dibangun lewat akting wajar semua pendukung serta score Adam S. Permana yang cukup menyentuh itu. Beberapa kemiripan dengan plot film anak yang baru saja hadir, ‘Rindu Purnama’ membuat saya mau tak mau jadi membandingkan keduanya, dan dalam hal membangun emosi yang gagal muncul serta melenceng di karya Mathias Muchus itu, Rumah Tanpa Jendela, terus terang, jauh lebih pantas jadi juara. Ah, sudahlah. Paling tidak semua rangkaian adegan termasuk yang klise-klise itu punya tujuan jelas dalam penyampaian pesan moral saling berbagi dan bisa hidup selaras dalam garisan takdir yang kadang bisa terasa tak adil bagi sebagian orang. It’s how to give, dalam cakupan yang sangat luas, and to be loved in return. And here I assured you one more time. Punya perhatian besar terhadap film anak adalah sesuatu yang besar. This is a wonderful tale of share, dan kita beruntung memiliki orang-orang seperti Aditya, Adenin dan Asma dkk yang masih mau terus mengingatkan kita kesana. (dan)

~ by danieldokter on February 24, 2011.

5 Responses to “RUMAH TANPA JENDELA : A WONDERFUL TALE OF SHARE”

  1. […] This post was mentioned on Twitter by bee , Daniel Irawan. Daniel Irawan said: RUMAH TANPA JENDELA : A WONDERFUL TALE OF SHARE http://wp.me/pVV2A-bh […]

  2. Reviewnya detail sekali. Thanks Bang. Mohon doa untuk ke depan, semoga bisa lebih baik:)

  3. Thx atas reviewnya yg begitu menarik ya Pak dokter, hehehe. Semoga kami bisa menyajikan lagi film-film Indonesia yang lebih baik dan bermutu. Sekali lagi terima kasih atas dukungannya. Salam buat semua teman-teman di Medan.

  4. My Pleasure. Senang bisa menyaksikan film anak-anak yang menyentuh dan uplifting seperti ini, apalagi dibarengi dengan niat yg tulus. Ditunggu roadshow-nya ke Medan, semoga bisa cepat terlaksana🙂

  5. […] Rumah Tanpa Jendela […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: