PIRATE BROTHERS : GOOD FIGHT, BAD PROMO

PIRATE BROTHERS : GOOD FIGHT, BAD PROMO

Sutradara : Asun Mawardi

Produksi : Creative Motion Pictures, 2011

Dibanding negara lain, bahkan Singapura dan Malaysia sekalipun, perfilman Indonesia adalah perfilman yang kurang menghargai dedikasi para pendukung serta krunya. Tak heran guliran end credits-nya hanya memerlukan 1-2 menit saja tanpa mengikutsertakan semua nama yang terlibat dalam produksinya. Penghematan? Ah, entahlah dengan petugas transportasi, pemegang kunci sampai catering, tapi kala cast nya saja tak pernah dipublikasikan dengan lengkap, apa sedikitpun pernah terbayang di benak produsernya betapa si pemeran penting yang walaupun bukan ensembel utama tadi jadi tak kunjung dikenal orang lain? Sementara, mungkin, paras cantik yang tampil tanpa peran penting malah sibuk diwawancara media. Well, this is Indonesia. Whether you like it or not. Dimana sebuah penghargaan bisa jadi hal yang sangat berharga karena jarang-jarang kita dapatkan.

And so, di produksi ketiganya, Creative Motion Pictures yang digagas seorang Asun Mawardi, sineas jebolan New York Film Academy, US, had made their marks at last. Dari film ini, namanya mulai banyak dibicarakan. Padahal sebelumnya, siapa sih yang pernah mendengar ‘Black Magic’? Film horor bercitarasa (maunya) internasional yang hadir di masa-masa awal kebangkitan film Indonesia dan sekarang VCD nya susah didapat, serta ‘Untukmu’, highschool love drama yang dibintangi Okan Kornelius – Asty Ananta yang juga hanya numpang lewat itu? Begitupun, saya tetap mengatakan ada yang salah dengan divisi marketing mereka. Selain poster yang dirancang seadanya saja, kalau tak mau menyebutnya asal-asalan, promosinya juga sama seperti ‘Black Magic’ dan ‘Untukmu’, yang notabene bukan film sampah. Tapi promosi itu teramat sangat minim, untuk ukuran ambisi, dan mungkin, hasil yang cukup layak ini.

Krunya yang lintas bangsa juga tak main-main. Di skenario, ada Matthew Ryan Fischer yang menulis ‘King Of Fighters’ tahun lalu. Meski hasil secara filmisnya parah, kelasnya harus diakui, internasional. Di departemen musik, ada Nathan Wang, juga komposer internasional yang pernah bekerja di film-film Jackie Chan seperti ‘Rumble In The Bronx’, ‘First Strike’ dan ‘Who Am I’. Lagi? Di Director of Photography, ada nama Ardy Lam yang dari Hongkong (Once Upon A Time In China V, Supercop 2) lantas hijrah ke sinema Singapura (Just Follow Law, I Not Stupid, dll). And above all, bintang utamanya adalah bintang impor bertaraf internasional, aktor kelahiran HK Robin Shou yang memulai karir dari film-film action HK sebelum go international. Satu dari perannya yang paling diingat, jelas sebagai Liu Kang dalam dua film ‘Mortal Kombat’. Robin disini disandingkan dengan I Made Verdy Bhawanta, bakat lokal dari Bali yang sudah terkenal kepiawaiannya dalam bidang seni bela diri capoeira dan parkour, serta Marcio Fernando Da Silva, model ibukota asal Brazil yang sudah sering muncul di iklan dan majalah, dan juga punya kemampuan sport choreography. Semua tak sekedar pasang nama, tapi didasari potensi.  Sayang sekali, dengan segala potensi dibalik niat dan ambisi itu, Pirate Brothers tak mendapat treatment promosi yang bahkan tak sampai setengahnya dari ‘Merantau’ yang kini dikenal sebagai pionir film aksi Indonesia ke negara-negara luar. Coba saja googling segala informasinya. Minim. Too bad, Mr Asun. Too bad. You better start hiring some good publicists for your upcoming movie. Now let’s go to the premise.

Verdy, anak yatim piatu yang hidup di sebuah panti asuhan tanpa ingat latar belakang keluarganya, berikrar menjadi saudara dengan Sunny, penghuni tempat itu juga, yang selalu menjaganya. Sunny memang menyimpan sebuah trauma dari kehidupan keras yang merenggut kakak angkatnya di tangan sekelompok gang tato di daerah pelabuhan tempat ia hidup dulu. Namun dua saudara angkat ini terpaksa berpisah ketika sebuah keluarga kaya datang untuk mengadopsi Sunny. Dengan tegas Sunny menolak dan merekomendasikan Verdy agar hidup lebih layak, di luar sepengetahuan Verdy. 20 tahun kemudian, Verdy dewasa (IMD Verdy Bhawanta) yang sudah mewarisi perusahaan orangtua angkatnya, masih terus mencari keberadaan Sunny. Liburannya bersama sang kekasih , Melanie (Karina Nadila) di sebuah kapal pesiar mendadak dirusak oleh sekelompok perompak/bajak laut yang menyandera Melanie. Disinilah Verdy bertemu lagi dengan Sunny (Robin Shou) yang ternyata salah satu dari perompak itu. Sunny ternyata tetap berusaha melindungi Verdy, namun Verdy juga tak lantas begitu saja mempercayainya demi menyelamatkan Melanie hidup-hidup. Sejumlah rahasia pun terkuak. Dari masa lalu dan jati diri mereka, sampai rahasia perusahaan orangtua angkat yang selama ini sudah dianggap Verdy sebagai bagian dari hidupnya sendiri.

Yes, Pirate Brothers, pada dasarnya memang adalah sebuah sajian penuh aksi yang tak menempatkan plot dan tetek-bengek filmis lain sebagai poin jualannya. Jadi tak perlu terlalu meributkan plot klise yang sudah muncul di ribuan film sejenis meskipun sedikit adegan pembuka yang berpanjang-panjang namun set jadulnya tergarap cukup baik itu dibesut dengan penekanan penting untuk pengenalan karakternya. Begitu pula dengan dialog yang penuh bahasa buku, yang diucapkan dengan intonasi dan ekspresi yang kaku oleh para pemerannya. Like other translated script, itu biasa di film dan tata bahasa kita yang gap slang/bahasa sehari-harinya terlalu jauh dengan bahasa resminya. Meski kerap terasa lumayan mengganggu, tapi dalam pakem film action agaknya bisa lebih dimaklumi, dan skor Nathan Wang yang sama klisenya ala melodrama Asia beruntung bisa sedikit membangun emosi yang tak tercapai dengan kekakuan akting tadi. But wait. When it comes to fighting sequence, dengan koreografi dan shot serta angle kamera yang bisa menangkap kecantikan gerakannya dengan cukup handal, meski belum serapi Merantau, Pirate Brothers sama sekali tak tampil kaku. Adegan baku hantam ini secara frekuentif justru tampil jauh lebih padat, nyaris tanpa jeda, intensitasnya meningkat meski koreografi sama kerap diulang-ulang, dan begitu pula dengan chemistry Robin dan Verdy. Semakin meningkat ke bagian-bagian akhir. Figuran-figuran pelengkap penderitanya juga layak mendapat pujian dengan reaksi yang cukup realistis, tak dibuat-buat dan mengaduh-aduh dulu seperti film aksi kacrut kita pada umumnya. As for Karina Nadila yang kecantikan parasnya diekspos cukup luarbiasa, harus dimengerti cuma berakhir sebagai pajangan yang tak bakal jadi terlalu penting seperti perannya dalam plot keseluruhan, dan Marcel yang hanya perlu memasang tampang bajingannya, kecuali tentunya, ia juga cukup handal dalam adegan aksi.

Hanya ada satu part yang paling dan paling mengganggu. Saya tak tahu apakah pria paruh baya yang saya tak mendapatkan informasi tentang namanya namun sering juga muncul di beberapa film sebagai peran sampingan, yang berperan sebagai mitra bisnis biang kerok kerusuhan disini, punya hubungan apa dengan Asun sampai bisa-bisanya terpilih. Tapi ia tampil dengan akting begitu memuakkan bak sebuah sinetron, tanpa konsistensi jelas, lengkap dengan ekspresi otot muka yang digerakkan secara maksimal, dan intonasi dialog yang sama teatrikalnya. Semua kekurangan tadi pupus seketika dengan kemunculannya yang menawarkan kekurangan secara jauh lebih fatal. But however, sajian aksi yang tergarap dengan baik tadi tetap merupakan petulangan sinematis yang baru dalam sinema kita, and let’s all cheer for that. Itu sudah cukup bagi Pirate Brothers untuk mendapat apresiasi lebih, andai saja Asun bisa sedikit lebih berjuang menghargai sepak terjang seluruh pendukung dan krunya yang tak sekedar main-main, dengan promosi yang sedikit lebih layak. (dan)

~ by danieldokter on June 8, 2011.

3 Responses to “PIRATE BROTHERS : GOOD FIGHT, BAD PROMO”

  1. […] Pirate Brothers […]

  2. download filmnya dimana sih ??
    dh capek cari situsnya gg ktemu” ni film

  3. ya ga bakal ketemu. its not coming on dvd yet. tp yg ini sangat layak ditonton di bioskop kok.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: