SI ANAK KAMPOENG : A MISGUIDED GOOD AMBITION

SI ANAK KAMPOENG

Sutradara : Damien Dematra

Produksi : Ma’arif Production & Damien Dematra Production, 2011

Oke. Sebuah tema biopik, biografi dari seorang tokoh, tentulah harus memiliki daya tarik sebagai unsur terpentingnya. Setelah itu, adalah pesan moral edukatif dan inspiratif dibalik kisah hidup itu yang harus muncul ke depan. Hanung Bramantyo baru saja menyajikan ‘Sang Pencerah’ sebagai biopik pendiri Muhammadiyah, K.H. Ahmad Dahlan, yang dikenal semua orang karena gelarnya sebagai Pahlawan Nasional yang dipelajari dalam sejarah, dan kini, ada tokoh lagi yang diangkat dari tendensi dakwah organisasi itu. Kisah dari seorang Ahmad Syafi’i Ma’arif, yang lebih dikenal dengan Buya Syafi’i. But wait. Disana, Syafi’i yang pernah duduk sebagai Ketua Umum Pengurus Pusat Muhammadiyah 1998-2000 dan 2000-2005, dan digelari banyak sebutan mulai dari guru bangsa, sejarawan sampai pejuang pluralisme yang memang menjadi nafas Muhammadiyah dalam menebarkan nafas Islami-nya, mungkin punya arti sebesar gelarnya. Namun bagi masyarakat lain, belum tentu begitu. Ini adalah pertanyaan pertama yang muncul di benak banyak pemirsa sebelum mengikuti gelaran kisah yang diangkat dari otobiografinya, ‘Titik-Titik Kisar di Perjalananku’ (2006-2009). Namun baiklah. Seorang Damien Dematra, yang agaknya gemar sekali ke tema-tema biopik setelah kiprahnya di ‘Obama Anak Menteng’ tempo hari, mungkin menangkap suatu spirit inspiratif dari kisah hidup Syafi’i. Usahanya mengangkat biografi yang awalnya tak begitu disetujui oleh Syafi’i akhirnya berhasil setelah melewati sederet tahapan melalui Ma’arif Institute. Tak hanya menerbitkan juga novel biografi sebagai companion ke film yang direncanakan sebagai trilogi ini, Damien juga bekerja rangkap sebagai produser, penulis naskah, sutradara, director of photography, editor sampai komposer score dan lagu-lagunya. Oh, yeah. Seperti sebaris cerita dibalik lahirnya ‘Obama Anak Menteng’, Damien memang penuh ambisi. So let’s not be too skeptical terhadap pilihan itu. Paling tidak, pesan moral yang tertuang dalam biografi itu memang sangat inspiratif. Membuka mata kita yang belum pernah tahu siapa Buya Syafi’i dengan semangat ‘anak kampung’-nya mengejar pendidikan sampai ke negeri orang, paham pluralisme Muhammadiyah dan ranah Minang tempo doeloe hingga lahir sebagai salahsatu belahan Indonesia paling damai dimana semua suku disana bisa berbaur selayaknya penduduk setempat termasuk budaya dan dialeknya. Ya, ini semangat yang sangat menarik.

Syafi’i kecil yang dipanggil Pi’i (Radith Syam), hanyalah seorang anak kampung dari keluarga Ma’rifah Rauf (Lucky Moniaga) di Nagari Sumpur Kudus, Sumatera Barat, yang bersosialisasi dengan kehidupan disana sepeninggal sang ibu, Fathiyah (Virda Anggraini) di kala ia masih bayi. Sehari-hari ia bermain bersama tiga sahabatnya dan diasuh oleh paman dan bibinya. Namun dibalik kesederhanaan itu, ada ambisinya untuk mengejar pendidikan, yang didapatnya dari sekolah rakyat sampai ke madrasah kecil dengan gurunya, Rahman (Pong Hardjatmo). Niat ini semakin besar kala keyakinan Rahman membawa Pi’i melanjutkan pendidikannya ke Lintau dan dibimbing oleh ustadz idolanya, Onga Sanusi (Mohammad Firman), pengajar Muhammadiyah yang disegani. Namun niat Pi’i untuk merantau ke tanah Jawa terbentur pada keinginan sang ayah dan sebuah peristiwa yang membuat Pi’i harus bisa memilih jalan terbaik bagi hidupnya.

Benar, kisah hidup itu memang sangat inspiratif dengan segala suka dukanya. Namun kita sudah melihat style dalam kiprah Damien di ‘Obama Anak Menteng’ tempo hari, yang kian tergelar jelas disini. Ambisi Damien, sayangnya, seperti tak sinkron dengan kemampuannya sebagai seorang storyteller di layar lebar. Kita tak bisa menampik, seperti ‘Obama Anak Menteng’ juga, ada usaha yang mungkin terlihat sangat, sangat serius dalam membangun detil-detil yang meliputi set, kostum, dialog sampai dialek-dialek yang sebagian besar bisa tampil dengan cukup baik, dalam hal ini, dialek Minang dan penggunaan bahasanya yang cukup proporsional meskipun tak seluruhnya sempurna. Pemilihan castnya pun tak perlu menggunakan aktor-aktris terkenal, meski ada Ayu Azhari disini. Damien, seperti pengakuannya, senang memberi ruang bagi bakat-bakat baru yang lebih bisa menyesuaikan diri dengan karakter yang dibangunnya dalam skenario. Dalam standarnya, wajah-wajah baru termasuk pemeran Pi’i kecil, Radith Syam, di banyak bagian juga tak bisa dibilang mengecewakan. Selain Pong Hardjatmo yang memang sudah senior, pendukung lain juga pada dasarnya tampil cukup baik. Tapi ada satu problem mendasar yang selalu merusak bangunan ambisi besar Damien dari style-nya sendiri. Bukan pada tamaknya ia mengambil alih peran rangkap, tapi selain ambisi untuk menuangkan penerjemahan yang kadang overdetail hingga terasa tak penting dan membosankan, adalah kompromisme pasar terhadap tampilnya bombastisme dan dramatisasi yang rasanya selalu kelewat dipaksakan, sama seperti ‘Obama Anak Menteng’ yang dirusak oleh fokus terlalu dominan ke peran bencong dan gaya teatrikal pemeran ayah Obama, kembali terulang dalam porsi berbeda disini. Reaksi-reaksi terhadap konflik utama yang dituangkan Damien dalam skenarionya terlihat dipoles dengan dramatisasi berlebih, salah satunya adegan kematian Fathiyah yang teatrikal sekali dengan jeritan ‘tidaaaaakk’ dari Lucky yang kelewat panjang dengan ekspresi sinetron itu. Kumis Hitler/Charlie Chaplin Pak Rahman (entah aslinya seperti itu atau tidak, Syafi’i asli lah yang tahu) memang tak sampai diekspos kelewatan disini, namun sebagai gantinya, seperempat bagian terakhir yang menggambarkan kekecewaan Pi’i bukan lagi tergelar menyentuh, tapi berlebihan dengan ekspresi yang jatuh jadi depresif seperti orang sakit jiwa lengkap dengan make-up pucat dan bibir kering yang (maunya) kelewat didramatisir. Seperti zombie. Setelah pembuka yang terlalu bertele-tele, pace yang sudah membaik di pertengahan jadi sama sekali mentah di dramatisasi over di bagian-bagian akhir ini, dan ternyata, masih berlanjut ke end credits yang menunjukkan Pi’i beranjak besar dan berjalan tak henti-henti menyusuri pantai. Sebuah bombastisme salah arah yang justru meluluh-lantakkan ambisi besar itu. Sayang sekali. Dan kembali lagi ke penting tidaknya kebesaran nama tokoh yang diangkat menjadi sebuah biopik, sambutan penonton yang sepertinya adem-ayem saja tampaknya membuat rencana trilogi itu jadi terlihat agak dipaksakan. Begitupun, mari tak mengesampingkan pesan moralnya yang edukatif dan inspiratif itu. Ada terms pendidikan yang kuat, latar belakang kultural yang informatif, hingga pesan kedamaian dibalik paham pluralisme yang dituangkan. Paling tidak, ini lebih baik daripada tendensi tak jelas dari film-film horor sampah lainnya yang sedang beredar bersamaan. (dan)

~ by danieldokter on April 26, 2011.

One Response to “SI ANAK KAMPOENG : A MISGUIDED GOOD AMBITION”

  1. […] Si Anak Kampoeng […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: