TEBUS : AN EYE FOR AN EYE

TEBUS

Sutradara : Muhammad Yusuf

Produksi : Skylar Pictures, 2011

Indonesia memang suka yang ajaib-ajaib. Dan adalah sesuatu yang ajaib ketika saya mengakses halaman wiki, tentang film yang menjanjikan dari promonya yang kuat dengan kontes poster berhadiah iPad pula. Disitu tertera, entah tulisan siapa, entah memang tujuannya promosi atau apa, bahwa Tebus adalah film seru Indonesia yang bla, bla, bla.. Oh, ternyata Indonesia tak hanya punya genre seks, tapi juga genre seru. Luar biasa. Ah, anyway. Let’s move on to this next movie from Muhammad Yusuf. Pernah nonton Jinx? If you’re into an indie filmmaking, Anda pasti tak bakal terlalu mencaci maki film salah kaprah ini. Saya percaya bahwa Jinx adalah sebuah proyek ambisius yang dirancang dengan gebrakan tertentu untuk suatu pembaharuan dari keterpurukan tema film-film, ya, sampah, di perfilman kita. Namun konsep saja tentu tak cukup. Seperti orang yang baru membuat sebuah karya bernama film, tak perduli betapa ‘terang-benderang’nya pikiran Anda dengan sebuah naskah yang dirancang sedemikian rupa dengan kesinambungan adegan yang diracik melalui skenario, pemilihan untuk menyusun puzzle-puzzle itu pasti sesekali jatuh ke selera paling subjektif, yang belum tentu berarti banyak bagi penonton yang hanya menyaksikan penyelesaian utuhnya tanpa ikut di proses produksi. Jinx pun lantas jatuh ke sebuah karya ambisius yang tersusun tanpa kejelasan yang runtut atas banyaknya sempalan adegan (yang saya percaya disukai secara pribadi oleh si pembuat) yang tak berguna. Seperti puzzle yang salah pasang. Seperti standing comedian yang tak mampu membuat orang tertawa. But however, cara penceritaan Yusuf yang inovatif sudah terlihat dari sana. So, kegagalan Jinx tampaknya dipelajari betul olehnya, sehingga naskah beralur maju mundur yang ada dalam filmnya ini, bisa tergelar dengan rasa sedikit unik, seperti penyusunan puzzle yang lebih pas. Paling tidak, dalam standar film-film kita kebanyakan. Dan mari tak melebih-lebihkannya sebagai suatu twist untuk kemungkinan-kemungkinan tak terjawab yang mengarah ke spoiler. Sinopsis-sinopsis press releasenya saja sudah membeberkan semuanya secara detail. Jadi, flashback-flashback itu hanyalah sebuah jalan yang dipilih penulisnya untuk menjelaskan karakter dan latar belakang konflik masing-masing, yang diceritakan secara unlikely, tapi rapi.

Reputasi keluarga Danuatmaja sebagai keturunan entrepreneur sukses mendadak dirusak oleh kematian sang putra mahkota, Alaric (Revaldo), akibat overdosis. Kepala keluarga itu, Rony (Tio Pakusadewo) pun seolah menyimpan kegalauan mendalam bersama istrinya Siska (Chintami Atmanagara) dan dua orang putri yang tersisa (Sheila Marcia & Luna Sabrina). Di sebuah liburan saat mereka menyepi ke villa sunyi di tengah hutan, semuanya memuncak. Mereka disatroni oleh tiga orang bertopeng dengan sebuah tujuan. Tebusan atas kesalahan masa lalu yang gelap itu.

Tebus, pada dasarnya bukanlah sebuah ‘film seru’ walaupun melibatkan adegan terjun bebas di air terjun, baku hantam dan gantung-menggantung dengan sling yang lumayan rapi. Ini adalah sebuah thriller, yang memang merupakan genre yang masih jarang tersentuh kemauan produser-produser film kita. Masih senada dengan Jinx, Yusuf memulai gelaran plotnya dengan shot-shot dan adegan lambat, namun kali ini cukup sukses mengarahkan keingintahuan penontonnya. Alur maju mundur itu pun lantas dimulai dengan pengenalan satu-persatu karakternya, masih dengan cukup efektif, kecuali di segi editing yang makin parah menuju bagian-bagian klimaks yang harusnya bisa lebih menegangkan. Sering sekali, adegan itu di mark-in kelewat cepat sehingga yang kita saksikan adalah pemain-pemain yang berdiri diam cukup lama sebelum bergerak, itupun dengan lamban. Saya tak tahu apakah ini adalah kesengajaan, tapi yang jelas, lumayan mengganggu. Belum lagi dialog-dialognya yang seperti biasa, ala film kita kebanyakan, tertinggal mubazir dengan sempalan obrolan yang sebenarnya tak terasa mendukung penceritaan. Saat konflik yang memuncak itu mulai dibuka Yusuf satu-persatu dari karakter-karakter baru yang sudah muncul sekilas sebelumnya, semuanya menjadi semakin parah. Pertama, saya tak mau menyebutnya tak relevan. Boleh-boleh saja memilih latar belakang, tapi melihat yang dimunculkan sebagai bangunan konfliknya lagi-lagi adalah masalah narkoba dan akhirnya ditimpali perkosa-perkosa dengan patokan karakter yang klise terhadap kejahatan kaum besar atas kaum kecil yang selalu lemah namun solidaritasnya selangit, saya jadi sedikit lemas. Meski ini mutlak menjadi pilihan penulis cerita, namun sebagai penonton yang sudah dicekoki pakem sejenis dari tahun jebot sampai sekarang, unsurnya jadi tak lagi terasa fresh. Kedua, bangunan adegan-adegan ‘seru’ yang menekankannya dalam genre thriller, malah terkesan agak kacau-balau. Sudah tak menggambarkan kondisi medis yang benar atas sempalan masalah medis yang disinggung cukup penting, kejar-kejarannya juga tak terlalu thrilling. Hal paling parah ada di motivasi tindakan balas dendam yang tak terlihat se-kuat kedalaman latar konflik yang dituangkan, termasuk tarik ulur tali gantungan dan pukul-pukulan bolak-balik yang seperti orang kebingungan dan reaksi-reaksi tak relevan lainnya. Dan ini semakin kacau lagi ketika Yusuf menyisipkan adegan-adegan gore di tengah pengambilan gambar yang sama sekali terkesan tak bisa menambah intensitas ketegangannya. Namun, untungnya, masih ada kelebihan yang harus dicatat dari karya keduanya ini. Di sisi akting, hampir semua pendukungnya bermain cukup wajar tanpa harus mengeluarkan ekspresi serta mimik teatrikal keterlaluan seperti yang biasa hadir di film-film kita. Tak ada hentakan gigi, muka berkerut seribu menahan nafas sesak, jatuh dibuat-buat serta teriakan-teriakan kebakaran jenggot sebagai reaksi dari konflik yang dihadirkan. Cukup dengan ekspresi simpel dan silent, Tio Pakusadewo sudah mampu memberi kesan terluka di sebuah adegan yang kalau di film-film lain sudah dipenuhi teriakan ‘tidaaaaakkkkk’ sambil cengengesan. Dan adegan gantung diri serta hukuman mati itu, harus diakui, cukup menambah intensitasnya di sela banyak shot-shot yang belum cukup mewakili tadi. And so, dibalik semua kekurangan dan kelebihan itu, Tebus agaknya bisa jadi segelintir peserta genre thriller yang masih cukup layak buat disimak, dan saya akan memilih cara penceritaan Yusuf dengan alur maju mundur yang cukup efektif itu sebagai highlight terdepannya. (dan)

~ by danieldokter on March 31, 2011.

8 Responses to “TEBUS : AN EYE FOR AN EYE”

  1. Nice review bro! Though I think you are being too kind. Such a bad movie. That’s 100 minutes of my life that I cant get back! Waste of time and money!

  2. Wkwkkwkwkkkk…sumpah gw kira gw doank yg pikir bgtu guys! Gak ada bagus2nya, gak lbh bagus dr Jinx, tapi np tuh di fanpage pelmnya org2 pada bilang bagus yah? Perlu dicuci otaknya kl pada ah. Rugi bgt Tio n Jajang maen disini, kalo buat pemaen yg laen bolehlah, naek kelas dr sinetron ke pelm. Ayo donk pelm Hollywood masuk lagi, bentar lg pelm2 summer blockbuster nih. Hiks😦

  3. Bener, editingnya parah, klimaks gak jelas. Flashback gak menarik, lha wong di sinopsis udah jelas gt, spoiler abis tuh sinopsis soal sopirnya, jadi basi. Harusnya mgkn dikeep, bakal nolong bikin nih film better kali….dikit.

  4. indeed. gaya penceritaannya yg agak beda yg jadi membuatnya nampak lebih baik. and yup, beberapa rekan movieblogger memang banyak yg begitu memuji, as for me, kalau ada beberapa sisi yang baik, gak bener juga kalo gak dipublish🙂, dan rating adalah terlalu subjektif. lebih baik me-reviewnya dengan pemaparan detail ke kekurangan dan kelebihannya, just for a reference buat yg belum nonton.

  5. Nice blog, Mas Daniel. Right, those movie bloggers did make me wonder whether this film deserves such high praise. But surely it’s public knowledge that movie studios usually use movie critics to steer their opinions in the studios’ favor. Ben Lyon, well-known as a film critic from E!, for example, is questioned for his integrity for his biased reviews. Well, I haven’t seen this movie yet, but I did participate in the trailer review contest and somehow I also ‘predicted’ that this movie should be told in flashback to make it interesting. Here it goes (http://www.facebook.com/filmtebus?id=136647853054887&v=app_6261817190&s=40) :

    Sinopsis singkat dan trailer film Tebus menyiratkan film ini adalah thriller psikologis yang pada akhirnya akan terdapat pengungkapan misteri yang melatarbelakangi film ini dan menjawab pertanyaan terpenting: Siapa yang melakukan teror pada keluarga Rony Danuatmaja dan menginginkan kematian mereka? Pada tahap ini, saya akui trailer film Tebus ini sungguh mampu membuat saya penasaran.

    Namun, karena jadwal penayangannya masih cukup lama, saya kemudian berusaha mencari tahu lebih banyak soal film ini dan menemukan sinopsis yang lebih rinci, yang menyebutkan serangkaian kejadian yang melibatkan supir keluarga Rony beserta keluarganya sehubungan dengan meninggalnya putra Rony karena overdosis. Di sini, cerita film menjadi jelas dan rasa penasaran saya seketika berkurang. Sayapun bertanya-tanya bagaimana film ini akan diceritakan. Rasanya apabila menggunakan alur yang bergerak maju, maka tentu akan menjadi kurang menarik. Berbeda misalnya apabila disertai alur mundur (flashback), katakanlah mulai adegan teror pada keluarga Rony, sambil pelan-pelan membuka jawaban misteri pelaku dan alasan teror, tentu bisa menjadi pemikat penonton untuk terus mengikuti film ini. Karenanya, saya sungguh berharap film Tebus akan ‘bermain’ dalam alur cerita, apalagi setelah melihat adegan dalam trailer dimana seorang penjahat baru selesai berbicara kepada seorang karakter yang tampaknya menjadi otak atas teror tersebut tanpa memperlihatkan wajahnya, yang sangat berpotensi untuk menjaga keingintahuan penonton akan jawaban misteri film ini, terlebih kalau ada bonus kejutan (twist) pada ending-nya.

    Oleh karena itu, terlepas dari adanya beberapa bagian dalam trailer film Tebus yang menurut saya kurang perlu, seperti teks nama kru dan pemain serta adegan Rony dalam vila sambil memegang senjata yang muncul beberapa kali, trailer film ini tetap mampu membuat saya penasaran dan berniat untuk menonton filmnya, yang tentunya menjadi tujuan dibuatnya trailer film ini. Maju Terus Film Indonesia!

    Unfortunately, I didn’t win the contest, not even the consolation prize.😦 But reading your blog makes me so eager to start my own movie blog. Hope to start it sometime soon as writing is my passion, too. Inspiring blog, Mas Daniel. Hope I can be as good as you when I have my own blog. Keep up the good work!

  6. a humble thank you, Mas Alex🙂. yup, rasanya tak perlu menutup-nutupi beberapa sisi plotnya sebagai kemungkinan spoiler, krn beberapa press release-nya (termasuk wiki) sudah menjelaskan semua.next mungkin sineas2 kita bisa lebih cermat merancang promosi film yg mereka rencanakan dengan twist.

  7. Bener tuh, yg menang review kayak gt, curiga ane mah. Kayaknya temen si DJ Fikry tuh si Ernest gan, sesama maen musik kan. Ane dah nonton pelmnya, menurut ane mah kalo flashback aja gak bisa dibilang kelebihan ye, masih bagusan Rumah Dara kemana2

  8. […] Tebus […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: