SKANDAL : UNFAITHFUL ATTRACTION AND THE ‘X’ MAN

SKANDAL

Sutradara : Jose Poernomo

Produksi : Sentra Film, 2011

“Semua perselingkuhan berakibat bencana. Jika Ingin Keluarga Harmonis… jauhi X (dalam kurung: mantan)”. Saya ingin menggetok kepala orang yang menciptakan tagline ini di tengah poster, yang… ya.. kalau mau dimirip-miripkan ke beberapa film luar ya bisa-bisa saja, namun punya sisi fotografi B&W yang menarik sekali diatas latar hitam yang terasa sangat kontras itu. Nah, kalau martil jadi senjata buat diatas, yang kedua cukup dengan besi silang empat pembuka ban mobil. Ini akan saya alamatkan untuk pemberi judul ‘Skandal’ yang terus terang, murahan sekali buat tema-tema yang sudah terbangun sangat obvious dari tagline kampungan itu. However, membuat film seks, ‘istilah genre yang hanya ada satu-satunya di negara kita yang ajaib ini dan kadang-kadang diucapkan tanpa ‘s’ di belakang oleh penduduk pedalaman’, yang baik itu, harus diakui, susah. Dalam tema dan genre eroticism cuma ada dua kemungkinan. Lupakan film-film kita di era ‘90an karena saya merasa itu sama sekali bukan film, bahkan produk JAV saja bisa digelar dengan jauh lebih baik dari mereka. Lupakan juga ini-itu ala kritikus dan sinema cult-retro yang belakangan mengangkat status murahan jadi ikut-ikutan artistik. Pertama, besutan yang membalut sinematografi dan adegan-adegan seksnya dengan artistik akan jadi tontonan berkelas, seperti halnya nama-nama Zalman King, Adrian Lyne atau sineas-sineas European arthouse. Yang kedua, akan berakhir di film-film kelas C-nya Shannon Tweed, Gabriella Hall atau Shauna O’Brien. Toh trend yang marak di era 90an dan meredup ketika sebaris film sejenis tak mampu menyaingi kehebatan Basic Instinct, meski The Resident-nya Hillary Swank sudah mencoba dengan kegagalan lagi-lagi, cukup banyak  film-film bagus di barisan genre yang sama. Usaha Jose Poernomo, yang jasanya terukir manis menghidupkan kembali film kita bersama Rizal Mantovani lewat Jelangkung, jelas jauh dari horor atau komedi-komedi murahan Maxima atau KKD. Seks dalam kemasan Jose benar-benar tampil dengan warna baru perfilman Indonesia, apalagi LSF membiarkan sebagiannya tampil cukup proporsional. Sensual, erotis dan yup, artistik. Tapi itu bila Anda mematikan volume suaranya yang rata-rata diisi dengan lagu-lagu poprock dan romantisme ala Afgan di themesongnya. Produser yang mau meraup untung mungkin tak memikirkan bahwa lagu-lagu itu adalah ‘turnoff’ yang sangat ultimate terhadap adegan yang sudah dibesut sedemikian rupa oleh Jose. Dan kredit terbesar akan saya persembahkan pada pemeran utamanya, Uli Auliani, yang memang masih punya tampang dan bakat seimbang meskipun suka tampil di film-film kacrut. Bakat itu sangat terbentang leluasa sekali disini, dimana Uli dengan ekspresinya yang benar-benar meyakinkan tanpa harus cengengesan ala Jupe, Depe dan seabrek aktris lain, mampu membawa adegan-adegannya ke atmosfer yang sangat, sangat dan sangat sensual. Ingat. Matikan volumenya.

Perselingkuhan membawa bencana itu diawali dari Mischa (Uli Auliani), yang merasa kesepian dengan kesibukan sang suami, Aron (Mike Lucock/VJ Mike) di tengah kehidupan mereka yang serba mapan dengan seorang anak. Merasa hasrat seksualnya tak terpenuhi ditimpali kecurigaan bahwa Aron berselingkuh dengan sekretarisnya (Laras Monca), Mischa melarikan diri ke pelukan sang mantan yang seketika muncul lagi di hadapannya. Vincent (Mario Lawalata), si ‘X’ itu pun kemudian mengisi lagi hari-hari Mischa yang kembali berbahagia, namun pastinya, ini tak berlangsung lama. Kesadaran Mischa untuk mengakhiri semuanya, disikapi Vincent dengan posesif. Mischa diteror, dan kemudian sebuah tragedi mengakhiri semuanya.

Kesalahan yang dari zaman dahulu kala tak terbenahi dalam film-film kita sebenarnya paling besar terletak pada skenario. Oke, despite of some writers yang benar-benar born-writers, faktor inilah yang selalu meluluhlantakkan semuanya. Film dulu, semuanya tampil dengan penceritaan yang runtut meski temanya itu ke itu saja. Masalahnya? Bahasa buku dengan konflik serta reaksi yang jarang sekali terasa masuk akal. Masih lumayan. Film-film sekarang? Saya tak meng-include segelintir yang bagus, tapi rata-rata keseluruhan? Meski faktor bahasanya pelan-pelan sudah semakin wajar, kesalahan atas guliran bercerita yang lompat dari lompat kodok sampai bungee jumping itu masih saja dialiri konflik klise yang ditimpali dengan reaksi-reaksi over tanpa meninggalkan faktor make sense tadi. Dan penulis-penulis ini agaknya harus sadar betul, meniru, atau terinspirasi itu, sah-sah saja, tapi ada cara yang benar seperti paling tidak film Asia lainnya seperti Korea. Sayang sekali Jose harus menggelar pembaharuan sex scene dengan sensualitas berbeda itu diatas skenario besutannya yang nyata-nyata jadi kombinasi dua film erotis terkenal Adrian Lyne, Unfaithful dan Fatal Attraction, ditambah resep comot-mencomot dari pakem film thriller erotis lengkap dengan investigasi polisi yang menampilkan Gary Iskak dalam pencitraan karakterisasi polisi secara sangat film Indonesia, kalau tak mau menyebut dialog-dialognya mengalir dengan ketololan tingkat tinggi. Dan tak hanya itu, latar belakangnya, lengkap diinspirasi dari pakem film tipikal film Indonesia yang tak bisa jauh dari masalah ranjang. Kombinasi yang overloaded. Meski sebagian bisajadi terasa relevan (untung tak ada embel-embel true story), tapi kebanyakan adalah lagi-lagi mengulang dan mengulang. Twist dengan pesan cinta ‘love forgives’nya pun tak bisa berperan banyak akibat kerusakan skenario seperti film-film yang menjadi sourcenya. Lantas, mari bicara tentang pemilihan castnya yang juga serba unlikely, pastinya di luar Uli Auliani. Mike Lucock boleh jadi tampil lumayan di beberapa scene terutama di bagian-bagian akhir, tapi Mario yang maunya menyamai Olivier Martinez di Unfaithful? Oh, tato dan wajah tampan sungguh tak selamanya bisa berhasil, apalagi suaranya yang cempreng dan sangat tak meyakinkan itu. Set apartemennya pun masih kelewat mewah buat karakterisasi antikemapanan yang dimaksud. Somehow saya yakin seorang Reza Rahadian akan jadi kandidat yang lebih masuk ke peran tersebut. Pemeran pendukung lain, mulai dari sekretaris, pengacara dan Michael, si anak, juga tampil sama sekali tanpa jiwa. Kelewat kejam mungkin kalau harus menyamakan Skandal dengan film-film sampah kita era 90an dan horor-komedi seks sekarang karena visual yang dihadirkan Jose bisa memberikan feel yang beda dengan sensualisme yang sangat stylish termasuk fade out-fade in yang cantik serta scene bathtub masturbating orgasm pembuka yang meski kebanyakan lilin namun dihadirkan Uli dengan gestur dan ekspresi sempurna itu. Namun semua unsur pendukungnya? Walah… (dan)

~ by danieldokter on March 24, 2011.

One Response to “SKANDAL : UNFAITHFUL ATTRACTION AND THE ‘X’ MAN”

  1. […] Skandal […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: