SERDADU KUMBANG : OVERLOADED IDEAS & NARROW CONCLUSION

SERDADU KUMBANG

Sutradara : Ari Sihasale

Produksi : Alenia Pictures, 2011

UN adalah sebuah kesalahan sistem, kita semua tahu itu. Tapi menciptakan suatu standar, juga adalah hal yang tak kalah penting. Time is the answer, maybe. Terhadap ambisi terburu-buru untuk mengejar sebuah standar. Lah, kok bicara tentang UN? Oh yeah. Karena ini juga adalah sebuah ambisi. Ambisi yang penuh dengan niat baik, niat edukatif, pengenalan budaya, dan overall, sebuah cerita dengan pengharapan. Pencapaian yang juga dulu berhasil dibangun Alenia Pictures lewat film indah yang berjudul Denias : Senandung Di Balik Awan, serta, ya, Tanah Air Beta, yang meski tak sebesar Denias tapi masih cukup informatif dan setia di koridornya. Pendidikan formal dengan UN yang jadi momok bagi banyak orang itu, ternyata mengambil porsi kelewat besar untuk memberangus cerita uplifting metafora mimpi seorang anak dengan kecacatan bibir sumbing dari Sumbawa dalam sebentuk kumbang, yang seharusnya, saya percaya, bisa tampil jauh lebih baik dari ini. Dan tak hanya UN, ide dasar itu juga nyatanya semakin diperkeruh dengan banyaknya isu-isu lain yang disempalkan, mulai dari pilihan atas pendidikan formal vs non-formal, kekerasan di sekolah, mitos-mitos mistis hingga problema TKI negara tetangga. Bukan cuma pemikiran utama itu yang jadi blur, namun begitu juga isu budaya setempat yang seharusnya bisa memperkaya khazanah tentang belahan lain Indonesia yang selama ini luput dari perhatian kita. Dan oh, tentang beberapa press release yang menyebutkan ini adalah kisah dari tiga anak sumbawa mengejar mimpi mereka, selayaknya Laskar Pelangi yang berhasil membagi porsi dengan jauh lebih baik? Lupakan. Dua anak lainnya cuma tampil sebagai polesan untuk berkonyol-konyol. Yes, it is indeed, Overloaded.

Di Desa Mantar, di puncak bukit pedalaman Sumbawa yang masih jauh dari jangkauan kemajuan pembangunan, Amek (Yudi Miftahudin) hidup bersama kakanya, Minun (Monica Sayangbati) dan ibunya, Siti (Titi Sjuman) yang hidup dari berjualan jajanan kecil-kecilan. Sang ayah, Zakaria (Asrul Dahlan) sudah tiga tahun merantau, mengaku sebagai TKI di negeri tetangga, hanya dengan kabar sepucuk surat. Amek yang bersekolah di SDN 08 berlawanan dengan kakaknya yang selalu menjadi juara kelas di SMP yang sama. Kekurangannya dari bibir sumbing yang dimilikinya sejak lahir membuat Amek jadi sedikit introvert namun nakal, sama seperti teman dekatnya, Acan (Fachri Azhari) dan Umbe (Aji Santosa). Guru-gurunya pun beragam. Selagi Bu Imbok (Ririn Ekawati) dan Pak Openg (Leroy Osmani) menerapkan kelembutan, Pak Alim (Lukman Sardi) selalu menempa mereka dengan disiplin kaku dan keras, namun didukung oleh Kepala Sekolah, Pak Jabuk (Dorman Borisman). Setiap mimpi akan cita-cita anak-anak ini digantungkan mereka dalam botol di sebuah pohon yang mereka namakan pohon cita-cita. Di luar sekolah, mereka belajar mengaji di musholla pada sesepuh desa, Papin (Putu Wijaya) yang juga kakek Umbe. Konflik berkembang kala kenakalan Amek dkk mengintip rok Ibu Rukiah (Melly Zamri). Hukuman Alim dan Jabuk yang dianggap Imbok terlalu keras membuatnya mengundurkan diri dan mulai mengajar anak-anak ini berikut penduduk desa yang belum pernah bersekolah bersama Papin yang juga tak setuju dengan kekerasan itu. Zakaria yang pulang dengan sejuta dongeng pun mewarnai konflik itu, hingga memupuskan mimpi Amek yang ingin mengikuti pacuan kuda atas dorongan Papin. Semua konflik ini mencapai puncaknya ketika murid-murid SMP termasuk Minun tak lulus UN, padahal sebagian penduduk desa sudah berusaha dengan cara mereka masing-masing demi kelulusan anaknya. Ya, saya tahu, meski sudah dipersingkat dalam sinopsis pendek pun Anda-Anda yang membacanya sudah bisa merasa bangunan plotnya serba tak fokus.

Itu juga yang terjadi dalam penerjemahannya sebagai sebuah karya bernama film yang dibesut dengan ambisi besar dibalik sebuah niat baik untuk persembahan yang bisa terasa edukatif di semua sisinya. Saya tak menampik bahwa semua, termasuk Jeremias Nyangoen, yang lebih dikenal lewat perannya dalam adaptasi kisah Sumanto tempo hari, sebenarnya sudah berusaha menyampaikan kombinasi itu dengan keras. Akting para pendukungnya pun tak main-main termasuk bakat-bakat baru yang sebagian asli dari daerah settingnya tadi. Paduan aktor senior mulai dari Lukman Sardi, Dorman Borisman, Leroy Osmani, Titi Syuman, Asrul Dahlan sampai Putu Wijaya, dengan aktor-aktor juniornya memang menyuguhkan kita sebuah chemistry yang penuh sinergi. Begitu juga score yang digagas pasangan Aksan dan Titi Sjuman dengan nuansa orchestra yang menyayat sekaligus megah, plus themesong dari Ipang yang meski diulang-ulang tapi cukup catchy. Namun semua ini masih belum bisa menutupi tumpang tindih naskahnya yang overloaded itu, dimana beberapa karakter yang harusnya bisa jadi penting pun seringkali lewat percuma. Apalagi, penggambaran konfliknya penuh dengan hal-hal klise. Mulai dari anak kampung yang selalu kehilangan sosok ayah, gambaran manusia perantau yang tak pernah lurus, sampai, lagi-lagi, masalah intip-mengintip di sebuah film anak yang seharusnya tampil penuh pesan dan uplifting. Edukasi seksual mungkin bukan sesuatu yang perlu ditutup-tutupi, namun dalam pakem film kita, visualisasinya kerap jadi salah kaprah dan sama sekali tak mendidik, namun hampir selalu muncul di benak penulis-penulis kita sebagai bumbu yang tak perlu.

Di satu sisi mungkin kita bisa menangkap keinginan Ari Sihasale bersama timnya secara begitu bersemangat sampai meninggalkan kisah utama tentang mimpi Amek berikut juga metafora Kumbang yang akhirnya hanya tampil di awal dan akhir sebagai pelengkap, untuk memberikan pandangan pada suatu isu tanpa sebuah judgment. Tapi gelarannya yang tampil kelewat hitam putih malah membuat kesan pendidikan formal dengan UN itu adalah sebuah momok menakutkan yang bisa menghancurkan siapa saja. Yang menyeruak ke depan justru bentuk persetujuan absolut pada pendidikan non formal yang justru kenyataannya membuat otak bangsa kita dipenuhi mitos-mitos tak benar dari such people called sesepuh, pak haji, atau apapun, di kampung kecil yang juga mengaku tak pernah kenal bangku sekolah. Dialognya pun jelas memperdengarkan itu. Oh, c’mon. Pendidikan formal bukanlah hanya untuk tujuan sebuah gelar, namun kita semua perlu itu, di luar sistem kacau balau yang ada di banyak belahan dunia, bahkan negara maju sekali pun. Toh beberapa adegan termasuk sejarah Waterloo sudah menunjukkan dimana batas perbedaan dua sistem pendidikan tadi, termasuk juga anggapan musyrik yang membunuh impian manusia-manusia belia ini tapi ditampik Imbok dan Papin. Anda mungkin berusaha untuk memberi jalan tengah, namun pesan yang sampai justru bukan menengahinya secara bijak dan justru membenarkan secara picik satu yang tak juga sepenuhnya benar. Dan apa boleh buat, ketika penyelesaian konflik seabrek itu akhirnya dikembalikan ke koridor yang benar tentang Amek dan pacuan kuda, kelulusan UN serta operasi bibir sumbingnya untuk sebuah cita-cita menjadi presenter, sebuah tragedi yang membekas justru membuatnya semakin terasa digampang-gampangkan dengan durasi seadanya. Seperti paragraf, film juga seharusnya memiliki pikiran utama yang mengharuskan bangunan plotnya setia mengarah kesana. Apalagi dalam gambaran realis yang mengikutsertakan informasi dan pengenalan budaya. This is not the right one, dan dengan niat baik yang ada tadi, kesimpulannya adalah ’sayang sekali’. (dan)

~ by danieldokter on June 16, 2011.

One Response to “SERDADU KUMBANG : OVERLOADED IDEAS & NARROW CONCLUSION”

  1. […] Serdadu Kumbang […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: