THE LOST SUMMER BLOCKBUSTERS IN INDONESIA (PART 3 ; KUNG FU PANDA 2 & RIO)

So from the first trip to watch this year’s summer movies, only two left, both animation, both distributed by Fox. (one DreamWorks and the other Blue Sky Studios). While I couldn’t catch any 3D version of Rio karena sudah tergusur Thor dan Pirates Of The Caribbean : On Stranger Tides, I watched the Imax 3D version of Kung Fu Panda 2 in the latest CGV hall in Wangsimni Bitplex Mall, Seoul. The admission price was 16.000 Korean Won. Bit expensive, but the hall is larger than any in Malaysia or Singapore, anyway. Well here’s the review, and enjoy!

 

KUNG FU PANDA 2 : DARK OF THE PO

Sutradara : Jennifer Yuh

Produksi : DreamWorks Animation & 20th Century Fox, 2011

Entah kenapa, subjudul awalnya, ‘The Kaboom Of Doom’, kemudian dihilangkan menjadi Kung Fu Panda 2 tanpa embel-embel. Ketika sebuah instalmen pertama berhasil mengukir pionir melalui resep yang pas buat tontonan penuh gegap-gempita sebuah blockbuster summer, diakui kritikus sekaligus mencetak box office dan penjualan merchandise sama raksasanya, tentu tak ada alasan untuk tak segera menggagas sebuah sekuel. Resep yang sangat berhasil memadukan fabel dengan gaya kung fu Asia dibalut komedi ala Hollywood yang dibawa Jack Black sebagai pentolan utama sang panda itu, kini tak membuat DreamWorks kehabisan akal mengeksplor plot barunya. Yang penting, ada background budaya Cina yang kental, martial arts action yang tak dibesut seserius film-film live action, dan komedi nyeleneh yang luarbiasa jenaka. Sekarang plus 3D dan tambahan pengisi suara yang jelas berlomba ingin terlibat pula. Apalagi mereka tahu senjata utamanya siap beraksi di belakang mereka. Seluruh ensembel pengisi suara yang seperti biasanya di produk-produk DreamWorks bukan nama tak dikenal, bersedia untuk kembali lagi. So let’s prepare!

Kembali ke masa jauh sebelum sepak terjang Po, adalah seekor peacock bernama Lord Shen (Gary Oldman), putra penguasa provinsi Gongmen di Cina yang berambisi menguasai seluruh negeri lewat kekuatan kembangapi. Ramalan kambing peramal, The Soothsayer (Michelle Yeoh) bahwa suatu hari Shen akan dikalahkan pendekar hitam putih, membuat Shen gusar. Instingnya langsung memerintahkan pengikutnya untuk menghabisi seluruh panda yang ada di Cina demi menghindari ramalan itu. Orangtua Shen pun marah dengan kekejaman anak mereka. Shen diusir, dan kemudian menyimpan dendam untuk kembali suatu hari nanti. Bertahun-tahun kemudian, Shen memang mewujudkan niatnya kembali bersama pasukan serigala (Danny McBride) serta gorilla guard (Michael Bell). Serangan pertama mereka ke konsil kung fu Gongmen berhasil mempecundangi dewan yang terdiri dari Master Thundering Rhino (Victor Garber), Storming Ox (Dennis Haysbert) dan Croc (Jean-Claude Van Damme). So, Po, sang Dragon Warrior yang tengah menjaga lembah kedamaian bersama The Furious Five; Tigress (Angelina Jolie), Monkey (Jackie Chan), Mantis (Seth Rogen), Viper (Lucy Liu) dan Crane (David Cross) pun ditugasi Master Shifu (Dustin Hoffman) untuk menghentikan sepak terjang Shen. Sama sekali Po tak menyadari bahwa ambisi Shen ternyata sekaligus menyimpan rahasia gelap ke asal-usul yang tak pernah bisa diingatnya selama ini. Dan ini semakin menyulitkan The Furious Five untuk menghadapi Shen yang ternyata jauh lebih tangguh dari perkiraan mereka.

Membawa kelanjutan sebuah franchise ke wilayah yang lebih kelam agaknya masih belum selesai menjadi trend di Hollywood. Darkened this and darkened that, kira-kira seperti itu. Namun itu juga berarti sebuah amunisi untuk menyelipkan luapan emosi yang dibutuhkan dalam dramatisasi plot, tak terkecuali bagi sebuah animasi. Now that Kung Fu Panda had been given that treatment, maka jangan heran, sekuel ini akan jauh lebih beremosi serta menyentuh ketimbang full ketawa-ketawa supergila di instalmen awalnya. Dan selayaknya sebuah gelaran martial arts yang penuh dengan koreografi keren, pastinya, fighting sequence berikut feel-feelnya juga akan berlangsung jelas lebih intens dari yang dibayangkan. Ditambah bantuan Charlie Kaufman yang merevisi skenario akhir dan Guillermo del Toro yang duduk di produser eksekutif, usaha itu pun kelihatan semakin berhasil. Beberapa ensembel pengisi suara yang baru juga cukup berarti kecuali Van Damme yang numpang lewat saja (bukan adegan tapi dialognya). Namun semuanya ada di tangan seorang Jennifer Yuh Nelson yang sebelumnya berkiprah di head of story artist instalmen awal serta beberapa story artist film-film lain dari Dark City sampai Madagascar, yang mampu membawa sisi gelap itu tanpa harus mengorbankan potensi Po dkk sebagai amunisi ampuh tontonan semua umur. Fighting sequence mulai dari hand to hand fight, martial combat sampai ledakan cannon yang eksplosif, semua dihadirkan dengan intensitas seolah menyaksikan cult martial arts ala Shaw Brothers yang membuat kita menahan nafas menunggu nasib tokoh utama yang terus menerus dipecundangi di bagian-bagian awal. As for children, don’t worry, you can still laugh out loud, walau tak sekeras yang pertama dan sesekali mungkin ditambah dengan mata berkaca-kaca karena beberapa scene yang menyentuh. I believe too, sempalan romance antara Po dan Tigress disini mungkin juga kalian harapkan sejak lama. But not me, really. That’s a little bit too weird! Saya tak akan menampik kalau many times while watched the movie saya merindukan kualitas adegan curi-curi makan yang sangat memorable dan membuat perut sakit di film pertamanya, dan itu tak lagi terulang disini. But however, ini tetap bagus, dan prepare for the hint di penutup film yang membuka sejuta kemungkinan ke instalmen berikutnya tanpa mengharuskan Anda terlebih dahulu menunggu end credits selesai bergulir. Let’s wait for Po’s another adventure! (dan)

 

RIO : JOIN THE PARTY!!

Sutradara : Carlos Saldanha

Produksi : Blue Sky Studios & 20th Century Fox, 2011

When you talked about Rio deJaneiro, Brazil, in terms of movies, you got only two chances. Satu, gambaran miris masyarakat kumuh pinggiran yang menenteng senjata kemana-mana, dan satunya, musical heaven. Samba, bossa nova, latin, atau subgenre lain dari jazz. Just named it. Fast Five baru saja mengkombinasikan sedikit dari musik itu ke gelaran action seru sepanjang jalanan kecil naik turunnya, dan kini, sebuah animasi 3D musikal dari pembesut Ice Age, dimana part Brazillian Jazz in the legacy of Jobim itu jauh lebih kental sekaligus menyenangkan. Ada nama Sergio Mendes yang berkolaborasi dengan musisi-musisi lokal sekaligus ensembel pengisi suaranya yang juga masih ada di koridor animasi Fox. Ada Jesse Eisenberg, Anne Hathaway, Jamie Foxx, George Lopez, Tracy Morgan, sampai Will.I.Am dan salah satu jazzer terkenal mereka, Bebel Gilberto. Sinematografinya juga spesial, karena warna-warni karakter burung eksotik itu membuat kita seolah berada di sebuah birdpark besar dengan burung yang bebas beterbangan kesana kemari. Dan satu lagi, dalam pakem dasar sebuah animasi, ini seru sekaligus lucu! So let’s fly to Rio!

Hidup sejak kecil dibawah peliharaan Linda (Leslie Mann), akibat terseat ketika hendak diseludupkan ke Minnesota, seekor burung Macaw dari spesies langka Spix, Blu (Jesse Eisenberg) sudah terbiasa bermanja-manja dengan kehidupan kota hingga tak bisa mengepakkan sayapnya untuk terbang. Ketika dewasa, Blu menjadi satu-satunya spesies jantan yang tersisa. Tawaran seorang ornitologis (ahli burung) bernama Tulio Monterio (Rodrigo Santoro) yang tak sengaja datang ke tokobuku Linda, untuk menjaga kelestarian spesies Blu pun datang. Syaratnya, Linda dan Blu harus terbang ke Rio demi menemui sang Macaw Spix betina, Jewel (Anne Hathaway). Mereka tak menyadari bahwa mereka menjadi incaran Fernando (Jake T. Austin), seorang bocah lokal yang dipaksa menculik burung demi uang oleh Kakatua putih Nigel (Jemaine Clement) yang bekerja ke Marcel (Carlos Ponce), kepala sindikat penyelundup burung langka. Blu akhirnya bertemu dengan Jewel ternyata tak bisa langsung cocok. Pasalnya, Jewel yang memiliki jiwa free spirit dan selalu ingin bebas menganggap Blu sebagai anak manja dari kota. Mereka malah diculik bersama burung kardinal Pedro (Will.I.Am) dan kenari Nico (Jamie Foxx), sebelum berhasil melarikan diri, tersesat di hutan Brazil dan bergabung bersama burung Tukan Rafael (George Lopez) dan sahabat bulldognya Luiz (Tracy Morgan). Dengan Tulio dan Linda yang terus mencari mereka, sementara Marcel dan Nigel tak juga mau kehilangan buruannya, klimaks seru pelarian burung-burung eksotis ini berlangsung di tengah-tengah gelaran Mardi Gras di sepanjang jalanan Rio! Party time!!

Dirilis dalam waktu berdekatan, dengan franchise happy meal yang juga back to back, Fox bersama Rio dan Kung Fu Panda 2 agaknya sudah memproklamirkan diri sebagai penantang Pixar dengan sekuel Cars-nya yang bakal hadir belakangan dengan sejuta modifikasi menjadi sajian animasi yang lebih global ketimbang pendahulunya yang kelewat segmental ke nostalgia North America. Dan dua-duanya juga punya nilai jual yang lebih. Namun Rio, unggul dalam bungkusan keseluruhannya yang membuat musik menjadi sebuah unsur yang tak hadir sekedar tempelan, malah sampai menenggelamkan skor aslinya yang dibesut John Powell. Disamping nuansa musikal yang sangat terasa, part adventurous yang dirancang dalam plotnya juga hadir tak kalah seru. Di saat Cars nanti menjual inovasi digital animasi 3D, sama dengan sekuel Kung Fu Panda yang mengkombinasikannya dengan martial arts dan melodrama Asia, Rio punya unsur-unsur serba sederhana yang justru kuat di racikan set menawan dan musiknya menjadi sajian animasi klasik dalam standar sebenar-benarnya. So it’s up to you, but for me, kapanpun ingin bersantai sambil menikmati Brazillian Jazz Beat yang superasyik dari Sergio Mendes dan ensemble vocals dari musisi dan pengisi suaranya, I’d go anytime, again and again, for Rio! This is party and party to the max, and let’s join it! (dan)

~ by danieldokter on June 7, 2011.

6 Responses to “THE LOST SUMMER BLOCKBUSTERS IN INDONESIA (PART 3 ; KUNG FU PANDA 2 & RIO)”

  1. Roman antara Po x Tigress? Wakakakak… oke juga. Satunya periang, satunya serius. Klop deh, beda species? Masa bodoh. Inilah kebiasaan mengenal manga Jepang dimana tidak ada definisi ‘normal’ di dalamnya. *shot*

  2. :hammer: it’s too weird! tiger and a fat panda? hahahahaha…. but klop, it’s right🙂. chemistrynya bagus kok🙂

  3. […] Rio […]

  4. […] OR MUPPET”  from The Muppets – Bret McKenzie “REAL IN RIO” from Rio – Sergio Mendes, Carlinhos Brown and Siedah […]

  5. berapa lama waktu yang dibutuhin untuk membuat film Rio?

  6. if i’m not mistaken, dulu pernah baca proses produksinya dimulai sekitar akhir 2009. so its about 1.5 years. wajar buat film animasi digital kaya gini. jauh lebih susah dari live action movies.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: