BLITZ : A COPKILLER THRILLER AT ITS MOST CLASSIC TONE

BLITZ

Sutradara : Elliott Lester

Produksi : Lionsgate UK, 2011

If you’ve ever lived in the 70s/ early 80s, dimana pakem-pakem film aksi bertema polisi masih belum beranjak ke sajian hip penuh gegap gempita ala Lethal Weapon atau Die Hard dan mulai meninggalkan pola lamanya tinggal satu-dua, Anda pasti tak bakal menggerutu dengan aksi Statham yang cukup minim di Blitz. Ini memang bukan produk Hollywood dengan feel eksplosif sebagaimana film-film Statham biasanya, tak pula butuh twist pintar di sana-sini untuk membangun plotnya. Blitz lebih merujuk ke pakem konservatif di era itu, salah satunya, film-filmnya seorang Abel Ferrara, dengan penggambaran karakter yang tipikal. Dimana polisi-polisi cuma punya dua kemungkinan, bergaya perlente dengan jas panjang dan kemeja bodyfit bak Alain Delon di film-film kriminal Eropa, atau sosok liar slenge’an yang mengenakan jaket kulit dan jeans kemana-mana. Dan sebuah kombinasi akan selalu jadi hal yang bagus untuk membangun konflik partner-partener-annya. Lawannya? Oh, cukup satu, ini adalah psikopat maniak sekelas serial killer yang bertindak sejauh mana ia bisa. Berkostum hoodie, dan suka telanjang. Setnya juga penuh dengan lingkungan kotor. Hangout di bar-bar temaram, obat bius, pelacur, dan polisi korup dan pesakitan-pesakitan lain. Linear, bisa jadi. Tapi bukan juga berarti kehilangan intensitasnya. Ketimbang pukulan dan tendangan-tendangan keras, sebuah pakem kejar-kejaran antara karakter jagoan versus bajingan lebih menyeruak ke depan. So jangan harapkan Transporter atau Crank yang serba nyeleneh di balik tampilan serunya. Ini adalah gambaran klasik copkiller thriller yang diracik sebagaimana tampilan aslinya. Sama-sama seru, tapi dalam jalur yang berbeda.

Dibalik sosok seorang Barry Weiss (Aidan Gillen) yang penuh dengan rekor kejahatan kecil, pembunuh ini menamakan dirinya Blitz, dengan target sebarisan perwira polisi yang diincarnya dengan kecermatan tinggi. Melalui publisitas yang dibangunnya lewat wartawan kriminal Dunlop (David Morrissey), Blitz pun memulai aksi ini, namun di sisi yang berseberangan, polisi liar Tom Brant (Jason Statham) juga siap buat menghentikannya, walau harus berpasangan bersama partner sekaligus atasannya yang perlente, Porter Nash (Paddy Considine). Apalagi Brant sudah lama menyimpan kekesalan terhadap Dunlop yang kerap mempublikasikan kekerasannya menangani kasus. Identitas Blitz mulai terbuka saat rencananya menyerang Elizabeth Falls (Zawe Ashton), polwan penuh masalah yang tengah bernegosiasi dengan Craig Stokes (Luke Evans), rekan Brant, untuk melenyapkan sebuah bukti kejahatan. Pasalnya, Brant yang dekat dengan Falls sudah mencium adanya riwayat masa lalu pribadinya dengan Blitz. Sekarang, dengan atau tanpa izin Nash, bukti atau tanpa bukti, Brant hanya punya satu tujuan. Meringkus Blitz alias Barry untuk selamanya.

Blitz yang diangkat dari novel kriminal berjudul sama karya Ken Bruen, yang harusnya berupa satu dari beberapa serial petualangan duet Sersan detektif Tom Brant dan Chief Inspector James Roberts, dalam adaptasi ini sedikit dibelokkan ke paduan karakter berbeda. Tak lagi dengan Roberts yang disini ikut tergambar bukan sebagai karakter utama, Brant berduet dengan detektif Porter Nash yang metroseksual dan kerap dituding seorang gay. Pembelokan yang digagas Nathan Parker sebagai penulis skripnya menjadi buddy movie dalam atmosfer crime thriller Eropa yang kental, sedikit banyaknya juga mengacu pada pakem film-film bertema polisi era 70-80 itu, namun harus diakui berhasil menciptakan kombinasi karakter yang unik dan terasa kembali fresh di era sekarang. Paddy Considine, aktor Inggris yang lebih dikenal dalam deretan peran antagonisnya justru menjadi highlight yang sangat kuat dalam mengimbangi keberingasan Statham dalam role tipikalnya. Ini kira-kira mirip sekali dengan salah satu cop thriller cult-nya Abel Ferrara, ‘Fear City’, yang dulu memasang Tom Berenger dan Jack Scalia dengan chemistry yang juga nyaris sama. Di luar duet utama itu, adalah Aidan Gillen, juga aktor Inggris yang punya cap tipikal antagonis di beberapa produk Hollywood yang well-known (Shanghai Knights dan 12 Rounds-nya John Cena barusan), yang sangat berhasil memerankan bajingan dengan tingkah memuakkan. Selebihnya, meski Luke Evans yang sebentar lagi bakal tampil di Three Musketeers baru, bisa sedikit mencuri layar bersama Zawe Ashton yang juga bermain bagus sebagai Falls, tampaknya mentok sebagai pernak-pernik tak penting. Kredit Elliott Roberts sebagai sutradara mungkin belum banyak, malah mungkin sama sekali belum dikenal, namun visinya membawa kembali nuansa euro crime thriller kuno ke industri modern sekarang agaknya patut mendapat catatan penting, apalagi trio jualan utama yang terpampang gede di barisan cast poster promosinya bisa membangun chemistry mereka dengan bagus. Intensitas thrilling-nya juga terjaga rapi. Tapi apa boleh buat, lari dari kebutuhan trend yang masih marak juga butuh perjuangan lebih. Blitz mungkin bisa mendapat resepsi yang baik di negara asalnya sebagai produksi pertama Lionsgate UK, termasuk di Asia dimana nama Statham selalu dibandrol sebagai action hero pemikat penonton. Belum lagi buat penggemar euro crime thriller yang banyak berstatus cult, yang pasti akan mengapresiasinya lebih . Namun di AS, ia harus puas sebagai sajian straight to video bersama film-film aksi kelas B, tanpa satupun kesempatan lebih dari itu. (dan)

~ by danieldokter on June 28, 2011.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: