COWOK BIKIN PUSING : ALICE’S’ IN WONDERLAND

COWOK BIKIN PUSING :  ALICE’S’ IN WONDERLAND

Sutradara : Winaldha E. Melalatoa

Produksi : MVP Pictures (Rilis 2011)

Saya jadi teringat dengan topik di sebuah forum yang sering terbaca atas retweet seorang teman di twitter. “Apa Alasan Utama Kamu Menonton Film Indonesia”? Kira-kira seperti itu. Saya yakin, pada kenyataan sebenarnya, paling tidak 79-89% penonton kita masih memilih bintang dan genrenya. Nah, kalo genre juaranya ada di horor plus bumbu buka-bukaan, bintang yang dipilih pastilah yang ‘eye-friendly’ atau ‘eye-catching’. Cantik-cantik dan ganteng-ganteng, sehingga ramah bagi kesehatan mata Anda. Tapi jangan salah, ‘cantik’ dan ‘ganteng’ ini juga bukan seperti modalnya film-film Nayato, tapi lebih ke popularitas yang sudah sering muncul di berbagai media, sinetron, sampai film. Cowok Bikin Pusing, yang akhirnya dipilih sebagai judul menggantikan titel aslinya, ‘Selingkuh’ untuk merilis film yang lama tertahan (tahun produksinya 2008) ini, meski tak cukup cocok buat plotnya sendiri (mungkin lebih pas ‘Cewek-Cewek Bikin Pusing’ karena karakter cowoknya kelihatan jauh lebih pusing disini, sementara ‘Selingkuh’ sudah pernah dipakai film esek-eseknya Reynaldi dan Febby Lawrence dulu) , punya modal kuat untuk itu. Ada Julie Estelle, Laudya Chintya Bella, Marissa Nasution, Nino Fernandez dan Marcell Chandrawinata. Aming? Ah, lain masalahnya. Dia lucu. Jadi itu modal juga.

Sekarang, dengan ramainya bakat-bakat terpendam di remaja-remaja kita (kalau tak percaya, tanya saja agen-agen casting), coba tarik dua untuk berdiri menunjukkan bakat akting mereka dengan bebas. Pasti yang keluar pertama adalah konflik antar pasangan sebagai dialognya. Bukan orang gila, orang stress dan sebagainya. Karena cinta, memang adalah tema paling universal. Jadi tak salah juga kalau seorang Sekar Ayu Asmara, yang meski lebih dikenal dari penelusuran psikologis yang kuat di karya-karyanya, berdiri sebagai penulis skrip komedi romantis ini. Toh sebelum memantapkan karirnya di film, Sekar kerap menulis lirik-lirik lovesong yang bagus di era 90an, zaman-zamannya Rita Effendy. Dalam tendensi mendasarnya sebagai hiburan, rom-com juga seperti popcorn yang sering sangat dibutuhkan penonton. So there’s nothing wrong with that. Mau dangkal atau tidak, tujuannya memang cukup satu. Menghibur. Jadi lengkaplah sudah modal yang dimiliki film ini, apalagi, set yang dipilih sebagai latarnya adalah Bali dengan semua keindahannya, meski bukan fokus kesana seperti ‘The Mirror Never Lies’. Ini seperti Only You-nya Helen Hunt, Kelly Preston dan Andrew McCarthy, kalau pernah menyaksikannya di tahun 90an dulu. Forgettable rom-com dengan atmosfir set wonderland yang cukup cantik, dan barisan dua pemeran wanita yang tak sekedar ‘cantik’ namun juga punya potensi akting yang baik. Julie dan Bella juga begitu, ain’t we all agree? Bersama Marissa, they’re like Alice’s’ in Wonderland.

Cecile (Julie Estelle) yang mengelola sebuah chocolate bakery di pulau Dewata bersama sahabat setianya, Tasha (Laudya Chintya Bella) dan Justin (Aming) seketika menjadi galau saat putus dari Marco (Marcell Chandrawinata), sang tunangan karena selingkuh. Maka Tasha pun merancang rencana untuk mengacaukan hidup Marco. Sementara Dino (Nino Fernandez), seorang surfer disana, juga dirundung masalah mirip karena baru saja memergoki kekasihnya Angela (Marissa Nasution) di ranjang bersama pria bule. Dua orang yang sama-sama diselingkuhi pasangannya ini akhirnya jadi dekat, namun selain harus menghadapi masa lalu masing-masing plus Angela yang masih terus mendekati Dino, masih ada Tasha yang terlalu overprotektif dengan persahabatannya pada Cecile.

Totally cliche plot itu sebenarnya tak pernah salah. Sah-sah saja. Seribu film bisa dibuat dengan plot macam ini namun tak pernah kita bisa menuduhnya bahkan terinspirasi sekali pun, seperti lawakan menabrak pintu atau terpeleset pisang. Semua adalah hal yang sangat, sangat lazim. Namun bagaimana mengemasnya menjadi tontonan yang enak, terutama dengan cerita yang runtut, itu adalah masalah penting. ‘Cowok Bikin Pusing’ ini sebenarnya sudah memulai semuanya dengan baik sebelum menjadi tak fokus dengan banyaknya bumbu-bumbu yang ingin diselipkan namun tak tertata dengan baik, termasuk subplot Aming dan Alex Abbad sebagai pasangan gay yang dieksplor cuma buat sekedar banyolan tempelan, atau minimnya dialog yang lebih menjelaskan karakter Tasha sebagai sidekick utama yang ditempel pula sebagai konflik yang akhirnya terlihat terburu-buru diselesaikan. Chemistry terpenting antara Nino dan Julie pun tak lagi jadi fokus penting. ‘Cowok Bikin Pusing’ akhirnya lebih terlihat sebagai FTV yang melaju terus tanpa juntrungan dengan pengadeganan yang melompat kesana kemari secara tak runtut. Tapi terus terang, beberapa shot yang menyajikan keindahan Bali dan latar beberapa lokasi setnya, plus modal utama barisan pendukungnya itu memang sulit untuk dihindari. Seperti puzzle yang salah susun namun tetap terlihat cantik, kira-kira. Ya, mungkin ini juga yang membuat MVP mengundur-undur jadwal rilisnya (this supposed to be Julie Estelle’s first big screen feature), karena secara keseluruhan, ‘Cowok Bikin Pusing’ tampil seperti barisan kue coklat yang kelihatan ‘wah’ namun rasanya hambar ketika disantap. Seperti display mannequin dengan interior yang elegan namun cukup hanya untuk menyenangkan mata. Tak lebih dari itu, dan setelahnya, lewat begitu saja. (dan)

~ by danieldokter on May 7, 2011.

One Response to “COWOK BIKIN PUSING : ALICE’S’ IN WONDERLAND”

  1. […] Cowok Bikin Pusing […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: