BEASTLY VS RED RIDING HOOD : THE MAKEOVER OF CLASSIC FAIRYTALES

BEASTLY

Sutradara : Daniel Barnz

Produksi : CBS Films, 2011

RED RIDING HOOD

Sutradara : Catherine Hardwicke

Produksi : Appian Way & Warner Bros, 2011

Ini sedang jadi trend di Hollywood. Retelling atau makeover dari classic fairytale yang dibesut dengan atmosfer modern (baca : chick flick). Beastly dan Red Riding Hood yang menjadi jalan pembuka, walaupun sebelumnya sudah ada retelling-retelling lain namun ini bernuansa spesial chick flick murni ala Twilight, masing-masing bersumber dari Beauty And The Beast dan Little Red Riding Hood, dua-duanya folk fairytales dari Perancis. Kalau Red Riding Hood merupakan racikan bebas dari dongeng aslinya, Beastly adalah adaptasi dari novel best seller versi modern dari Alex Flinn. But the recipes are very much the same. Paras tampan, wajah cantik, plot dan dialog yang unyu-unyu, dan soundtrack emo yang sangat youngsters. Next, bakal ada Snow White dan Hansel And Gretel, yang kabarnya masing-masing bakal memasang Julia Roberts dan Famke Jannsen di susunan castnya. And ow, Sleeping Beauty Emily Browning, film erotis yang baru saja menghebohkan Cannes tak termasuk salah satunya. Now let’s take a deeper look.

Dalam Beastly, The Beast hadir dalam sosok Kyle Kingston (I Am Number Four’s Alex Pettyfer ; no, Kingston bukan merk flashdisk yang tak juga jadi sponsor disini). Siswa SMU yang punya segalanya. Tampang, kekayaan, popularitas, kecuali satu. Perhatian dari sang ayah, Rob (Peter Krause) yang terlalu sibuk dengan karir news anchor-nya. Sikap Kyle yang sedikit banyak tak berbeda dengan Rob, akhirnya membuat seorang siswi misterius, Kendra Hilferty (Mary-Kate Olsen) panas dan berniat memberi Kyle pelajaran.  Oh ya, seperti penampilannya yang menyeramkan, Kendra memang seorang penyihir. Kyle ditenung menjadi orang aneh berkepala plontos penuh tato kontemporer tapi timbul seperti penderita varises. Rahasia untuk melepaskan kutukan itu, Kyle harus menemukan cinta sejati sampai musim semi berikutnya. Kyle yang terkejut setengah mati pun segera diisolasikan ayahnya ke sebuah private condo bersama pelayannya, Zola (Lisa Gay Hamilton), yang selama ini kerap disepelekannya, dan seorang guru privat yang buta dan tak kalah aneh, Will Fratalli (Neil Patrick Harris). Kyle sebenarnya mengharap ayahnya bisa memberi perhatian lebih atas tragedi ini, namun Rob tetap saja tak perduli. And then comes the beauty. Seorang Lindy Taylor (Vanessa Hudgens), rekan sekolah yang sempat menarik perhatian Kyle namun ditampiknya karena merasa malu. Sebuah kejadian kemudian membuat keduanya terisolasi bersama, dan ‘abracadabra!’, Kyle mulai menemukan jalan melepas kutukan tadi dengan Lindy yang juga mulai menyukai perubahan hatinya.

Jika set Beastly berpindah ke pemandangan kota dengan gedung-gedung tinggi, Red Riding Hood tetap menyajikan set kuno yang bernuansa fairytale, namun feelnya, sama modern. Catherine Hardwicke yang sukses memperkenalkan adaptasi awal layar lebar Twilight, bersama Leonardo DiCaprio yang duduk di kursi produser mau tak mau memberikan ekspektasi yang tinggi terhadap film ini. Valerie (Amanda Seyfried) yang hidup di pedesaan Daggerhorn yang bertahun-tahun dilanda ketakutan atas teror serbuan srigala, berhubungan dekat dengan teman masa kecilnya, Peter (Shiloh Fernandez). Namun hubungan ini terpaksa kandas saat kakak Valerie, Lucie (Alexandria Malliot) menjadi korban keganasan srigala. Atas permintaan ayah dan ibunya, Cesaire (Billy Burke) dan Suzette (Virginia Madsen),Valerie harus bertanggung jawab menggantikan Lucie menikahi Henry (Max Irons), putra bangsawan terpandang disana. Sebuah peristiwa saat penduduk desa itu memburu sang srigala membuka rahasia hubungan lama ibunya dengan ayah Henry pada Valerie, dan membuatnya semakin tak punya pilihan lain. Father Solomon (Gary Oldman), witch hunter yang akhirnya dipanggil untuk memburu srigala itu semakin memperkeruh suasana dengan mencurigai sosok asli srigala jadi-jadian adalah satu diantara mereka. Valerie yang terombang-ambing dengan berbagai clue yang membawanya pada sebuah kecurigaan bahwa neneknya (Julie Christie) atau Peter sendiri adalah sang srigala pun harus menghadapi kenyataan yang bakal menentukan pilihan takdirnya.

Oke. dua makeover dengan semangat chick flick yang tinggi menjulang tanpa kira-kira ini mau tak mau membuat penonton pria atau dewasa berada di tempat berseberangan dengan penonton belia dengan banyak cercaan dan caci maki bahkan tanpa melihat hasilnya. Let’s be a little fairer, bahwa sebuah chick flick, bahkan Twilight sekali pun, tak selamanya seburuk itu (oh, but New Moon, is another case, really). Mau tampil se-unyu apapun, dalam koridor film sebagai hiburan, Beastly sebenarnya tak terlalu salah. Mereka memang mengarahkannya pada sebuah chick flick, and we’ve definitely got one. Tak ada yang salah dengan chemistrynya, dan visual-visualnya juga tampil menarik disamping keanehan visual tampang Kyle yang penuh tato tak kalah aneh itu. However, daripada dibuat klise jadi monster berbulu, ya, bolehlah. Sah-sah saja. Visual pergantian musimnya hadir dengan cantik bersama alunan soundtrack emo yang terus terang, sangat catchy itu. Karakter Neil Patrick Harris juga bisa jadi highlight tersendiri. So you might hate Beastly kalau merasa anti dengan film yang unyu-unyu, tapi dalam bentuk aslinya sebagai sebuah tontonan yang berada di genre chick flick, Beastly sudah menembak tepat ke sasarannya. Sangat tepat, malah.

What about Red Riding Hood? Good news first. Setnya cukup bagus, dan peran sentral yang dipegang Amanda Seyfried bersama wajah-wajah baru Shiloh Fernandez dan Max Irons, yang tak kalah rupawan, bisa tampil cukup menonjol diantara bintang-bintang senior yang hadir, termasuk Gary Oldman dan dua aktris cantik dari generasi dekade back to back, Julie Christie dan Virginia Madsen. Kesan modern dibalik set yang dipilih dalam inovasi makeover-nya juga terbangun dengan cukup menarik bersama sempalan plot ‘Whodunit’ dalam pencarian jatidiri sang srigala yang ditwistkan kesana kemari bak film-film Agatha Christie. The bad news, entahlah bila hubungan gelap, anak haram, atau perjodohan paksa ala Siti Nurbaya yang sudah jadi resep kuno di film-film kita masih dianggap inovatif di Hollywood sana, tapi ini membuat konflik yang disempalkan ke tengah-tengah dongeng klasiknya jadi terasa seperti novel-novel ala Mira W. atau Marga T. Dalam porsi cukup besar sebagai bangunan utama subkonflik di luar srigala-srigala-an tadi, ini cukup membuat Red Riding Hood jadi tontonan yang sedikit menyebalkan, at least, bagi penonton Asia yang sudah sering dijejali tema-tema sejenis. Dan sama seperti Beastly, sedikit twist (if you consider that’s a twist) di endingnya boleh dibilang lumayan menarik. Again, atmosfer chick flick yang sangat terasa tadi, boleh saja membuat sebagian dari kita tak bisa menyukainya, namun sadari kenyataannya. Ini adalah trend, dan suka atau tidak, kita masih bakal berurusan dengan sebaris film se-tipe ke depan nanti. Fairytale makeovers, as they called them. Saya mungkin lebih menyukai Beastly dengan visualnya, tapi tontonan, bagaimanapun, adalah soal selera. (dan)

~ by danieldokter on June 21, 2011.

One Response to “BEASTLY VS RED RIDING HOOD : THE MAKEOVER OF CLASSIC FAIRYTALES”

  1. […] Beastly […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: