RE-VIEW-SITED : MY NAME IS KHAN : HOW FAR WOULD YOU GO FOR SOMEONE YOU LOVE?

MY NAME IS KHAN

Sutradara : Karan Johar

Produksi : Dharma Productions & Fox Searchlight, 2010

So What’s So Good About Karan Johar? Sutradara film India fenomenal Kuch Kuch Hota Hai yang hanya muncul sekali dalam hitungan 3-4 tahun (sebagai sutradara, bukan produser) ini memang selalu meninggalkan karya yang banyak dibicarakan orang, dipuji di sana-sini bahkan membuat banyak penontonnya tak cukup hanya menonton sekali. Apakah visual yang bagus dan artistik? Tidak juga. Is it a criterion quality or festival feed? Ah, semua filmnya malah tergolong film komersil. Atau pengaruh Shah Rukh Khan sebagai muse-nya? Hmmm… bisa jadi, tapi tak juga terlalu tepat. Here’s one good answer. Komunikatif. Yup, seperti storyteller yang bisa membuat orang tak berpaling ketika ia bercerita, itulah Karan. Powernya ada disana. Dengan kemampuan itu, Karan bisa bergerak luarbiasa leluasa untuk mengaduk-aduk perasaan penontonnya. Jangan pungkiri seketika Anda bisa merasa jengah dihujani bombastisme emosi ketika Karan melangkah terlalu jauh dari apa yang ingin disampaikannya, namun di saat yang sama ia kembali membuat semua pelarian itu terasa believable, dan Anda pun kembali merasa nyaman mendengarkan alurnya kembali, bahkan ketika Anda sadar hampir tiga jam atau lebih waktu Anda sudah tersita dengan ceritanya. Dan memang ada benarnya, salah satu amunisi itu juga ada di kharisma Shah Rukh, yang bisa jadi sangat klop memvisualkan kemauan Karan. Dengan sutradara yang lain, Shah Rukh tak selamanya bisa terlihat begitu sempurna. Apalagi, bila didampingi seorang Kajol, yang punya overpower chemistry dengannya.

Setelah dihujani protes masalah moralisme lewat film terakhirnya, Kabhi Alvida Naa Kehna, yang tetap melaju mulus di perolehan box office luarIndia, seakan tak peduli, Karan’s now taking a step forward. Sebuah tema yang berani, yang menyimpan pemicu SARA di banyak sisi plotnya, namun sekaligus bisa berlindung di sebuah pesan bijak. Tak ada lagi lagu dan tari yang biasa menghiasi film Bollywood (don’t get me wrong, tetap ada lagu tapi berdiri sendiri sebagai soundtrack tanpa tampilan musikal, dan inisial awal judulnya pun tak lagi dimulai dengan huruf K yang seakan jadi senjata ampuhnya.

Sebagai individu yang terlahir dengan Asperger’s Syndrome, sebuah bentuk autisme yang membuatnya sulit bersosialisasi layaknya manusia normal, Risvan Khan (Shah Rukh) dididik dengan baik oleh sang ibu sebagai seorang muslim yang bisa terbuka menerima semua perbedaan di sekelilingnya, hingga mengejar mimpinya ke San Fransisco. Itulah yang membuatnya bisa mencuri hati seorang wanita Hindu, Mandira (Kajol), janda dengan satu anak bernama Sameer, yang bisa menerima semua kekurangan Risvan. Mereka pun menikah, dengan karir keduanya yang semakin menanjak. Ketika tragedi 9/11 terjadi, semuanya berubah, sampai akhirnya Sameer menjadi korban rasis di sekolahnya. Ia mengalami ‘spleen rupture’ (di teks tertulis berkali-kali, patah tulang iga. pembuat teksnya, Narain Topandas, yang menjadi langganan pembuat teks film-film Bollywood, mungkin tak mengerti term ini tapi malas bertanya, jadi hanya mengira-ngira saja. Next time you better consult your english teacher again) ketika dikeroyok sampai meninggal. Mandira pun galau oleh identitas barunya dengan nama Khan di belakang namanya. Risvan kemudian diusir dari kehidupannya, dengan sebuah janji yang ditanggapi dengan latar belakang autis tadi, untuk menemui Presiden AS dan mengatakan “My name is Khan, I’m not a terrorist”. Pengembaraan Risvan pun dimulai, hingga sebuah ketulusan hatinya membantu korban badai di sebuah desa kecil di Georgia mendapat sorotan media. Baginya hanya ada satu motivasi, menyelesaikan tugas tadi untuk dapat membuat Mandira melupakan kemarahan dan kembali ke hatinya.

Seperti biasa, Karan me-wrapped My Name Is Khan dengan kemampuannya mengaduk-aduk emosi penontonnya. Ia tak lagi bicara tentang cinta se-langsung dan se-lepas dalam Kuch Kuch, Kabhi Khushi Kabhie Gham bahkan Kabhi Alvida Naa Kehna, namun justru mengalihkannya pada pesan antirasisme antar reliji dengan lantang hingga ada sebuah dialog keras yang tak dibubuhi teks karena mungkin takut menyinggung. Namun Karan tetaplah Karan. Sejauh apapun ia memutar langkah untuk menyampaikan ide-idenya, apalagi dengan tampilan Shah Rukh dan Kajol yang kembali menunjukkan kualitas one of the best on-screen couple ever made, semuanya kembali pada sebuah pesan paling universal. Tentang Cinta. Seperti filmnya yang lain, dimana Karan bisa mengeksplorasi seluruh kekuatannya dengan bebas. In the end, it’s still a typical Karan.  It’s all about How Far Would You Go For Someone You Love. (dan)

from my old blog at : http://www.danieldokter.multiply.com

~ by danieldokter on August 30, 2011.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: