KEJARLAH JODOH KAU KUTANGKAP : SI KABAYAN KW2

KEJARLAH JODOH KAU KUTANGKAP

Sutradara : Indrayanto Kurniawan

Produksi : Mitra Pictures & Big Production, 2011

Kalau ada yang bilang komedi slapstick itu menyepelekan logika, saya tak akan membantah. Memang seperti itu adanya. Komedi slapstick itu klise, itu juga benar. Orang ketabrak pintu kaca, orang terpeleset kulit pisang, kepala ketimpuk bola, ditampar sampai melayang dan muter-muter, mimik yang ditolol-tololkan, intip-intipan sampai komedi buang air, those are slapsticks. Plotnya juga biasa sama klisenya? Nah itu juga benar. Bahkan mau bicara yang legendaris sekali pun, pakem-pakem cerita orang kampung datang ke kota serta gap-gap yang sama seperti si jelek naksir si cantik, si kampung naksir si kota, dari jaman baheulak juga sudah begitu terus. Formula lain adalah menjual kekurangan. Orang jelek, orang kampung, orang aneh, kelewat gemuk atau kelewat kurus, banci-bancian dan sejuta kekurangan lain akan mendapat porsi eksploitatif paling gede. Jadi bulan-bulanan dengan satu tujuan. Memancing tawa. Tapi ingat satu. Bahwa slapstick tak harus berarti kacrut, kalau fondasi dan bangunannya benar. Menyepelekan logika boleh saja dalam sebuah komedi, tapi konteks memaksa orang yang tidak bodoh harus berpikir bodoh, itu tolol. Semua ada batasnya untuk bisa jadi believable. Inilah yang selalu jadi sandungan dalam banyak komedi slapstick kita, sama seperti tema-tema lain yang suka konflik dan reaksinya serba over. Maunya diramu dengan sempalan dramatis dengan skor musik yang entah apa maksudnya, atau dibesut dengan pesan-pesan dengan cara yang sama sekali tak masuk akal. Kalau setnya di dunia antah berantah dengan unsur fantasi, monggo, silahkan. Tapi ketika berhadapan dengan realita,ah, yang benar-benar saja. Silahkan membangun komedinya tanpa logika. Itu akan mengundang tawa. Tapi ketika seluruh plot dan pengadeganannya pun dibangun tanpa logika, that’s a meh! Kalau masih perlu contoh, tengok kembali Si Kabayan versi Kang Ibing atau Didi Petet. Atau komedi-komedinya Jim Carrey dan Adam Sandler. Atau Sex And Zero-nya Korea, yang lebih berhasil lagi meramu dramatisasi pas di tengah slapstick kacau-balau.

Tak ada jalan lain yang harus ditempuh Asep (Andhika Pratama), anak juragan kaya di Desa Endah Pisan selain melarikan diri saat dijodohkan ibunya (Lydia Kandou) dengan Enok (Pretty Asmara) yang bertubuh bomber. Bersama pamannya yang mengejar (Joe P-Project, credited as Drs. Joehana Sutisna), mereka kemudian bertemu dengan sekumpulan model yang kena protes warga desa di lokasi pemotretan. Asep yang menyelamatkan mereka dari kemarahan warga lantas jatuh cinta pada pandangan pertama pada Farah (Donita), salah satu model itu dan menawarkan pertolongan kala mobil mereka mogok. Perasaannya pun jadi kian dalam, sampai memberanikan diri merantau ke Jakarta untuk menyusul Farah. Gap yang muncul antara Asep yang udik dan taat agama dengan Farah yang menjalani kehidupan metropolisnya pun saling bertubrukan, namun usaha Asep yang tak kenal menyerah lama-lama meluluhkan juga hati Farah serta ibunya sendiri. Tapi masih ada satu halangan dari Brandon (Bertrand Antolin), mantan Farah yang terus mencoba kembali sementara Asep, meski sudah dibantu supir taksi (Polo) dan seorang nazir mesjid (Mucle) dan sang paman, tetap tak berani mengutarakan perasaan sebenarnya. Sementara Farah juga menyimpan sebuah rahasia dibalik kehidupannya yang serba glamour.

Kalau dalam sebuah modul blok kurikulum universitas, kata kunci dalam permasalahan konflik yang dihadirkan ini adalah ‘believable’. Seperti kebanyakan film-film kita yang tak pernah bisa beranjak dari plot serta karakter yang wajar, seperti itulah Kejarlah Jodoh Kau Kutangkap ini sejak awal adegannya bergulir. Not believable. Keinginan Benni Setiawan sebagai penulis untuk membombastiskan celah konflik-konfliknya justru semakin ngaco seiring film berjalan, meskipun dialek serta bahasa Sunda yang muncul itu jadi nilai plus untuk membangun nuansa komedinya. Selain Andhika Pratama yang mau menggerakkan sejuta otot mukanya untuk kelihatan goblok dan udik bagaimana seriusnya pun tetap terasa terlalu ganteng sebagai ‘Si Kabayan wanna-be’, sempalan dramatisasi dalam penyampaian pesan reliji sebagai perwujudan produk film Lebaran pun jadi tak sinkron dengan skor musik yang (sok) bermellow-mellow dengan akting Donita yang terus merengek-rengek. Mau karakter Asep diganti dengan pelawak berwajah aneh sekali pun, ramuannya tak akan bisa bekerja membangun sebuah gap komedi yang baik. Lagi, ini adalah bukti dimana sineas penuh bakat, termasuk Lydia Kandou yang berdialek Sunda, tentunya, plus sutradara Indrayanto Kurniawan yang sebelumnya membesut Saus Kacang sebagai romcom yang terasa fresh dalam tema, mau-maunya berusaha mati-matian berinteraksi ke plot yang dari sananya sudah serba ‘not believable’ itu. Bakat-bakat ini memang sedikit mampu menyelamatkan beberapa sisi komedinya yang masih bisa mengundang tawa lebar bersama kiprah Joe, Polo dan Mucle, tapi keseluruhannya masih menunjukkan kecenderungan film komedi kita yang suka seenaknya saja memaksa penontonnya jadi ikut-ikutan berpikir setolol karakter-karakternya. Dan mencatut judul yang sedikit dipelesetkan dari salah satu film komedi situasi paling dibanggakan dari sejarah perfilman kita, ‘Kejarlah Daku Kau Kutangkap’ yang unggul di semua sisinya hanya karena ada nama besar Lydia disana? Well guys, that’s not wise at all. Not wise at all. (dan)

~ by danieldokter on August 28, 2011.

One Response to “KEJARLAH JODOH KAU KUTANGKAP : SI KABAYAN KW2”

  1. […] Kejarlah Jodoh Kau Kutangkap […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: