THE LOST SUMMER BLOCKBUSTERS IN INDONESIA (PART 1 ; THOR AND FAST FIVE)

THE LOST SUMMER BLOCKBUSTERS IN INDONESIA (PART 1)

Saya tak tahu orang gila mana yang awalnya mau mengakui sebagian orang-orang itu sebagai pemerintah, karena sebagian dari kita, kecuali yang memang digaji oleh uang negara, tidak pernah diperintah oleh mereka, tidak juga mengiyakan kata-kata mereka. Membayar pajak dan sebagainya? Ah, itu kan kewajiban yang diingatkan dengan surat setiap kali, tidak pernah juga dengan tanda seru seperti memerintah orang. Laporan dan semua-semuanya juga tergolong sambil lalu saja kecuali Anda punya perusahaan besar. Sekarang kebijaksanaan dari ‘such people’ itu juga bukan memerintah kok. Mereka cuma menjalankan sistem dengan caranya, salah satunya, bekerjasama dengan negara-negara tetangga untuk memajukan pariwisata mereka, apalagi tiket pesawat dengan harga super murah tersedia dimana-mana. Apa kita harus marah? Tidak juga sepertinya. Negara-negara itu memang punya segudang kelebihan untuk dijual ketimbang negara kita, kecuali kalau Bali dibuat jadi negara, itu lain ceritanya. Toh kebutuhan menonton film impor dari studio besar (MPAA) itu bukan masalah besar. Menurut mereka, pastinya. Silahkan tunggu sampai sebagian rakyat kehilangan pekerjaan, negara ini jadi juara kasus pembajakan, pariwisata ke negara tetangga jadi meningkat drastis, dan keuntungan film Indonesia, kalaupun surplus, cuma bisa dipakai buat beli kacang goreng oleh produsernya, sebelum akhirnya hanya bisa ditayangkan di layar-layar tancap kelurahan setelah bioskop sama sekali mati. Mudah-mudahan di kabinet berikutnya bakal ada Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Negeri Orang. So be it. Sejak pindah dari situs sebelah kesini, my movie blog which just had its first anniversary this month, started with summer movies tahun lalu, jadi tradisi itu harus terus berjalan. Here’s some reviews of those summer blockbusters, yang bisa disaksikan di bioskop-bioskop terdekat, di negara tetangga tapinya. Enjoy!

THOR : AND ONE MORE LEFT FOR NEXT YEAR’S DREAMTEAM!

THOR

Sutradara : Kenneth Branagh

Produksi : Paramount Pictures & Marvel Entertainment, 2011

Tak ada rencana sinematis yang lebih hebat dari usaha menggabungkan tokoh-tokoh superhero Marvel dalam The Avengers yang sudah digagas sejak lama dengan kecermatan ekstra oleh para kreatornya. Gegap gempita yang sudah dimulai sejak Iron Man tempo hari kini tinggal menunggu Captain America : First Avenger untuk kolaborasi mereka di 2012. Tapi jelas ada batu sandungan berkaitan dengan trend realisasi yang ada di produk-produk adaptasi superhero sekarang, dimana tokoh-tokoh itu harus bisa berpijak di atmosfer yang lebih nyata ketimbang hanya sekedar komikal seperti animasinya. Thor dan Captain America agaknya dua yang agak sulit untuk bisa disandingkan begitu saja dengan yang lain, karena latarnya yang sedikit berbeda. Selagi Captain America ada di timeline jauh ke belakang, Thor adalah anak dewa yang sering di-metafora-kan seolah Tuhan bagi mitologi kuno. Tapi bukan Hollywood namanya kalau tak bisa meracik ide sedemikian rupa apapun tantangannya. And so, Thor yang kita saksikan sekarang, membelokkan sedikit latar mitologinya ke peradaban makhluk yang berbeda. Ada sedikit keraguan kala seorang Kenneth Branagh, yang banyak dianggap sebagai the next Laurence Olivier dan banyak bermain di wilayah literatur klasik itu digagas sebagai sutradara Thor menggantikan draft pertama dengan Sam Raimi. But don’t be skeptical sebelum Anda menyaksikannya. Walau brewok itu sama sekali menyalahi tampilan komik aslinya, adaptasi ini tak kehilangan banyak unsur asli tadi, I’d assured you.

Bukan lagi anak dewa, Thor (Chris Hemsworth) adalah makhluk dari planet Asgard yang terusir oleh sang raja sekaligus ayahnya, Odin (Anthony Hopkins) tepat menjelang saat naik tahtanya sebagai suksesor. Pasalnya, ambisi Thor untuk mengalahkan pemberontakan kaum Frost Giants pimpinan Laufey (Colm Feore) mengacaukan segalanya. Odin yang murka atas arogansi Thor menentang kebijaksanaannya kemudian mencabut kekuatan Thor dan membuangnya ke Bumi, berikut juga martil raksasanya, Mjolnir, yang kini tak lagi berguna. Kehadiran Thor di bumi lantas tak hanya menarik perhatian ilmuwan Dr. Erik Selvig (Stellan Skaarsgard) bersama dua asistennya, Jane Foster (Natalie Portman) dan Darcy Lewis (Kat Dennings), namun juga agen-agen S.H.I.E.L.D yang sedang mengembangkan proyek manusia-manusia super dibalik tujuan mereka. Sementara, kehidupan di Asgard bukan juga menjadi aman sepeninggal Thor. Saudaranya, Loki (Tom Hiddleston) yang merasa ambisinya selama ini terhalang baru saja menguak rahasia adopsinya oleh Odin sudah merancang kudeta bersama Laufey, sekaligus menginvasi bumi untuk menghabisi Thor. Tapi pengawal setia Asgard, The Warriors Three ; Volstagg (Ray Stevenson), Fandral (Joshua Dallas) dan Hogun (Tadanobu Asano) juga tak tinggal diam menyusul ke bumi. Maka Thor yang sudah terlanjur jatuh cinta pada Jane pun harus berjuang menyelamatkan bumi sekaligus planetnya, Asgard dari kegilaan Loki.

Adalah suatu ketakjuban luarbiasa melihat Kenneth Branagh ternyata punya visi fantasi luarbiasa untuk membesut sebuah adaptasi superhero. Kepiawaiannya menggagas film-film epik ternyata bisa masuk ke wilayah yang sedikit banyak dimiliki Thor dalam komik aslinya. Sebagian dialognya mungkin tetap menyiratkan metafora relijius dalam penggambaran Asgard yang diset sebagai pengganti mitologi Nordik aslinya, namun keseluruhan gambaran Branagh adalah kerajaan planet lain dengan segala masalah dan set yang benar-benar tampil seru dan fantastis, berikut juga kisah Mjolnir-nya Thor yang muncul tak hanya sekedar lewat. Pemilihan castnya juga secara tak terduga bisa terlihat benar-benar pas hingga ke karakter-karakter sampingan yang berarti termasuk The Warriors Three yang jadi highlight action menarik sampai Stellan Skaarsgard yang bakal tampil lagi nanti, plus tentunya Natalie Portman yang menarik sekali memerankan love interest Thor tanpa harus mentok sebagai penghias tanpa otak. Dan diatas semua, tentulah gelaran efek spesial dan cameo berikut clue pada kolaborasi besar di 2012 nanti (selain Jeremy Renner sebagai Hawkeye, jangan lewatkan bonus scene di akhir kreditnya). Dan lebih lagi, masih ada dua hal yang sangat patut dicatat dari Thor. Pertama, meski rata-rata superhero Marvel punya love interest penting, meninggalkan penontonnya setelah klimaks fantastis di adegan akhir dengan felt romance sekuat ini, benar-benar terasa tak biasa, dan kedua, theme song ‘Walk’ dari Foo Fighters yang muncul paling menggebrak dibandingkan franchise-franchise saudaranya, juga luarbiasa. So we had seen that Kenneth Branagh mengerti sekali franchise aslinya secara luar dalam, dan itu yang terpenting dari sebuah adaptasi. Not only you’ll have to hug the fans, but invite more others, too. Semoga satu lagi yang tersisa sebelum kolaborasi besar itu, Captain America, akan sama dahsyatnya dengan yang satu ini. (dan)

FAST FIVE : AS ROCK AS DIESEL CAN BE

FAST FIVE / FAST & FURIOUS 5 : RIO HEIST

Sutradara : Justin Lin

Produksi : Universal Pictures, 2011

I’ll bet, tak ada yang menyangka, bahkan Neal H.Moritz dan petinggi-petinggi Universal Pictures sendiri, bahwa The Fast And The Furious yang digagas buat sebuah cult beraroma drive-in movie dulunya akan berakhir menjadi franchise besar setelah gonjang-ganjing perseteruan Paul Walker dan Vin Diesel pasca kesuksesan film pertamanya. Keputusan mereka untuk maju terus tanpa Diesel dengan pengumpulan kocek tak main-main akhirnya menyadarkan Diesel atas kekeliruannya lebih mengejar franchise lain yang ternyata tak se-berharga ini. Puncaknya, film keempat dimana Diesel pulang kampung secara penuh, Fast And Furious, semakin meledakkan spirit franchise ini untuk berjalan terus dan terus. Karakter-karakternya pun terus bersemangat untuk kembali, dengan tambahan yang tak kalah dahsyat juga. Jadi tak usah heran, saat kekuatan itu sudah melambung sedemikian tinggi, ide-ide baru untuk melanjutkannya ke tahapan berikutnya tentu muncul dengan sendirinya. Kalau perlu, dengan memutar balik timeline kesinambungannya bahkan dengan memunculkan kembali karakter lamanya secara bertahap. Sounds so soap opera? Nanti dulu. Sampai ke film kelima dengan sedikit bonus scene after end credits yang tak boleh terlewat, boleh saja Anda merasa plot demi plot itu dipaksakan, tapi kadar menariknya, tampaknya jauh lebih dari itu. Ini adalah sajian summer blockbusters yang benar-benar eksplosif dengan segala resep racikannya!

Yang namanya perampokan, dengan skill mengemudi luarbiasa yang dimiliki Brian O’Conner (Paul Walker) dan Dom Toretto (Vin Diesel) plus Mia Toretto (Jordana Brewster), jelas tak pernah cukup. Kali ini, usaha mereka membebaskan Dom yang secara tak sengaja menempatkan jagoan-jagoan ini ke jalan buntu atas kedigdayaan kingpin obat bius di Rio de Janeiro, Brazil, Hernan Reyes (Joaquim deAlmeida), terpaksa membuat mereka merancang rencana lebih lagi. Satu-satunya jalan keluar hanyalah dengan mengumpulkan dreamteam yang terdiri dari Han Seoul-Oh (Sung Kang), Roman Pearce (Tyrese Gibson), Tej Parker (Ludacris), Gisele Harabo (Gal Gadot), Tego Leo (Leo Calderon), Rico Santos (Don Omar) bahkan Vince (Matt Schulze), mantan rekan Dom yang awalnya sempat mengkhianati mereka. Tujuannya adalah mempecundangi Reyes, keluar hidup-hidup sambil mengantongi target 100 juta USD. Namun selain Reyes, ada sandungan tangguh lain yang harus mereka hadapi, agen DSS Luke Hobbs (Dwayne ‘The Rock’ Johnson) bersama petugas lokal Elena Neves (Elsa Pataky), yang mati-matian berjanji meringkus mereka sekali buat selamanya.

Masih dengan resep sama, gebrakan aksi eksplosif sejak menit awal film berguklir diikuti aksi demi aksi yang lebih lagi menuju klimaksnya, franchise ini seakan mendapat semangat dan kekuatan baru dari The Rock yang diikutsertakan sebagai lawan para jago tadi. Tampil berimbang dengan postur, tampang dan ketangguhan serba mirip, perseteruan The Rock dan Vin Diesel tampil ke depan sebagai highlight utama pengembangan Fast & Furious, dan skenario besutan Chris Morgan serta sutradara Justin Lin benar-benar tak menyia-nyiakan amunisi ini. Tak heran, Morgan sebelumnya sudah menulis franchise ketiga dan keempat Fast & Furious, mengantarkannya ke kesuksesan berlanjut hingga terlihat tahu jelas dimana harus meledakkan bagian-bagiannya. Di luar  adegan duo yang rasanya pantas meraih nominasi best fight MTV Movie Awards tahun depan ini, semua tetap berjalan di jalur biasanya. Adegan aksi yang menggelegar, chemistry yang semakin, semakin padu dari karakter-karakternya, score dan musik menghentak, pameran canggih-canggihan sekaligus hancur-hancuran mobil serta tentu saja dialog-dialog cheesy yang bukan kelihatan tolol namun justru terasa begitu padu dengan bangunan plotnya. Ini adalah racikan yang pas, tapi kalau saya dipaksa harus menyerahkan satu saja piala untuk petualangan Dom dan Paul yang kelima ini, saya akan dengan mudah menyerahkannya bagi siapapun yang memberi lampu hijau untuk mengkolaborasikan dua kepala botak temperamental dengan otot besar itu. With five times the fast and five times the furious, it’s as rockin’ as a diesel can be, and they’re both ROCKS!! (dan)

~ by danieldokter on May 27, 2011.

One Response to “THE LOST SUMMER BLOCKBUSTERS IN INDONESIA (PART 1 ; THOR AND FAST FIVE)”

  1. […] Thor […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: