LARRY CROWNE : THE ART OF INFORMAL REMARKS

LARRY CROWNE

Sutradara : Tom Hanks

Produksi : Universal Pictures, 2011

Kualitas keaktoran Tom Hanks dan Julia Roberts, ah, semuanya sudah tahu. They’re not just stars. They’re megastars, dengan deretan film-film yang banyak bertengger di kategori klasik. Tapi menyatukan dua bintang dengan kualitas itu, juga bukan hal mudah. Pertemuan keduanya dalam ‘Charlie Wilson’s War’ tempo hari sudah membuktikannya. Film itu bagus, namun selain plot yang juga tak terlalu banyak menginteraksikan keduanya ke dalam dayatarik sentralnya dari sebuah semibiografi, dua nama ini justru terkesan saling menenggelamkan kebesarannya masing-masing. Hanks memang lebih dikenal sebagai pasangan abadi Meg Ryan dengan kesuksesan ‘Sleepless In Seatlle’ diikuti ‘You’ve Got Mail’, sementara Roberts ke Richard Gere dengan booming maha dahsyat dari ‘Pretty Woman’, yang tak diikuti sama dengan ‘Runaway Bride’ di tengah gonjang-ganjing kehidupan personalnya waktu itu. So seharusnya, duet kedua orang ini sudah digagas sejak dulu, di masa mereka sedang tengah bersinar-bersinarnya. However, faktor usia yang mungkin membuat Hanks dan Roberts bisa terlihat lebih bisa menemukan perpaduan yang pas seperti yang kita saksikan dalam Larry Crowne.

Oh no, ini bukan rom-com bombastis yang diharapkan banyak orang sebagai pengikut judul-judul klasik tadi. Tak juga se-pop trailernya yang sangat menarik perhatian itu. Larry Crowne yang merupakan kolaborasi Hanks dengan Nia Vardalos, penulis yang jadi bintang dadakan lewat ‘My Big Fat Greek Wedding’, juga sebuah rom-com berkualitas Oscar, lebih memilih gambaran down-to-earth nya untuk menyampaikan romantisme canggung yang diterpa usia dan masalah-masalah middle age dan middle class people di atmosfernya. Dialog dan konfliknya tampak gampang-gampang saja, tapi punya kedalaman yang penuh makna menyentil setiap masalah yang dihadirkan. Dan tampilan serba canggung seperti yang ada dalam plotnya, membuat chemistry Hanks dan Roberts, sesuai usia mereka, justru tampil sangat bersinar. A hilarious one!

Hidup penuh kebanggaan sejak karirnya di Navy sebagai koki dan sekarang pegawai supermarket sukses, langsung membuat Larry Crowne (Tom Hanks) kelimpungan kala dipecat dengan hanya satu alasan dibalik rencana penipisan tenaga kerja. Bahwa ia tak punya gelar pendidikan formal dibanding tenaga-tenaga muda lain yang lebih tak berpengalaman. Impian yang sebenarnya sudah lama pupus sejak bercerai dengan istrinya tanpa seorang anak pun membuat Crowne semakin stress. Sebagai pembuktian diri atas dorongan tetangganya, Lamar (Cedric The Entertainer), Crowne lantas mendaftar ke community college untuk memperoleh gelar edukatif. Ia memilih kelas ekonomi dan satunya, bernama ‘Speech 217’ yang memperdalam komunikasi sosial yang mereka sebut sebagai ‘The Art of Informal Remarks’ bersama sekelompok anak muda penuh masalah komunikasi. Sang guru, Mercedes Tainot (Julia Roberts) yang serba sinis, ternyata juga punya masalah pribadi dalam rumahtangganya. Dengan kehidupan baru yang mengharuskannya beradaptasi dengan sebuah skuter di komunitas muda, Crowne mulai membangun kembali mimpinya satu-persatu. Mengejar gelar, dan kalau perlu, bahkan dengan memenangkan hati Mercedes sekaligus.

Sebuah rom-com, itu benar. Namun sekedar rom-com, itu salah. Larry Crowne menyelam lebih dalam dari sekedar hura-hura reuni keduanya dibalik tampilan Hanks yang kembali menunjukkan sisi komediannya walaupun jauh lebih halus. Atmosfer yang dibangunnya dengan terjun langsung sebagai sutradara juga sejalan dengan plot yang mengusung banyak sentilan terhadap isu-isu sosial masyarakat kelas menengah di negaranya, mulai dari sistem pendidikan, ekonomi hingga gap antar generasi bahkan pencarian jatidiri yang berbeda dari tiap lapisan usia.

Gaya Nia Vardalos yang setelah ‘My Big Fat Greek Wedding’ terlihat seolah sineas yang tak mampu menyingkirkan one hit wondernya, juga kembali dengan sangat kuat lewat dialog yang sekilas terasa simpel, namun penuh makna. Apalagi istilah ‘The Art of Informal Remarks’ dengan nilai edukatif ke masalah komunikasi yang digelar. Ini sekaligus ampuh sekali menjelaskan tahap demi tahap bangunan rom-com sebagai unsur utama yang memadukan chemistry Hanks dan Roberts dari kecanggungan yang sangat relevan ke plotnya. It might looks bitterly awkward, but hilariously relevant at once. Oke, penonton boleh saja lebih menyukai tampilan serba hangat yang terbangun dari chemistry-chemistry pendukungnya, termasuk kecantikan aktris yang lebih sering tampil di serial teve, Gugu Mbatha- Raw sebagai Talia bersama the underrated Wilmer Valderrama yang sangat mencuri perhatian, skuter-skuter antik, theme song lawas ‘Calling America’nya ELO,  atau bagi fans film-film blaxploitation, kembalinya salah seorang ikon bomseksnya dulu, Pam Grier. Sebagian lagi, bisa jadi menganggapnya menjemukan karena terlihat terlalu ‘American-segmented’ dengan isu-isu sosialnya atau mengetengahkan lovestory dengan konflik yang lebih dewasa ketimbang hip-hip hura. Itu juga mungkin yang membuat resepsinya sangat beragam di banyak review yang ada. But overall, ini adalah sebuah rom-com dengan penyampaian dalam tapi tetap terasa asyik jika mau diselami lebih. Sebagian dari kita mungkin benar, hanya melihat Hanks dan Roberts, but if you’re a mid 40s with relationship issues, trust me, Larry Crowne might be a standing applause! (dan)

~ by danieldokter on July 20, 2011.

One Response to “LARRY CROWNE : THE ART OF INFORMAL REMARKS”

  1. […] Larry Crowne […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: