VIRGIN 3 : KETIKA NAYATO BERTASBIH

VIRGIN 3 : SATU MALAM MENGUBAH SEGALANYA

Sutradara : Nayato Fio Nuala

Produksi : Starvision, 2011

Let’s talk about prostitution theme in movies. Yup, Indonesia rajanya, bahkan mungkin melewati jumlah segudang film Filipina dengan kualitas kamera cempreng yang rata-rata isinya cewek kampung mengadu nasib dan berakhir tragis di karir mesum mereka di kota. Now, let’s talk about virginity theme in movies. Betul, Indonesia juga rajanya. Di satu-satunya negara yang paling tertinggal dalam pandangan Timur yang kolot di belahan dunia ini, film kita juga jadi rajanya, dengan konflik hamil di luar nikah dan pernak-perniknya mulai dari aborsi sampai bunuh diri. Bahkan film sebijak Nagabonar yang membesarkan sejarah perjuangan bangsa saja, punya sisi itu. Di satu sisi, tema-tema ini memang memberikan keleluasaan besar buat pameran belahan dada dan paha yang ‘malu-malu tapi mau’ dibalik alasan ajaran moral dalam seabrek film kita. Belum lagi jika bicara tema-tema narkoba, perkosaan dan lain-lain sebagai tetangganya. Jadi itu cerminan bangsa kita? Cerminan selera masyarakat kita? Terserahlah. Tapi kenyataannya, kita masih belum lepas dari sana. Franchise (ya, rasanya tak salah saya menyebutnya itu) Virgin ini merupakan salah satu pengejawantahan dari keterkungkungan pandangan tadi. Dengan subjudul yang juga mengisyaratkan itu, Virgin 1 : Ketika Keperawanan Dipertanyakan, menuai sukses. Oke, sebagai satu audio-visual utuh yang dinamakan film, biar punya adegan jiplakan Coyote Ugly dan klise-klise disana-sini, film karya Hanny R. Saputra tadi memang masih punya sedikit nilai lebih dari pendukungnya yang benar-benar menjual debut mereka ke ranah harapan tinggi sebagai aktris terkenal. Virgin 2, yang diembel-embeli judul ‘Bukan Film Porno’ dalam jalur tujuan yang sama, lain lagi. Di tangan sineas aji mumpung dengan seribu nama dan kemisteriusannya sebagai public figure, seorang Nayato Fio Nuala menghadirkan shot-shot yang harus diakui bisa, paling tidak sedikit, menyamai visual-visual cantik ala Wong Kar Wai dengan neon lights dan blurred vision-nya. Jadi rasanya memang tak ada alasan untuk melebarkannya ke sekuel berikut.

Alih-alih ingin melewatkan pesta perpisahan dengan Putri (Yessa Iona Gaffar) yang hendak bertolak ke Melbourne, Sherry (Irish Bella), Tika (Gege Elisa) serta Dini (Saphira Indah Pochi) yang polos dan alim berakhir di sebuah pub eksklusif lewat bantuan rekan Sherry yang seorang sutradara. Pesta itu akhirnya berakhir tak seperti yang diharapkan, dimana keempat gadis yang, ah, saya tahu maksudnya, semuanya masih bau kencur (baca=virgin) itu, tiba-tiba terbangun tanpa ingatan ke malam sebelumnya di sebuah hotel, bersama seorang fotografer bernama Allan (Alex Abbad). Satu malam mengubah segalanya. Termasuk urusan keperawanan.

Dengan pakem tetap sama, tentang sekelompok gadis berseragam putih abu-abu (plus sepatu kets), yang harus bertahan di lawless land called Indonesia dengan ke-‘ngeres’-an tinggi di tiap sudut kehidupannya. Hampir semua karakternya memang dibangun dengan ngeres sejak di awal-awal, dan pastinya, ada prostitusi meski dalam kadar terkecil sekalipun, ada narkoba, ada perkosaan, meskipun hamil di luar nikah kali ini absen dari skenario. Ah ya, Nayato bersama penulis skenario Cassandra Massardi mungkin sedikit meningkatkannya ke genre thriller ala ‘Invitation Only’-nya Miyabi meski berakhir jadi sempalan yang sama sekali tak penting, dan mungkin itu juga yang membuat mereka memasang Irish Bella, aktris Indo yang berwajah sangat Pevita Pearce yang kerap dimirip-miripkan dengan Miyabi itu. Nayato, seperti biasa, tetap hadir dengan visual ala videoklipnya yang sangat bunglon mirip sana dan mirip sini. Di sisi pemeran, kecuali Irish dan Saphira, versi muda Melly Zamry yang terlihat sangat menjual itu, tak ada yang menonjol. Paling-paling kalau mau menyebut satu yang agak senior, Alex Abbad, yang memang selalu tampil santai seperti biasanya. Peran om-om yang sempat mau memperkosa Irish? Oh, wajah mesum itu sudah kelewat sering tampil di film-film jorok kita di era 90an. Dialog-dialog dan turnover karakterisasi dalam skenarionya? Lupakan. Masih tetap bodoh dan penuh reaksi konflik tak wajar seperti biasanya. Namun ada yang paling menarik, itupun kalau Anda mau menanggapinya dengan penuh canda. Lagi-lagi, berlindung di balik alasan pembelajaran moral, membuka mata atau apalah, dengan visualisasi ekstrim secara klise ala film kita, kali ini digelar Nayato dkk dengan selangkah lebih jauh. Penyelesaian dan karakter relijius lengkap dengan atribut jilbab dan quote-quote yang sangat Islami. Entah Nayato memang punya niat insyaf dan naik haji tahun ini, untung saja tak sampai ada penyuluhan langsung dari Dr. Boyke disana. Apa boleh buat, inilah satu gambaran paling tipikal dari sinema kita, yang seperti MP3 bajakan, campur sana campur sini isinya tetap itu ke itu juga. However, meski masalah pajak film impor masih belum beres juga, kita bolehlah merasa bangga hidup di negara yang jadi cerminan filmnya itu. Penuh prostitusi, narkoba dan pemerkosa, tapi menjunjung tinggi keperawanan dan pembelajaran moral. Yeah, right. (dan)

~ by danieldokter on March 23, 2011.

One Response to “VIRGIN 3 : KETIKA NAYATO BERTASBIH”

  1. […] Virgin 3: Satu Malam Mengubah Segalanya […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: