GREEN LANTERN : THE FAINTNESS LIGHT

GREEN LANTERN

Sutradara : Martin Campbell

Produksi : DC Entertainment & Warner Bros, 2011

DC Comics boleh bangga dengan inovasi Christopher Nolan ke franchise Batman yang berkembang sebagai patokan trend film superhero yang ingin dicapai semua orang. Namun keseluruhannya, mereka masih kalah jauh dibandingkan Marvel yang lebih berhasil meng-established-kan tokoh-tokoh besar mereka dalam jumlah dan kualitas lebih, bahkan sudah siap dengan kolaborasinya di The Avengers. Di luar Batman, DC agaknya masih sibuk mencari jati diri atas karakter-karakter superheronya. Sementara Superman yang masih terus di reboot, Green Lantern, salah satu franchise besar mereka yang sudah direncanakan bertahun-tahun ini, akhirnya muncul juga ke layar lebar. Pasca versi komedinya yang rencananya memasang Jack Black namun ditolak banyak fansnya (untunglah proyek ini tak jadi dibuat), teaser trailer yang diluncurkan tampak cukup menarik. Dan tampilan tokoh-tokohnya, saya yakin takkan ada fans yang mengeluh. Semua persis sesuai komiknya. Tapi mungkin mereka melupakan satu hal. Sama seperti komiknya yang muncul dengan kompleksitas lebih ketimbang karakter superhero mereka yang lain, termasuk di set dan karakter sidekicknya, tingkat kesulitan adaptasinya sudah pasti tak semudah yang dibayangkan. Selain Hal Jordan yang memang merupakan identitas Green Lantern yang di komik tampil paling menarik, I wouldn’t say they were wrong picking Ryan Reynolds as him. Tapi, kepincangannya akan muncul atas kiprah Reynolds di franchise-franchise superhero lainnya mulai dari Blade dan Deadpool-nya X-Men. Dimana semua gayanya memerankan tokoh itu bisa dibilang mirip. Seorang rebel angkuh yang kerap memancing situasi komedik, while the real Hal Jordan in the comics tidak punya satunya. Dia seorang rebel, angkuh, tapi bukan komedian seperti Tony Stark-nya Robert Downey, Jr.. Whoops!

And so, latar yang teramat penting dalam esensi ceritanya, melebihi Krypton-nya Superman yang memang cuma sebatas pengantar, Planet Oa, dengan satuan polisi intergalaktik yang menggunakan esensi hijau sebagai kekuatannya, Green Lantern Corps, sebagian besarnya hanya diceritakan lewat prolog. Jutaan tahun sebelum bumi terbentuk, para Guardians Of The Universe yang membentuk satuan membagi korps itu di 3600 sektor untuk menjaga keamanan di alam semesta mereka. Namun salah satu penjahat paling berbahaya, Parallax (disuarakan Clancy Brown), yang menggunakan esensi kuning untuk kekuatannya, berhasil melarikan diri dari pengasingannya dan melumpuhkan Abin Sur (Temuerra Morrison), Green Lantern terkuat dari sektor 2814 yang dulu menangkapnya. Dalam keadaan sekarat, Abin Sur melarikan diri dengan pendaratan darurat di bumi. Cincin yang merupakan pusat kekuatan hijau itu kemudian ditugaskan untuk mencari suksesornya di bumi, dan pilihannya jatuh pada Hal Jordan (Reynolds), seorang pilot di tengah pengembangan pesawat tempur militer yang punya trauma masa kecil atas kematian ayahnya. Abin Sur berhasil membuat Jordan bersumpah sebagai penggantinya, dan Jordan pun dilatih di Oa oleh Tomar-Re (Geoffrey Rush) dan Kilowog (Michael Clarke Duncan). Pimpinan korps sekaligus sahabat terbaik Abin Sur, Sinestro (Mark Strong), awalnya tak setuju dengan pilihan ini karena menganggap manusia sebagai bentuk kehidupan paling primitif di semesta mereka. Namun kenyataan bahwa Parallax telah menginvasi bumi lewat seorang ilmuwan Hector (Peter Sarsgaard), putra senator Robert Hammond (Tim Robbins) yang direkrut secara rahasia mengautopsi mayat Abin Sur, membuat Sinestro terpaksa merestui Jordan sebagai Green Lantern baru. Jordan yang tengah ditimpa masalah kegagalan tes pesawat bersama putri pemilik perusahaan sekaligus rekan pilot dan kekasihnya, Carol Ferris (Blake Lively) pun memulai misinya menghentikan serangan Parallax di bumi.

Dalam kapasitas make-up, efek spesial, set yang meski terasa kelewat sekilas demi penyampaian latar yang kompleks dari kisah aslinya, Green Lantern memang muncul sesuai kelasnya sebagai sajian summer blockbuster, sementara highlight 3D-nya hanya lagi-lagi sebatas konversi. Namun kompleksitas universe komiknya yang kelewat rumit merupakan salah satu kendala untuk membuat penonton cepat akrab dengan karakter-karakternya. Satu di storytelling yang terasa terlalu singkat untuk menjelaskan latar bagi yang belum pernah mengenal seluk-beluk Green Lantern sebelumnya, dan beberapa karakter penting Green Lantern Corps pun jadi tempelan yang tersia-sia. Padahal pemeran dan pengisi suara karakter-karakter korps itu bukan sekedar aktor main-main.

Entah untuk menghindari pembengkakan bujet atas setnya, penggagasnya tampak melulu ingin menciptakan karakter human superhero yang menjual Ryan Reynolds sebagai daya tariknya, tapi lupa dengan esensi penting semesta para Guardian di planet Oa itu. Inipun masih terlihat merangkak dengan cukup payah di instalmen pertamanya. Apa yang kita saksikan kemudian menunjukkan bahwa DC dan sutradara Martin Campbell berusaha setengah mati untuk membangun karakter Hal Jordan baru lewat serangkaian film-film yang digabungkan menjadi satu. Ada perwujudan rebel pilot ala Maverick-nya Top Gun yang begitu terasa, berikut belokan-belokan ke sisi komedi ala Robert Downey, Jr sebagai Tony Stark di franchise Iron Man, dan tentunya, gaya banyolan Reynolds di Blade atau X-Men Origins yang salahnya justru dipertahankan sejauh mungkin. Hasilnya, tak hanya plotnya yang jadi terasa datar-datar saja, komponen cast cukup lumayan dari Peter Sarsgaard, Tim Robbins sampai Blake Lively yang harusnya bisa jadi faktor jualan lebih dari sekedar lumayan pun gagal menyelamatkan keseluruhannya. DC lagi-lagi memperlihatkan kebingungan mereka mencari jati diri karakternya. Ini adalah sebuah adaptasi yang gagal, namun juga sulit menampik kapasitas jualannya sebagai hiburan musim panas yang rata-rata memang hanya memerlukan kenikmatan visual tanpa tuntutan lain.  Toh eksekutif DC dan Warner tetap keukeuh melanjutkan scene after credits yang menjanjikan petualangan Hal Jordan selanjutnya itu. ”In Brightest Day, In Blackest Night, No Evil Shall Escape My Sight. Let Those Who Worship Evil’s Might, Beware My Power… Green Lantern’s Light!” Too bad that light is faint. (dan)

~ by danieldokter on August 23, 2011.

3 Responses to “GREEN LANTERN : THE FAINTNESS LIGHT”

  1. Banyak banget yang bilang nih film mengecewakan. Ragu mau nonton di bioskop apa nggak. Bang Daniel baca komiknya, ya?

  2. yup, this is disappointing kalo dilihat dari sisi storytellingnya. banyak plothole yang akhirnya ga akan membuat orang yg ga akrab dgn Green Lantern, sebatas tau aja bentuknya, ga bisa merasa deket ama karakternya. so kesan akhirnya bakal lewat begitu aja sebagai hiburan kosong. saya baca komiknya tapi cuma sebagian, ga komplit2 bener, tp emang hobi ke superhero2an jadi ngikutin sedikit banyak perkembangan dan esensi2nya dan suka diskusi bareng temen yg hobinya sama.

  3. […] Green Lantern […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: