BLOOD CREEK : GET PRISON BREAK! IT’S SUPERMAN VS MAGNETO!

BLOOD CREEK

Sutradara : Joel Schumacher

Produksi : Lions Gate, 2009

Karir Joel Schumacher sebagai sutradara papan atas Hollywood dulunya, semua tahu itu. Ada film-film berstatus klasik di tangannya, mulai dari St Elmo’s Fire, The Lost Boys, hingga dua adaptasi John Grisham yang cinematically representative sebagai adaptasi novel. Belakangan, sejak Batman & Robin yang dicerca banyak orang itu, apa boleh buat, kehebatannya pun tercoreng. Padahal, konsep awalnya di Batman Forever cukup bisa diterima, dengan tone colorful yang memang sekali waktu pernah jadi bagian dari sejarah komiknya, namun mungkin keinginannya untuk tak sama sekali lepas dari atmosfer Tim Burton malah menghasilkan kombinasi yang semakin tak relevan, selain juga pilihan George Clooney dan kompromi atas nama Schwarzenegger itu. Setelah itu, walau sebenarnya film-filmnya tak bisa dibilang jelek, Schumacher masih menyajikan kita beberapa karyanya yang masih cukup memorable, sebut diantaranya, The Number 23, Phantom Of The Opera atau Phone Booth. Blood Creek ini, bersama satu film kecil lainnya, Twelve, lebih seperti sebuah batu loncatan sebelum nantinya tahun ini Schumacher kembali ke pakemnya di kelas blockbuster, Trespass, dengan Nicolas Cage dan Nicole Kidman. Tapi pasti tak ada yang menyangka kalau kombinasi pemilihan cast-nya yang di tahun produksinya (2009) belum apa-apa, sekarang sudah menggoreskan sesuatu yang bakal jadi semakin besar. Selain Dominic Purcell yang sukses lewat Prison Break dan punya banyak proyek besar ke depan, ada the next Superman, Henry Cavill dan the next Magneto, Michael Fassbender, yang lebih spesial lagi sebagai aktor yang sangat diperhitungkan sepak terjangnya sekarang. So percayalah, pasca Superman dan X-Men : First Class yang sudah bisa dipastikan bakal bersinar di perolehan box office, film kecil ini akan mendapatkan statusnya sebagai sebuah cult movie yang bakal dibongkar-bongkar di rak jualannya.

Atas mitos-mitos ambisi Nazi 70 tahun silam, seorang profesor Jerman, Richard Wirth (Fassbender) memulai eksperimen mistis-nya pada sebuah keluarga Wollners yang berdarah Jerman di daerah pedesaan West Virginia. Namun keluarga yang jadi korban eksperimen itu akhirnya melakukan sesuatu untuk menahan kegilaan Wirth, meski juga tak menjamin keselamatan kampung itu atas banyaknya korban yang masih berjatuhan. Lebih tujuhpuluh tahun kemudian, Evan Marshall (Cavill) mendadak mendapati kakaknya yang sudah dinyatakan hilang selama 2 tahun, Victor (Purcell), kembali dalam keadaan misterius dan mengajaknya ikut serta dalam sebuah quest. Sebuah survival game untuk sama sekali menghentikan teror disana.

Lions Gate yang semakin menanjak di awal-awal dasawarsa milenium baru kemarin atas strategi bisnis mereka di pemasaran film-film horor kelas B yang tergarap lumayan, memang tampaknya belum bisa melepaskan diri sepenuhnya. Blood Creek juga merupakan salah satu diantaranya, sebagai film kelas B yang meski mendapat status ‘theatrical release’ dan punya nama Schumacher di kursi sutradara, namun keterbatasannya membuat orang-orang lebih mengenalnya sebagai ‘straight to video release’ di tahun-tahun setelahnya. Deretannya, kalaupun ada dalam koleksi beberapa penikmat film, sudah bisa dipastikan bakal teronggok di lapisan bawah yang kerap tak tersentuh untuk ditonton. Adalah ekses pemboikotan MPAA atas ulah pemerintah Indonesia yang kemudian membawanya lebih terhormat untuk bisa disaksikan lebih banyak penonton. Dan kenyataannya, Schumacher masih menyimpan potensinya dalam menggarap film yang layak, termasuk dalam tema-tema horor sekali pun. Blood Creek sama sekali bukan film yang jelek dalam koridor tadi. Temanya yang mengusung sedikit mitos-mitos yang tersisa tentang kegilaan ‘The Third Reich’ itu  bisa digulirkan Schumacher menjadi sebuah survival thriller yang cukup intens, lengkap dengan atribut zombie dan vampir-vampiran dibaliknya. Setting, efek dan makeup nya juga masih ada di standar sinematis yang layak. Yang lebih menarik, kalaupun Anda sudah malas dengan tema-tema sejenis, adalah barisan castnya yang sekarang sudah terasa bagai tunas yang akan tumbuh subur ke depannya. Henry Cavill sudah menunjukkan kharismanya sebagai main character yang mencuri perhatian, Purcell seperti biasanya, intens dalam adegan-adegan aksi pelarian serta Michael Fassbender yang setingkat lebih diakui dalam hal akting, juga memerankan Wirth dengan kegilaan yang pas. It happened every times, dimana sebuah karya kecil tak selamanya tak layak untuk disimak. Apalagi penggarapnya bukan sineas kemarin sore. Dan Blood Creek sudah membuktikan itu. Rasanya tak perlu lagi menunggu The Immortals sebagai pre-trial dalam penelusuran pas tidaknya Cavill memegang peran sentral yang heroik dengan rilisan yang sudah sedikit expired ini, though however, sebagai penonton Indonesia, we still need those summer blockbusters untuk hadir kembali disini. (dan)

~ by danieldokter on April 17, 2011.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: