KENTUT : A KNOCK-OFF SATIRE TO LAUGH AT YOURSELF

KENTUT

Sutradara : Aria Kusumadewa

Produksi : Citra Sinema, 2011

Di tengah pro dan kontra dihentikannya film impor studio besar kesini, seorang Deddy Mizwar pernah menyampaikan opininya tentang itu, dimana kita tak butuh film impor dan ada banyak film alternatif yang bisa menjadi pilihan. Sebagai salah satu tokoh senior yang banyak dijadikan patokan, mungkin Deddy terlalu bangga dengan harga diri bangsa ini. Namun kiprahnya belakangan, justru menunjukkan bahwa ia adalah salah satu sineas yang suka tampil vokal dalam karya-karya bernada sindiran terhadap carut-marut negeri ini. Okelah, mungkin Deddy tak terlibat dalam penulisan skenario ’Kentut’, begitu juga ’Bebek Belur’ dimana dirinya tampil sekelebat dalam film yang tak kalah vokal, namun kiprahnya bersama Musfar Yasin dalam ’Ketika’ dan ’(Alangkah Lucunya) Negeri Ini’ sudah menunjukkan itu. Dibalik nafas ulama yang kuat di setiap penampilannya, bagi saya ini adalah suatu kontradiksi. Bagaimana Deddy bisa menyindir dan menertawakan kehidupan (ah, saya segan juga menyebutnya begitu) bangsa ini begitu keras namun sekaligus menjunjung harga diri bangsanya sedemikian tinggi? You decide for yourself. Tapi bagi saya, kualitas keaktoran Deddy Mizwar yang luarbiasa itu jauh lebih asyik disaksikan seperti dalam iklan salah satu produk sosis kemasan, Ramadhan atau Nagabonar. Lepas, bebas, dan jauh dari kemunafikan dibalik gelar H di depan namanya.

Anyway, film berjudul singkat sekaligus kurangajar karena padanan kata yang dipilih buat ’buang angin’ yang terdengar jauh lebih sopan itu, rasanya jadi proyek yang personal sekali dari seorang Aria Kusumadewa. Ini tak seperti ’Identitas’, dan jauh dari ’Beth’ atau ’Novel Tanpa Huruf R’ yang surealis dan penuh simbol. Simbol Aria disini dituangkannya melalui satir yang kerasnya tak kepalang lewat dialog-dialog dan bangunan karakternya, dan apapun itu caranya, selalu terasa menarik menyaksikan sebuah protes yang bernada jenaka ketimbang anarkis, walau sering berarti menertawakan diri sendiri. ’Kentut’ pun hadir sebagai sebuah metafora gambaran kontradiktif terhadap kemunafikan yang seharusnya bisa disadari sebagai anugerah pemberian Tuhan, tapi nyatanya sering dipandang tabu. Kira-kira begitu.

Persaingan calon Bupati dalam pilkada di Kabupaten Kuncup Mekar sejak awal sudah berlangsung panas. Dari dua calon yang muncul ke depan, Patiwa (Keke Suryo), yang menawarkan kesejahteraan bagi pertanian secara lurus, sementara Jasmera (Deddy Mizwar), secara kontras justru ingin melegalkan judi dan pelacuran demi melawan kemunafikan. Dengan warna seragam merah mencolok dan menggaet bintang dangdut seksi Delarosa (Iis Dahlia), Jasmera berkampanye tak kalah nyeleneh. Saat Patiwa tertembak, masalah pun merebak. Pasalnya, tim sukses Patiwa yang dipimpin seorang perempuan cerdas bernama Irma (Ira Wibowo) terus berusaha agar keadaan tak sampai ditunggangi oleh Jasmera di putaran kedua karena Patiwa tak kunjung kentut setelah tindakan operasinya. Rumahsakit tempat Patiwa dirawat, dengan pimpinannya dr. Ferry (Cok Simbara) pun menjadi kacau balau saat sekelompok umat beragama dari beragam kalangan datang bersama untuk mendoakan, tapi sekaligus mengambil kesempatan dalam kesempitan. Saat semua kepentingan berubah menjadi ajang politik, hanya ada satu solusi. Kentut.

Plot simpel dalam penggambaran metafora yang luarbiasa mengena itu sebenarnya sejak awal sudah dimulai dengan sangat baik oleh Aria. Kelucuan demi kelucuan yang digelarnya dari dialog, penggambaran karakter sampai kostum-kostum yang dipilih juga terbangun cukup rapi, seolah ini jadi wadah tak berbatas tempat Aria menyampaikan unek-uneknya, kalau perlu sambil memaki keras sekali pun.Namun saat eksplorasinya berkembang lagi lebih jauh hingga ke isu-isu kesehatan, arogansi anak-anak bangsa ini, kontradiksi kaum kecil tanpa seragam dengan kaum kecil berseragam hingga borok lain termasuk ulah manusia yang mencari keuntungan atas nama agama, penyampaiannya terasa sedikit overloaded dan memblurkan metafora tadi. Untung tak sampai ada anak-anak jalanan lagi. Namun mungkin ini adalah pilihan Aria untuk tak membiarkan penontonnya memihak secara hitam putih, dimana di tengah kekacau-balauan yang tak kalah dengan negeri yang sedang dilanda perang itu, terkadang sebuah opini bisa tampil sangat beragam. Informasi medisnya mungkin hadir sedikit nyeleneh, tapi sah saja dalam tendensi sebenar-benarnya. Soal akting, ada banyak aktor senior disini yang tampil sesuai porsinya, juga para pendukung yang rata-rata tampil baik, termasuk Cok Simbara dan Hengky Tarnando yang sudah jarang-jarang kelihatan di layar lebar. Dan itu juga yang lantas mendorong eksekusi penyelesaiannya dibuat seperti itu, agar semakin menegaskan, bahwa ini adalah sebuah satir. Protes terhadap masalah yang belum tentu berabad-abad lagi bisa terselesaikan dari sebuah negara bernama Indonesia. Dan Aria tengah mengajak kita semua untuk larut di dalamnya dengan tawa. Menertawakan diri, oops, sorry, bangsa sendiri, maksudnya, di saat-saat seperti ini, itu jauh lebih bagus daripada merepet kesana-kemari tanpa arah jelas. (dan)

 

Just for a reference, here’s my local newspaper’s health article this week, that somehow has a correlation with the movie🙂

BUANG ANGIN : TAK SEREMEH YANG DIBAYANGKAN

Kalau Anda pemirsa setia film Indonesia atau selalu menonton film-film Deddy Mizwar sebagai segelintir produk film kita yang masih punya mutu, yang hadir di bioskop minggu ini tentu akan menarik perhatian karena judulnya yang singkat dan bisajadi terkesan kurang ajar. ‘Kentut’ atau buang angin, atau yang dalam bahasa medisnya disebut ‘flatus’ ini sama sekali bukan hal sepele sebagai salah satu mekanisme tubuh yang dianugerahkan pada kita. Di luar masalah etika, adat atau apapun yang sering menggolongkannya dalam tindakan tak sopan, buang angin merupakan tanda atau gejala dari gangguan lain yang lebih serius, bahkan menunjukkan suatu kondisi pascaoperatif yang sangat penting untuk kelanjutan perawatan. Sebagai proses alami yang cukup sering kita alami, seperti juga makan, minum, buang air besar atau kecil, tentu perlu juga mengetahui seluk-beluk yang ada dibalik hal ini. Jadi bukan hanya sekedar hal tabu di depan umum yang dari kebudayaan Romawi kuno dulu sudah dianggap sebagai suatu ketidaksopanan dan terkena sanksi.

Sekilas Tentang Buang Angin dan Prosesnya

Kembali sebentar ke film tadi, dimana salahsatu tokoh utamanya digambarkan tertembak dan tak juga buang angin setelah tindakan operasi dilakukan, begitulah buang angin, memang diperlukan sebagai tanda agar pasien boleh diberi minum dan makan untuk melanjutkan proses penyembuhan lukanya, karena ini berarti proses pencernaan dan pergerakan usus sudah kembali bekerja setelah sebelumnya dilumpuhkan oleh obat-obat anestesi sewaktu operasi berlangsung. Pada proses-proses fisiologisnya juga, buang angin terjadi akibat adanya perpindahan zat berupa gas dari dalam tubuh terutama usus yang dikeluarkan melalui anus.

Gas yang mengandung nitrogen, oksigen, metana, karbon dioksida, hidrogen dan sebagainya ini dikeluarkan melalui sebuah proses karena adanya kelebihan di dalam usus. Lazim terjadi ketika ingin BAB (Buang Air Besar), karena proses pencernaan yang menghasilkan gas berlebih di dalam usus. Pembentukan gas di dalam usus tadi juga bisa terjadi karena pola makan salah yang bisa menyebabkan adanya udara yang tertelan, konsumsi makanan yang mengandung gas tinggi, obat-obat tertentu, sampai adanya gangguan pada saluran pencernaan seperti lambung dan usus. Selanjutnya tubuh akan didorong untuk mengeluarkannya dengan cepat. Frekuensi normalnya sendiri belum dipatok dari tiap konsensus yang ada, namun rata-rata 15-20 kali sehari masih dianggap normal, dengan volume rata-rata 400-1600 ml per hari.

Gesekan gas yang terjadi pada saat pengeluaran tersebut terkadang bisa menimbulkan bunyi mulai dari pelan sampai kuat, dan mengapa beraroma, karena kelima komponen gas utama (hidrogen, CO2, nitrogen, metan dan oksigen) akan bereaksi dengan proses pembusukan oleh metabolisme bakteri usus, selain juga integrasinya dengan beberapa zat makanan yang kita makan sebelumnya. Terkadang bila muncul rasa tak enak, bisa jadi karena adanya tekanan gas tinggi saat produksi gas berlebih tadi volumenya terlalu besar.

Kapan Jadi Tak Normal?

Jadi buang angin merupakan proses normal atau fisiologis yang berlangsung secara alami sebagai hasil dari aktifitas organ pencernaan kita. Sementara bila frekuensinya berlangsung kelewat sering maupun tidak bisa buang angin sama sekali, ini bisa merupakan tanda atau gejala terhadap gangguan lain pada saluran pencernaan, dan bisa pula berlanjut ke problem lain akibat gas yang terus terkumpul tanpa bisa dikeluarkan dari dalam perut. Pada saat gas terkumpul terlalu banyak, akan muncul keluhan perut kembung, mulas dan berbagai keluhan lain, dan selanjutnya bisa mengakibatkan gejala penyerta lainnya. Selain itu, kemampuan tubuh untuk mengeluarkan gas berlebih tadi hanya sedikit melalui anus akan menyebabkan gas bergerak secara difusi ke dalam sistem aliran darah akibat perbedaan tekanan parsial dan bisa keluar melalui hidung, mulut, dan terkadang saat terkumpul di dalam lambung dapat mendorong organ-organ sekitarnya sehingga terasa nyeri yang menjalar sampai ke leher.

Gejala Dari Beberapa Gangguan Lain

Sebagai gejala dari gangguan lain yang lebih jauh dimana ditemukan proses buang angin yang terhambat atau terganggu, perlu diperhatikan juga kondisi sebagai berikut, antara lain terjadinya intoleransi laktosa dimana tubuh tak bisa mencerna laktosa yang terkandung dalam susu sehingga menyebabkan produksi gas menjadi berlebihan, kesalahan pemilihan makanan yang biasanya banyak mengandung serat berlebihan yang tak dapat dicerna oleh usus, jenis-jenis obat tertentu seperti antibiotik yang mematikan flora normal usus sehingga meningkatkan pertumbuhan kuman-kuman patogen, ataupun diare kronik akibat banyaknya pertumbuhan bakteri yang berlebihan di dalam usus. Gangguan-gangguan yang terjadi akibat banyaknya pembentukan gas biasanya akan dirasakan penderita yang mengeluh frekuensi buang angin mereka meningkat, dan tak jarang diikuti pula dengan gangguan lain seperti diare, muntah-muntah dan sebagainya.

Begitu pula proses dimana buang angin sama sekali tidak terjadi bisa menunjukkan adanya sumbatan yang terjadi pada organ-organ pencernaan, sementara pada proses pasca operatif yang ditunjukkan di film tadi, tergolong normal karena efek obat anestetik yang ikut melumpuhkan otot-otot saluran pencernaan salah satunya. Begitupun dalam prosedur yang benar keadaan ini jarang berlangsung lama. Bila sudah tahu penyebab gangguannya, tentu tipe-tipe buang angin yang tergolong tak normal ini bisa dihindari, dan bila perlu, mungkin ada gunanya mengkonsumsi beberapa jenis obat-obatan yang bisa mengurangi gas tersebut.  (dr. Daniel Irawan)

~ by danieldokter on June 1, 2011.

One Response to “KENTUT : A KNOCK-OFF SATIRE TO LAUGH AT YOURSELF”

  1. […] Kentut […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: