TRUE LOVE : KACAU-BALAUNYA SEBUAH FILM

TRUE LOVE

Sutradara : Dedi Setiadi

Produksi : Moestions/Yayasan Universitas Dr. Moestopo, 2011

Ah, lagi-lagi generation gap. Belum lama Satu Jam Saja  menunjukkan kalau formula 80an itu tak bisa relevan lagi buat film sekarang, muncul pula True Love yang sejatinya diangkat dari novel Mira W., novelis yang begitu populer menghiasi adaptasi novel ke film kita di era itu, berjudul Cinta Sepanjang Amazon. Ini adalah novel ke-75 Mira, yang bukan produk tahun 80an. Tapi pakemnya masih bergerak disitu-situ saja. Dibalik banyaknya titel-titel best seller yang dicapainya, konfliknya ya begitu-begitu saja. Dua orang pacaran, lantas timbul masalah. Entah dilarang orangtua atau hal lain, mereka tetap memaksa. Masalah lagi. Si perempuan biasanya diperkosa, entah oleh orang atau si kekasih yang ternyata tak sebaik yang digambarkan di awal. Oh, ya, hubungan ini selalu membuat hamil. Lahirlah anak. Lalu muncul keributan besar. Kemudian hampir selalu ada sosok laki-laki lain yang tampil sebagai pahlawan. Si perempuan pun terlempar ke dalam dilema antara menerima yang baru atau kembali karena masih mencintai yang lama. Cerita terbelit-belit lagi ala soap opera entah sampai kemana, tapi tetap ada jalan keluar. Kalau mentok, matikan satunya. Maka berakhirlah semua dengan bahagia.

Plot seperti ini, terus terang, bisa menarik di zaman dulu. Tapi sekarang, percayalah. Yang ada justru rasa hambar, mau sebaik apapun novel itu mengembangkan plotnya. Tapi secara filmis biasanya ada daya tarik lain di lokasi. Seperti banyak novel-novelnya termasuk Arini yang berset luar negeri, seperti itu juga film ini. Lokasi Amazon dan Australia kemudian dipindahkan ke Raja Ampat, lokasi pariwisata yang tengah populer-populernya itu, serta Swedia. Maka judul pun jadi berganti. True Love, untuk menggambarkan proses panjang yang berakhir menyatukan kembali dua tokohnya.

Let’s take a look at the director. Dedi Setiadi ini adalah sineas senior yang dulu terkenal sekali dengan serial Siti Nurbaya, Jendela Rumah Kita, dan banyak lagi. Sekarang pun ia masih produktif di sinetron-sinetron produksi Deddy Mizwar. Jelas bukan sutradara kacangan, paling tidak untuk ukuran 80an dulu. Tapi lagi-lagi, generation gap. Sineas-sineas ini mungkin masih terus ingin mempertahankangayamereka yang dulu, sementara zaman terus berubah. Sesekali, ada tampak usaha untuk sedikit bermain-main dengan inovasi baru ala sekarang. Tapi kenyataannya, ya begitulah. Di saat paparan sumber aslinya sudah terdengar seperti itu, sutradara juga membawanya ke ruang lingkup yang sama, plus skenario Viva Westi yang (saya tak tahu bentuk aslinya) nyatanya semakin memperparah keseluruhannya, ada satu yang membuat saya masih bingung sampai sekarang. Kenapa barisan cast yang, oh, terus terang, menjanjikan itu (kecuali Mario Lawalata), bisa-bisanya berusaha menampilkan akting mereka yang terbaik memasuki karakter-karakter tolol yang ada di plotnya? Don’t blame me. Tapi film ini, memang keterlaluan. Benar-benar keterlaluan.

So inilah gelaran cerita itu. Vania (Fanny Fabriana) adalah seorang anak haram. Ya, anak haram. Tipikal karakter film-film kita dulu. Ia tak pernah kenal ayahnya, dan ibunya pun meninggal ketika ia masih belia. Berusaha mandiri, Vania survive menjadi sarjana dengan beasiswa dan mengurus warnet miliknya sendiri. Then enter Aries (Mario Lawalata), putra keluarga kaya yang tak pernah kekurangan. Tanpa bekerja, ia hidup senang, dengan selalu didampingi Guntur (Edo Borne) yang seolah pelayan pribadinya. Keduanya jatuh cinta, dan berniat menikah. Dalam film-film kita, ini selalu jadi masalah. Orang kaya, tidak akan pernah diizinkan dengan orang miskin. Maka murkalah sang ayah. Aries dibuang dari keluarga, dengan Guntur yang tetap ia bawa. Mereka pun menikah, pindah ke rumah kontrakan Vania. Sudah bisa dipastikan, perbedaan keduanya membuat masalah klise, masih ala film kita, muncul. Dalam sebuah keributan akhirnya Guntur tak sengaja (ya, tak sengaja) memperkosa Vania. Vania pun hamil, sementara keributan yang sudah memuncak membuat Aries bertekad menceraikannya begitu si anak lahir. Apalagi Guntur langsung meninggal oleh ulah sekelompok preman setelah kasus itu tanpa sempat menjelaskan apa-apa. Vania yang tetap menyimpan rahasia ini lantas kabur begitu tahu Aries tetap ingin merebut anaknya yang baru lahir. Ia lari ke Swedia, mengganti namanya, bertemu dengan seorang pria paruh baya bernama Rudy (Alex Komang) yang mau menerima keberadaannya. Lantas, Rudy ternyata menderita kanker hati stadium lanjut. Ia pulang ke Indonesia untuk menuntut pembagian sahamnya, namun ternyata pemilik saham adalah ipar Aries. Aries yang jadi tahu keberadaan Vania kemudian menyusul ke Swedia. Dan cerita masih belum berakhir disini.

Saya tak tahu lagi mau meletakkan kesalahan utama film yang sudah terlalu banyak salahnya ini, namun yang jelas, di luar klise-klise plot tadi, ini yang pertama. Entah novel dan skenarionya, tapi karakter Aries yang dibawakan Mario Lawalata, yang dari salah satu wawancara Dedi disebutnya sebagai aktor pekerja keras, malah tampil tak jelas. Entah maunya temperamental, tapi yang kita saksikan adalah sosok sakit jiwa ’stadium lanjut’ yang semenit bisa berteriak-teriak tak tentu arah, semenit kemudian bisa lembut luarbiasa. Kemauan yang digambarkan pun sama. Sebentar niat buat bercerai, sebentar lagi melawan orangtuanya untuk kembali pada Vania. Selama durasi lebih sedikit dari dua jam, ketidakjelasan karakter itu terus muncul. Walau terlihat pantas menjadi penghuni kerangkeng, saya percaya, disamping akting Mario yang payah dan cuma mengandalkan teriakan, karakter asli baik di novel dan skenarionya pun tak mungkin bisa merebut simpati siapapun yang menonton atau membacanya.

Kedua, saya tak tahu kemana arahnya storytelling berbelit itu dihadirkan Dedi ke kita. Lagi-lagi, entah di skenarionya memang begitu, tapi yang kita saksikan disini adalah plot yang melompat-lompat tak karuan. Kadang bisa melompat beberapa jam, beberapa minggu bahkan beberapa tahun tanpa adanya kesinambungan. Satu adegan (entah maunya teaser atau puzzling model trend sekarang) bisa tampil beberapa menit tanpa kejelasan sebagai flashback, kemudian adegan lain yang tak nyambung langsung menimpalinya. Percayalah, Anda bisa menyusunnya dengan baik, tapi ini bukan cara yang benar. Seperti penderita ’flight of ideas’ yang tiba-tiba bisa melayang kesana kemari dengan cerita yang keluar dari mulutnya.

Ketiga, entah apa tujuannya produser dari salah satu universitas terkenal di ibukota itu mengeluarkan dana hingga ke Papua dan ke Swedia, tapi set luar negeri itu sama sekali tak mendukung ceritanya. Set yang tak juga tertangkap dengan kecantikan sinematis ini hanya hadir seolah background yang disempal-sempal dengan karakter-karakter tak jelasnya yang sedang berseliweran tak tentu arah. Malah, sempat pula disempalkan adegan Aries berwisata ke Raja Ampat di tengah kegalauannya kemudian menyaksikan suku setempat menari dan membayangkan Vania ada di tengah mereka.

Keempat, tak ada satupun feel yang bisa sampai ke penontonnya, yang justru tertawa di tengah-tengah adegan yang harusnya tampil sedih atau menyentuh, seakan ikut merasakan penggarapannya yang serba tak masuk akal itu. Ketika penyampaian seperti ini muncul dengan persepsi yang salah ke penonton, maka seharusnya sebagai sineas, mereka tahu, usahanya gagal total.

Dan ini yang terakhir, yang bukan merupakan kesalahan sinematis yang meliputi filmnya, tapi ada pada aktor-aktris berbakat seperti Fanny Fabriana atau Edo Borne, yang sepertinya mati-matian mencoba menampilkan akting bagus untuk masuk ke karakter-karakter gila itu. Sementara Happy Salma, seperti biasa. Cengangas-cengenges ala sinetron, dalam karakter antagonis yang paling gampang diterjemahkan aktris-aktris kita kebanyakan. Saya lebih memilih Alex Komang yang justru kali ini adem ayem saja memerankan Rudy seakan tanpa rasa dan emosi sama sekali. Meski gap 80-an dengan sekarang itu tetap terasa sedikit tak sinkron, mungkin ia sudah tahu hasilnya akan jadi berantakan sehingga tak berusaha perduli, dan ini agaknya patut dinilai sebagai suatu kewarasan.

Oke, Dedi boleh saja mengumbar kata bahwa ini adalah usaha untuk tak menempatkan film kita ke tema yang itu-itu saja (baca:horor dan seks), tapi terus terang, sebuah film paling kacrut sekalipun yang jelas tujuannya untuk jualan akan terlihat lebih baik ketimbang ambisi gagal total macam ini. Sekali lagi, tak perlu berpikir jauh-jauh. Ketika Anda menggambarkan adegan dengan feel yang dimaksud tapi ditangkap dengan reaksi berlawanan oleh penonton, hanya ada satu dan satu saja kemungkinan. Anda sudah gagal total. (dan)

~ by danieldokter on July 14, 2011.

6 Responses to “TRUE LOVE : KACAU-BALAUNYA SEBUAH FILM”

  1. […] True Love […]

  2. […] TRUE LOVE  […]

  3. ini adalah tulisan mengenai kritik film yang paling tidak beradab yang saya baca sepanjang karir saya dan sangat tendensius! sangat pasti yang nulis tidak pernah punya prestasi apapun.kecuali maki2 di ruang diskusi kepada orang yang tidak disukainya.seperti pembunuh bayaran yang disuruh membunuh tanpa tujuan selain hanya jadi babu majikannya…….mungkin saya membuat salah? tapi saya merasa lega karena penulis ibu Mira W. merasa nyaman dengan tafsir saya dalam film ini.sangat yakin sang kritikus tidak pernah baca novel2nya ibu Mira W dan tidak tahu juga bahwa audience yang menjadi sasaran film ini adalah penggemarnya .yang menyukai genre dan cara bertutur seperti novel dan film2 yang dulu.
    saya hanya harus setia dan berimajinasi sesuati tuntutan cerita dalam skenario tersebut…finally,terkesan sekali gaya menulis dengan tehnik “jurus mabuk” ini.bacanya sambil korek kuping.

    • Film ny keren kog. Sifat mario lawalata alami natural dengan sifat beberapa orang yg ada saat ini walaupun tidak mayoritas. Bisa disebut kenapa ia berbicara kasar pada fania padahal dia tak ingin meninggalkan fania karna aries ingin fania merasakan sedikit resiko dengan apa yg dy perbuat dan lakukan sehingga fania bisa belajar dan ada efek jera. Aries ingin memaafkan fania di detik terakhir sebenarnya setelah menolak keinginan ortu ny dan lebih memilih fania, ia ingin melihat kesungguhan permintaan maaf fania pada detik terakhir barulah memaafkan ny tetapi ternyata fania sudah kabur duluan dari rs dan indonesia ke luar negri.

      Karakter fania karakter yg lugu soal kehidupan karna itu dy gk bisa memberi tau apa yg terjadi sebenar ny. Ia takut akan lebih dihina ketika aries tau yg sebenar ny. Padahal jika saja dia memberi tau yg sebenar ny aries mngkin akan simpatik dan dengan besar hati menerima walaupun dengan makian diawal ny karna nafsu ingin memberikan pelajaran n pemahaman yg keras terhadap fania.

      Aries hanya seseorang yg keras kepala yg bersifan sedikit kekanakan dan ingin diperhatikan lebih oleh pasangan ny. Walau perkataan ny kasar ketika marah tapi ia tidak memakai kekasaran secara fisik. Ia hanya ingin fania mengerti dan lebih menghargai ny sebagai pasangan.

      Ketika fania bertanya haruskah ia sujud dan mencium kaki agar di maafkan. Aries pun hanya diam lalu fania yg tak kunjung mendapat jawaban pergi meninggalkn aries sendirian. Seharus nya fania tidak perlu bertanya soal itu tetapi langsung bersujud minta maaf dan menunjukan rasa penyesalan yg mendalam. Karena aries jg menunggu kesungguhan hati fania tanpa harus disuruh terlebih dahulu.

      Pada akhirnya perkelahian diantara aries dan fania itu terjadi karna mereka sangat mencintai secara berlebihan satu sama lain lebih dari rasa cinta pasangan lainnya.

  4. Film ny keren kog. Sifat mario lawalata alami natural dengan sifat beberapa orang yg ada saat ini walaupun tidak mayoritas. Bisa disebut kenapa ia berbicara kasar pada fania padahal dia tak ingin meninggalkan fania karna aries ingin fania merasakan sedikit resiko dengan apa yg dy perbuat dan lakukan sehingga fania bisa belajar dan ada efek jera. Aries ingin memaafkan fania di detik terakhir sebenarnya setelah menolak keinginan ortu ny dan lebih memilih fania, ia ingin melihat kesungguhan permintaan maaf fania pada detik terakhir barulah memaafkan ny tetapi ternyata fania sudah kabur duluan dari rs dan indonesia ke luar negri.

    Karakter fania karakter yg lugu soal kehidupan karna itu dy gk bisa memberi tau apa yg terjadi sebenar ny. Ia takut akan lebih dihina ketika aries tau yg sebenar ny. Padahal jika saja dia memberi tau yg sebenar ny aries mngkin akan simpatik dan dengan besar hati menerima walaupun dengan makian diawal ny karna nafsu ingin memberikan pelajaran n pemahaman yg keras terhadap fania.

    Aries hanya seseorang yg keras kepala yg bersifan sedikit kekanakan dan ingin diperhatikan lebih oleh pasangan ny. Walau perkataan ny kasar ketika marah tapi ia tidak memakai kekasaran secara fisik. Ia hanya ingin fania mengerti dan lebih menghargai ny sebagai pasangan.

    Ketika fania bertanya haruskah ia sujud dan mencium kaki agar di maafkan. Aries pun hanya diam lalu fania yg tak kunjung mendapat jawaban pergi meninggalkn aries sendirian. Seharus nya fania tidak perlu bertanya soal itu tetapi langsung bersujud minta maaf dan menunjukan rasa penyesalan yg mendalam. Karena aries jg menunggu kesungguhan hati fania tanpa harus disuruh terlebih dahulu.

    Pada akhirnya perkelahian diantara aries dan fania itu terjadi karna mereka sangat mencintai secara berlebihan satu sama lain lebih dari rasa cinta pasangan lainnya.

  5. Demi neptunus ini yang nulis pasti hobby nya nonton power rangers, makanya komentar begini. Saya aja sudah baca novel cinta sepanjang amazon, dari jendela SMP, merpati tak pernah ingkar janji, disini cinta pertama kali bersemi, perempuan kedua, permainan bulan desember, dan masih banyak karya Dr Mira W lain nya yang sudah saya baca, dan sampai sekarang saya masih suka baca dan saya mencari karya-karya Dr Mira W lainnya. Dan berhubung saya di tahun 2011 masih SMP dan tidak di izinkan masuk bioskop jafi saya kelewatan film karya pak Dedi, jujur saja sudah 3 tahun terakhir ini saya masih mencari film nya. Karena film nya bagussss. Ngk kaya film power ranger kesukaan loe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: