THE LOST SUMMER BLOCKBUSTERS IN INDONESIA (PART 2 ; PIRATES OF THE CARIBBEAN : ON STRANGER TIDES & PRIEST)

Saat dunia luar kini tengah menikmati gegap gempita X-Men : First Class dan bersiap ke Super 8, diikuti Green Lantern dan seabrek lagi summer blockbusters hingga Agustus nanti, not to mention the last installment of Harry Potter dan Captain America:First Avenger, kisruh soal film impor di Indonesia nampaknya belum bakal menemukan titik terangnya. Sang menkeu yang selalu bicara dengan keangkuhan di luar batas itu malah menyarankan MPAA untuk mengganti importir kalau mau mengimpor film mereka kemari. Ok, as human beings, semua boleh bicara apa saja, tapi dalam kapasitas perbandingan power factor di dunia nyata, sudah seharusnya ia berkaca dulu. The war is not yet over for summer blockbusters, and here in this country (or is it?) named Indonesia, that war might never begins. Here’s my part 2 reviews of those blockbusters. May God always brought us health and wealth to explore them in some other places that really deserve to be known as ‘countries’. Enjoy!

 

PIRATES OF THE CARIBBEAN : ON STRANGER TIDES : JACK’S BACK

Sutradara : Rob Marshall

Produksi :  Walt Disney Pictures & Jerry Bruckheimer Films, 2011

Hanya ada satu dan satu saja faktor yang membuat franchise yang diangkat dari wahana terkenal di Disneyland ini jadi berkembang begitu besar. Johnny Depp dengan peran Jack Sparrow. Bajak laut nyeleneh yang kerap terlihat pintar-pintar bodoh namun selalu punya akal melepaskan diri dari masalahnya. Padahal, jauh sebelum instalmen awal trilogi pertamanya dirilis, Depp yang mengambil inspirasi dari tampilan seorang Keith Richards yang pentolan The Rolling Stones itu sempat mendapat banyak tentangan dari petinggi-petinggi studio, termasuk Bruckheimer sendiri. They should really believed in him, secara hampir setiap karakter pilihan Depp di film-film lain selalu bertengger di barisan karakter-karakter memorable dalam sejarah perfilman. Dan tentu saja, saat sebuah trilogi sudah bisa mencetak worldwide box office sebesar 2.5 trilyun US$, akan bodoh bila mereka tak melanjutkannya lagi dengan sebuah petualangan baru. Cerita boleh berkembang, karakter-karakter baru boleh bermunculan, polesannya boleh dibesut spesial dalam teknologi 3D, tapi yang jelas satu. Jack Sparrow adalah absolute power factor. Semuanya tahu itu.

Merupakan adaptasi bebas dari novel pemenang World Fantasy Awards On Stranger Tides (1987) karya Tim Powers, dimana kebanyakan hanya part The Fountain Of Youth dan karakter Blackbeard yang jadi benang merah adaptasinya, awal trilogi baru ini mengisahkan petualangan Jack Sparrow mencari Fountain Of Youth atas perintah King George II (Richard Griffiths) yang tak mau didahului kerajaan Spanyol, sebagai imbalan buat kebebasannya bersama orang kepercayaan Jack, Gibbs (Kevin McNally). Selagi Jack dibingungkan dengan isu adanya orang misterius sebagai duplikatnya dengan tujuan sama, ia juga terpaksa bekerjasama dengan nemesis abadinya, Kapten Hector Barbossa (Geoffrey Rush) yang didapuk kerajaan memimpin ekspedisi itu. Sambil berusaha melarikan diri, Jack kemudian menemukan bahwa penirunya dalah mantan kekasih lamanya, Angelica (Penelope Cruz) yang juga putri bajaklaut legendaris Blackbeard (Ian McShane) yang penuh tipu muslihat voodoo. Jack lantas dipaksa lagi mendampingi Blackbeard menuju situs keajaiban itu, sementara Gibbs ikut bersama Barbossa, yang ternyata juga menyimpan dendam pribadi pada Blackbeard atas kehilangan kapal Black Pearl sekaligus sebelah kakinya. Ada banyak rahasia yang mereka temukan di jalan termasuk serangan berbahaya dari klan putri duyung yang juga menyimpan petunjuk untuk sampai kesana, serta hubungan rahasia dari seorang misionaris Philip Swift (Sam Claffin) dengan salah satu putri duyung bernama Syrena (Astrid Berges-Frisbey). Perburuan ini terus berlangsung penuh intrik dari orang-orang di dalamnya, dan Jack harus memutar otak untuk menemukan jalan keluar demi menyelamatkan dirinya hidup-hidup.

Instalmen awal, bagaimanapun, tetap akan terlihat jauh lebih menarik ketimbang mengikuti petualangan berikutnya. Ini seperti membaca komik-komik petualangan klasik Eropa mulai dari Tintin, Si Janggut Merah ataupun Tanguy And Laverdure, dimana feel pengenalan pertama tetap akan terasa lebih menempel dalam ingatan. But however, bukan berarti pengembangan ke ranah petualangan barunya lantas jadi kehilangan rasa. Dan Hollywood, di tengah banyaknya kegagalan mereka dalam racikan sekuel, tetap juga merupakan juara untuk hal-hal macam ini. Franchise ini memang hampir sepenuhnya hanya bergantung pada karakter Jack Sparrow, tapi sulit juga untuk memalingkan muka dari karakter-karakter baru yang tampil, juga sebagian muka lama yang masih bisa membangun chemistry-nya dalam taraf belum membosankan. Ian McShane berperan pas sebagai Blackbeard yang licik serta kejam, begitu pula karakter-karakter tempelan seperti Claffin dan Berges-Frisbey yang sedikit banyak bisa mencuri perhatian walau menurunkan intensitas adventurenya. But somehow, para pembuatnya memang sepertinya punya poin jualan ke Penelope Cruz yang didapuk sebagai pasangan Jack Sparrow yang baru disini. Oke, ini masih instalmen awal dalam trilogi barunya, dan rasanya chemistry Depp-Cruz sudah bisa terbangun tahap demi tahap dengan menarik menuju ke post credit scene yang terasa semakin erat (oh yes, please don’t get out too soon after the end credits). Biar sedikit beraroma romantisme, Jack tak sampai kehilangan style nyelenehnya juga saat dipasangkan dengan karakter Angelina yang sok tangguh. Selain tetek bengek karakter itu, mari kembali ke akar tujuannya, bahwa franchise ini pada dasarnya adalah sebuah blockbuster, yang artinya ada bujet besar untuk eksplosifitas adegan aksi bertabur efek. Disini, On Stranger Tides tetap tak kehilangan sentuhannya. Watch the mermaid assault scene yang cukup intens berikut set-set yang seperti blockbuster pada umumnya, dibangun dengan keseriusan tinggi, dengan besutan 3D yang eye-candy pula. Sebagian kritikus dan penonton boleh-boleh saja membenamnya dalam-dalam dengan protes kesana-kemari atas bangunan ini-itu yang serba tak cukup ke visual mereka, but once you’ve fallen for that power factor, in this case, Jack Sparrow, anything goes! Masih ingin bukti betapa persentase penilaian negatif itu takkan mempengaruhinya? Belum lagi masuk ke minggu ketiga masa putarnya, instalmen awal trilogi baru Jack ini sudah mengantongi kocek hampir melampaui worldwide box office film pertamanya dulu! (dan)

 

PRIEST : THE LOST AMBITION OF PAUL BETTANY

Sutradara : Scott Stewart

Produksi : Tokyo Studio & Screen Gems, 2011

Saya tak tahu pasti apakah Screen Gems sebagai anak perusahaan Sony Pictures (Columbia Pictures sejak beberapa dekade lalu), yang memegang hak distribusi Priest ke seluruh dunia masih tergolong dalam produk MPAA yang tak bakal diimpor kesini. Entah karena pihak importir merasa ragu sejak kegagalan Legion tahun lalu, tapi sepertinya memang Priest tak bakal hadir di Indonesia. Adaptasi dari manga (dalam sebutan Korea, manhwa) terkenal karya Min Woo-Hyung asal negeri Kimchi, Korea ini, melanjutkan ambisi seorang Paul Bettany bersama sutradara Scott Stewart, dua nama dibalik Legion yang serba lebay itu untuk memperbaiki nasib mereka. Dengan keberanian lebih pula untuk disandingkan bersama summer blockbuster lainnya, tanpa perduli hanya segelintir orang luar Asia yang mengenal komik aslinya, setelah berubah dari konsep awal yang seharusnya dibintangi Gerald Butler. Masih kurang yakin, mungkin, hasil akhirnya pun kembali masuk studio ulang untuk dikonversi dengan teknik 3D. Satu yang jelas, Bettany ternyata masih belum kapok dan tak juga mau berbuat sesuatu untuk bisa sedikit memperbaiki gesturnya yang kaku dalam memerankan karakter yang mutlak harus dibangun dengan koreografi yang menuntut keluwesan tinggi. Apalagi Priest bersetting apocalyptic conflict antara manusia lawan vampir. Well, Mr. Bettany, sepertinya raut dan warna wajah Anda yang pucat itu jauh lebih pas sebagai vampir ketimbang Karl Urban yang dipasang menjadi main villain disini.

Masuknya pihak Gereja (The Church) dengan serdadu rekayasa mereka yang dinamakan ‘Priests’ di era fiktif apokaliptik dimana perang antara vampir dan manusia terus berlangsung agaknya memang berhasil menghentikan perang itu. Sisa manusia yang terisolasi dan kini hidup di bawah pimpinan Gereja lantas membuat laskar pendeta jagoan itu ikut tersisih dan dilucuti. Namun ternyata kaum vampir sudah siap untuk melancarkan serangan balasan setelah tidur panjang mereka. Sasaran pertamanya adalah Lucy Pace (Lily Collins, putri Phil Collins), keponakan salah satu pendeta/Priest (Paul Bettany) yang diculik oleh pimpinan vampir baru bernama Black Hat (Karl Urban) setelah orangtuanya dibunuh. Priest yang mengetahui kejadian ini dari seorang sherif lokal, Hicks (Cam Gigandet) yang juga mantan pacar Lucy, segera meminta gereja kembali turun tangan lewat pimpinannya, Monsignor Orelas (Christopher Plummer) yang ternyata menolak mentah-mentah. Tak ada jalan lain, Priest pun terpaksa berjuang sendiri dengan bantuan Hicks, dan seorang partner lamanya, pendeta wanita jagoan, Priestess (Maggie Q) untuk menyelamatkan Lucy dari Black Hat dan laskar vampirnya, yang ternyata menyimpan rahasia terhadap masa lalu mereka.

Entah mengapa, tema apokaliptik, yang sekali waktu dulu pernah menjamur menjadi trend di film-film kelas B dan belakangan naik status menjadi cult yang dicari-cari, hampir tak pernah lagi menyuguhkan hasil yang baik serta kerap dianggap sebagai setting yang membosankan. Well, melihat kesuksesan manhwa-nya terutama di Jepang dan Korea, sulit juga menyalahkan pihak yang berniat membawanya ke layar lebar. Plotnya bisa jadi klise, tapi yang menjadi jualan utama tentu saja sepak terjang para pendeta pendekar dalam perang melawan vampir yang bisa jadi sangat seru ini. Saya tak akan menyalahkan Scott Stewart di lini pertama atas style penyutradaraannya karena kreditnya sebagai sutradara memang baru terlihat jelas dalam Legion yang kurang lebih bernuansa sama. Toh Maggie Q, Karl Urban bahkan Cam Gigandet bisa terlihat sangat layak beraksi dalam serangkaian fighting sequence yang ditangkap oleh shot-shot yang cukup baik, dan mengingat kiprah Stewart di tim efek spesial sudah terentang dari film-film besar termasuk Jurassic Park 2, Harry Potter & The Goblet Of Fire, Superman Returns, Die Hard 4, Pirates Of The Caribbean:At World’s End, Red Cliff sampai Iron Man. Jadi kesalahan terbesar agaknya tetap ada pada Paul Bettany, yang saya tak tahu darimana bisa punya ambisi sebesar ini untuk jadi seorang action hero tanpa kapasitas cukup. Bettany sebenarnya sama sekali bukan aktor yang buruk dalam soal akting, tapi sosok action hero itu tampak jauh sekali dari jangkauannya bila modal yang diunggulkannya hanya sixpack hasil fitness dadakan. Saya yakin tak ada yang salah dengan garapan koreografi, namun gerakan Bettany terlihat kelewat kaku dan lamban bahkan dalam permainan sling sekali pun, dan begitu juga dengan ekspresinya yang dingin tapi tak pernah pas. Wajahnya yang kelewat pucat juga terlihat lebih pantas menjadi vampir ketimbang jagoan, dibandingkan dengan Karl Urban yang karakternya memang tergambar mirip Van Helsing dengan topi hitam itu. Kalau mau mengalah dan berkaca sedikit, mungkin Priest bisa jauh lebih terselamatkan dari unlikely miscast yang jadi kesalahan total itu. 3D hasil konvertnya juga seperti biasa, tak terlihat spesial, namun ini sedikit lebih baik dari Legion yang unsur-unsur lainnya jauh lebih parah. Priest, paling tidak, di tangan Maggie Q, Karl Urban dan Cam Gigandet, masih bisa menghadirkan sinergisme yang baik dalam action sequencenya, termasuk satu di final lintasan kereta api yang cukup seru. Kalau saya boleh mengusulkan, sebaiknya Scott Stewart segera mengakhiri duetnya dengan Bettany bila ia tetap ngotot di proyek selanjutnya untuk meneruskan ambisi menjadi seorang action hero. Ini adalah kesalahan terbesar, dan akibatnya cukup fatal. (dan)

~ by danieldokter on June 3, 2011.

One Response to “THE LOST SUMMER BLOCKBUSTERS IN INDONESIA (PART 2 ; PIRATES OF THE CARIBBEAN : ON STRANGER TIDES & PRIEST)”

  1. […] Priest […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: