SOMETHING BORROWED : UNEXPECTED MISFITS

SOMETHING BORROWED

Sutradara : Luke Greenfield

Produksi : Alcon Entertainment, 2011

Saya pernah membaca sebuah artikel di majalah luar tentang kecenderungan film-film luar memakai bintang yang tak begitu punya tampang, tapi mengutamakan akting mereka. Oh, ini dari zamannya Robert DeNiro kita sudah tahu. Tapi ada satu poin penting buat jualan disana. Sebutlah, when they put actress like Maggie Gyllenhall atau aktor siapalah, yang penampilan fisiknya bukan ala Keira Knightley atau Keanu Reeves, sebatas mediocre kalo tak mau dibilang buruk, dalam sebuah komedi romantis, yang justru punya salah satu selling point menjual fisik. Bintang dengan fisik tak terlalu bersinar ini, justru bisa menciptakan suatu kedekatan pada penonton, sehingga akhirnya mereka masuk ke dalam kategori ganteng seperti dewa, atau cantik seperti malaikat. Dipuja-puja. However, how they act, counts. Now enter Ginnifer Goodwin. Rasa-rasanya, lebih banyak yang setuju kalau secara fisik ia adalah ugly duckling. Tapi peran sentralnya sebagai karakter yang sama, underdog, di tengah begitu banyak tampilan bintang-bintang cantik di He’s Just Not That Into You, membuat film itu jadi menarik sekaligus dirinya menjadi pusat perhatian penonton. And so, tak ada alasan untuk tak membawanya lagi ke genre yang sama.

Something Borrowed yang diangkat dari novel best seller karya Emily Giffin ini pun punya pakem rom-com klise yang rata-rata sudah kita lihat dalam sejumlah wedding rom-com. My Best Friend’s Wedding adalah satu diantaranya. Poin novelnya tentang sebuah pencarian cinta, jati diri dan etika persahabatan, bisa jadi memang selalu memberikan pesan berharga buat hidup. But then again, sebuah adaptasi bisa berhasil, atau bisa juga tidak. Apalagi kalau diwarnai trend sekarang, dimana sebuah produk harus bisa kelihatan berbeda dengan pendahulu-pendahulunya, biarpun unsur-unsur pembangunnya sama saja. Ah, kelihatannya tim produksi plus sutradara Luke Greenfield yang pernah membesut The Animal, tak bagus, dan The Girl Next Door, bagus, itu tak begitu perduli sejauh nama-nama seperti Ginnifer Goodwin dan Kate Hudson sudah ada di barisan pendukungnya, plus John Krasinski sebagai sidekick highlight pengisi karakter yang seakan wajib ada di chick flick, can be a gay or everyone thought he’s gay. Seperti Rupert Everett di My Best Friend’s Wedding, kira-kira.

Bersahabat sejak kecil dengan Darcy (Kate Hudson) yang seorang dominatrix, Rachel White (Ginnifer Goodwin) melakukan kesalahan besar di pesta kejutan ultah ke-30 nya. Ia tidur dengan Dex (Colin Egglesfield), tunangan Darcy yang siap menuju pernikahan. Ini memang bom waktu yang siap untuk meledak, karena Dex dan Rachel merupakan sahabat masa kuliah yang sama-sama menyimpan rasa suka, namun sebuah pertemuan 6 tahun lalu dengan Darcy yang disalahsangka Dex sebagai blind date atas prakarsa Rachel merusak semaunya. So everyone can guess where they went after, terutama bagi Rachel. Diantara menyimpan perasaannya rapat-rapat untuk tak menyakiti Darcy, atau justru berjuang mengejar pilihan hatinya di tengah minggu-minggu yang penuh kesibukan bersama rekan kerjanya, Ethan (John Krasinksi) dan dua kerabat mereka, Marcus si free-spirit (Steve Howey) dan Claire (Ashley Williams), dalam membantu Darcy mempersiapkan pernikahannya. Sementara Dex juga dilanda kebimbangan besar sejak peristiwa itu.

And bang, there u go. Ini adalah pakem plot yang hanya punya dua kemungkinan, antara disukai atau dibenci penontonnya. Apalagi ini dari novel, yang jelas-jelas membelitkan konfliknya secara lebih njelimet. This is like real life dimana tak perduli Anda adalah si karakter atau sahabatnya, bagaikan simalakama, tak ada penyelesaian mudah untuk masalahnya. The result, adalah tergantung bagaimana pembuat film bisa memberi gambaran karakter itu menyelamatkan konsekuensi pilihannya, dan gambaran abu-abu biasanya akan bisa lebih diterima untuk tendensi kenyamanannya sebagai sebuah rom-com.

Ginnifer Goodwin, tanpa harus diragukan lagi, menghandle karakter Rachel sesuai spesialisasinya. Kate Hudson sebagai seorang wanita dominatrix? Oh, dari wajahnya saja sudah mewakili. Fits perfectly. Colin sebagai the handsome prince in between, juga pilihan yang tepat, dan Krasinksi sebagai pelengkap yang harus bisa menonjol dengan dialog-dialognya, pastinya. Ini juga kemampuan spesialnya dalam mencuri perhatian penonton di tiap film yang menjual bakatnya berceloteh. Yang lain hanya pelengkap saja termasuk Jill Eikenberry dari serial L.A. Law. Sekarang masalahnya ada di skenario dan sutradara yang meraciknya dengan porsi tepat agar apapun pilihannya, pemirsanya bisa menerima itu di tengah-tengah dua keinginan. Sayangnya, belit-membelit konflik yang sudah secara natural sekali berjalan dari awal hingga ke tengah mulai dieksekusi dengan porsi yang kurang seimbang. Durasi yang sedikit kelewat panjang untuk film-film sejenis salahnya terlihat lebih fokus menggempur masalah ketimbang mulai mencoba menyelesaikannya. Hanya di perempat akhir karakter-karakter ini akhirnya diarahkan dengan turnover yang jelas-jelas menjadi hitam putih secara total. The one who lose akhirnya punya kesalahan lebih yang seakan tak termaafkan untuk menggampangkan pilihannya, sementara plotnya masih sibuk mempersiapkan turnover lain untuk masuk ke tengah-tengah. Akibatnya, feel heartwarming-nya pupus seketika begitu saja, seakan memaksa penonton untuk sebuah keberpihakan. Ini adalah kelemahan terbesar untuk membuat ‘Something Borrowed’ jadi sebuah rom-com abadi seperti, oh ya, lagi-lagi, ‘My Best Friend’s Wedding’, yang di tengah pilihan-pilihan itu bisa membuat karakternya berjalan bebas dengan tetap lovable bagi pemirsanya. However, rom-com ini masih menyisakan ensembel akting yang menarik dan soundtrack yang keren. And at last, Ginny, I think you should put more eye cream untuk menutupi kantong mata yang menghitam itu. (dan)

~ by danieldokter on August 11, 2011.

One Response to “SOMETHING BORROWED : UNEXPECTED MISFITS”

  1. […] Something Borrowed […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: