CEWEK SAWERAN : NOT ONE OF INDONESIAN DIRTY MINDS

CEWEK SAWERAN

Sutradara : Eddie Cahyono

Produksi : Batavia Pictures, 2011

Saya jadi teringat dengan event Festival Film Anak kemarin. Being one of the jury, ada satu film karya anak-anak SMU yang sebelumnya juga sudah ikut serta di festival film indie dari sebuah majalah di Medan. Di festival pendahulu berskala lokal itu, dimana saya juga salah seorang jurinya, film berjudul ”Influence” tadi meraih tempat kedua, dan di FFA yang berskala nasional, dalam salah satu kategori, mereka mendapat kehormatan lebih sebagai pemenang utama. Secara teknis, film itu sebenarnya murni dibesut dengan semangat indie tanpa kehebatan apa-apa, namun ada satu sisi yang mengangkatnya, terlebih dalam skala film anak yang harus memiliki semangat anak. Kisah tentang anak pintar, juara kelas, yang terjerumus ke dalam pergaulan salah dengan teman-temannya itu tak butuh melangkah jauh ke hal-hal tipikal seperti narkoba atau seks bebas. Cukup yang paling simpel. Kenakalan remaja dalam skup terkecil. Merokok, dan kumpul-kumpul di pinggir jalan. Hal yang menjadikannya tampil polos dengan pikiran anak-anak. In that case, dalam skup layar lebar, sesekali, kita dianugerahi penulis skenario yang otaknya tidak melulu berisi hal kotor tipikal ala film Indonesia. Ifa Isfansyah, yang baru saja menyajikan kita dua film anak berkategori baik, Garuda Di Dadaku dan Rindu Purnama, kini berada dibalik penulisan skenario film berposter mengundang ini. Temanya, ah, tampaknya juga tak kalah mengundang. Dalam masalah sawer-menyawer, penyanyi dangdut keliling, memang lekat ke hal-hal ngeres, mulai dari tingkat terendah sampai yang sudah besar jadi artis ternama sekali pun. Goyang patah-patah, goyang dombret, goyang ngebor, atau apapun itu, kerap selalu jadi objek seksual dengan perangkat yang tak kalah menonjolkan keseksian, seperti tanktop, baju ketat, rok mini, dan macam-macam. Namun lupakan sejenak poster yang entah hasil kerja produser mana itu, demi mengundang penonton. Ifa ternyata dengan polos membalutnya jadi ladang pekerjaan kampungan yang tak butuh semua identitas jorok-jorok, sekaligus membenturkannya dengan pandangan beberapa karakter di dalamnya. Thus, what you got was an honest picture tentang masyarakat kelas bawah dengan segala masalah paling mendasar, tanpa harus beranjak ke tema-tema ngeres. Sekali lagi, lupakan poster nyeleneh yang menyalahi konten filmnya. Ini adalah karya yang cukup baik dan berbeda dari film-film sejenis.

Ayu (Juwita Bahar, putri Anissa Bahar), gadis dari desa kecil di pinggiran Jogja itu, punya cita-cita menjadi penyanyi dangdut terkenal. Tak hanya almarhumah ibunya yang dulunya berkarir sama, tantenya (Dyah Arum), yang kini usaha salon kecil-kecilan di kota pun juga begitu. Ambisi dan keinginannya membantu kehidupan sang ayah (Marwoto Kawer) yang cuma bekerja sebagai buruh batu kemudian membulatkan tekad Ayu untuk hijrah ke Jogja. Tinggal di rumah tantenya, Ayu merintis keinginan itu. Untunglah ada Dimas (Krishatta Luis), temannya sejak kecil yang juga menaruh hati padanya. Mati-matian Dimas berusaha mengorbitkan Ayu pada bos dangdut keliling Dargombez (Djaduk Ferianto) yang ternyata terkesan pada cengkok dangdutnya. Namun kegugupan Ayu membuat semuanya berantakan. Dimas lantas memprakarsai karir Ayu sebagai pengamen jalanan bersama temannya Angga (Harry Izwan) dan pemusik-pemusik kampung yang kontan membuat para lelaki penontonnya memberikan saweran karena suara dan paras Ayu. Dargombez pun kembali tertarik merekrut Ayu, dan kali ini, seorang produser (Landung Simatupang) bahkan mengontraknya untuk rekaman. Toh reputasinya sebagai cewek saweran tak bisa melepas imej negatif pada diri Ayu, dan di gelimang resahnya, Ayu juga harus menghadapi perseteruan Dimas dan Angga yang sama-sama ingin merebut hatinya.

Premis simpel, benar. A zero to hero cliche? Benar juga. Trik dagang menjual debut seorang penyanyi dangdut, putri seorang bintang bergenre sama yang sudah duluan punya nama pula, dengan jualan lagu-lagu yang catchy? Itupun benar. Namun adalah eksekusi untuk meracik semuanya menjadi sebuah suguhan yang ‘benar’ yang patut dihargai lebih. Sutradara Eddie Cahyono yang bersama penulis Ifa Isfansyah yang mengawali karir mereka dari sebaris film-film indie di kota institusi mereka, Jogja, lewat bendera Fourcolours, untungnya tak harus menjual diri membesut tema-tema sejenis. Di tangan mereka, profesi cewek saweran dan penyanyi dangdut keliling tak dihandle penuh kekotoran otak buat jadi sesuatu yang negatif, dan ini semakin ditegaskan pula dari konflik yang dipilih. Yang muncul ke depan adalah suatu kepolosan dan ketulusan dari karakter-karakternya, yang bisa terwakili dengan baik pula lewat pemilihan casting yang pas. Tak seperti sang ibu, paras Juwita yang chubby dan polos itu memang sangat mendukung buat tak bernakal-nakal di tengah goyangannya, begitu juga dengan Krishatta yang bermain santai dengan pengucapan dialog-dialog yang terasa sangat wajar. Kombinasi mereka dengan aktor-aktor teater senior seperti Djaduk Ferianto (oh, saya mengerti sekarang kenapa Djaduk mau ikut di produksinya, selain karena sineas-sineas di belakangnya, juga ada plot runtut dan jelas tanpa jualan macam-macam) yang teatrikal dan komikal juga membuat Cewek Saweran jadi semakin berwarna. Shot-shot yang mendeskripsikan kekumuhan kampung tempat semuanya terjadi pun terhandle dengan baik. Oke, keengganan mereka menyentuh wilayah-wilayah kotor yang bombastis sebagai jalur tipikal film yang berbicara tentang kaum sejenis mungkin juga membuat Cewek Saweran terasa kelewat datar tanpa konflik menarik dan terus-menerus membangun nyawanya di tengah alur yang klise seperti cinta segitiga yang tak juga lebih diperdalam. Di luar itu, beberapa lagu-lagu dangdut berlirik nakal tapi melodius itu pun diulang-ulang kelewat sering. Namun coba lihat sekali lagi. Ini adalah usaha untuk membuat sebuah tipikalitas menjadi jauh melenceng, dan saya akhirnya jadi percaya, poster itu juga termasuk kenakalan metaforik orang-orang di belakangnya untuk memancing sebuah reaksi yang sama tipikalnya dengan film-film yang diharapkan berjalan bagaimana seharusnya. Jadi siap-siaplah kecewa dengan pikiran kotor ala Indonesia kita, karena Cewek Saweran, memang menyajikan sesuatu yang berbeda. (dan)

~ by danieldokter on March 11, 2011.

4 Responses to “CEWEK SAWERAN : NOT ONE OF INDONESIAN DIRTY MINDS”

  1. “Jadi siap-siaplah kecewa dengan pikiran kotor ala Indonesia kita, karena Cewek Saweran, memang menyajikan sesuatu yang berbeda.”

    Jadi ingat… pas nonton bioskop dipenuhi dengan Bapak-Bapak dan mas-mas. Bukan mau berpandangan negatif… Tapi yah… begitu deh… :p

  2. hahaha bener. apalagi di medan plaza. komplit. om om, bapak2 dan mas mas semua, termasuk saya ahahahahahahahahah

  3. Setuju banget sama om Daniel. Film ini seperti kebalikan dari “undercover” yang biasanya sampul bagus, isinya gak banget.

    Saya suka Krishatta dan Djaduk disini yang nyatu banget sama perannya. Kalo Djuwita belum maksimal tapi udah cukup wajar beraktingnya🙂

  4. […] Cewek Saweran […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: