TENDANGAN DARI LANGIT : A GOAL FOR THE HEART

TENDANGAN DARI LANGIT

Sutradara : Hanung Bramantyo

Produksi : SinemArt, 2011

Ketika kita disuguhkan sebuah family movie di masa-masa liburan, akan naif sekali kalau apa yang ada di harapan adalah kisah berbelit dengan twist yang njelimet. Cuma ada satu hal penting disini mau apapun yang menjadi plotnya, seberapa baik buruk pun penggarapannya secara filmis. Simply lovable. Seperti lagu yang catchy, seperti penganan yang lezat, satu kontak saja sudah bisa membuat kita dengan gampang menyukainya. Faktor cast, pembangunan karakter, tema yang membumi, itu hanya jadi faktor sampingan. Yang terpenting adalah komunikasinya ke penonton dalam membangun chemistry yang kuat dengan apa yang terpampang di layar. Ini memang wilayahnya seorang Hanung Bramantyo. Meski film-filmnya tetap mementingkan sinematografi yang artistik, ia tak pernah berandai-andai. Tak pernah lari kesana kemari agar penonton memutar otak memikirkan maksudnya. Seperti tipikal guru yang paling disukai muridnya, ia menyampaikan pesan dengan sebuah keakraban visual. Bukan merepet dan bukan diam, tapi berbuat. And so, sinema kita boleh punya segudang film tentang sepakbola, tentang mimpi yang dengan banyak usaha menjadi nyata, plot zero to hero, apapun. Namun klise-klise itu menjadi fresh ketika ditangani dengan komunikasi yang baik. Bersama produk-produk Hanung yang lain, ini adalah contoh sebuah produk pop yang baik. Penuh pesan, kalau perlu sedikit bombastis dalam pengadeganan, tapi bisa diterima semua lapisan dengan semangat inspiratif tapi tendensi hiburannya tetap mencuat. Dan ah, keberhasilan produser menggamit Irfan Bachdim dan Kim Kurniawan yang dipampang gede-gedean di poster itu memang sebuah selling point, yang justru membuat tanggung jawabnya makin besar. Here it is, saat sebuah visual bisa menggugah, kita tak akan ribut-ribut lagi soal kekurangan lainnya.

Jauh di kaki gunung Bromo yang gersang dan penuh debu, kita dikenalkan ke karakter Wahyu (Yosie Kristanto dalam peran debutnya). Seorang remaja biasa yang punya bakat alam di dunia sepakbola amatir. Bakatnya dimanfaatkan oleh Hasan (Agus Kuncoro), makelar sepakbola amatiran di tiap pertandingan untuk mencari nafkah. Namun ayah Wahyu (Sujiwo Tedjo) menentang keras bakat putra satu-satunya ini atas sebuah trauma masa lalu yang belum pernah diketahui Wahyu sendiri. Ibunya (Yati Surachman) pun tak bisa berbuat apa-apa melihat Wahyu yang kerap dihajar ayahnya setiap ketahuan bermain bola. Sebuah lomba debat di kabupaten yang diikuti oleh gadis gebetannya, Indah (Maudy Ayunda) yang juga lebih menyukai Wahyu ketimbang Hendro (Giorgino Abraham) yang lebih dalam segala-galanya, membawa Wahyu pada pelatih tim Persema, Timo (Timo Scheunemann) yang lantas menyadari bakat alamnya dan mengajaknya ikutserta dalam tryout untuk masuk ke dalam tim. Lagi, sebuah insiden atas kesehatan lutut Wahyu menjadi penghalang, namun Wahyu akhirnya harus menetapkan pilihannya. Tak hanya antara Hasan dengan Persema, namun juga antara kecintaannya antara sepakbola dan Indah.

Zero to hero. Klise? Sudah jelas. Bukan hanya di part sepakbola, namun juga di konflik pertentangan dengan orangtua, sosok ayah yang kejam, trauma-trauma masa lalu, dan teen love story-nya, sampai pada kebetulan demi kebetulan dan akhirnya-akhirnya yang jadi syarat bangunan plot yang sulit dihindari untuk genre-genre seperti ini. Jadi dimana letak spesialnya? Rasanya tak berlebihan untuk menyebut semua faktornya untuk membangun suatu sinergisme dalam membangun ‘Tendangan Dari Langit’ jadi tontonan yang sangat lovable. Selain spesialisasi Hanung dalam komunikasi itu, skenario yang ditulis Fajar Nugroho menyajikan pemaparan konflik yang cukup padat dengan beragam karakter dan dialog-dialog yang menarik untuk penyampaian pesan plus kritik sosial dan persepakbolaan negeri ini, lengkap dengan warna kedaerahan yang down to earth dengan dialek-dialek pemerannya, tak seperti Di Bawah Lindungan Ka’bah yang mengabaikan kepentingan latar ini. Ulasan singkat tentang gambaran medisnya pun sesuai porsi dan bukan lagi-lagi omongkosong penuh mitos. Selanjutnya, sinematografi Faozan Rizal yang tak ketinggalan membesut panorama Bromo yang eksotis dan masuk ke sebagian besar adegan pentingnya. Debu-debu gunung itu seakan ikut berbicara memberi kesan ke tiap penyampaiannya. Ini bukan Bromo yang diam, misterius dan mengerikan dengan segelintir karakter ayah penjual anak seperti di Pasir Berbisik, tapi sebuah gambaran keindahan alam yang membuat kita sesekali ingin ikut merasakan suasananya. Atmosfer pertandingan sepakbolanya juga tertangkap dengan detil yang cukup baik. Atau lihat adegan Wahyu berlatih dengan sang ayah sambil menunggang kuda di tengah debu-debu Bromo itu. Skor yang lagi, dibesut oleh Tya Subiyakto juga ikut membangun chemistry yang baik di setiap adegannya.

Terakhir adalah cast yang menerjemahkan karakter-karakter unik yang ada dalam skenario Fajar dengan Mrs Hanung, Zaskia Adya Mecca sebagai casting directornya. Sebagai debut, Yosie sama sekali tak tampil mengecewakan dalam menggambarkan semangat yang berkobar dalam karakternya. Chemistrynya dengan Indah (Maudy Ayunda) yang diletakkan di dasar perbedaan jauh pun sangat believable. Sampai karakter-karakter sampingan seperti tiga sahabatnya, Meli (Natasha Chairani), Mitro (Jordi Onsu) dan Purnomo (Joshua Suherman) yang menyempil dengan puisi-puisi lucu pun terasa begitu hidup bersama penjual warung yang berkonyol-konyol tapi memancing tawa. Karakter-karakter aslinya seperti Timo, Irfan, Kim dan Matias sang pelatih? Juga tampil apa adanya biarpun hanya dengan sepenggal ekspresi yang terasa jadi berarti. Namun ada tiga yang paling bersinar disini. Agus Kuncoro sebagai Hasan yang aji mumpung tapi tak menghalangi empati penonton terhadap sosok eksentrik dibalik kaki pincang dan topi baret-jaket militernya, serta dua aktor yang biasanya tampil over dengan gaya teatrikal, Torro Margens dan Sujiwo Tedjo namun disini bisa menggunakan style itu untuk karakter yang luarbiasa jadi highlight di tiap penampilan mereka. Kalaupun ada sedikit kekurangan adalah pemilihan lagu soundtrack dari Kotak yang tak terdengar terlalu bersemangat mengantarkan klimaks kemenangan Wahyu, namun tak juga terlalu mengganggu karena semua unsur yang menyatu dalam sinergi luarbiasa itu sudah bisa membuat semua penonton bersorak di adegan klimaks pertandingan singkatnya seolah benar-benar menyaksikan pertandingan bola bareng-bareng. This is a simply lovable family movie for this holiday, bahkan mungkin yang terbaik dalam gelaran film-film lebaran tahun ini. It’s simple and clear, fun and cheer, and goal! Bola itu pun masuk dengan gemilang ke gawang hati Anda. (dan)

~ by danieldokter on August 26, 2011.

2 Responses to “TENDANGAN DARI LANGIT : A GOAL FOR THE HEART”

  1. […] Tendangan Dari Langit […]

  2. […] TENDANGAN DARI LANGIT […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: