THE BEAVER : STRANGE PHILOSOPHY, WEIRD MOVIE

THE BEAVER

Sutradara : Jodie Foster

Produksi : Summit Entertainment & Icon Productions, 2011

Bersamaan dengan Larry Crowne yang menggabungkan dua bintang besar, Tom Hanks dan Julia Roberts dengan sebuah reuni, The Beaver membawa Mel Gibson kembali dengan Jodie Foster. Juga sebuah reuni setelah kesuksesan Maverick di tahun 1994 dulu. Tapi ini bukan film pop. Hadir dari visi Foster yang duduk di kursi sutradara atas skenario besutan Kyle Killen, arahnya sudah bisa ditebak. Dalam karirnya sebagai sutradara, Foster memang luarbiasa pemilih, seolah sineas yang pantang berurusan dengan nada komersial. ‘Little Man Tate’ (1991) jelas bukan film pop. ‘Home For The Holidays’ (1995) yang sekilas tampak sebagai holiday movie penuh bintang juga tak seringan film-film holiday lainnya. Dalam The Beaver, eksplorasi Foster memang tak segila plot dan karakternya, but yes. Everything in it adalah sebuah premis dengan filosofi aneh yang susah untuk ditelusuri kemana arah tujuannya.

Walter Black (Gibson), CEO sebuah perusahaan mainan terkenal mendadak dilanda depresi panjang yang meluluhlantakkan semua kehidupannya. Tak hanya bisnis yang jadi kacau, dirinya juga didepak dari keluarganya; sang istri, Meredith Black (Foster), putranya Porter yang tengah beranjak remaja (Anton Yelchin) serta bocah kecil Henry (Riley Thomas Black). Puncaknya, ketika Walter ingin mengakhiri hidupnya, sebuah boneka tangan berbentuk berang-berang yang ditemukannya di tempat sampah justru mengembalikan semua semangatnya secara perlahan. Boneka yang lantas menggantikan aktifitas tangan kiri dan jadi juru bicaranya itu memang membuat Walter terlihat seperti orang gila. Bisnisnya kembali menanjak, Meredith mencoba kembali menerimanya, bahkan Henry jadi begitu sayang pada Walter. Hanya Porter, yang sedang dilanda masalah hubungannya dengan bintang cheerleader Norah (Jennifer Lawrence) yang tetap menjaga jarak. Namun bukannya bertambah baik, kegilaan Walter malah semakin memuncak dan memupuskan semua harapan orang-orang terdekatnya.

Sebagian kritikus luar melayangkan kritikan mereka atas premis yang sulit dipercaya. Namun rasanya bukan disitu intinya. Plot yang mengetengahkan sosok depresif yang tengah mencari jalan untuk bisa keluar dari masalahnya sah-sah saja, tapi skenario Killen dan penerjemahan Foster benar-benar membuat pemirsanya mengalami depresi yang hampir sama dengan karakter utamanya. Ditambah semua karakter pendukung punya masalah serius dengan trauma psikologis secara cukup mendetil yang digelar Foster, plus jalan buntu berbalut filosofi-filosofi yang terasa sama anehnya, lengkaplah sudah penderitaan itu.

Mel Gibson bermain sangat baik dalam menggerakkan boneka tangan dengan gerakan mulut yang benar-benar terlihat pas bersama logat asli negara asalnya, Australia. Tapi ekspresinya memerankan Walter yang dilanda stress berat, tetap menunjukkan Gibson biasanya. Ia memang lebih mirip Harrison Ford atau Tommy Lee Jones ketimbang Robert DeNiro. Tak bisa jadi bunglon dalam perwatakan yang berbeda. Di film apapun, gestur depresif cenderung gila-nya selalu tak bisa lepas dari salah satu karakter paling memorable dalam karirnya, Martin Riggs dalam ‘Lethal Weapon’. Entah memang Gibson cepat sekali berkerut-kerut atau anti botox, tapi bahkan kerutan yang makin banyak itu tetap tak bisa membedakan ekspresinya. Jodie Foster sendiri, seperti biasa, tampil dengan sangat meyakinkan. Bitterly touching dengan ekspresi gerakan rahang kokohnya yang terlihat sangat mantap, bersama dua bintang muda Anton Yelchin dan Jennifer Lawrence yang semakin menunjukkan karakter akting mereka yang sedang naik daun. Bintang cilik Riley Thomas Stewart pun tak kalah menarik melengkapi feel yang membuat penonton bisa tersenyum kecut di tengah penderitaan karakter-karakternya.

Tapi memang ini adalah sebuah filosofi aneh yang sama aneh dengan filmnya keseluruhan. Entah Killen memang ingin menunjukkan self-demonic dalam diri manusia yang sedang dilanda depresi berat dengan metafora berang-berang yang tak juga jelas, tapi yang tampil jelas justru gambaran psikologis yang kenyataanya memang sering membuat penderitanya melarikan masalah mereka ke jurang kegilaan yang lebih dalam lagi. It’s like they’re pushing us over and over sampai ke batas kewarasan yang membuat kita tak perduli lagi apa yang ada dibalik absurditas yang jadi makin gila menuju penyelesaian yang dipilih karakter-karakternya. Ini adalah film yang aneh, dan memang, sangat-sangat aneh. (dan)

~ by danieldokter on July 22, 2011.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: