BATAS : AIN’T NO BOUNDARIES FOR HUMAN’S GOOD WILL

BATAS

Sutradara : Rudi Soedjarwo

Produksi : Keana Production, 2011 

         Saya jadi teringat ke sebuah diskusi dengan seorang senior yang sudah sangat berpengalaman dalam industri film kita. Tentang penggunaan kamera handheld untuk menyampaikan suatu style dalam membuat film. Salah satu yang masuk ke dalam obrolan itu adalah Rudi Soedjarwo. Singkatnya,gayayang sekarang berkembang jadi trend di banyak film mulai dari luar sampai nasional, tak sepenuhnya bisa diterima oleh para senior tadi.Ada banyak alasan mulai dari kenyamanan penonton sampai kriteria teknis konvensional lainnya, walaupun argumen untuk menyukainya juga cukup banyak, mulai dari penyampaian cerita, intensitas konflik dan masih banyak lagi.

            Tapi terus terang, bukan itu yang membuat saya mengagumi Rudi sejak AADC dan sebaris film berikutnya, lepas dari beberapa film horornya yang sebenarnya juga bukan jelek. Pertama, adalah kritik sosial dan pesan moralnya. Seperti seorang Sjumandjaja, Rudi jarang sekali berpijak pada pola tipikal pandangan sosial rata-rata film kita, walaupun karakter-karakternya banyak dibangun darisana. Dimana si miskin selalu jadi korban si kaya yang selalu mengeksploitasi seenaknya, dan pembenaran-pembenaran sejenis. Sebaliknya, dalam banyak filmnya, yang selalu ditampilkan adalah borok-borok yang bersarang membatasi kemajuan mereka sendiri, dan sebagian besar adalah kenyataan yang harus dibenahi ketimbang terus menyalahkan orang lain.

          Kedua, ada koridor lain dalam karya-karyanya, yang tak pernah membuat kita jengah terhadap penggunaan bahasa buku ala filmIndonesiayang kerap terdengar tak wajar. Dalam AADC, misalnya, Rudi menyiasatinya dengan poetic felt yang dikembangkan begitu kuat dari skenarionya, dan disini, ada kewajaran yang memang bisa terdengar seperti itu ketika dua pihak dari latar belakang berbeda mencoba berinteraksi. Tak hanya di bahasa, tapi juga pada bangunan karakternya. Ketiga, ini yang paling saya suka. Di film-filmnya yang kerap melibatkan cukup banyak figuran dari karakter-karakter lapisan bawah masyarakat kita tadi, Rudi hampir selalu sukses menghandle-nya dengan sempurna. Bahkan yang hanya numpang lewat pun, istilahnya, bisa berakting dengan wajar dengan detil-detil yang terjaga. Now let’s go to the main sets.

         ‘Batas’, yang skenarionya diracik oleh seorang Slamet Rahardjo Djarot bersama Lintang Sugiarto, jauh lebih dalam lagi membahas sebuah filosofi penuh metafora yang dibangun dari sebuah kenyataan di perbatasan negara kita dengan negara tetangga, yang hampir selalu dipenuhi ribut-ribut kecil padahal masih serumpun itu. Entikong, sebuah kecamatan di Kalimantan Barat yang berbatasan langsung dengan Serawak, hanya dengan beberapa pancang pendek di tengah hutan, memang tergolong unik. Unik karena meski dijaga oleh polisi-polisi pos perbatasan, masyarakatnya hampir tak pernah perduli karena masih menganggap latar belakang serumpun, namun ini yang paling penting.Ada pandangan dan kebutuhan lain atas jarak yang begitu jauh untuk mendapatkan kebutuhan dari produk bangsa sendiri, sementara jarak dekat itu membuat aliran ekonomi dan kebutuhan tadi sering dipasok dari negara tetangga.

           Dibalik perbatasan tetangga, meski mungkin tak sepenuhnya benar, rakyat kita melihat sebuah Utopia yang jauh berbeda dengan daerah di belakangnya. Status mereka pun terhenti di sebuah daerah terpencil penuh ketertutupan termasuk dalam pendidikan, dan hampir selalu mentok di konflik kepentingan oranglain, termasuk pemerintah sendiri. So these are critics. A protest. Namun disampaikan dalam sebuah misi informatif yang sangat, sangat, jelas punya tujuan bijak tentang pendidikan anak-anak dan kemajuan masyarakat disana. Film kita jarang sekali bisa memaparkan sesuatu pengetahuan populer yang mungkin terlewatkan oleh kita, dengan kadar informasi tinggi. Dulu ada Lari Dari Blora, Laskar Pelangi, dan kalaupun ada, segelintir lainnya. Ini juga salah satunya. Sebuah usaha buat membuka mata, dan itu bagus!

         Metafora terhadap perbatasan itu dituangkan pada karakter-karakter disini. Jaleswari (Marcella Zalianty), yang diserahi tugas dari LSM  tempatnya bekerja untuk menelusuri program pendidikan yang selalu bermasalah disana. Didorong oleh sebuah masalah traumatis, ia menerima tugas itu, dan kemudian jadi terombang-ambing begitu menemukan kenyataan miris pada pola pikir masyarakat disana, terutama oleh Otig (Otig Pakis) yang kerap mengancam Adeus (Marcell Domits), sarjana keguruan yang bertugas sebagai kontak Jaleswari. Sementara kepala suku panglima Adayak (Piet Pagau;untuk kesekian kalinya jadi tetua suku pedalamanKalimantan) menyuruhnya tinggal di rumah sang istri, Nawara (Jajang C.Noer), yang tengah merawat seorang gadis korban perkosaan, Ubuh (Ardina Rasti) yang dilanda stress berat. Lantas ada pula Arif (Arifin Putra), polisi penjaga pos perbatasan yang menyimpan rasa pada Jaleswari, dan tentunya, bocah Borneo (Alifyandra), cucu Adayak-Nawara yang menyimpan keinginan besar untuk bisa bersekolah. Semua karakter ini memiliki masa lalu, keinginan dan motivasi yang tertuang dalam subplot berlapis untuk mendobrak batas dalam diri mereka. Seperti perbatasan itu sendiri, yang kadang bisa menghalangi sebuah niat baik demi penghidupan yang layak.

         Usaha untuk menyematkan banyak metafora dalam bangunan filosofi tentang sebuah ‘batas’ itu mungkin sedikit banyak membuat beberapa bagian penceritaannya menjadi blur, dan di sisi lainnya, justru berjalan kelewat lamban. Berulang-ulang demi sebuah penekanan yang informatif. Semuanya benar. Seperti review yang saya bicarakan berpanjang-panjang untuk penekanan itu, Tapi perjalanan plotnya toh memang dieksekusi secara linear dalam wilayah konvensional tanpa harus berpola puzzling ala trend yang ada sekarang. Jadi yang akhirnya tertinggal untuk mencuat ke depan memang yang paling menarik juga secara konvensional bagi penonton ; sebuah konflik antara dua kelompok yang ada.

          Begitupun, fokus yang terasa terlalu mengedepankan itu, bukan lantas merusak tendensinya untuk berbicara lantang soal pendidikan, kehidupan, pola pikir masyarakat dan borok-borok lain yang ada disana. Apapun itu, Rudi sudah mengemasnya dalam koridornya yang biasa, sekalipun dengan kamera handheld yang tak disepakati sebagian orang tadi. Malah, sinematografi garapan Edi Michael berhasil menampilkan visualisasi yang indah dibalik filosofi pahitnya. Akting para pendukung dari senior sampai debut junior juga terhandle dengan baik kecuali, err.. Ardina Rasti yang dipuji-puji banyak kritikus namun terlihat kerap tampil dengan eskpresi ‘copy paste’ di tiap kemunculannya disini.

          Dan menuju bagian-bagian akhir, ya, saya agaknya lupa menyebutkan alasan keempat diatas. Meski dengan dialog dan detil gambar yang (lagi-lagi) terasa berulang-ulang, namun dengan penempatan score yang pas (and so with the Iwan Fals’ themesong, Batas Tak Berbatas), Rudi memang handal membungkus finalenya dengan feel yang cukup menyentuh. Entahlah buat yang merasa film ini terlalu banyak kekurangannya, namun semua unsur utama yang kuat tadi, informatif plus sebuah niat baik yang sampai dengan baik pula, ini sudah cukup buat dikategorikan sebagai film bagus. Dan harusnya kita tak perlu punya batas untuk itu. (dan)

~ by danieldokter on May 23, 2011.

2 Responses to “BATAS : AIN’T NO BOUNDARIES FOR HUMAN’S GOOD WILL”

  1. bagus ga ya ceritanya ini gan??? jadi penasaran….tx rekom 3 film nya gan…

  2. […] Batas […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: