LIMA ELANG : BEGINNING OF A KIDS ADVENTURE

LIMA ELANG

Sutradara : Rudi Soedjarwo

Produksi : Indika Pictures, SBO Films & Kwarnas Gerakan Pramuka

Film anak-anak sudah semakin langka di Indonesia, itu ada benarnya. Namun sama sekali mati tidak juga. Sesekali kita masih punya sineas yang masih memiliki hati mau membuat film-film yang pasarnya memang tergolong susah ini, kecuali adaptasi novel atau memasang superstar anak-anak yang tengah bersinar. Di luar nama besar sutradara Rudi Soedjarwo dan mungkin bagi yang lebih mendetil memperhatikan kredit film, penulis Salman Aristo, Lima Elang tak punya kekuatan itu. Namun ia digagas dari sebuah niat baik yang didukung sepenuhnya oleh Kwarnas Gerakan Pramuka. Sebuah film anak-anak untuk menyambut ultah ke-50 Pramuka. Sebuah ekstrakurikuler SD dan SMP yang sangat mendidik, yang sayangnya jarang-jarang diangkat ke film kita. Terakhir, hanya Lima Sahabat (1981) yang dibintangi Septian Dwicahyo dan Benyamin S. Yang menyorot anak-anak Pramuka secara sedikit detil. Meski resepnya masih tak jauh-jauh dari trend Home Alone yang tak pernah padam, anak-anak menghadapi sekumpulan penjahat sebagai highlightnya, pemaparan tentang Pramuka dan pesan-pesan moral lainnya tak ditinggalkan begitu saja. Ini adalah film liburan yang pas sekali disaksikan bersama seluruh keluarga, apalagi yang pernah atau masih mengikuti pelatihannya semasa sekolah.

Kepindahan kedua orangtuanya ke Balikpapan dari kehidupan mereka di Jakarta membuat Baron (Christopher Nelwan) kecewa. Masalahnya, bersama-sama teman-temannya disana, ia memiliki klub mobil RC sebagai hobi yang sulit ia tinggalkan, apalagi sebuah kompetisi menanti mereka. Akibatnya, Baron jadi sedikit sinis dan introvert dalam beradaptasi di sekolah barunya. Tapi Rusdi (Iqbaal Dhiafkari Ramadhan), penggalang pramuka yang berambisi sekali menjadi pramuka terbaik yang ikut ke Jambore Nasional menganggap Baron adalah kandidat yang pas untuk direkrut ke dalam regunya dalam mengikuti perkemahan Pramuka tingkat daerah. Baron awalnya jengkel karena perkemahan ini berarti memupuskan niatnya liburan ke Jakarta untuk mengikuti kompetisi RC. Toh keinginan kedua orangtua dan gurunya atas siasat Rusdi tetap diikutinya dengan satu rencana dibalik itu. Bersama Anton (Teuku Rizky Muhammad), si gembul yang ahli api dan Aldi (Bastian Bintang Simbolon), si kecil temperamental yang diam-diam punya kemampuan renang, mereka mengikuti perkemahan itu. Tapi perbedaan tujuan akhirnya memisahkan mereka, berikut Sindai (Monica Sayangbati), pramuka perempuan yang juga kesal dengan kelompoknya. Saat Rusdi dan Anton yang berniat meneruskan usaha mereka menjadi korban penyekapan para penebang hutan liar, Baron baru tersadar atas niat tulus Rusdi menjadikannya seorang sahabat. Mengetahui dua temannya sedang dalam bahaya, Baron pun merancang usaha penyelamatan bersama Aldi dan Sindai. Kalah menang tak lagi jadi sasaran, tapi yang penting adalah sebuah persahabatan, dan kalau bisa, siap di saat kapanpun ada bahaya menghadang.

Usaha dari ketua kwartir Prof. Dr. Azrul Azwar, MPH yang langsung turun sebagai produser eksekutif dengan tim khusus dalam supervisi teknis ke produksinya benar-benar membuat gambaran perkemahan Pramuka dengan games-games-nya terlihat cukup hidup sebagai balutan tema baru di film-film anak kita. Pilihan cast anak-anaknya juga pas membangun sebuah syarat mutlak di sebuah film anak yang baik, yang mampu memunculkan kepolosan anak ketimbang memaksa mereka berperan selayaknya orang dewasa seperti yang kebanyakan terjadi dalam sinetron kita. Mau di sisi menyebalkan atau menarik, masing-masing punya kualitas scenestealing dibalik tampilan polos yang sangat anak-anak. Ini adalah salah satu spesialisasi Rudi sebagai sutradara, dimana sekedar pemeran pendukung sampai figuran tak penting pun bisa tampil dengan wajar. Sebuah knowledge tentang makhluk hutan yang disebut Batutut (Bigfoot-nya Asia), sebagai salahsatu mitos yang ditakuti di hutan Kalimantan dan Sumatera, juga diselipkan secara cukup informatif dan menambah konfliknya jadi semakin menarik. Hanya ada satu kekurangan di storytelling yang agak terbata-bata membangun chemistry dan konflik dengan turnover karakter yang masih terasa kurang believable. Begitupun, dalam kemasannya sebagai kids adventure, intensitasnya sudah cukup menarik dengan kelucuan yang juga polos serta terjaga. Dan saat Rudi menghadirkan satu lagi kemampuan ekstranya dalam membesut ending yang cheerly, ia lagi-lagi membawa kita ke sebuah penutup yang jauh lebih besar dari filmnya sendiri. Apapun hasil perolehannya, semoga mereka tetap punya niat melanjutkan kiprah lima elang ini dalam petualangan selanjutnya yang lebih seru lagi, seperti masa kecil kita membaca novel-novel Lima Sekawan atau Sapta Siaga. Oh c’mon. Tak harus pernah jadi Pramuka seperti Rudi sendiri, Let’s have a heart, dan mari hargai niat baik untuk terus membawa pesan-pesan itu kembali ke masa kanak-kanak kita semua! (dan)

~ by danieldokter on August 27, 2011.

One Response to “LIMA ELANG : BEGINNING OF A KIDS ADVENTURE”

  1. […] Lima Elang […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: